
Ditempat Reynard. Setelah berhasil mengalahkan Cyclop knight itu, Reynard mencoba untuk beristirahat sebentar.
“Bahkan dengan efek buff dari artifak, aku masih cukup kewalahan melawannya, sekarang aku mengerti mengapa dungeon level tinggi hanya bisa dimasuki oleh hunter kelas tinggi juga" Cincin artifak itu mulai memudar sampai akhirnya benar-benar hilang dari jari telunjuk Reynard.
"Sial ini sangat menyakitkan!" Kaki kanan Reynard yang remuk makin menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
Langit tiba-tiba gelap, awan bergemuruh dengan ganas, dan angin bertiup dengan sangat kencang.
“Apa akan turun hujan?” Reynard memandangi langit mendung yang menyelimuti pulau itu.
“Tidak ada waktu untuk beristirahat” Reynard berdiri perlahan. Untuk membantunya berjalan ia menciptakan dua pasang tongkat kayu yang menopang tubuhnya. Tiba-tiba langit kembali cerah seperti sedia kala.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Reynard kembali memandangi langit diatasnya itu.
Setelah itu, Reynard dengan perlahan meninggalkan tempat itu. Belum cukup jauh ia berjalan, dia melihat ada sesuatu yang berkelap-kelip dari arah potongan tubuh Cyclops yang ia kalahkan sebelumnya. Cahaya berkelap-kelip itu merupakan item yang berupa sebuah gulungan kertas.
Dengan bantuan akarnya, Reynard mengambil item tersebut dan melanjutkan perjalanannya menuju dermaga di selatan. Butuh perjuangan yang luar biasa untuknya berjalan menuju selatan, bukan hanya kondisi kakinya yang membuatnya kesulitan berjalan, medan perjalanan serta energi yang dimiliki Reynard juga makin menipis akibat pertarungannya melawan Cyclops tadi.
Beberapa saat kemudian akhirnya Reynard telah sampai di dermaga, ia berjalan terseok-seok dengan bantuan tongkatnya. Ia melihat beberapa penduduk yang sebelumnya ia tolong sedang berdiri dipinggir pantai, ia juga melihat beberapa tumpukan kotak persediaan penduduk desa yang tersusun rapi diujung jembatan yang dibuatnya pada hari pertama datang ke pulau Xoil.
Rachel terlihat sedang duduk termenung dibawah sebuah pohon. Zion entah dari mana kini berdiri disamping Reynard dan meletakkan tangan kiri Reynard di pundaknya.
"Kau ini manusia atau siput sih!?" Omel Zion sembari membantu kakaknya itu berjalan. Melihat itu Reynard hanya bisa tersenyum.
"Bagaimana keadaan Alice?" Tanya Reynard ke Zion
"Sedikit membaik, ada tabib diantara penduduk desa itu, ia cukup banyak membantu tadi" Jawab Zion
"Baguslah kalau seperti itu, sekarang tolong bantu aku berjalan menuju ujung jembatan" Pinta Reynard kepada Zion
"Kau ini selalu saja merepotkan!" Omelan Zion itu tak membuatnya berhenti membantu Reynard berjalan menuju ujung jembatan. Sesampainya disana, Reynard dengan talentnya memunculkan balok kayu besar dari dasar laut.
*Swosshhh..!!
Suara ombak berhantaman dengan balok-balok kayu Reynard. Perlahan balok-balok itu saling terhubung dan membentuk sebuah kapal berukuran sangat besar.
Dada Reynard terasa sangat sakit saat itu, tangan kanannya mencengkeram dadanya dengan kuat sedangkan tangan kirinya mengepal.
"Ugh!" akhirnya ia pingsan dan terjatuh. Mana terakhir yang ia simpan kini habis tak tersisa.
"H-hey?!" Zion menahan tubuh Reynard agar tidak terhantam ke lantai jembatan.
Beberapa jam kemudian Reynard kembali sadar, ia sekarang tengah terbaring diatas sebuah kasur dan diselimuti oleh kain tebal berwarna hitam.
