Lampu Kota

Lampu Kota
Pemimpi Sejati


__ADS_3

Akar pohon tumbuh merambat di sebuah rumah tua di pinggiran kota yang sudah penuh dengan sesak, menghalangi jahatnya sinar matahari siang yang tepat berada di atas ubun-ubun puluhan juta manusia di kota ini. Ada yang berlarian, ada yang berteduh dibawah genting, ada yang melamun menatap langit, dan ada juga yang tidak peduli dengan semua yang terjadi di sekitarnya.


Dani tidak peduli. Apalagi mencaci mereka yang sedang terlihat kesal dengan hari ini, yang dia lihat hanya perputaran hidup yang tidak akan pernah berhenti. Selalu sama, selalu terulang, lagi dan lagi.


Seragam putih dan abu-abunya sudah dikotori dengan debu dan keringatnya sendiri, sedang menunggu jemputan kakaknya yang katanya terjebak macet sejam yang lalu.


Hari ini dia merasa mual, dan izin untuk pulang, sebenarnya... dia sudah merasa tidak enak badan beberapa minggu belakangan, tapi puncaknya hari ini. Dia murung, mengabaikan semua sapaan temannya yang menurutnya hanya sebuah distorsi.


Dia merasa sendiri, walaupun dia punya banyak sekali teman.


“Dani! Ayo!”, teriak Rena, kakak perempuannya, dari dalam mobil yang sudah ada di depannya.


Dani segera masuk, duduk di bangku depan bersebelahan dengan kakaknya.


“Untung jam makan siang jadi kakak bisa jemput kamu.”, katanya menyambut dengan nadanya yang sedikit kesal.


“Padahal aku bisa pulang sendiri, tapi kata satpam nggak boleh keluar sekolah sebelum jam pulang. Katanya bisa ditangkap Satpol PP.”, jawab Dani.


“Kenapa kok tiba-tiba sakit?”


Dani hanya mengangkat kedua bahunya, “Lupa sarapan mungkin.”


“Mama gimana kabarnya?”

__ADS_1


“Mbak, kalau aja mama tinggalnya di rumah, pasti aku tahu. Tapi kayaknya mama bahagia sama si Hendro itu, mereka kayak pasangan baru menikah dan hidup bahagia di Jakarta.”, jawab Dani.


Rena mengangguk. Memahami situasi kesendirian adiknya.


 Lalu Dani memikirkan pertanyaan kakaknya tadi.


Salah satu mimpi Dani adalah bisa hidup dan tinggal bersama keluarga lengkapnya seperti saat dia SD. Waktu itu, Rena baru lulus SMA, mamanya selalu ada di rumah, dan ayahnya tidak pernah melewatkan makan malam. Keadaan berubah sejak ayahnya meninggal sebelum dia lulus SD, dan kakaknya melanjutkan kuliah lalu kerja, dan mamanya menikah lagi. Walaupun tidak ada yang salah, tapi kehidupan berlalu terlalu cepat menurutnya, tiba-tiba dia berada di sebuah rumah besar bersama dua orang pembantu. Setiap makan malam, Dani selalu membayangkan ada sosok ayahnya yang menemani, mamanya yang menuangkan nasi ke piringnya, dan kakanya yang selalu menggoda ayah. Kenangan yang selalu ingin ia ulangi dan tinggali untuk selamanya.


Di balik jendela mobil, Dani melihat pemandangan manusia yang sibuk memenuhi kota ini. Sesekali dia melihat bayi menangis yang dibonceng, lalu pengamen kecil yang duduk di trotoar, sekumpulan ojek berseragam di warung, dan tidak lupa ibu-ibu bersepeda motor dengan hijab dan daster tak berlengan. Banyak sekali hal-hal aneh di kota ini, tidak luput dengan kebodohan yang mengikuti setiap manusia.


“Kamu udah punya pacar, Dan?”, Rena memecahkan lamunan Dani.


Dani tertawa kecil, memikirkan betapa konyolnya pertanyaan itu. “Kalau aku udah punya pacar... aku pasti udah nggak banyak di rumah, dan nggak segemuk ini.”, Dani memegang perutnya yang sedikit buncit, di sisi lain dia memang memikirkan hal itu.


