
Aku terlalu bosan dengan suasana ini. Bosan dengan tempat ini. Neraka yang dulunya adalah surga untuk kita berdua. Semuanya masih terasa begitu sama dengan kemarin, sama sekali tidak berbeda dan tak berubah, aku benci dengan tempat ini… dan bayang-bayangmu masih di sini.
Air di kran itu masih menetes sama. Tapi, katamu dulu: “Aku suka dengan suara denting air itu.”, saat itu kita berpeluk hangat di atas sofa, melihat indahnya awan sore hari di balik jendela ruang yang sudah bersirat siluet bayang si jingga. Hangat sekali. Rindu sekali, rindu dengan pelukan ketat milikmu.
Katamu dulu, kamu suka dengan rambutku yang lurus panjang yang kukuncir rapat. Aku meraba rambutku, membayangkan belaianmu di kepalaku setiap malam sebelum lelap akan menghampiri, masih panjang, dan endusanmu yang selalu menyukai aroma rambutku. Aroma bunga mawar.
Kau suka membelai rambutku, menciumnya, sampai kau mengecup lembut di bibirku. Berakhir berbaring berdua dan pelukan di setiap lelapmu, aku selalu tersenyum dan terjaga untuk merasakan pelukanmu kala itu. Apakah kau juga merindukannya sekarang? Ciuman di sofa senja itu?
Aku merindukanmu. Sungguh.
Bayang-bayang kehadiranmu selalu ku nanti, aku menunggumu di setiap ketukan pintu. Hatiku berderar berbunga jatuh cinta ketika kau datang, menggendong dan memelukku setiap kali kamu datang ke sini.
Dengan kemeja putih lusuhmu, bau keringatmu yang wangi dan ku nikmati setiap momen kita berdua yang kita ciptakan di setiap sudut ruang apartemen kecil ini. Membuat kesenyapan menjadi kebahagiaan.
Aku jatuh cinta, hingga akhirnya aku jatuh sendiri.
__ADS_1
Mungkin aku terlalu bodoh sehingga aku jatuh cinta kepadamu. Mungkin, dulu aku terlalu buta ketika kau menatap mataku. Semua rasa kasih dan cinta yang kau berikan, membutakan dan membuatku ketagihan. Setiap kecupanmu, memberikan aku jalan buntu untuk sementara tidak melihat ke masa depan, aku tidak berpikir bagaimana ini akan berakhir, atau aku terlalu mati rasa ketika kau mengecupku? Manis sekali jika diingat, bibirmu… manis sekali.
Sebelum semua menjadi indah sekaligus menyakitkan, aku pernah menahan rasa ini dalam-dalam, dan bersumpah untuk tidak menerima semua rasa yang kamu tunjukkan waktu itu.
“Ini bodoh, Roy.”, gumamku pelan.
Dia memegang kedua tanganku, memberikan senyuman penantian dan harapan, hingga akhirnya kita berdua bersama. Lingkar jari manisnya sudah terisi dengan cincin perak yang terukir nama lainnya, tapi dia memohon untuk tetap bersamaku.
“Aku mau denganmu, Intan.”, nada halusnya menekankan.
Aku tersenyum. Dia tersenyum.
Sekarang aku melamun, dia menghilang.
Sudah kubilang, hubungan ini tidak akan lama jika terjadi. Kenapa aku mau menjadi kekasih gelapmu? Apakah cinta kita sebegitu butanya sampai-sampai kamu mau gelap-gelapan?
__ADS_1
Tapi, akhirnya aku mau. Aku mau membuka hati untukmu. Awalnya aku ragu, awalnya aku tidak akan menganggap hubungan ini serius. Dan terus berpikir untuk tidak patah hati di saat kita berpisah, aku berlagak santai.
Seminggu berlalu, aku menahan dengan semua tenaga yang ku punya untuk tidak memberikan perasaanku secara utuh. Tapi… aku membelot.
Perasaan ini semakin hari semakin tumbuh, dari hanya bibit sekarang sudah tumbuh pohon rindang dengan buah-buah yang tidak mempunyai daging, dengan harapan-harapan yang tidak akan pernah terjadi. Aku tersungkur jatuh di dedaunan kenyataan dan keyakinan yang dulu pernah ku pegang. Di saat semuanya melambung tinggi, aku semakin jatuh dalam setiap harapan yang ku punya, itu semua hanya omong kosong.
Enam bulan kita bersama, akhirnya kamu tidak pernah datang lagi. Semuanya berubah sekejap. Dan hari besarmu sudah datang.
Undanganmu pernikahanmu sudah ada di depan pintu.
Ketika itu mataku terbuka lebar, aku menyadari semuanya, mungkin hanya orang bodoh yang mencintaimu. Bodoh untuk mau merasakan hubungan singkat yang akan berakhir mengenaskan. Mungkin hanya orang gila yang akan mencintaimu, gila akan setiap sentuhan yang kau berikan. Mungkin hanya pendosa yang jatuh cinta kepadamu, pendosa yang tahu kalau kekasihnya akan menikah dengan yang lainnya.
Dan akulah orang bodoh itu.
Akulah orang gila itu.
__ADS_1
Akulah pendosa itu