
( POV RINJANI )
Oh iya...aku cukup lega mendengar bahwa ternyata bukan Rio yang menghamili Hana, sebenarnya sejak awal aku sudah curiga bahwa apa yang dituduhkan hana pada rio tidak benar karena selama berpacaran dengan rio aku paham benar sifat rio yang tidak suka mempermainkan hati wanita.
Kringgg...
kringgg...
kringg....
aku langsung menoleh ke handphone yang sedang berada di atas meja sebelah tempat tidurku, kulihat di layar ada panggilan dari Rio.
" Iya, hallo rio. sapaku padanya.
" hallo rin, ganggu nggak nih?
" ah? nggak kok ini juga lagi nyantai aja di kamar. ada apa?
" Oh...nggak kenapa kenapa, aku cuma berencana ingin mengajakmu nanti malam untuk pergi ke suatu tempat kalo kamu nggak sibuk.
" kemana? jam berapa ?
" ada deh, surprise. nanti aku jemput jam 7 ya, bisa kan? ucapnya membuatku penasaran.
" oke boleh deh. kataku singkat.
Akupun mengakhiri telfonku dan kemudian berbaring sejenak sambil menerka nerka, kejutan apa sih yang rio siapkan buatku nanti malam? batinku semakin penasaran. aku jadi nggak sabar menunggu jam 7.
Tokkk....
tokk...
tokk....
aku segera berlari kedepan dan ternyata Rio, kulirik jam tanganku ternyata baru pukul setengah 7. aku saja baru selesai berpakaian.
" hey...cepat amat? kan baru setengah 7? kataku sambil membuka pintu dan mempersilahkan Rio untuk masuk kedalam.
" iya rin, sengaja biar nggak kena macet di jalan. ucapnya sambil tersenyum.
" oh...yaudah...duduk dulu aku mau sisiran sebentar dan ambil hoodie juga tas sekalian.
" oke, jangan lama ya. katanya terkekeh.
Kulihat raut wajah Rio malam ini berseri seri tak seperti biasanya, aku semakin penasaran. akupun buru buru keluar kamar lalu mengajak Rio segera pergi, tak lupa aku mengunci semua pintu.
Tiga puluh menit kemudian tibalah kami di sebuah cafe yang suasananya tidak begitu ramai, kudengar alunan alunan musik akustik yang sedang di mainkan dari dalam cafe. kuamati orang orang yang datang kebanyakan pasangan dua sejoli.
" ayo rin masuk yuk. rio mengajakku sambil menggenggam erat tanganku.
__ADS_1
Degg....
padahal sudah lama tak merasakan kemesraan seperti ini lagi semenjak kami putus.
" ayo. tak kulepas genggaman rio karena jujur akupun merasa nyaman.
Se-sampainya kami di depan pintu masuk cafe seorang pelayan wanita langsung datang menghampiri kami sambil tersenyum ramah dan mempersilahkan kami untuk masuk lalu mengantarkan kami ke meja yang mungkin sudah di reservasi sebelumnya oleh Rio.
Rio pun menarik kursi untukku dan mempersilahkan aku untuk duduk lalu dia juga menarik kursi di seberang meja untuknya duduk, kami pun duduk sambil bertatapan dan aku benar benar salah tingkah dibuatnya.
" Rio, nggak usah menatap seperti itu ah....
" kenapa rin? malam ini kamu cantik dan masih seperti hari hari sebelumnya selalu cantik. ucapnya memujiku.
" duh...gombal nih. aku benar benar salah tingkah atas pujiannya barusan.
" ini benar rin bukan gombal. sejak awal bertemu hingga hari ini di mataku kamu tetap wanita tercantik yang pernah kutemui setelah ibuku. lagi lagi dia berhasil menggodaku dan tertunduk malu.
" ah...stop jangan di teruskan lagi. jauh jauh kesini hanya untuk muji muji aku nih? kataku sedikit mengalihkan pembicaraan.
" ya...nggaklah, ada yang lebih penting dari itu rin. ucapnya serius.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang ke meja kami dan menawarkan buku menu padaku juga pada Rio.
" Rin, apapun yang kamu pesan aku juga akan pesan menu yang sama. apapun yang kamu suka, aku juga suka.
kulihat pelayan yang sedang menunggu list pesananan kami sedang senyum senyum tipis sembari melihat ke arah Rio yang sedang menggodaku.
Si pelayan pun menggangguk meng-iyakan.
" eh...eh...mba pelayan aku bukan temannya perempuan ini tapi calon suaminya. ucap Rio terkekeh.
Aku langsung membelalakkan mataku ke arah Rio dan melihat ke arah pelayan yang juga tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. saat kualihkan pandanganku ke pelayan itu, dia langsung diam dan memasang wajah serius.