"Dimana ini?" Reynard memperhatikan sekelilingnya, ia melihat Alice yang masih belum tersadar tidur bersebelahan dengannya di sebuah kasur yang jaraknya tak jauh dari kasurnya, ditengah-tengah mereka ada Zion yang tertidur diatas sebuah kursi. Tubuh, tangan dan kaki Reynard kini penuh dengan perban. Tempat itu terasa agak bergoyang, seakan-akan ia sedang berada diatas air.
"Ini di atas laut?" Reynard memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya, ia mengambil tongkatnya dan berjalan untuk melihat keluar.
Saat diluar ia melihat langit yang gelap dipenuhi dengan bintang, cahaya obor dan bulan nampak memenuhi kapal tempat ia berdiri sekarang. Ia memperhatikan sekeliling dan melihat Rachel tengah mengobrol dengan seorang lelaki muda di dek kapal.
Mereka saat ini sedang berlayar menuju kota Arcantis. Salah seorang penduduk ternyata adalah seorang nahkoda handal, ialah yang saat ini mengemudikan kapal tersebut.
"Kau masih harus beristirahat kau tau?!" Suara khas Zion mengagetkan Reynard.
"Kau sudah bangun?" Reynard menoleh kearah Zion
"Mana ada orang yang bisa tidur nyenyak diatas kursi seperti itu!" Oceh Zion
"Kau malah lebih pantas untuk tidur dilantai menurutku!" Reynard menatap Zion dengan tatapan mengejek
"Rupanya kaki kanan mu butuh teman, gimana kalau kuretakan kaki kirimu?" Balas Zion dengan urat yang mengencang disekitar dahinya.
"Coba saja!" Reynard menjulurkan lidahnya
__ADS_1
"Kau!!" Zion geram
"Kalian, hentikan!" Rachel kini bergabung dengan mereka
"Eh?!" Zion dan Reynard sontak kaget
"Aku baru saja berbincang dengan tabib desa tadi, dia mengatakan jika kau Reynard butuh seorang ahli medis tingkat menengah keatas untuk menyembuhkan kakimu, mari berharap saat kita pulang nanti Viola sudah pulang dari misinya" Jelas Rachel ke Reynard
"Begitu ya, terus bagaimana dengan Alice, apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Reynard
"Tabib sudah mencoba sebisa mungkin menyembuhkannya, tapi nampaknya ada masalah serius pada inti mana Alice, dimana Itu berada diluar kemampuan sang tabib" Rachel terlihat sedih
"Tenang saja, Alice itu bukan gadis sembarangan, dia itu adikku tau!" Zion mencoba mencairkan suasana
"Dia juga adikku, idiot!"Balas Reynard cetus
"Mana mau Alice punya kakak pincang sepertimu" Ejek Zion sambil menaikkan kaki kanannya, memperagakan Reynard yang pincang.
"Kemari kau!" Reynard mencoba mengejar Zion
"Coba tangkap aku, bahkan kura-kura akan lebih cepat darimu!" Zion berlari perlahan seakan mengejek Reynard yang tak akan mampu mengejarnya. Melihat itu Rachel hanya bisa tersenyum kemudian tertawa pelan.
Malam itu kehangatan begitu terasa di dalam kapal tersebut. Orang-orang desa yang biasanya hidup dalam teror, akhirnya malam itu bisa tertidur dengan pulas di ruangan mereka masing-masing. Zion dan Reynard juga akhirnya kembali beristirahat. Kali ini Reynard menciptakan sebuah kasur tambahan diantara kasurnya dan kasur Alice, Reynard juga memberikan selimutnya ke Zion yang telah tertidur, sedangkan dia sendiri menciptakan rimbunan dedaunan disekitar tubuhnya untuk menghangatkan dirinya.
Rachel di luar kamar mereka terlihat merenung sembari memandangi lautan malam, tanpa disadari air matanya mengalir melewati pipinya. Malam itu hanya Rachel dan Nahkoda yang tidak tidur.
