
:Dermaga Arcantis:
*Blink...!!
“Kalau kakek bisa memindahkan kita seperti ini kenapa tidak beliau langsung antarkan saja kita ke pulau Xoil” Alice terlihat heran.
“dia hanya bisa memindahkan kita pada jarak tertentu saja Alice” Rachel memberitahu.
“Ah begitukah?” Alice mengangguk paham.
“Baiklah ayo kita kepulau Xoil!” Reynard bersemangat.
Belum sempat mereka melangkah menuju kapal, tiba-tiba sekelompok orang dari guild lain memanggil mereka dengan sebutan yang kurang mengenakkan.
“Woy orang-orang dari guild sampah, mau kemana kalian?!” Ejek salah seorang pria dari 5 orang tersebut. Mereka ini merupakan anggota dari guild Lucid Dream, guild yang menempati urutan ke 10 dari 30 guild besar di Impish (Sky Feather urutan ke 30)
“B4ngs@t!” Zion nampak geram.
“Apa?!” Ucap pria itu dengan suara menantang.
“Kau pikir orang lemah sepertimu mampu melawanku?!” Pria itu memberikan tekanan gravitasi disekitar Zion dan yang lain.
“Ughh!” Keringat dingin mengalir dari pipi Zion dan yang lain, kecuali Rachel.
“Aku tidak tau apa motif mu, tetapi aku sarankan kau untuk segera menghentikan ini!” Rachel berjalan perlahan kearah pria itu.
“Wanita itu tidak terkena efek gravitasi ku?!” Pria itu nampak kaget.
“Liam, lebih baik kau hentikan ini sekarang” Pinta pria berambut orange dibelakangnya.
“Tapi Rendra!” Pria bernama Liam itu mencoba mengelak.
“Kau tau aku tidak suka mengulang perkataanku kan?!” Rendra menatap tajam Liam, aliran mana terasa begitu pekat disekelilingnya. Hal itu membuat Rachel tertegun.
“Dia berbahaya” Kata Rachel didalam hati.
“B-baiklah...” Liam kembali menetralkan tekanan gravitasi.
“Maafkan kami, pasti kekuatan Liam tadi membuat kalian ketakutan..” Senyum palsu terbentuk di wajah Rendra.
Dengan senyuman manisnya, Rachel membalas hinaan itu dengan mengatakan,
“Ah itu tidak masalah untukku, tekanan gravitasi seperti itu tadi tidak lebih seperti spell dasar bocah umur 6 tahun yang masih belajar mengendalikan talentnya”
__ADS_1
“....” Liam hanya bisa diam.
“Hahaha begitukah?” Rendra menggaruk kepalanya.
“Apa masih ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan?” Tanya Rachel dengan penuh kesantunan.
“Ah, tidak ada, kami akan segera pergi, sampai bertemu di lain kesempatan!” Rendra dan kawan-kawannya lalu pergi meninggalkan area dermaga.
“Wanita sombong itu!!” Liam sangat geram.
Kemudian Zion dan yang lain pun berangkat menuju ke pulau Xoil dengan menggunakan kapal umum. Perjalanan mereka menuju ke pulau Xoil membutuhkan waktu sekitar 5 hari lamanya, selama dikapal, mereka menghabiskan waktu dengan berlatih dan terkadang bersantai.
5 hari berlalu, akhirnya mereka pun hampir sampai di pulau Xoil. Dari kejauhan mereka melihat sebuah pulau besar yang ditumbuhi oleh pepohonan, terlihat juga perbukitan menghiasi bagian ujung dari pulau tersebut.
Sang nahkoda tidak mau berlabuh di pulau tersebut, karena ada sebuah rumor mengatakan kapal yang berlabuh disana tidak akan pernah bisa kembali berlayar lagi.
Zion dan yang lain harus melanjutkan perjalanan dengan berenang untuk menuju ke pesisir pantai pulau Xoil, akan tetapi hal itu mampu diatasi Reynard dengan mudah, ia dengan talentnya membuat jembatan panjang yang mengarah langsung menuju pesisir pantai.
“Jadi seperti ini pulau Xoil?” Reynard memperhatikan sekeliling.
“Tampak begitu sepi” Zion agak curiga.
“Lebih baik kita menuju ke desa dan berbincang langsung dengan chiefnya” Rachel berjalan memimpin didepan.
Mereka disambut dengan baik oleh para penduduk. Di sepanjang perjalanan menuju rumah chief, mereka melihat beberapa penduduk yang sedang sibuk berladang. Saat sampai di kediaman chief, Rachel mewakili yang lain masuk untuk mengobrol guna membahas tentang beberapa penduduk desa pulau Xoil yang menghilang entah kemana.
