Legendaria

Legendaria
Chapter 6 - The Traitor


__ADS_3

Kembali sebelum ledakan angin itu terjadi. Reynard berhasil mengikat semua orang yang menghadang dengan akarnya. Reynard juga menanyakan siapa mereka dan apa tujuan mereka.


Mereka menjelaskan bahwa 8 bulan yang lalu, desa mereka telah diserang dan diambil alih oleh para troll yang muncul dari arah selatan desa. Tidak ada satupun yang tau kemunculan para troll itu sehingga saat hal itu terjadi, warga desa tak bisa melakukan apapun, banyak warga yang dibantai dan dijadikan makanan oleh mereka.


Yang saat ini berhadapan dengan Reynard adalah sisa penduduk desa yang berhasil melarikan diri, orang-orang yang sedang berada jauh dari desa pada saat penyerangan berlangsung dan juga pendatang malang dari kapal yang berniat untuk berlibur di pulau namun terjebak di situasi tersebut.


“Lalu bagaimana dengan kepala desa?” Reynard masih belum percaya dengan penjelasan itu.


“Kami tidak tahu, sehari sebelum serangan troll itu berlangsung, kepala desa tiba-tiba saja menghilang” jelas seorang penduduk kepada Reynard


“Lalu siapa yang membuat jebakan di daerah perbukitan 300 meter dari sini?”


“Kami yang membuat semua itu, kami menebang pohon secara diam-diam di malam hari di sebelah timur dan membawa potongan demi potongan kesini untuk dibuat jebakan”


“Namun sudah sebulan lamanya kami sudah tidak pernah memotong pohon kesana lagi, karena setiap malam kami sering mendengar aungan serigala di sekitar sana. terakhir ada salah satu warga desa yang menetap disana, dia bernama Simon, kuharap dia baik-baik saja disana” jawab warga desa itu kembali meyakinkan Reynard.


“Sekarang aku mengerti, mayat-mayat yang kulihat di dalam jebakan itu nampaknya adalah troll yang menyamar menjadi manusia” Pikiran Reynard berkecamuk.


“Itu artinya Troll yang telah menyamar saat mati tidak akan berubah kebentuk aslinya?” Reynard berpikir keras. Tiba-tiba saja sebuah portal tercipta, dari dalamnya keluar seorang pria  tua dengan memakai tongkat berdiri dengan angkuhnya memandang para penduduk didepannya.


“Jadi disini kalian semua bersembunyi?” Ucap pria paruh baya itu.


“K-kepala desa!?” Reynard terbelalak.


“Kepala desa tolonglah kami..” Ringkih penduduk desa memohon


“Membantu kalian?” Raut wajah kepala desa terlihat iba


“Aku akan bantu kalian untuk segera menuju ke alam baka saja bagaimana?” Seketika raut wajahnya tadi menghilang, kini hanya tatapan mengerikan dengan senyuman layaknya iblis yang terlukis di wajahnya.


“Dimension Crack!” Kepala desa mengetuk tongkatnya ketanah


“Dungeon incursion!” dari belakang tubuh sang kepala desa muncul sebuah portal berukuran sedang, portal itu kemudian terpecah dan mengeluarkan ratusan goblin skeleton (F) dan seorang  goblin skeleton chief (E) dari dalamnya.


“Hahahaha” Kepala desa kembali menciptakan sebuah portal kecil seukuran tubuhnya kemudian masuk dan menghilang kedalamnya.


“Talent apa itu tadi?” Reynard masih terlihat shock, ia tidak percaya atas apa yang telah terjadi didepannya itu.


“Tidak aku harus fokus!” Gumam Reynard sembari menggerakkan tangannya keatas, ia menciptakan sebuah dinding kayu untuk menghalangi monster-monster itu mendekat kearah penduduk desa.


“Ini hanya akan menahan mereka sementara waktu” Ucap Reynard didalam hati, keringat dingin mengalir dari dahinya.


“Tuan tolong lepaskan ikatan kami...” Dengan nada suara bergetar salah seorang penduduk desa memohon kepada Reynard.


“Release!” Reynard melepaskan para penduduk dari ikatan akarnya.


“Sekarang pergilah kalian ketempat yang aman!” Reynard berdiri siaga didepan para penduduk.


“T-tapi?” Salah seorang penduduk nampak ragu.


“Cepat pergi sekarang!!” Bentak Reynard ke para penduduk itu.


