Lampu Kota

Lampu Kota
Banci Di Kota Darah


__ADS_3

Apa yang akan kamu lakukan, ketika melihat kakakmu menangis saat menyaksikan ayahnya pergi dari rumah dan tiba-tiba air mata mengalir tanpa detak?, Aku belum sadar betul apa yang terjadi waktu itu, aku masih 7 tahun, tapi merasakan jeritan seorang anak sulung perempuan dan ibunya menangis mengejar tanpa alas ke ayahnya yang sudah mulai menjauh dengan mobil VW warna abu-abu, berisi keluarga barunya.


“Pa… Jangan pergi! PAPA! INI RATNA, PA!”, teriaknya hingga kakinya tak sanggup menopang kesedihannya, lututnya tersujud, badannya goyah dan siap untuk jatuh.


Ibu menahan Ratna dengan sekejap, dan memeluknya ketika kami… menjadi tontonan tetangga dari balik jendela. Sirkus yang penuh dengan amarah, kesedihan, dan ketidakberdayaan. Mata-mata dari balik tirai di setiap jendela rumah menonton sirkus konyol ini. Tidak ada yang mau membantu ibu atau kakak. Mereka hanya melihat.


Siapa yang tahan, menjadi bahan pembicaraan, dan lirikan sinis penuh dengan teka-teki ketika berjalan berangkat ke sekolah? Tidak mudah menjadi seorang anak laki-laki, dan merasakan apa yang ibu dan kakakku rasakan selama ini. Ini terlalu berat untuk ditopang, apalagi aku masih duduk di bangku SD kelas 1.


Ternyata mudah jadi pria, mencintai lalu meninggalkan.


Semua yang mereka perjuangkan, yang pernah pria cintai, akan pudar dan tak lagi memiliki rasa. Di akhir cerita, semua cinta yang tadinya warna-warni menjadi kesedihan yang hitam putih.


Aku tidak mau menjadi salah satu dari pria itu. Aku mengutuk pria bajingan yang lupa diri, sekaligus aku mengutuk diriku sendiri jika aku menyakiti hati seorang wanita, tubuhku memberontak dengan rohku, marah akan perilaku ayah yang tidak akan pernah dilupakan semua tetangga. Dengan aliran darah yang mengalir di setiap detiknya, aku berusaha untuk tidak memperlihatkan keluh kesahku ke ibu dan kakak.


Aku berlari, melepaskan kegundahanku dan kegelisahanku selama ini.


Bocah yang kini sudah 14 tahun, nekat mengawinkan jiwanya kepada kebebasan dan lari dari kandang yang selama ini membesarkannya, menginginkan jiwa yang benar-benar baru, dan melupakan bocah berumur tujuh tahun yang hanya bisa menatap ketika ayahnya pergi.


Berakhir kehausan, kelaparan, di jalanan yang penuh dengan mobil dan motor. Roda-roda itu tidak pernah berhenti bekerja dan memberiku makan sama sekali, hanya udara polusi yang bisa-bisa meracuniku hingga aku mati di pinggir jalan trotoar yang luas ini. Aku merasa kecil, hampir mati, tapi aku merasa lega dan bahagia, di keadaan yang menyudutkanku untuk ingin melupakan semuanya. Sekarang aku bebas, tapi kesusahan.


Seseorang mengulurkan lembaran uang ke arahku, jari yang lentik dipenuhi cat warna-warni, lalu gaun sepaha dengan motif bling-bling yang membuatnya bersinar terkena lampu mobil dan motor ketika lewat. Dia tersenyum, bentuk wajahnya pria, pemerah bibirnya merah merona,  dandanannya tidak kalah dengan penyanyi orkes dangdut di kampung kami, rambutnya hitam panjang terpasang indah.


“Rumahmu dimana?”, katanya bernada berat.


Aku diam. Kupikir dia wanita yang sering kulihat di orkes dangdut keliling, ternyata dia seorang pria yang berdandan seperti wanita.


Tanpa banyak bicara, dia memegang lembut tanganku, dan berkata, “Yawis, ayo tinggal di istanaku saja…”, katanya lentik.


Apa dayaku? Aku mengikutinya, mengikuti arah tangannya membawaku ke gemerlapnya warung pinggir jalan, semua mata tertuju padanya, pelanggan-pelanggan yang ada di warung tertawa melihatnya, lalu dia mengelurkan kecrekan dan mulai menyanyikan lagu-lagu dengan suaranya yang semakin melengking.


Dia bahagia sekali. Menari dan tertawa sepanjang warung yang kami datangi. Orang-orang yang iseng akan ikut berjoget dengannya, aku hanya diberi kantong bekas jajan, dan disuruh keliling ke meja-meja warung ketika dia melakukan ritualnya (baca: nyanyi dan joget).

