
Aku merangkul kedua kakiku, beralaskan jerami dan diselimuti karung-karung goni yang berisi rerumputan hijau. Merasakan tubuhku tergoyah saat truk ini melewati jalan berbatu dan menancapkan gasnya.
Bak raksasa ini tertutup terpal berwarna biru, gelap, hanya sinar dari lampu-lampu jalan yang menembus masuk dan sesekali menerangiku di dalam sini. Aku mendengar anak-anak kecil seusiaku sedikit merontah saat perjalanan kami tidak mulus.
Kemarin, aku masih bisa bermain di lapangan yang luas dengan teman-teman sekampungku, tapi sekarang nasibku terombang-ambing karena Amak (ibu) menangis menyuruhku masuk ke truk besar ini.
Keadaan desa yang kacau membuatnya tidak bisa memilih untuk segera menyelamatkanku dan merelakanku untuk mengungsi ke perkotaan dengan anak-anak lain. Saat siang tadi, aku bisa melihat wajah anak-anak yang senasib denganku basah karena tangisannya sendiri. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata apapun dari berjam-jam yang telah kita lewati bersama.
Truk ini berbelok, kami semua mengikuti arah dengan terpaksa. Karung-karung ini menguras tenaga kami untuk bernapas lancar.
Tiba-tiba truk ini berhenti, dan suara percakapan terdengar tak jauh dari sisi lain bak ini.
“Apa ini, Uda?”, kata seorang lelaki yang bernada besar dan berat. Sepertinya dia lebih muda, karena dia memanggil supir dengan ‘Uda’ yang berarti ‘kakak lelaki’.
“Ah… cuma makanan buat sapi-sapi.”, jawab supir truk ini.
Terdengar suara panjatan ke bak besar ini, aku dan anak-anak yang lain segera meringsutkan diri, dan mencoba untuk bersembunyi lebih dalam lagi agar tidak terlihat dari atas. Suara terpal terbuka membuat jantung ini berdebar lebih kencang, tapi aku mengatur napasku agar keluar pelan-pelan, dan mencoba untuk tidak menggerakan perutku yang bersentuhan langsung dengan karung-karung ini.
“Woah! Banyak jugo…”, kata pria bernada berat itu dan segera menutup kembali terpal ini.
Aku bernapas lega, dia sama sekali tidak melihat kita semua.
Dia turun dari bak besar ini, dan bercakap-cakap dengan si supir. Dari yang kudengar, ada operasi polisi dan pengamanan sepanjang perbatasan kota ini. Ada perpecahan suku dan menyebabkan perang antar desa yang banyak memakan korban, termasuk ibu dan anak-anak.
“Parahlah itu… untung istriku sudah pindah ke Jakarta.”, curhat si supir.
Setelah percakapan itu, truk ini melaju kencang lagi. Ruang gerakku bisa sedikit lebih bebas dengan memindahkan karung-karung ini ke sisi yang lebih kosong. Aku ingin sekali bisa melihat pemandangan di luar.
Aku mencoba memindahkan karung-karung ini ke bawah, dan meraih ke atas, anak-anak yang lain hanya melihatku dengan tatapan heran mereka. Aku tidak peduli, tapi aku ingin tahu keberadaanku sekarang.
Sedikit celah di terpal, aku membukanya, dan mataku terpaku, sekarang aku berada di tengah perkotaan sepi dengan lampu-lampu jalan berwarna oranye. Aku tidak melihat banyak kendaraan, bahkan hanya ada segelintir orang di jalanan.
Sekarang, jiwaku terasa terbang mengikuti alur laju truk ini. Aku rindu amak di rumah, rindu teman-teman, rindu tetangga, dan semua mainan yang ku punya. Kemana hidup ini akan pergi? Apakah aku akan jadi pengemis di pinggir jalan?
Sebuah tangan menyentuh kakiku, aku melihatnya, dia seorang bocah yang kelihatannya lebih tua dariku. Dia sekitar umur 11 tahunan.
“Apa yang kamu lakukan?”, nada bataknya kental, dia dari desa yang sama denganku.
__ADS_1
“Lihat ke luar sana, Kak.”
“Sudahlah, duduk saja.”, perintahnya.
Aku duduk di sebelahnya, dia tampak sama denganku: bosan dengan perjalanan ini.
“Sebentar lagi juga sampai…”, katanya.
“Ha?”
“Kita bakal dititipkan ke panti… itu sih kata amak dan abak.”, katanya menjelaskan dengan ekspresi tidak yakin.
