
Ditempat Alice ia nampak serius menghadapi Africus.
“Untuk seukuran bocah sepertimu, kau lumayan juga!” Puji Africus saat ini bersiaga.
“Wind blade!” Seru Alice melemparkan beberapa bilah angin dengan cepat kearah Africus.
“Tipikal seorang bocah, selalu tidak sabaran...” Africus beberapa kali melompat menghindari serangan itu.
“Bubble blast!” Africus menciptakan ratusan gelembung sabun disekitar Alice. Kemudian ia segera meledakannya.
*Duarr!
Ledakan itu menciptakan kepulan debu
“Sudah selesaikah?” Africus nampak sangat percaya diri.
“Needle wind!” Dari balik kepulan debu ratusan angin berbentuk jarum melesat kearah Africus.
“!?” Africus kaget, ia dengan cepat menciptakan banyak gelembung sabun guna menangkis serangan itu.
“Bagaimana bisa dia selamat dari seranganku sebelumnya?!” Africus kebingungan.
“....” Kepulan debu itu perlahan menghilang dan memperlihatkan Alice yang tengah berdiri. Disekitar tubuh Alice terlihat seperti ada sebuah pelindung angin yang nampaknya ia telah gunakan untuk menangkis serangan gelembung Africus sebelumnya.
“Ohhh jadi kau memakai cara curang untuk bisa menahan seranganku ya?” Ucap Africus.
“Crescent wind!” seru Alice melemparkan angin berbentuk sabit yang melaju secara vertikal kearah Africus. Terdapat sebuah garis disepanjang jalur tanah yang dilalui angin sabit Alice itu.
“Yang sabar sedikit lah bocah, kau ini seperti di kejar oleh sesuatu saja!” Africus melompat keatas langit dan menciptakan sebuah gelembung besar dibawah kakinya untuk membuatnya tetap terbang diudara.
“Bubble blast!” Seru Africus menyerang Alice dengan serangan yang sama.
“Wind protection!” Alice kembali melindungi dirinya membuat serangan itu menjadi sia-sia.
“Wind bullet!” Alice meniupkan beberapa angin berbentuk peluru dari mulutnya. Namun Africus berhasil menghindar dan membuat serangan Alice tadi hanya mengenai gelembung yang membantunya untuk terbang.
“Bubble hammer!” Africus melompat kemudian menghujam Alice dengan gelembung sabun berbentuk hammernya.
*Swoshh!
Alice menghindar dengan kekuatan anginnya.
*Bummm!
Palu itu menciptakan sebuah lubang diatas tanah. Tak tinggal diam, Africus segera mengangkat palunya kembali dan dia ayunkan itu kearah Alice lagi dan lagi. Alice sebisa mungkin menghindar dan beberapa kali menyerang balik.
“Cukup lama juga ya waktu yang kau butuhkan untuk melawan 1 pecundang seperti ini” Ejek seseorang di kepala Alice.
“Mau kubantu?” Sambungnya.
__ADS_1
“Apa kau bisa, bagaimana caranya?” Jawab Alice didalam hati. Ia masih terlihat sibuk menghindar.
“Yah... Sayangnya kau masih belum berbakat untuk itu, hehehe” Ucap orang didalam pikiran Alice itu.
“Bagaimana kalau aku akan mengajarimu cara supaya mana mu bisa lebih efektif saat sedang bertarung?” Kata orang itu menawarkan.
“Bagaimana itu?” Tanya Alice lagi.
“Aku juga tidak bisa mengajari hal itu disini, aku akan mengajari itu nanti saat kau senggang” Ungkap orang itu.
“Grrrr!” Alice nampak sedikit kesal.
“Jangan kesal begitu dong. saat ini aku akan mengarahkanmu untuk melawan dia, jangan terlalu banyak menggunakan sihir, gunakan juga kemampuan beladirimu” Saran orang itu.
“Kau terdengar seperti kak Rachel” Ungkap Alice. Ia masih terlihat sibuk menghindari serangan Africus.
“Baiklah aku akan melawannya dengan kemampuan beladiriku” Alice memasang kuda-kuda.
“Apa yang mau dia lakukan?” Africus heran. Namun ia tak ambil pusing dan tetap menyerang Alice. Alice sedikit menghindar kemudian meninju perut Africus.
“Gwoah!” Africus kesakitan. Setelah itu Alice dengan bantuan dorongan kekuatan anginnya melompat sedikit lebih tinggi dari tubuh Africus, dan menendang wajah Africus dengan keras dengan telapak kakinya.
“Ughh!” Africus terdorong sedikit kebelakang. Didalam pikirannya saat ini sedang bertanya-tanya, bagaimana bisa tubuh kecil sepertinya itu bisa menghasilkan kekuatan otot yang cukup kuat.
“Bubble trap!” Africus mengurung Alice didalam gelembungnya. Ia kemudian menerbangkan Alice jauh ke atas langit.
“burst!” Saat sudah cukup jauh diatas langit ia memperkecil ukuran balon tersebut dan meledakan Alice yang berada didalamnya.
“Kyaaa!” Serangan itu berhasil melukai Alice. Alice saat ini terjun dari atas langit dengan posisi terlentang.
