Legendaria

Legendaria
Chapter 4 - The Mastermind


__ADS_3

Reynard dengan cepat meliukkan kayu-kayu tajam tersebut menjadi sebuah kubah yang empuk untuk menahannya dari hantaman.


“Bau busuk apa ini!” Saat dibawah Reynard tak sanggup menahan mual. Di sekelilingnya ternyata penuh dengan mayat yang membusuk.


“Apa ini ulah bandit?” Reynard menutup hidung dan mulutnya dengan tangan kanannya.


“Aku harus segera keluar dan mencari petunjuk yang lain” Reynard dengan bantuan akarnya mendorong tubuhnya untuk naik ke permukaan.


Disisi timur Zion terjebak di rimbunan pepohonan. ia dengan cekatan mencoba mencari petunjuk yang bisa membantu menemukan keberadaan penduduk yang hilang. Ia terus menyusuri hutan tersebut hingga akhirnya ia menemukan kapak berkarat tertancap diatas sebuah tunggul pohon besar.


Ia kemudian kembali memerhatikan sekitarnya dan menemukan sobekan baju berwarna merah, tak sampai disitu ia juga melihat jejak kaki yang mengarah ke suatu tempat. Ia pun mengikuti jejak kaki itu hingga terhenti disebuah goa bawah tanah dimana jejak kaki itu terhenti. Zion memutuskan untuk menuruni goa itu dan berharap menemukan seseorang didalamnya.


Disisi barat Rachel terlihat sedang sibuk menyusuri sungai, diujung sungai tersebut terdapat sebuah air terjun tinggi dengan aliran air yang sangat deras. Rachel mengubah elementnya menjadi element tanah dan membentuk tanah dipinggiran tebing air terjun menjadi tangga untuk membantunya turun ke ujung air terjun tersebut.


Ditengah-tengah air terjun, Rachel merasakan ada energi aneh di balik air terjun. Dengan kekuatannya saat ini ia membuat sebuah jalan untuk mencapai belakang air terjun, dan benar saja ternyata terdapat sebuah goa di balik air terjun tersebut. Goa itu memancarkan energi mana negatif yang membuat Rachel kurang nyaman, namun ia tidak peduli, ia tetap memaksa masuk dan menelusuri goa itu untuk mencari sumber energi yang ia rasakan.


1 jam Rachel menelusuri goa itu hingga akhirnya ia menemukan portal kecil berwarna ungu diujung gua.


“Portal dungeon, bagaimana bisa ini ada disini!?”


“Aku harus segera kembali ke desa untuk melaporkan ini!” Rachel segera beranjak dari tempat itu, namun belum sempat ia pergi tiba-tiba saja,


*Crackk... crackkk... ctass...!!!


Portal itu pecah dan mengeluarkan ratusan dark goblin (D) serta satu dark goblin chief (C) dari dalamnya.


“Dungeon break?!” Rachel menolehkan pandangannya ke arah belakang tempat portal itu sebelumnya berada. Tak selesai sampai disitu, masalah baru kini datang, tiba-tiba cincin pemberian dari master menyala.


Aliran mana tipis bergerak kearah otak Rachel dan merangsang otaknya untuk memberikan visualisasi titik kordinat orang yang telah mengaktifkan transmiter sos pemberian master Fariz.


“Alice!” gumam Rachel.


Kembali ke sisi timur, Zion kini makin jauh menyusuri goa bawah tanah tersebut. Ia kemudian terhenti saat melihat kumpulan serigala berbuntut merah sedang berkerumun memperebutkan sesuatu. Zion mengendap-ngendap dan mengintip dari balik batu besar. Dia terbelalak saat melihat serigala tersebut sedang berebut untuk memangsa seorang pria dengan pakaian merahnya yang telah rusak.


Pria tersebut bersimbah darah dan terlihat sangat pucat, tatapan matanya begitu kosong seperti ia sudah pasrah untuk dimangsa oleh kumpulan serigala itu.


“Bagaimana bisa ada banyak monster Redtailed wolf (F) didalam sini, ini jelas adalah dungeon break!” cincin Zion pun kemudian menyala. Sama seperti Rachel, cincin itu mengalirkan aliran mana tipis ke otaknya.


“Alice!” Ucapnya nyaring hingga membuat kerumunan Redtailed wolf itu menyadari keberadaannya.

__ADS_1


“Ini gawat...” Gerombolan Redtailed wolf itu kini mengepungnya.


“Aku harus segera menyelesaikan ini kemudian kembali ke desa” gumam Zion sembari bersiaga.


Di sisi utara Reynard juga nampak mengalami kesulitan. saat ia ingin kembali ke desa setelah dia menerima sinyal dari Alice, tiba-tiba saja ia dihadang oleh puluhan orang bersenjata dari berbagai penjuru arah.


“Menyingkirlah jika kalian tak ingin tempat ini menjadi makam untuk kalian!” Reynard nampak sangat serius, tubuhnya mengeluarkan aura kemarahan dan hasrat membunuh yang sangat besar. Orang-orang itu sampai gemetaran melihat Reynard yang begitu murka.