Truk ini berbelok, dan berhenti. Mesinnya mati, lalu terdengar suara pintu supir tertutup. Seketika aku dan teman baruku mengintip ke luar. Terlihat si supir tertawa dengan seorang pria berjaket kulit hitam.
“Ah, akhirnya kamu nambah juga stock kita.”, kata pria berkulit sawo matang itu.
Si supir lalu melihat kanan-kiri, “Aman, kan?”
“Aman-lah…”, katanya sambil memberi sebuah amplop cokelat tebal.
Seketika mataku dan teman baruku bertemu, mencium bau kecurigaan dengan percakapan itu. Kami berdua duduk di posisi semula, dan napas kami memberat.
“Kita bakal dijual…”, katanya yang semakin membuat kekhawatiranku tinggi.
“Lalu bagaimana ini?”
“Ayo keluar dari sisi itu, diam-diam, jangan sampai terdengar.”, katanya sambil berjalan ke arah sisi berlawanan.
Dia mulai memanjat, lalu tanganku diraih olehnya. Sesekali dia memberikan kode untuk tetap diam agar tidak ketahuan. Tanpa alas kaki, kami berhasil turun dari truk, dan mulai berjalan cepat untuk mencari tempat persembunyian.
Lalu kami sembunyi di rerumputan yang tinggi dan pohon-pohon yang gelap. Kami bersembunyi di balik bayangan rumput dan kami yakin, kami tidak terlihat oleh mereka. Dari sana, kami melihat si supir mulai membuka pintu belakang bak truk.
“Keluar! Keluar!”, teriaknya.
Anak-anak itu mulai keluar truk, dengan teliti pria berjaket kulit itu menghitung jumlah anak-anak yang keluar.
Si supir lalu masuk untuk menelusuri bak di dalam truk, lalu keluar.
__ADS_1
“Kurang ini… gimana kau ini!?”
“Ta-ta-pi…”, si supir gelagapan.
“Balikin dua juta kalau begitu!”, serayanya mengambil amplop dan lembaran rupiah dari amplop itu.
Bocah tadi menyenggol pundakku, “Ada yang kenal kau dari mereka?”
Aku menggeleng.
“Namaku Udin. Namamu siapa?”, tanyanya.
“Bara.”, jawabku dengan masih memandangi percakapan si supir dan pria berjaket hitam dari kejauhan.
“Sudahlah…”, katanya sambil menolehkan kepalaku ke arahnya. “Kita harus pulang, tapi sekarang kita harus cari makan…”
Aku mengangguk, dan aku baru ingat, kalau aku belum makan berjam-jam.
“Nanti setelah dapat uang, kita beli makan dan cari jalan pulang…”
“Kita dapat uang dari mana, Kak?”, tanyaku.
“Mengamen-lah, sudah kalau terang kita lakukan.”
Aku mengangguk.
Lalu dia menarikku pergelangan tanganku, dan mulai menuntunku kemana pun kami pergi. Kami berdua menelusuri sisi kota yang sepi, dan banyak sekali lampu-lampu yang terang malam ini. Tidak seperti di desa, banyak orang yang masih ada di taman dan duduk-duduk di warung.
Setiap detik yang berjalan, aku merasakan jiwaku yang terlalu jauh dari rumah. Kadang aku menangis sendiri merindukan segalanya, dan tubuh ini tidak siap untuk pergi jauh dan mengembara seperti sang ksatria.
Semua tetap kulakukan hingga kami berdua tumbuh dewasa dan bisa pulang ke kampung halaman. Tapi yang kami dapati hanya sebidang tanah kosong dan puing-puing bekas kebakaran yang lama tidak dibersihkan. Kampung ini sudah rata dengan tanah, tidak ada yang tahu dimana sisa warganya pergi atau tinggal, tapi yang jelas, aku telah kehilangan semuanya.
Tetesan air mataku tidak bisa mengembalikan mereka, kesedihanku tidak bisa mengembalikan waktu. Memang sudah takdirnya untukku mengembara dan pergi meninggalkan Amak.
“Amak, anakmu pulang. Bara sudah pulang dari mengembara.”, bisikku ke tanah ini.
Tapi aku yakin, Amak juga sedang mengembara di dunia, dia masih hidup dimanapun dia berada. Manusia tidak terlepas dari kepergian, tapi yang membuat semuanya bermakna adalah kerelaan untuk melepaskan.
__ADS_1