Lampu Kota

Lampu Kota
Sinar Bulan Yang Redup Diacuhkan


__ADS_3

Matahari kelelahan menyinari manusia-manusia yang tidak sudi merasakan kehangatan siang dan sore hari ini. Menggerutu seakan matahari adalah penyebab bumi ini yang menjadi semakin panas setiap tahunnya. Yang tidak salah, disalahkan. Saling menuduh dengan telunjuk yang berdosa karena manusia yang mengarahkannya.


Bocah ini betah berada di bawah matahari yang sedang menyengat. Dia duduk di trotoar sambil memegang koran dagangannya. Dia sama sekali tidak menggerutu seperti wanita di atas motor yang kesal karena lampu merah belum juga berubah ke lampu kuning.


“Koran, Mbak?”, tanya bocah itu.


Balasan darinya hanya mata sengit dan kesalnya.


Kenapa dia marah ke aku? 


Tak lama setelahnya lampu hijau menyala. Dia segera berlari ke trotoar. Lalu ratusan motor dan mobil saling berbalap-balapan untuk melewati lampu lalu lintas di atasnya.


Dia duduk. Tangannya menopang dagu. Korannya tinggal beberapa. Misinya hari ini selesai. Tinggal menunggu ibu-nya menjemput saja.


Bocah-bocah yang lain bermain di penyebrangan lain, tertawa melupakan kesusahan yang ia alami. Bercanda satu sama lain, persetan dengan dunia ini, persetan dengan uang, biar ibunya yang mengurus semua itu.


Lambaian tangan dan kerudung merah jambu terlihat di sebrang, sambil berteriak nama bocah itu. “Din! Udin!”, itu ibunya.


Bocah yang belum sekolah itu berlari ke arah ibunya, dia sama sekali tidak peduli berapa motor yang hampir menabraknya.

__ADS_1


Udin memberikan uang di dalam kaleng rokok, “Cuma segitu, Mak.”


“Alhamdulillah… ayo pulang, nanti malam lagi ya.”, kata ibunya dengan logat medok-nya yang kental.


Mereka berdua berjalan pulang, langkah kakinya diikuti bayangan tubuhnya. Matahari yang tadi di atas kepala, lambat laun menurun hingga tergantikan oleh lampu-lampu kota yang menerangi sepanjang jalan dan rumah-rumah di kampung.


Udin duduk di teras rumahnya yang sempit, melihat langit yang gelap dan tidak dipenuhi bintang. Dia sesekali melihat ke arah kanannya, sebuah rumah tionghoa dengan teras yang sedikit lebih lebar daripada jalan kampung ini.


Beberapa nenek-nenek dan kakek-kakek keturunan tionghoa merayakan sesuatu dengan minum teh. Ibu yang bekerja jadi buruh cuci di rumah itu pulang dengan sekantong camilan pasar yang dibagi secara cuma-cuma.


“Ini, Din. Dimakan ya.”, katanya.


Udin kembali menatap ke langit sembari memakan kue lapis di tangan kanannya.


Mana bulannya?, tanyanya dalam hati.


“Din, nggak main lagi?”, tanya ibu menyuruhku main di trotoar (alias jualan lagi).


Udin berdiri mengambil koran dan berjalan menuju trotoar dekat rumahnya. Di langkah kaki kecilnya, dia melihat bulan kecil yang tampak bersinar dari kejauhan. Sinar bulan itu tak seterang sinar matahari di pagi atau siang hari, seperti kelelahan atau mungkin sedang sakit.

__ADS_1


Matanya menoleh kanan-kiri, lampu rumah lebih terang daripada bulan, dan lampu-lampu pinggir jalan ini lebih semangat dari sinar bulan itu.


Oh aku tahu, bulan sedang marah. 


Dia tersenyum ke arah bulan, dia melihat lekukan tak beraturan yang ada di bulan. Itu indah, dan tidak seterang matahari. Tapi, Udin merasa tahu kenapa sinar bulan tidak seterang matahari.


Bulan sedang marah karena lampu-lampu itu, kan?


Karena lampu-lampu itu lebih terang daripada kamu,


Dan mereka lebih dibutuhkan sama mereka daripada kamu, 


Yang sabar ya, Bulan. 


Walaupun kamu diacuhkan, ada aku yang suka dengan terangmu,


Kamu nggak sendirian, aku bakal jadi teman kamu yang paling setia!


Aku janji! 

__ADS_1


__ADS_2