
Hidup ini opera.
Bumi adalah panggungnya, manusia adalah pemainnya, dan penontonnya adalah setan, malaikat, dan para jin yang sedang bahagia melihat kita sedih tertawa, dan sengsara oleh cerita yang telah kita pilih sendiri.
Alur cerita dengan awalan harmonis dan berakhir tragis, seperti pada umumnya cerita-cerita yang pernah kita saksikan dan alami. Seperti cerita penghianatan yang tidak akan pernah ada habisnya di bumi, selalu terulang, sengaja atau tidak disengaja.
Penghianatan oleh orang-orang yang dulu pernah berada di sekitarku, dan mereka yang sudah hadir di kehidupanku, menyisakan bekas cerita yang sama sekali tidak aku minta.
Aku tidak bisa menyalahkan mereka, yang dulu pernah ku panggil ‘teman’ atau ‘sahabat’, karena meninggalkanku demi kebaikan diri mereka sendiri. Omong kosong. Mereka pergi karena mereka merasa aku tidak lagi berguna, sebenarnya apa aku ini, seorang teman atau sebuah boneka yang sudah lusuh?
Beberapa tahun lalu, aku punya teman dekat yang selalu mendukung setiap kegiatan yang kulakukan, tapi kita akhirnya bermusuhan karena dia iri melihat semua yang sudah kulakukan. Kita sama-sama keras kepala, dan semuanya hancur hanya karena satu hal. Ya… SATU HAL.
Lalu, gelar teman sekarang sudah berganti, ke satu orang ke orang lainnya. Dan tetap akan terulang, gelar yang tidak akan pernah berhenti di satu titik, mereka berputar seperti roda besi yang tidak akan pernah berhenti karena paku. Seperti boneka kayu, kalau sudah dimakan rayap dan rusak, dibuang begitu saja.
Tapi aku benar-benar boneka kayu yang kurang ajar.
__ADS_1
Aku tetap menari dengan tangan kayu-ku yang hampir habis dimakan waktu. Aku tetap mencoba membuat mereka terhibur, walaupun aku sudah sekarat kesakitan karena kekecewaan, merasakan kemuakan dan kepahitan yang sudah memenuhi lapisan-lapisannya.
Walaupun sekarang status pertemanan sudah tidak ada, tapi setiap kali bertemu kita berdua sama-sama bertingkah tidak terjadi apa-apa. Kemunafikan apa lagi ini, Tuhan? Tapi, aku tetap menjalani hari-hari hingga saat ini, aku merasakan kokohnya keangkuhan sama seperti kayu yang sudah usang, lama-lama reot dan patah.
Berapa lama lagi tubuh ini akan bertahan?
Lalu, akhirnya aku akan meledak marah dan mengakhiri semua skenario yang ku buat, lalu panggung ini terbakar habis karena percikan keringat api dari tubuhku. Percikan keringat api karena kekesalan dan kelelahan yang bercampur menjadi satu.
Setiap kata yang dia ucap di belakangku adalah kata-kata ular untuk menjatuhkan reputasi, tapi aku tidak pernah terganggu dengan mulut banci-nya, karena aku tahu, dia hanya tidak senang melihat (mantan) temannya ini berada lebih tinggi darinya.
Sebenarnya aku tidak tahan berteman dengan mereka yang dulu pernah mengecewakanku, tapi biarkan wajah gembira ini menipu, dan kuhabiskan masa mini ini demi senyum bahagianya. Bahagia karena dia merasa menang karena hanya mulutnya yang bekerja, dan kelicikannya untuk segera mendahuluiku.
Karena aku masih berteman dengan mereka yang dulu pernah menyakitiku. Palsu karena senyuman sapaan ini adalah basa-basi tai yang sebenarnya sudah muak aku lakukan.
Tapi, aku juga tahu. Mereka palsu.
__ADS_1
Karena mereka masih tersenyum di depanku, walaupun mereka tahu, mereka memiliki kesalahan terbesar di dalam kehidupannya.
Kita sama-sama palsu.
Berlagak tidak terjadi apapun, dan demi ombak yang melahap seluruh kota ini, kita tidak akan pernah bisa rujuk menjadi satu seperti dulu.
Karena kita sama-sama manusia,
Yang masih ingin memiliki teman di hidup yang singkat ini.
Karena kita sama-sama boneka,
Yang mau dipermainkan skenario buatan kita, ditertawakan setan sebangsanya, dan mau dikendalikan keangkuhan masing-masing.
Berlayarlah pergi, bersikaplah bodoh sendiri, untuk mereka yang pernah ku panggil ‘teman’:
__ADS_1
Teman palsu,
Boneka kayu.