Lampu Kota

Lampu Kota
Ada Yang Mau Tidak Ada


__ADS_3

Bangku kayu kasar.


Bau seragam basah.


Dari tertawa sampai cerita, ada di ruangan ini. Entahlah sorak apa yang ada di pojok depan sana, mereka terlihat bahagia dengan tawa gigi putih yang semakin melebar. Atau mereka yang sedang berkumpul membuat forum diskusi tempurung kura-kura di sisi lainnya. Apapun yang mereka bicarakan, adalah topik kapur, satu hari jadi lebur.


Kulit ini bermesraan dengan meja kayu ini. Merasakan sentuhan meja kayu yang semalaman diselimuti embun subuh. Telingaku menolak mendengar bisingnya ruang kelas ini ketika istirahat datang. Telapakku menopang dagu, telingaku menikmati lagu. Tidak ada yang boleh ganggu.


Inilah masa SMA yang katanya ‘tak terlupakan’, sudah berjuta kali aku mendengar omong kosong itu. Memang iya, ‘tidak terlupakan’ karena sampai saat ini, aku masih tidak punya teman sama sekali, kecuali meja dan bangku.


Apa mungkin aku kurang bergaya berandal seperti mereka yang sedang bercanda itu? Atau mungkin aku terlalu rapi dengan setelan seragam putih abu-abu ini? Ah, aku tidak peduli, yang penting lagu di telingaku tidak pernah lepas.


Wajah-wajah yang tadi bercanda berubah menjadi wajah terburu-buru. Forum tempurung kura-kura tadi bersiap di posisi masing-masing. Pertanda ini sudah jam masuk dan seorang guru sedang dalam perjalanan.


Menurut jadwal, ini adalah pelajaran bimbingan konseling dari guru baru. Siapa pun gurunya, aku tidak mau tahu, dan aku tidak mau kenal. Karena semua yang guru bimbingan konseling lakukan hanya ceramah yang hampa.


Bangkuku berada di posisi strategis di pojok kelas bagian belakang. Sendirian tanpa teman sebangku.


Wanita berkerudung pelangi masuk keruang kelas, mengenakan setelan berwarna coklat tua yang kontras dengan warna kerudungnya. Ada balutan pemerah di bibirnya yang merona seperti baru saja memakan darah, lalu sedikit eye-liner di mata lebarnya. Senyumnya memiliki dua arti: diam atau mati.


“Selamat pagi, Anak-anak!”, sapanya seraya seluruh kelas menjawab, kecuali aku.


“Perkenalkan, nama saya Rumi Setyaningsih. Panggil Ibu Rumi saja.”

__ADS_1


“Selamat pagi, Bu Rumi…”, kata sebagian siswa di kelas, yang paling kencang adalah segrombolan siswa yang… penyuka tante-tante? (mungkin)


Telapak tangannya bertepuk. Wajahnya berubah menjadi sumingrah dan semangat.


“Oke! Langsung saja!”, katanya sedikit berteriak. “Apakah kalian bersemangat hari ini?”


“Semangat, Bu!”, seluruh kelas menjawab.


Tidak sama sekali, teriakku dalam hati.


“Saya yakin hari ini adalah hari terindah bagi kalian, begitu juga dengan hari-hari kalian sebelumnya. Kalian semua harus setuju!”, nadanya semakin tinggi dan bahagia.


“Setuju, Bu!”, dijawab dengan semakin semangat.


Baiklah kalau memang harus setuju. Akan kubuat hari kemarin adalah hari terindah. Yaitu hari dimana ibuku tidak pulang sama sekali ketika ayah meninggal, dan suami baru yang akhirnya menetap di rumah. Atau hari ini, dimana adik kecilku koma di rumah sakit dan ibu masih juga kelayapan dengan suami barunya. Baiklah, ITU SEMUA INDAH. 


“Kita muda! Kita bisa, Bu!”, semuanya menjawab.


Baiklah aku tidak akan menekan diri sendiri. Kecuali memang keadaan akan menekan seluruh emosi yang ada di dalam diri untuk cepat keluar. Menangis dan menggila. Aku sama sekali tidak menekan emosi itu keluar ketika tahu hidupku adalah yang ter-kacau balau di dunia. Aku manusia bebas, aku masih muda. Bahkan di dalam kamar mandi pun memiliki aturan, di mana sisi kebebasan di dunia ini? 


“Jangan meninggalkan kehidupan! Karena kehidupan takkan meninggalkan kalian!”, Bu Rumi sambil mengepal-ngepalkan tangannya ke atas seperti pemain tinju yang baru saja masuk arena pertandingan.


Benar. Kehidupan tidak akan meninggalkan, dan kehidupan akan mempermainkan seluruh cerita di hidupku dari ibu kelayapan, adikku yang koma, dan cinta pertamaku yang hilang. Benar, kehidupan tidak akan meninggalkan, tapi menjauh sejauh surga dan neraka. Percuma aku berlari untuk meraih tujuan hidup sempurna, barang mewah dan banyak teman, kalau memang takdirnya akan hilang, kenapa harus memiliki? Hanya untuk sakit hati? Kalaupun aku mau, aku bisa mendapatkannya, tapi hidupku sudah tak berselera dan tak beraroma untuk omong kosong lainnya. 

__ADS_1


“Apakah kalian ingin tetap hidup sehidup-hidupnya di bumi ini?!”


“Mau, Bu!”, jawaban mereka semakin kompak.


Aku sudah mati. Mati rasa dan gaya. 


“Apakah kalian bangga telah lahir di bumi ini!?”


“Bangga!”, nada semangat serentak berbunyi.


Bangga. Karena aku adalah hasil hubungan gelap ayah dan ibuku. 


“Kalian mau di sini. Kalian ada karena kalian mau!”


“Kami ada karena kami mau!”


Aku memang ada, karena sperma ayahku tidak sengaja menyentuh sel telur ibuku. 


Bu Rumi tertawa kecil, “Masa iya ada yang gak mau ‘ada’ di bumi ini…”


Seluruh kelas tertawa. Kecuali aku.


Ada. Dan orangnya ada di sini. Di dalam tubuh ini. 

__ADS_1


Duh, aku mengeluh dalam hati.


Aku kembali mengenakan earphone-ku lagi. Telingaku tidak ingin mendengar kata-kata omong kosong guru baru itu.


__ADS_2