Keesokan harinya, pada siang hari, Rachel membangunkan Reynard dan Zion untuk makan siang bersama. Dengan bantuan Zion dan Rachel, Reynard dapat dengan mudah berjalan menuju ruang makan. Ruang makan itu terdiri dari 6 meja panjang yang tersusun rapi dengan kursi panjang sebagai tempat duduknya.
Ruangan itu terlihat cukup ramai dengan para penduduk, namun saat para penduduk melihat Reynard, Zion dan Rachel datang, mereka dengan segera membukakan jalan dan mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk di meja yang telah dipersiapkan para penduduk.
Diperlakukan seperti itu membuat Zion dan Reynard tak bisa berkata-kata, terlebih lagi hidangan didepan mata mereka yang begitu melimpah membuat mereka makin tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata apapun. Zion dan Reynard memancarkan mata yang berbinar memerhatikan setiap hidangan yang tersaji diatas meja.
“Tuan.. silahkan nikmati hidangan kalian…” Ucap para penduduk berdiri dari tempat duduk mereka kemudian secara serentak membungkukkan tubuh mereka 45 derajat.
“Tidak apa-apa tuan, anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih dari kami” Sahut salah seorang penduduk.
“….” Reynard hanya bisa mengaruk kepalanya.
“Baiklah kalau begitu kalian semua silahkan kembali duduk dan nikmati makanan kalian!” Tegas Reynard sambil tersenyum.
“Terimakasih tuan…” Para penduduk secara serentak kembali duduk dan mulai menyantap hidangan mereka.
“Situasi seperti ini membuatku tidak nyaman” Eluh Reynard ditengah-tengah Zion dan Rachel.
“Halah, kau sebenarnya menyukainya kan?!” Sahut Zion disampingnya
“Tutup mulut busukmu itu!” Reynard menutup hidungnya.
“Sialan!” Zion menarik hidung Reynard dan mencoba menghembuskan nafas bau dari mulutnya.
“Kalian ini mau makan atau bertengkar?!” Rachel disamping mereka berdua terlihat geram
“….” Seketika wajah mereka berdua pucat, perlahan mereka mulai mengambil lauk yang tersedia di meja.
Pagi itu mereka makan dengan lahapnya, terlebih Zion dan Reynard yang makan dengan rakusnya sampai-sampai perut mereka berdua terlihat membuncit. Selesai makan, mereka bertiga kembali menuju ke kamar tempat Alice terbaring.
“Itu tadi hidangan yang luar biasa, sangat berbeda dengan bekal yang chief brengsek waktu itu berikan saat kita saling berpencar di pulau Xoil.” Zion membersihkan sela-sela giginya dengan tusuk gigi.
“Tapi dari mana ya mereka mendapatkan banyak sekali seafood seperti itu?” Zion bertanya-tanya.
“Kita sekarang ada ditengah lautan, dasar bodoh, jelas saja akan mudah mendapatkan berbagai jenis seafood di lingkungan seperti ini” Reynard mengelengkan kepalanya.
“Hoamzz...” Zion menguap kemudian berbaring seakan tak mengubris perkataan Reynard
__ADS_1
“Anak ini!!” Alis kiri Reynard berdenyut. Tiba-tiba dari arah pintu masuk, Rachel ditemani oleh seorang pria muda berambut coklat dengan mata biru tuanya yang menawan, masuk kedalam ruangan itu.
“Permisi tuan Reynard, perkenalkan namaku Judas Sergio, aku kemari ingin memeriksa kondisi Alice sekalian juga ingin memberikan obat pereda nyeri ini untukmu” Pria itu memberikan Reynard sebuah gelas kayu berisi ramuan berwarna hijau.
“Ah terimakasih Judas, oiya seperti yang sudah kukatakan waktu itu di pulau Xoil, tolong berhenti memanggil ku dengan sebutan tuan, panggil saja aku sesuai namaku…” Reynard mengambil gelas itu
“B-baiklah Reynard..” Judas menunduk.