“Ku mohon tangkaplah pelaku dari hilangnya penduduk kami” Ujar sang chief berumur 60-an itu dengan mata berkaca-kaca.
Chief atau kepala desa itu bertubuh pendek, ia memakai sebuah penutup kepala dengan bulu-bulu burung diatasnya, selain itu ia juga memegang sebuah tongkat dengan ujungnya yang melengkung.
“Apakah ada suatu petunjuk atau apapun yang bisa kami jadikan acuan dalam pencarian ini?” Tanya Rachel.
“Aku punya sedikit petunjuk, kalian bisa berpencar ke utara, barat dan timur, banyak penduduk yang menghilang disekitaran area tersebut” Jelas Chief.
“Selain itu apakah ada petunjuk lain yang anda ketahui?” Tanya Rachel lagi.
“Sayangnya sejauh ini tidak ada lagi petunjuk yang ku ketahui” Chief nampak begitu sedih.
“Baiklah kalau seperti itu, besok kami akan berpencar ke sekitaran area yang anda sebutkan tadi” Tutur kata Rachel begitu lembut, ia seperti mencoba menenangkan chief dengan suara lembut penuh ketegasannya itu.
“Kalau begitu kalian akan kupersilahkan untuk menginap di salah satu rumah warga yang tak terpakai, kami juga akan menyiapkan persediaan yang cukup untuk masing-masing dari kalian sebagai bekal selama penelusuran” Senyuman manis Chief membuat ruangan itu seakan-akan kembali bercahaya.
“Saya sangat berterimakasih atas kemurahan hati anda” Rachel membungkukkan badannya sebagai bentuk kehormatan.
__ADS_1
“Itu bukanlah apa-apa” Chief kembali tersenyum.
“Baiklah kalau begitu saya izin untuk keluar” Rachel kemudian pergi keluar dari kediaman chief dan memberitahu segala informasi kecil yang ia dapatkan kepada Zion dan yang lain.
Rachel membuat rencana untuk penelusuran besok. Ia meminta Reynard untuk menelusuri dan mencari petunjuk di pulau bagian utara, Zion di bagian timur, dan dia sendiri di barat.
Alice diperintahkan oleh Rachel agar tetap berada di desa untuk mencari petunjuk dan informasi yang mungkin bisa didapatkan dari warga desa, selain itu keputusan tersebut diambil sebagai langkah preventif untuk mencegah menghilangnya penduduk lain di desa.
Malam pun datang, Zion dan yang lain nampak bersiaga di sekitar desa, mereka berpencar disekitar pos-pos desa guna menjaga desa dari serangan penculik yang mungkin datang. Namun kekhawatiran itu tidak menghasilkan apa-apa, semalaman penuh tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan disekitar desa.
Keesokan harinya, Zion dan yang lain bersiap untuk pergi ke area yang telah Rachel tentukan sebelumnya. Sebelum mereka pergi, Chief dibantu warga desa memberikan masing-masing dari mereka tas kulit ransel berisi bahan makanan. Setelahnya mereka bertiga pun pergi ke area masing-masing.
7 hari kemudian. Alice terlihat makin akrab dengan para penduduk desa, sering kali ia membantu penduduk untuk melakukan kegiatan sehari-hari mereka. Penduduk nampak sangat senang akan bantuan Alice tersebut.
“Wind breeze!” Seru Alice mengeluarkan talent anginnya, anginnya itu bertiup dengan pelan membantu penyemaian bibit tumbuhan di lahan perkebunan penduduk.
“Wahh kau benar-benar luar biasa Alice!” Seorang nenek tua berumur 70an terkagum-kagum melihat talent Alice.
“Nenek tidak perlu memuji seperti itu” Alice nampak malu.
“Hahaha, kau tidak perlu malu seperti itu.”
“Kami sangat bersyukur akan kehadiranmu di desa ini” Nenek itu menyeringai dengan tatapan mengerikan.
Sementara itu ditempat lain. Reynard yang saat ini di utara nampak kebingungan karena tidak kunjung mendapatkan petunjuk apapun selama sepekan di wilayah itu. Di sisi utara hanya terlihat pengunungan tinggi dengan dinding-dinding batu sejauh mata memandang.
Reynard nampak begitu kesal karena tak mendapatkan petunjuk apapun. Ia memutuskan untuk kembali ke desa, akan tetapi tiba-tiba saja ia tersandung batu kemudian terjatuh kedalam sebuah lubang yang dibawahnya terdapat puluhan kayu lancip menjulang keatas.
[Biodata karakter]
Nama: Rachel Marquiz
Umur: 21 Tahun
Tanggal lahir: 30 Oktober
Zodiac: Scorpio
Tinggi badan: 178
Berat badan: 65
__ADS_1
Hobi: Memasak