Mobil ini berhenti tepat di depan rumah. Kakaknya melihat layar smartphone-nya sambil mengetik. “Ya udah, Dan. Jangan lupa istirahat, jangan lupa makan. Udah ya, kakak harus balik ke kantor lagi.”


Dani mengangguk, “Terima kasih ya, Mbak.”, dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah. Dari suasana sepi ini, mungkin para pembantunya sedang keluar ke pasar dan akan kembali sebelum jam makan malam. Dia duduk di sofa ruang tamunya, meletakkan tas punggung yang daritadi dia genggam.


Cahaya yang masuk di rumah ini masih sama dengan yang dulu, saat hari bahagianya masih ada, Dani bisa mendengar suara petikan gitar yang biasa ayahnya mainkan di pojok ruangan, bersantai dengan secangkir teh panas di meja, aroma sejuknya angin sore dan harum melati teh yang diseduh air panas.


Dia berdiri, naik ke lantai dua rumahnya, berjalan melewati bekas kamar Reni yang sekarang berubah menjadi kamar tamu. Dia melirik pintu kamar yang sekarang sudah bersih dengan warna putih. Dia masih bisa mengingat letak stiker-stiker yang dulunya pernah menempel di pintu itu, dan gantungan dream catcher warna merah muda.


Saat tubuhnya terhempas di kasur kamarnya, dia menatap langit-langit. Membayangkan dia sekarang terbang dari angkasa menuju bumi, dia tersenyum sendiri.

__ADS_1


“Pasti rasanya lega.”


Sayangnya, semua yang dia inginkan hanya sebatas mimpi, tak tersentuh karena takut jatuh ke laut kegagalan. Dia terjebak dengan imajinasinya, suara dan gambaran yang terasa nyata dikalahkan dengan rasa takut.


Dia sadar, dia tidak pernah mencoba sekali pun untuk mewujudkan keinginannya, dia gagal untuk mengalahkan rasa takutnya.


Dani melamun dari siang hingga matahari terbenam. Menatap ke arah jendela besar yang terbuka lebar. Dia berjalan ke luar teras kamarnya, melihat lampu-lampu jalan yang sudah menerangi kegelapan. Saat dia menatap langit, banyak bintang terhalangi awan abu-abu malam ini.


 “Mungkin ini saatnya...”, kata Dani berbisik. Dia mengenggamkan kedua tangannya ke pegangan terasnya, dia bersiap untuk mengalahkan ketakutannya dan mewujudkan satu mimpinya: terbang.


Dani berpikir, kalau aku tidak bisa mengulangi semuanya karena ayah sudah meninggal, jadi aku harus mewujudkan mimpi ini, aku tidak takut lagi. Aku bukan lagi pemimpi sejati. 


Dia menarik tubuhnya, mengayunkan kakinya, dan melepas pegangannya. Dia loncat, merasakan adrenalinnya berapi di dalam dada. Dia meluncur ke bawah dengan mata tertutup. Dani merasakan tubuhnya jatuh ke bawah, angin malam ini membuatnya merasakan sensasi terbang.


Matanya mulai dibasahi air mata, dengan segala tekatnya, dia melupakan arti sebuah ketakutan. Kekecewaan yang ia pendam sekarang berada di atas kepalanya, mengeras lalu pecah dibawa udara.


Dani tidak merasakan apa-apa, kedua matanya masih terpejam. Tubuhnya yang tadi meluncur ke bawah sekarang tidak bergerak kemana-mana, dia merasakan tubuhnya terapung di udara. Sedikit demi sedikit, Dani membuka kedua matanya, yang dia lihat hanya putih dan kedua kakinya tidak menyentuh daratan. Tubuhnya mengapung.


Suara langkah kaki terdengar dari arah kanannya, mendekat dan mendekat lalu berhenti.


“Dani?”, suara pria bernada berat terdengar, tidak asing di telinganya.


Dani menoleh, “Ayah...”

__ADS_1


__ADS_2