“B-baik!” Para penduduk itu kemudian mencoba berlari, namun sebuah portal kecil kembali muncul  dihadapan mereka, membuat mereka menghentikan langkahnya.


“Mau kemana kalian?” Kepala desa keluar dari dalam portal itu.


“Arise!” lagi-lagi kepala desa mengetuk tongkatnya ketanah. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini dari dalam tanah bermunculan ratusan mayat hidup berwujud manusia dengan mata hijau dan tubuh yang membusuk.


“Kyaaa!!” Para penduduk itu berteriak ketakutan.


“Nikmati kematian kalian....” Kepala desa kembali menghilang menggunakan portalnya.


“Apalagi sekarang!?” Reynard menoleh kebelakang. Matanya seketika membesar saat melihat keadaan mengerikan dibelakangnya itu. Beberapa penduduk nampak berhamburan kesana kemari berlari menjauh dari mayat hidup yang mencoba menyerang mereka.


“I-ibu?” Seorang gadis kecil nampak kebingungan ditengah-tengah kekacauan itu.


“Hoargghh!” Salah satu mayat hidup itu mencoba mengigit leher si gadis dari belakang.


 


*Jlebb!!


Sebuah akar runcing muncul dari dalam tanah dan menusuk kepala mayat hidup itu.


“Anakku!?” Seorang wanita kemudian mendekap anak gadis itu kemudian kembali berlari menjauh.


“Wooden wall!” Reynard kembali menciptakan sebuah dinding untuk menghalangi mayat hidup itu.


“Kalian semua kemarilah!” Tegas Reynard kepada para penduduk desa.


“Pungut senjata kalian lagi, aku butuh bantuan kalian!”

__ADS_1


“....” Para penduduk desa itu saling tatap, tubuh mereka bergetar wajah mereka terlihat ketakutan.


“Aku tidak bisa membereskan kekacauan ini tanpa bantuan kalian, jadi tolonglah pungut senjata kalian sekarang!” Tegas Reynard, matanya melirik kearah dinding yang menghalangi para goblin skeleton (F), sebuah tangan tengkorak nampak berhasil mencapai dinding itu.


“.....” para penduduk desa masih terlihat ragu.


“Dengarkan aku, aku akan mengatur dan melindungi setiap pergerakan kalian, aku berjanji kalian semua akan selamat!” Tegas Reynard lagi. Kini satu goblin skeleton berhasil memanjat dinding kayunya.


“Sial!” Reynard menciptakan balok kayu yang menghantam Goblin skeleton itu hingga tulangnya berhamburan.


“Baik kami siap!” Para penduduk kini nampak bersiaga dengan senjata mereka masing-masing.


“Baiklah, terimakasih!” Reynard tersenyum. Ia lalu menempelkan kedua tangannya di atas tanah. Beberapa pilar bermunculan di belakang dinding yang menghalangi mayat hidup sebelumnya, lalu juga muncul sebuah kubah kayu di tengah-tengah medan pertempuran itu.


“Kalian yang membawa panah, pergilah ke dinding belakang, naiklah keatas pilar yang telah ku buat, tembak mayat-mayat sialan itu dengan panah kalian!” Arahan Reynard itu segera dilaksanakan oleh beberapa penduduk yang membawa panah.


“Para anak kecil, wanita dan orang yang terluka masuklah kedalam kubah itu untuk berlindung” Mereka dengan segera berlari untuk berlindung didalam kubah kayu itu.


“Kalian yang sekarang disini bersiaplah untuk menyerang para tengkorak itu saat mereka berhasil memanjat dinding yang ku....” Tiba-tiba saja sebuah ledakan muncul.


 


*Bummm!


Sebuah bola api menghantam dinding kayu itu dan menghancurkannya berkeping-keping.


“Dia bisa memakai sihir?!” Mata Reynard tertuju kepada boss dari goblin skeleton itu. Kini para goblin skeleton (F) berhasil menerobos melalui dinding berlubang itu.


“Semuanya, bersiap dengan senjata kalian!” Teriak Reynard. Para penduduk itu memegang erat senjata mereka masing-masing, mereka menunggu para goblin skeleton untuk mendekat kearah mereka.


“Hancurkan mereka!” Seru Reynard sesaat goblin skeleton itu sudah sangat dekat dengan para penduduk.


Pertarungan sengit terjadi di sana, para penduduk dengan susah payah menyerang pasukan goblin skeleton itu. Reynard dari belakang membantu para penduduk dengan akar-akarnya. Saat penduduk hampir terkena serangan dari goblin, Reynard beberapa kali dengan cepat menangkis serangan goblin skeleton (F) dengan akarnya.