Beberapa jam sebelum Alice mengalirkan mana ke cincin transmiter sos-nya. Ia terlihat sibuk membantu penduduk dalam melakukan kegiatan sehari-hari mereka. Ia terlihat sangat menikmati hari-harinya didesa.


“Nak kemarilah..” Seorang lelaki tua memanggil Alice dari sebuah pondok ditengah ladang.


“Iya ada apa ya kek?” Dengan nada tulus Alice bertanya kepada kakek tua itu.


“Kau pasti lelah kan, coba makan ini sebentar” Kakek tua itu menyodorkan sebuah roti gandum ke Alice. Akan tetapi bukannya mengambil roti itu, Alice malah bertanya-tanya didalam hati saat melihat roti yang diberikan kakek tua itu adalah roti berjamur.


“Kenapa, kau tidak suka?” Kakek itu menatap Alice dengan tatapan mengerikan.


“A-anu tapi ini kan roti tak layak konsumsi kek!” Alice terbata-bata.


“APA?!” Kakek itu membentak Alice.


“K-kakek?” Alice perlahan berjalan mundur menjauh dari si kakek, namun langkahnya terhalangi oleh seorang pria tua yang sudah berdiri dibelakangnya.


*Bukkk...!!


pukulan keras mengenai kepala Alice dan membuatnya tersungkur ditanah.


***


“Ughh!!” Alice perlahan membuka kedua matanya. Kepalanya terasa sangat sakit, Sayup-sayup ia melihat darah menetes diatas tanah. Ia juga merasakan suatu ikatan yang sangat kuat di kaki dan tangannya. Ia saat ini diikat di sebuah tiang berbentuk salib dengan posisi kepala dibawah. Darah segar mengalir dari kepalanya dan membasahi tanah dibawahnya.


“Kapan kita akan memulainya?!”


“Iya benar?!”


“Kami sudah lapar!!”


Desa itu begitu riuh dengan teriakan-teriakan para penduduk desa.

__ADS_1


“Baiklah kita akan mulai sekarang” Suara serak lelaki tua berumur 60an. suara itu begitu familiar ditelinga Alice.


“S-suara ini...” Alice dengan perlahan menolehkan wajahnya ke arah suara itu berasal. Ia kaget saat melihat Chief desa sedang berdiri tak jauh dari tiang tempat ia diikat.


“Makan!!!” Layaknya binatang buas yang kelaparan, para penduduk desa itu berlari kearah tiang tempat Alice terikat.


“Kau terlihat sangat seeeeedaapppppp!!” Kulit penduduk desa itu tiba-tiba mengelupas dan memperlihatkan wujud asli mereka.  Ratusan penduduk desa itu telah berubah menjadi Red Troll (C), kemudian ada salah satu dari mereka yang berubah menjadi High troll Chief (B). Alice yang tau sedang dalam bahaya segera mengaliri cincin di jarinya dengan mana untuk mengirim sinyal sos ke yang lain.


“Silahkan nikmati hidangan kalian...” Chief mengetukkan tongkatnya ke udara. Sebuah portal kecil seukuran tubuhnya muncul disampingnya. Dengan perlahan ia masuk kedalam portal itu dan menghilang bersamaan dengan portal yang ia ciptakan.


“Haaap” Salah seorang Red troll membuka mulutnya dengan lebar dan mencoba mengigit lengan kanan Alice. Belum sempat ia membenamkan taring tajamnya itu, tiba-tiba,


“Wind slicer...” Alice menciptakan tekanan angin yang berputar disekelilingnya, layaknya ratusan pisau yang berputar, angin itu mencabik-cabik tubuh Alice dari berbagai arah.


“Apa dia mencoba bunuh diri?” Ucap salah seorang Troll.


Ternyata bukan itu tujuan Alice, ia sengaja menggunakan spell itu untuk melepaskan ikatan dari tubuhnya. Kini ia berhasil lepas dari ikatan itu. Ia hampir terjatuh dengan posisi kepala menghadap tanah, namun dengan cepat ia menciptakan tekanan udara untuk membalik tubuhnya dan membuatnya mendarat dengan kedua kakinya.


“I-ini!” Alice gelisah. Kini ia terkepung oleh Red troll (C) itu.


“Dengan kekuatan ku sekarang aku tidak akan bisa mengalahkan mereka, terlebih jumlah manaku yang hanya tersisa sedikit karena spell tadi”


“Bahkan berdiri saja sudah cukup menguras mana ku” Keringat bercampur darah mengalir di pipi Alice.


“Apa yang harus kulakukan sekarang......”Alice meracau. Pikirannya benar-benar kalut saat ini.



[Biodata karakter]


Nama: Alice Alvazio


Umur: 12 Tahun


Tanggal lahir: 7 September


Zodiac: Virgo


Tinggi badan: 143 Cm

__ADS_1


Berat badan: 41 Kg


Hobi: Membaca buku dongeng


__ADS_2