“T-tapi aku tidak tau harus bagaimana” Ungkap Alice.
“Bodoh, kau ini kan pengguna element angin, coba rasakan sekelilingmu sekarang!” Orang dipikiran Alice membuatnya tersadar.
“K-kau benar...” Alice kemudian perlahan menyesuaikan posisi tubuhnya.
“Wind blades!” Alice melesatkan puluhan angin berbentuk bilah pisau dari atas langit kearah Africus.
“Wind Drill!!” lanjut Alice mempercepat kecepatannya di udara. Angin disekitarnya terlihat berputar disekeliling tubuhnya. Angin itu terlihat seperti sebuah bor yang berputar dan melesat dengan cepat kearah Africus.
“Ini gawat!” Africus terlihat ketakutan. Saat serangan Alice hampir mengenainya, tiba-tiba Africus mengeluarkan skillnya.
“Ultimate skill, black tortoise shell!” Africus menciptakan sebuah gelembung hitam metalik disekitarnya yang melindunginya dari serangan Alice.
“Hahaha dengan ini kau tak akan bisa menyerangku!” Africus tertawa dengan sangat percaya diri.
“Bubble fortress!” Africus menciptakan ribuan gelembung sabun yang bergerak berputar disekeliling Alice.
“I-ini” Alice tertegun.
“Bubble explosion!” Africus meledakan ribuan gelembung sabunnya itu.
*Duarrr!!
Ledakan luar biasa terjadi. Kepulan debu bercampur asap kembali tercipta.
__ADS_1
“Aku tau kau masih belum mati” Africus memanggil Alice dibalik kepulan asap itu
“Huffft huffft” Alice berhasil bertahan. Bajunya terlihat compang-camping. Kemudian..
*Krakk
*Ctasss
Pelindung angin yang melindunginya hancur tak tersisa.
“Sayangnya ini akhir untukmu...” Africus berjalan kearah Alice. Perlahan ditangannya ia kembali menciptakan sebuah hammer dari gelembung-gelembung sabun-nya.
“Beristirahatlah dengan tenang.... Gadis kecil...” Africus mencoba menghantamkan palunya itu ke kepala Alice.
*Swoshh!
Alice dengan sisa-sisa kekuatannya berhasil menghindar menggunakan anginnya.
“Masih bisa kabur ternyata ya, tapi itu sia-sia, pelindung yang kau lihat disekeliling tubuhku ini tak akan bisa dihancurkan oleh apapun, jadi mau seberapa keras pun kau menyerang, kau tidak akan pernah bisa melukai ku, dan lagi, mana mu pasti sudah terkuras banyak saat menahan seranganku sebelumnya” Ungkap Africus
“aku hanya perlu sedikit bermain-main denganmu sampai mana mu benar-benar habis, kemudian membunuhmu” Africus kembali mendekati Alice dengan palu ditangannya.
“Sekarang!” Seru seseorang didalam pikiran Alice.
“Suffocation..!” Lirih Alice.
“Itu percu....” tak sempat menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Africus merasakan sesak di dadanya.
“Ugghhh!!” Ia memegangi lehernya, ia terlihat seperti seseorang yang kesulitan bernafas.
“A-apa...” Africus masih terus memegangi lehernya, wajahnya mulai terlihat biru karena kekurangan oksigen.
“Rele...” Africus mencoba membatalkan gelembung pelindungnya. Tetapi Alice sudah lebih dulu menciptakan beberapa tombak angin yang terbang memutar disekeliling Africus, bersiap untuk menghujam tubuh Africus saat ia membuka kembali gelembungnya.
“?!” Africus yang sadar terlihat cukup kaget.
“I-inikah...” Mata Africus merah, wajahnya makin membiru, tangannya bergetar
“Akhirku...” Africus melihat kearah langit. Tangan kanannya mencoba mengapai sesuatu diatas langit. Tak lama setelahnya ia benar-benar kehabisan nafas dan jatuh tersungkur. Gelembungnya juga perlahan mulai terbuka dan saat gelembung pelindung itu benar-benar hilang, tombak angin milik Alice dengan cepat menusuk tubuh Africus dari segala arah. Saat ini Africus benar-benar telah tewas.
“K-kita berhasil?” Alice menghela nafasnya.
“Jangan senang dulu, Kematian yang sebenarnya sedang menunggumu!” South muncul dibelakang Alice.
“!?” Alice tertegun
“East...” Ucap South
“Kau beruntung karena hanya harus membunuh bocah yang sedang kehabisan mana” Kata West
“Yah, ini tidak akan lama” Jawab South
“hahaha, kalau begitu. Alternate Atmosphere!” West memindahkan South dan Alice kesuatu tempat.
Saat ini mereka berdua berada ditengah-tengah padang rumput yang sangat luas. Angin sepoi-sepoi nampak meniup rerumputan, baju dan rambut mereka berdua. Langit mendung membuat suasana agak sedikit mencekam.
__ADS_1
“Maafkan aku harus membunuhmu..” South muncul dibelakang Alice dengan kepala sabitnya yang sudah berada tepat didepan leher Alice. South kemudian mencoba menarik sabitnya itu kebelakang.