Lampu Kota

Lampu Kota
Vespa-nya Ferri


__ADS_3

Gitar ini kupetik dengan tempo pelan dan menghasilkan suara yang halus di telinga. Mencari nada yang tepat untuk didendangkan di suasana pasar yang ramai ini. Kunci demi kunci kupetik, tetap saja nada di suaraku tidak keluar, biar pun kupaksa, rasanya mustahil aku menyanyikan sebuah lagu dengan benar. Karena aku bisu.


Pendengaran dan penglihatanku hanyalah satu-satunya harta yang ku punya dari lahir hingga sekarang. Aku terlahir begini, dan aku sama sekali tidak menyalahkan tuhan untuk kekurangan ini. Banyak pedagang yang ngomel karena kepanasan, tapi ketika hujan, mereka juga menggerutu. Ah… tenangnya hidup ini, karena aku hanya bisa melihat dan mendengar orang-orang berseliweran di pasar ini, tanpa menambah beban mereka.


“Weh… Eko!”, sapa Ferri, temanku nongkrong di pasar ini. Dandanan seadanya dengan kaus dan celana jin yang robek di bagian dengkul, aku tahu celana jin itu sengaja dirobek biar terlihat keren.


Aku mengangguk dan tersenyum. Balasan sapanya.


Dia merasakan tempo dari petikan di gitarku, kakinya mulai mengetuk-ngetuk tanah, tangannya seperti memainkan drum tambahan di kursi yang ia duduki. Perlahan-lahan suaranya mulai keluar. Merdu dan pas dengan tempo gitarku, padahal aku bermain seadanya.


“Pergi… di hari Minggu… bersama pacar baru…”


“naik vespa keliling kota… sampai di sana…”, dia berhenti bernyanyi.

__ADS_1


Aku yang asik memetik gitar juga ikut berhenti.


“Eh, liat ada motor vespa lewat…”, katanya dengan ekspresi wajah memelas. Dia lalu nyengir sendiri, melanjutkan lirik-lirik lagu yang tadi terhenti.


Jariku ikut memetik gitar, seraya Ferri menyanyi.


Beberapa tahun yang lalu, Ferri pernah punya vespa. Motor dengan roda yang lebih kecil, berwarna merah senada dengan warna helmnya. Dia begitu mencintai motor sekuternya, tidak lupa sehari pun dia memandikan ‘si Epa’, sebutan sayang untuk sekuter miliknya.


Kalau biasanya aku dan Ferri nongkrong di pasar berjam-jam, tapi semenjak Ferri punya si Epa, dia tidak sampai nongkrong satu jam di pasar, lalu bergegas pulang untuk bercumbu dengan si Epa. Walaupun aku tidak merasa kesepian kalau nongkrong yang biasanya ada Budi, Yusril, dan Lanang, tapi ada yang kurang kalau Ferri tidak ikut.


“Sore hari telah menjelang… Saatnya untuk pulang…”


Ferri bernyanyi untuk dirinya sendiri di masa lalu, dia selalu pulang sore (kalau masih punya si Epa), tapi sekarang dia pulang yang paling terakhir, sampai setelah jam tujuh malam.

__ADS_1


Semenjak si Epa hilang (dicuri), Ferri merasa hidupnya tidak berguna lagi. Apalagi pacarnya Indah, juga ikut-ikutan pindah ke lain hati. Beberapa bulan setelah tragedi hilangnya si Epa, Indah mengaku ke Ferri kalau dia sudah dijodohkan dengan lelaki lain dan akan menikah dalam beberapa hari. Tragis kan? 


Sering aku lihat Indah dipasar untuk beli ke tokoh kelontong milik si Herman, dandanannya selalu berantakan setiap ke pasar. Apa mungkin karena efek pasar sore ya?


Herman… biasanya dia ikut nongkrong kalau tokonya tutup. Teman dekatnya: Ferri dan aku. Tapi tidak tahu kenapa, semenjak Indah jadi pacar Ferri, Herman jadi lebih canggung ke Ferri. Aneh ya? nggak usah dipikirkan… Tapi, aku dengar-dengar gosip dari ibu-ibu pasar, ternyata Herman adalah pacar baru Indah, dan perjodohan itu hanya omong kosong belaka.


“Simpan dalam hati… nanti ku ambil kembali…”


Pasangan Indah dan Ferri adalah pasangan paling romantis di kampung, setiap hari selalu terlihat pasangan itu ke sana kemari dan berpelukan di atas si Epa. Indah dengan rok panjang warna cokelatnya, dan helm serasi yang mereka kenakan, rasanya seperti melihat film-film tahun 70-an… aneh tapi nyata.


Oh iya, masalah si Epa…. Maaf Ferr,


Aku yang mencurinya. 

__ADS_1


__ADS_2