Legendaria

Legendaria
Chapter 27 - Brother


__ADS_3

“Disini terlalu dekat, ayo ikut aku agar kita bisa bertarung lebih leluasa!” Ajak Aquila ke Zion


“Kau siapa menyuruh-nyuruhku?!” Bentak Zion


“Kalau begitu akan kupaksa!” Aquila menangkap kepala Zion lalu ia lemparkan cukup jauh 200 m ke kanan.


***


“Kita juga harus pergi!” Africus menendang perut Alice membuat Alice terpental 300 meter ke kiri.


“Ughh!” Alice perlahan berdiri memegangi perutnya.


***


“Zion, Alice!” Rachel tampak khawatir.


“Tenanglah, kau hanya perlu mencemaskan dirimu sendiri kan harusnya?” Meridiem berjalan mendekati Rachel.


“ Aku khawatir kalau malah kau yang harusnya bertindak demikian” Balas Rachel tersenyum.


“Yah coba saja kita lihat!” Meridiem melompat keatas dan menghantamkan tinjunya kearah Rachel.


“Kau lihat?” Rachel berhasil menahan pukulan itu dengan satu tangannya.


“!?” Meridiem terbelalak.


“Sekarang coba kau rasakan pukulanku...” Rachel mengepalkan tangan kirinya dan bersiap memukul perut Meridiem.


 


*Buackk!


Pukulan itu dengan telak mengenai perutnya


 


“Bagaimana?” Tanya Rachel sedikit mengintimidasi


“Ughhh!” Meridiem berlutut sambil memegangi perutnya.


“Kau ternyata hanya seorang bermulut besar saja ya. ahhh itu jadi mengingatkan ku pada seseorang yang menyerang kami di pulau Hebrion waktu itu” Ujar Rachel.


“Hebrion?” Terbesit seseorang dalam pikiran Meridiem.


“Ah benar juga, kalau dipikir-pikir dia nampak mirip seperti mu, badannya berotot, suka membual dan juga lemah” Rachel terus-terusan memprovokasi.


“Kau! Apa kau yang membunuh adikku hover?!” Meridiem kembali berdiri, raut wajahnya terlihat sangat marah. Aura berwarna coklat terlihat seperti keluar dari tubuhnya.


“Oh.. pecundang itu namanya Hover? Aku bahkan tak sempat menanyakan namanya saat kepalanya kuhancurkan dengan sihirku” Rachel bersikap tenang.


“Brengs3k kau j@lang!” Meridiem menghilang dari pandangan Rachel.


“!?” Rachel sedikit kaget.


“Tidak seharusnya kau mengatakan itu lon**!” Meridiem muncul dibelakang Rachel dan menendang rusuk kanan Rachel. Rachel berhasil memblok serangan itu namun masih terseret sedikit ke kiri. Tanah di kakinya menciptakan bekas.


“Boleh juga...” Puji Rachel.


“Kau terlalu congkak perempuan sial!” Ia kembali menghilang dan muncul dari atas Rachel. Ia mencoba memukul kepala Rachel dengan tangan besar berototnya itu.

__ADS_1


“Apa kau menggunakan mulut kotormu ini untuk mencium ibumu?” Rachel berhasil menghindari pukulan itu. tekanan udara yang dihasilkan dari pukulan itu mengibaskan rambut di bagian kiri Rachel. Rachel saat ini meremas bibir Meridiem dengan keras, kemudian ia tarik mulut Meridiem dan ia hantamkan ke tanah.


 


*Bukk!


Suara tubuh Meridiem menghantam tanah dengan keras.


“Tidak kah kau sadar, aku bahkan tidak memakai sihir apapun untuk melawanmu” Ungkap Rachel berdiri memandangi Meridiem yang tersungkur.


“Begitu pula denganku..” Sekali lagi Meridiem menghilang dari pandangan Rachel.


“Rock Fall!” Meridiem memanggil hujan batu seukuran kepala manusia diatas kepala Rachel.


“Ini baru menarik...” Rachel bergerak dengan gesit menggunakan element listriknya menghindari setiap batuan yang jatuh kearahnya.


“Hai!” Rachel mencolek bahu Meridiem dari belakang. Kemudian ia melesatkan pukulannya kearah wajah Meridiem.


“K-kapan dia?” Meridiem tertegun sesaat. Kemudian dengan cepat menahan serangan Rachel dengan menciptakan lempengan batu di depan tinjuan Rachel.


“Reflek yang bagus” Puji Rachel. Meridiem hanya diam dan melompat cukup jauh kebelakang.


“Stone wall!” Meridiem menciptakan sebuah dinding tebal dihadapannya.


“Stone Crusher!” Meridiem memukul batu itu dengan keras. Serpihan bebatuan melesat kearah Rachel.


“...” Rachel melompat menggunakan element listriknya menghindari serangan itu.


“Aku lelah bermain-main, sekarang aku akan berbicara serius denganmu...” Rachel bergerak dengan cepat kearah Meridiem. Saat dihadapan Meridiem ia bertanya.


“Coba beritahu aku....”


“Jangan meremehkanku!” Meridiem sangat marah mendengar itu.


“Stone Armor!” Meridiem menghentakan kakinya ke tanah membuat bebatuan terbang ke udara. Kemudian setelahnya bebatuan itu menempel ditubuhnya dan membentuk sebuah zirah.