" baik mba dan mas, ditunggu pesanannya ya. ucap pelayan wanita itu sambil berjalan senyum senyum sendiri.
Saat aku kembali terdiam, tiba tiba Rio memegang tanganku yang kuletakkan di atas meja, dia menggengamnya begitu erat lalu menatapku dalam dalam.
" Rin, kamu tentu sudah tahu kalo yang menghamili hana bukan aku kan? mungkin biby pun sudah memberitahukanmu? ucapnya dengan wajah serius.
" iya, trus ?
" sekarang sudah kubuktikan padamu bahwa aku tak berbuat seperti itu padanya kan? sekarang aku mau nanya ke kamu. apakah setelah ini selesai dan terbukti kamu masih akan kembali padaku jika aku memintanya?
" hah ? hmmmm.... aku tiba tiba kikuk dengan pertanyaan Rio barusan.
" kenapa rin? kenapa nggak bisa jawab? aku masih ada di hati kamu kan?
" hmmmm.... lagi lagi aku tak bisa menjawabnya.
__ADS_1
" tolong beri aku kepastian rin, jangan gantungkan perasaanku padamu sekian lama. kulihat mata Rio berkaca kaca dan masih menggenggam erat tanganku.
" maaf rio, aku belum bisa jawab sekarang. aku mohon jangan paksa aku. ucapku kemudian.
" kenapa ? aku pikir setelah aku membuktikan padamu soal hana lantas kamu akan kembali padaku lagi. tatap mataku rin...aku serius padamu.
Aku benar benar tak berani menatap mata Rio, aku saat ini sedang dilema. jujur saat ini ada seorang laki laki yang juga sedang berjuang melakukan pendekatan padaku. bukannya aku begitu mudah melupakan kisahku dengan Rio tapi jika kupikir pikir hubungan ini tak akan mendapatkan restu dari orang tuaku karena aku dan Rio berbeda keyakinan.
aku terlahir dari keluarga yang berkeyakinan nasrani yang begitu kental sedangkan rio muslim. tentu kami berbeda dalam banyak hal.
" maaf rio, sekali lagi aku minta maaf aku belum bisa menjawab pertanyaanmu saat ini. ada hal yang mesti aku pertimbangkan untuk melanjutkan hubungan ini meskipun jujur masih ada rasa yang kusimpan untuk rio setelah kami break.
Di lain sisi aku juga mengaku bersalah karena sejak awal aku tak pernah memikirkan secara matang untuk memutuskan menjalin hubungan dengan rio perihal keyakinan, sedangkan laki laki yang saat ini mendekatiku seiman denganku. menurutku dia juga sosok yang baik dan sangat menghargai wanita. aku hanya tak mau melawan restu orang tuaku jika harus meneruskan hubunganku dengan rio.
" Rin, apakah kamu sudah mempunyai pacar setelah putus denganku? ucapnya dengan nada sedih.
" nggak, sampai sekarang aku belum pacaran lagi setelah putus darimu.
" lalu apa yang membuatmu hingga begitu ragu untuk kembali lagi padaku?
" nggak ada, hanya saja itu tadi...ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan dan belum bisa ku utarakan sekarang. tolong...pahami aku ya. ucapku memohon padanya.
" baik rin, aku tak akan memaksamu. aku akan terus menunggumu hingga kamu kembali siap untuk balikan lagi padaku.
Akhirnya malam ini kami pun menikmati hidangan dari cafe tersebut. sesekali mataku ku arahkan ke wajah rio, kulihat raut wajahnya begitu sedih dan tatapannya begitu kosong. sekarang giliranku untuk menghiburnya dan mengajaknya bercanda.
" Eh...kenapa menghayal? makan yuk....
" iya rin, ini juga lagi makan.
" tapi makannya kok lemas ?
" ah...biasa aja. rio menyembunyikan kesedihannya padaku.
" kamu cakep loh kalau wajahmu berseri seri seperti tadi sewaktu kamu menjemputku kerumah. ucapku mencoba menggodanya.
" eh ? masa sih ? jadi sekarang nggak cakep nih? rio mulai kembali ceria.
" tetap cakep donk, ucapku menggodanya lagi.
kulihat dia mulai bersemangat lagi untuk makan. sebenarnya aku pun masih sayang padamu rio, tapi ada hal yang mesti aku pertimbangkan dengan baik. batinku.
" maafkan aku ya, kataku tiba tiba mengejutkannya.
" maaf untuk?
" karena belum bisa membuatmu bahagia malam ini. ucapku sambil tersenyum padanya.
" iya, nggak papa rin. dia pun melemparkan senyum termanisnya padaku.
__ADS_1
Akhirnya acara makan malam pun selesai dan Rio segera mengantarku pulang.