__ADS_1


Setelah beberapa warung kami datangi, sekarang sebungkus nasi sudah ada di tanganku, kami berjalan menuju rumah susun yang remang-remang, hanya ada lampu-lampu kecil yang menyala di beberapa sudut, sisanya hanya suara kucing dan daun-daun yang kami injak, kakiku baru merasakan pegal, tidak sadar ketika dia membawaku keliling warung yang ada di pinggiran kota. Dia membuka pintu,


“Selamat datang… di istana sang princess”, sambutnya sambil dia mencopot hak tingginya.


Aku tersenyum, terbesit melihat sosokku di kaca… kumel dan bau.


Dia membuka rambut palsunya, lalu duduk dengan kaki yang ia sandarkan ke kursi yang lainnya  sembari meraih rokok dan koreknya. Rokok itu ia sulut, sambil tersenyum dia menyuruhku duduk. “Boleh duduk loh, di sana…”


Lalu, aku duduk di bangku hijau kecil yang ada di pojok ruangan kecil ini.


“Namaku Ratu Delima Marwasati Setyaningrum Bin Melatiwati Dahlia Jahanam Dari Neraka”, katanya tanpa henti, lalu kami tertawa lepas. Dia lalu melihatku, “Panggil aku Ratu ya, namamu siapa?”


“Soni.”, kataku ragu. Nama pemberian ayahku yang kata ibu selalu ingin punya putra bernama ‘Soni’, aku masih tidak tahu artinya, dan aku tidak peduli artinya, aku muak dengan nama itu dan semua cerita yang ibu ceritakan tentang ‘keinginan ayah’, buktinya aku ditinggalkan kan?


“Merk TV dong! HA-HA”, tawanya lepas.


“A-aku… pingin jadi kayak kamu.”


“Mati”


“Ayahmu?”


“Mati”


“Ibumu?”


“Hilang.”


Aku tahu, sekarang nadaku terlihat seperti orang yang sedang berbohong, tapi ini yang aku inginkan, dan aku ingin melepas semua memori-memori yang pernah ada di hidupku.


Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa lusuhnya, “Aku pernah ngalamin apa yang kamu rasain, Son. Tapi, kamu nggak harus jadi kayak aku… banci”

__ADS_1


Aku melihat matanya, penuh kejujuran juga keberanian, sesuatu yang selalu aku inginkan, semua  ada di tatapan matanya, sebuah keikhlasan dan kebahagiaan. “Tapi, aku yang mau. Tolong. Aku butuh…”, aku terhenti, “…ibu, ayah, dan kakak baru.”, kataku pelan.


Ratu terdiam.


Ruangan ini menjadi sepi seketika selama beberapa detik. Ratu menghisap rokoknya, lalu menenangkan dirinya.


“Ini nggak bakalan mudah…”


Aku memotong dan melihat matanya tajam-tajam, “Aku siap.”


Dia membuka lengannya, aku menghampirinya dan memeluknya.


Dia mendorongku sedikit, sambil jijiknya dia berkata, “Duh, mandi sana! Ambumu, Son!”


Aku tersenyum. Aku merasakan perasaan ini setelah sekian lama. Sebuah kebahagian dan penerimaan dari orang lain. Perasaan ini tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Dia adalah satu-satunya orang yang memberiku perasaan ini sekarang.


Mulai detik itu, aku bukan lagi ‘Soni’, aku adalah ‘Sonya’.


Benar kata Ratu, tidak mudah menjalani profesi ini. Sebagai waria, atau kata mereka ‘banci’.


Saat-saat pertama aku muncul sebagai waria, banyak yang mengejekku, menendang, bahkan meludahiku di pinggir jalan. Walaupun, banyak juga yang tertawa dan terhibur dengan penampilanku ini. Mereka yang kuhibur selalu tertawa dan bahagia, aku selalu ingin membuat orang lain tertawa dan melupakan masalah mereka sejenak denganku, aku suka sekali membantu mereka untuk tertawa, tapi yang paling kutakuti adalah pria seragam cokelat yang cinta mati terhadapku, Satpol PP.


Aku pernah dikejar hingga akhirnya aku sembunyi di warung milik Ning Surti. Aku selalu menganggapnya sebagai ibuku. Dia baik sekali, ketika orang-orang itu mengejarku, aku langsung masuk ke warung Ning Surti dan sembunyi dibawah meja dapurnya. Dengan santainya, Ning Surti cuma bilang, “Mau apa? Nang kono akeh!” sambil menunjuk ke arah lainnya.


Mencari rupiah untuk bertahan hidup, dihina dan dicela walau tak berdarah, demi mencari jati diri yang selama ini usang dan hilang. Perjalananku masih panjang, menjalani hari di kota pahlawan, di kota yang penuh dengan darah perjuangan.


Aku akan tetap berdiri.


Sebagai banci yang mengenal luka dan perjuangan.


Takdirku memang begini, aku akan jalani ini dengan semua harga diri.

__ADS_1


Aku… Sonya, banci dari kota darah.


__ADS_2