“Spread..” Reynard menciptakan sulur dari dalam tanah, sulur-sulur itu bergerak melewati kaki para penduduk kemudian masuk melalui sela-sela tulang rusuk para goblin skeleton.


*Krak..!!!


Sulur-sulur itu melilit tulang rusuk para goblin skeleton itu dengan keras hingga retak. Kemudian Reynard menghentakan kaki kanannya ketanah dan membuat sulur-sulur itu kembali masuk kedalam tanah dengan menarik tubuh para goblin skeleton dengan sangat keras. Tulang-tulang mereka nampak berhamburan akibat serangan itu.


“Aku harus segera menyelesaikan ini sebelum mana ku habis..” Reynard terus menyerang musuh dihadapannya. Tiba-tiba sebuah bola api melesat kearahnya.


“Tuan awas!” Teriak salah seorang penduduk kearah Reynard.


 


“Aku tidak apa-apa, tetap fokus!” Reynard berhasil melompat menghindari bola api itu.


“Bossnya harus dikalahkan lebih dulu!”  Reynard menciptakan sebuah balok dibawah kakinya, balok itu dengan cepat memanjang keatas langit lalu membuat Reynard terpental.


“Spread and blooming...” Reynard merapal mantranya di udara. Ratusan sulur merambat disekitar para goblin skeleton (F) dan goblin skeleton chief (E).


“Garden of eden!” Reynard mendarat tepat diatas kepala sang chief goblin skeleton. Rimbunan bunga cantik bermekaran disekitar goblin skeleton (F) dan goblin skeleton chief (E) . Bunga-bunga tadi terus bermekaran sampai membuat tulang-tulang goblin skeleton itu berhamburan.


“Asal kau tau, bisa menggunakan sihir saja belum cukup untuk mengalahkanku” Kepala sang chief goblin skeleton yang ditapaki oleh kaki Reynard perlahan retak kemudian hancur berkeping-keping karena tekanan dari bunga yang bermekaran didalamnya.


“Itu Indah sekali...” Para penduduk terpana melihat rimbunan bunga yang diciptakan oleh Reynard sebelumnya.


“Indah apanya, itu skill  yang sama sekali tidak maskulin, sialan!” Oceh Reynard didalam hati.


“Sisi sini sudah selesai, sekarang ayo kita bantu para pemanah!” Reynard kembali memberi arahan. Saat ini Para penduduk berlari menuju kearah dinding kayu yang menahan mayat hidup itu.


*Tap...


Reynard dengan bantuan baloknya melesat keatas udara dan mendarat di salah satu pilar yang telah ia ciptakan.


“Mereka tidak bisa dibunuh tuan, berapa kali pun kami menembakkan anak panah kami, mereka masih saja bisa berdiri lagi” Eluh salah seorang penduduk.


“Biar kucoba!” Reynard menciptakan akar runcing dari dalam tanah dan menusuk jantung mayat hidup itu.


“Hoargghh!” Mayat hidup itu tetap berdiri tanpa terlihat kesakitan sedikit pun.


“Apa-apaan itu?!” Reynard kaget. Tiba-tiba terbesit dipikirannya saat-saat ia menyelamatkan gadis kecil yang hampir tergigit tadi.


“Aku tau suatu cara!” Reynard kembali menciptakan sebuah akar runcing dari dalam tanah, kali ini akar itu menusuk kepala sang mayat hidup.


“...” Mayat itu seketika ambruk.


“Itu hebat tuan!” Puji salah seorang pemanah.


“Yayaya, berhenti memanggilku tuan, panggil saja aku Reynard!” Wajah Reynard memerah.

__ADS_1


“B-baik, tuan, eh maksudku Reynard..” Situasi itu terlihat canggung.


“Tu.. Reynard, mayat hidup itu bergerombol didepan dinding!” Teriak salah seorang pemanah.


“Kalian semua dengarkan, aku akan membuka dinding ini, saat itu terjadi bersiaplah dengan senjata kalian, kemudian fokuskan serangan kalian kearah kepala mereka, itu adalah titik kelemahannya!” Reynard berteriak dari atas pilar kayunya itu.


“Para pemanah fokuskan serangan kalian untuk mengurangi jumlah mereka, sedangkan kalian yang ada dibawah, habisi mereka yang berhasil terlewat dari serangan para pemanah!”


“Baik!” seru para penduduk kompak.


