
Aku menciptakan momen saat warna cat merah ini sedikit demi sedikit luntur di kanvas putih yang sudah ternoda oleh cipratan pertama pagi ini. Aku menunggunya sedikit kering hingga aku bisa memberinya warna lain yang sepadan.
Aku tidak ingin merusak warna dan melupkan momen-momen yang kita buat, dan segala hal yang sudah kita lakukan bersama, adalah warna yang paling indah yang takkan pernah bisa aku lupakan. Aku tidak sebodoh itu merusak warna-warna itu, seperti meng-iya-kan kata-kata mereka untuk segera melupakanmu. Aku ingin tetap bersama di setiap bayang kanvas kita berdua, walau kita tidak lagi seperti dulu.
Aku hanya mengingatmu sebagai kekasihku yang satu-satunya, tidak ada warna yang mampu menggambarkan betapa indahnya lukisan yang pernah kita buat bersama. Butiran kenangan yang sudah menumpuk menjadi gunung, lukisan abstrak mahakarya yang kami buat.
Genggaman tanganmu takkan pernah lepas saat aku menyelesaikan sebuah lukisan, tapi sekarang genggamanmu benar-benar lepas dan hilang. Aku merindukan pelukanmu di baju kotorku yang sudah basah karena keringat, dan cat yang sudah kering di permukaan kain. Pelukan yang selalu kau berikan setiap bertemu, tapi pelukan itu sekarang berubah menjadi debu memori yang selalu akan tersimpan di dalam aliran darahku.
“Maaf, Ren. Aku mau kita putus.”, katanya tanpa menyesal. Di hari yang sudah petang itu, kamu melepas pelukan terakhirmu. Tak lama setelahnya, awan berduka menangis gerimis yang membasahiku kaku tidak rela melepas momen-momen itu.
Warna-warna di bajuku basah dan luntur karena air hujan, begitu juga dengan janji-janji kita yang pernah kita buat bersama. Hilang terbawa arus genangan, menyisakan kepedihan, aku tenggelam di setiap tetesan hujan berguntur petang.
Semenit kemudian, aku mengambil cat warna biru, dan mulai mengaduknya di palet kayu yang sudah ada di tangan kiriku. Perpaduan warna merah dan biru, menjadi ungu muda yang mengekspresikan betapa pun kuatnya seseorang (merah) akan menjadi sendu juga (ungu) jika hatinya patah atau sedang merasa sedih (biru), semuanya tergantung waktu yang berputar.
Waktu memang akan berputar dan menggiling semua kenangan-kenangan itu ikut tergerus, tapi semakin halus mereka tergerus, semakin halus dan indah kalau semuanya masih tentang kamu. Semua yang sudah ku lakukan, semuanya teringat momen ketika melakukan itu bersama kamu.
__ADS_1
Semuanya ada kamu, meskipun itu semua fana dan tidak nyata. Hal-hal kecil yang ku lakukan, akan mengingatkanku kembali ke semua kenangan kita melakukan hal yang sama. Mungkin aku gila, karena semuanya masih tentang kamu.
Tentang kamu.
Tentang aku.
Tentang kita.
Sempurna.
Duduk di bangku kayu kesukaanmu, dan melihat penatnya kota sementara aku sedang sibuk melukis dekat jendela, adalah hal yang biasa kita lakukan untuk kabur dari keresahan, itu cara kita, untuk tetap saling bersama, walaupun sekarang kamu tidak di sebelahku.
“Aku sayang kamu…”, senyumnya semakin lebar, melebur hingga wujudnya tersapu angin. Aku tahu itu semua hanya imajinasi, tapi kenapa itu begitu nyata dan aku tidak ingin dia pergi begitu cepat?
Selama ini memang hanya kamu, yang bisa memuaskan semua kerinduanku, tidak dengan siapapun, sekali pun ada seseorang yang menyerupaimu. Aku jatuh cinta dengan ruh-mu, bukan dengan tubuhmu.
__ADS_1
Sebesar itulah aku mencintaimu, semua rasa yang pernah kuberikan pada seorang wanita, dan semua itu sudah kuberikan kepadamu, sekaligus jiwa dan akalku. Aku tidak lagi memiliki jiwa mencintai lagi sebesar aku mencintaimu.
Aku menggila, melukis dengan amarah. Warna-warna yang tadi tenang menjadi berhamburan di kanvas, sebidang persegi tempat kekesalanku kepada nasib dan takdir yang kujalani.
Begitu mudahnya kamu jatuh cinta, sampai tidak lagi mencintaiku.
Lalu kamu hilang, di telan keramaian.
Distorsi yang kamu inginkan, sebuah pernikahan.
Dan kamu dengannya, aku dengan diriku dan bayangmu.
Aku tetap melakukan hal yang sama, seperti yang kita lakukan saat dulu. Ini adalah caraku untuk mengenangmu, bukan melupakanmu. Ini seni meninggalkanmu, tarian mematikan, nyanyian kesakitan, dan lukisan kepedihan.
Memang indah, tapi pedih.
__ADS_1
Sakit, tapi mau bagaimana lagi.
Ternyata aku bukan pendamping abadimu di hari pernikahanmu.