“Nah kalau seperti itu kan lebih enak untuk didengar” Reynard kemudian perlahan mencicipi ramuan obat ditangannya itu.
“Hoeek” Reynard tak sanggup menahan mual.
“R-reynard, itu obat oles!” Judas terlihat panik
“Apa!?”
“Hoeekk!” Reynard tanpa sengaja memuntahkan isi dari lambungnya ke wajah Zion yang sedang terlelap.
“P-pelangi?” Dalam keadaan setengah sadar Zion tak menyadari apa yang terjadi.
“Ahhhhh, apa ini?!” Zion seketika terbangun.
“Aku tak sanggup melihat ini” Rachel menutup mulutnya kemudian berbalik dan membuka pintu dibelakangnya. Ia berjalan menjauh dari ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian masih didalam ruangan itu.
“Kau yang muntah kenapa aku yang harus membersihkannya sih?!” Zion mengomel sembari membersihkan ruangan itu dari sisa-sisa muntahan Reynard.
“Adik yang baik…” Reynard tersenyum licik dari tempat tidurnya.
“Diam kau brengs3k!” Zion menghantamkan gagang pel ditangannya ke kepala Reynard.
“Ouch!” Lenguh Reynard saat gagang pel itu mengenai kepalanya.
15 menit berlalu, akhirnya Zion telah selesai membersihkan ruangan tersebut. Judas dan Rachel yang menunggu diluar kini kembali masuk ke ruangan itu.
Judas pertama-tama memeriksa tubuh Alice, ia yang saat itu tau bahwa kemampuannya saat ini tak bisa membantu banyak hanya bisa membantu sebisanya dengan mengoleskan ramuan obat berwarna biru di daerah perut dan leher Alice.
Setelah itu ia beralih ke Reynard dan membuka perban di kaki kanannya lalu mengoleskan Ramuan hijau yang sebelumnya di minum Reynard tadi ke sepanjang kaki kanan Reynard.
“Obat ini hanya akan meredakan nyerinya saja, setidaknya butuh medical hunter tingkat menengah untuk penyembuhan total kaki mu ini” Jelas Judas
“Aku mengerti, terimakasih sebelumnya” Ujar Reynard
“Kalau begitu aku izin keluar dulu, masih ada beberapa warga desa yang harus ku obati” Judas berjalan kearah pintu keluar.
“Tunggu sebentar Judas, entah ini perasaanku saja atau bukan, tetapi aku lihat saat di ruang makan tadi penduduk desa terlihat lebih sedikit dari yang sebelumnya aku temukan di area utara pulau Xoil”
“Apa para penduduk yang ingin kau obati itu adalah para penduduk lain yang terluka saat evakuasi ke area selatan?” Tanya Reynard ke Judas.
“I-itu…” Judas menundukkan kepalanya, raut kesedihan yang begitu besar terlihat dengan jelas di matanya.
“Bagaimana dengan Alicia dan ibunya, mereka baik- baik saja kan, mereka pasti saat ini sedang beristirahat di ruang perawatan kan?” Reynard masih mencoba untuk optimis.
“M-maaf Reynard…” Jawab Judas dengan suara parau.
“Biarkan aku yang menjelaskan apa yang terjadi” Rachel kemudian menjelaskan dengan rinci segala hal yang terjadi saat masa pengevakuasian penduduk menuju selatan kepada Reynard.
“…..” Reynard terdiam dengan kepala menunduk, lalu sebisa mungkin ia menegadahkan kepalanya dan berkata.
“Begitu ya, kalau begitu silahkan obati penduduk yang ingin kau sembuhkan tadi, kasian kan kalau mereka harus menunggu” Senyum palsu tergambar dengan jelas di wajah Reynard.
“B-baik aku permisi dulu..” Judas kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. Reynard lalu berbaring dengan posisi menghadap tembok.
__ADS_1
“…..” Tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari mulut Zion dan Rachel di ruangan itu.