“Baiklah, inilah saatnya, bunuh atau dibunuh, semuanya serang!” Seru Reynard sesaat setelah dinding dihadapannya itu terbuka.


*Suttt.... Tap... Tap...!!


Seperti yang sudah direncanakan, para pemanah sebisa mungkin mengurangi jumlah mayat hidup dibawah mereka dengan anak panahnya, walaupun terkadang serangan mereka meleset, tetapi berkat bantuan para penduduk yang berada dibawah, hal itu bisa diatasi dengan mudah.


“Wooden spear!” Reynard menciptakan sebuah tombak kayu ditangannya. Ia kemudian melompat dari atas pilar itu dan menusukkan tombak kayunya ke kepala salah satu mayat hidup.


“hoarggh!” Salah satu mayat hidup dibelakang Reynard mencoba mengigitnya.


*Sutt... Tap..!


Sebuah anak panah terlebih dahulu menancap ke kepala mayat hidup itu.


“Kerja bagus!” Reynard kemudian menciptakan lagi sebuah tombak kayu ditangannya, ia mengayunkan tombaknya itu ke kaki salah satu mayat hidup didepannya, mayat itu terjatuh kemudian dengan cepat Reynard menusukkan tombaknya tadi ke kepala sang mayat.


“Aku bisa saja menyelesaikan ini semua dengan bantuan akar-akarku, tetapi aku harus sebisa mungkin menghemat manaku, karena tidak ada yang tau kapan b4jingan tua bangka itu akan kembali lagi dan menyerang kami” Reynard masih terus menghantam mayat-mayat hidup didepannya itu dengan tombak kayunya.


“Tuan, kami kehabisan anak panah!” Seru salah seorang pemanah dari atas pilar.


“Tunggu sebentar!” Reynard menjentikkan jarinya dan mengeluarkan sulur-sulur dari dalam tanah. Sulur-sulurnya itu bergerak untuk mengambil anak panah yang tersebar baik ditanah maupun yang masih tertancap di tubuh para mayat hidup.


“Ini ambillah!” Kemudian sulur-sulurnya tadi bergerak keatas untuk memberikan anak panah itu ke para pemanah.


“Dia memang keren!” Aksi Reynard membuat para pemanah takjub.


“Fokus!” Tegas Reynard yang terlihat masih sibuk bertarung dengan mayat hidup didepannya.


Cukup lama pertarungan itu berlangsung, banyak mayat hidup yang berhasil mereka lumpuhkan, kini hanya tersisa beberapa mayat hidup yang masih berdiri ditempat itu.


“Kalian yang diatas, coba hitung jumlah mayat hidup yang tersisa, kemudian beritahu aku letak masing-masing dari mereka!” Reynard nampak bersiap akan sesuatu.


“Baik!” Ucap salah seorang pemanah


“6 buah di arah jam 12” Teriak salah seorang pemanah


“4 buah di arah jam 9” sahut salah seorang pemanah lagi


“3 buah diarah jam 6” Pemanah yang lain terus memberikan sinyal kearah Reynard


“Terimakasih, kalian yang ada dibawah tolong menjauh!” Tegas Reynard yang kemudian diikuti oleh suara gemuruh langkah para penduduk yang kini pergi agak jauh dari tempatnya berdiri.


“Baiklah, akan kuakhiri ini” Reynard berdiri dengan gagahnya.


“Wooden spike!” Reynard menjentikkan jarinya. Dari dalam tanah bermunculan kayu-kayu lancip menjulang keatas yang menusuk kepala setiap mayat hidup yang tersisa sesuai dengan arahan para pemanah sebelumnya.


“Apakah sudah berakhir?” Para pemanah bertanya-tanya.


“Iya ini sudah berakhir, kerja bagus kalian semua...” Reynard tersenyum.


“Whoaaa!!” Para penduduk begitu riuh merayakan kemenangan mereka. Para penduduk yang sebelumnya bersembunyi didalam kubah kini telah keluar dan ikut merayakan kemenangan itu.


“i-ibu kita selamat?” Tanya seorang gadis kecil yang sebelumnya di selamatkan oleh Reynard ke ibunya.


“Iya nak nampaknya seperti itu!” jawab sang ibu dengan berderai air mata.



[Biodata karakter]


Nama: Reynard Alvazio


Umur: 20 Tahun


Tanggal lahir: 30 Desember


Zodiac: Capricorn


Tinggi badan: 183


Berat badan: 64

__ADS_1


Hobi: Membaca buku


__ADS_2