“Kalau begitu akan kutarik kata-kataku tadi. Sebagai gantinya aku akan ubah menjadi..” Rachel bersiaga


“??” Meridiem nampak bingung.


“Putuskan, ingin kubunuh dengan element apa kau sekarang?” sambung Rachel bersiap mengganti elementnya.


“Aku tidak punya waktu berbicara dengan calon mayat” Balas Meridiem


“Stone axe!” Batu disekitar Meridiem melayang dan membentuk sebuah kapak besar ditangannya.


“Ahh.. mayat ya.. ide yang bagus juga. Kalau begitu...” Aura ditubuh Rachel berganti warna menjadi merah keemasan.


“Element change... Fire..” Rachel mengubah Elementnya.


“Menurutku akan lebih praktis kalau mayat itu di kremasi daripada dikubur...” Ungkap Rachel sembari tersenyum.


“B@jingan!” Meridiem geram.


“Ultimate move... Ridge splitter!” Meridiem mengangkat kapaknya keudara, dan mengayunkannya dari atas kebawah. Saat kapaknya itu mengenai tanah, batu-batu tinggi menjulang muncul dari dalam tanah membentuk barisan bebatuan. Rachel terdorong dan terpental keudara akibat serangan itu.


“Ughh..” Rachel mulai mengendalikan tubuhnya di udara dan kembali mendarat diatas batu-batu itu tadi.


“Fire ball!” Rachel menciptakan beberapa bola api kecil yang melesat kearah Meridiem.

__ADS_1


“Kau pikir bola api seperti itu bisa melu...” tak sempat menyelesaikan perkataannya, bola api Rachel menghantam zirah di dada, perut dan wajahnya.


 


*Crackk!


Zirahnya sedikit retak. Terdapat seperti cekungan berwarna hitam di beberapa titik zirah batu itu akibat serangan bola api tadi


“B-bagaimana mungkin?” Meridiem kaget bukan kepalang.


“Massive fire ball!” Rachel melemparkan bola apinya lagi. Kali ini ukurannya sangat besar, bahkan lebih besar dari ukuran tubuh Rachel sendiri. Setelah bola api besar itu di lontarkan, Rachel berlari sembari melompat melewati bebatuan itu.


“G-gawat. Stone dome!” Meridiam membentuk batunya menjadi sebuah kubah untuk melindunginya.


 


*Boashhh


*Crackk...


Bola api itu mengenai kubahnya dan membuat sedikit retakan diatasnya.


“Hahahaha, tak ada yang bisa menembus stone dome ku!” Meridiam merasa sangat puas.


“Fire dance twirl!” Tak begitu mengubris perkataan Meridiam, Rachel melesat dengan tubuhnya yang berputar-putar dengan cepat sembari mengeluarkan api yang membara ke arah Meridiam.


*Bumm!


Serangan itu menghantam keras kubah batu itu dan menciptakan sebuah lubang kecil diatasnya.


“Sudah kubilang itu akan sia-sia” Kata Meridiam percaya diri.


“Benarkah?” Rachel tersenyum


“!?” Meridiem merasa aneh dengan reaksi Rachel.


“Incineration chamber!” Seru Rachel melanjutkan serangannya. Ia mengeluarkan api berkobar dari telapak tangan kanannya kedalam lubang kecil diatas kubah itu.


“Arhhhhhhh!” Meridiam berteriak kesakitan. Api berkobar dengan sangat dahsyat membakar tubuh Meridiem didalam kubahnya itu. Terlihat sedikit api keluar melalui lubang yang sebelumnya Rachel gunakan untuk melepaskan serangannya.


“Sampaikan salamku ke adikmu...” Ujar Rachel sembari membelakangi Meridiam.


“N-nona North... selamatkan... A-ku...” Kulit disekujur tubuh Meridiem meleleh, beberapa tulang-tulangnya terlihat dari balik lelehan kulitnya itu.


Tak lama setelahnya seluruh tubuhnya kini hangus terbakar. Kemudian kubah batunya perlahan mulai retak dan hancur menimbun sisa abu pembakaran dari tubuhnya.


“Boleh juga!” Ucap seorang wanita yang entah dari mana muncul dibelakang Rachel.


“Kau!?” Rachel menoleh kearah wanita itu.


“Iya ini aku, kau pasti masih ingat kan?” Wanita itu sedikit tersenyum.


“North!” Rachel melompat kearah North dan bersiap memukulnya dengan tangannya yang telah ia lapisi oleh api. Belum sempat pukulan itu mendarat ke wajah North, tiba-tiba North berkata.


“East...” Ucap North dengan santai ke bros kecil disebelah dada kirinya.


“Bunuh wanita itu untukku... Alternate Atmosphere!” East memindahkan North dan Rachel ke suatu tempat.


Saat ini mereka berdua berdiri berhadapan diatas sebuah jembatan ditengah sungai yang nampak surut. Dipinggiran sungai terdapat banyak pohon bakau yang tumbuh dengan sangat subur.

__ADS_1


Karena kondisi sungai sedang surut, tanah disekeliling  pohon bakau itu terlihat sangat becek dengan lumpur berwarna coklat kehitaman. Suara ribut serangga dan bekantan juga terdengar saling bersahut-sahutan di area itu.


__ADS_2