
Novel sedang proses revisi alur ya kak. Mohon pengertiannya.
Seperti biasa, pukul lima pagi aku sudah bangun dan segera melakukan semua pekerjaan rumah. Menyiapkan sarapan, mencuci piring, merapikan seisi rumah, menyapu, dan mengepel. Segalanya aku lakukan sendiri, sementara bibi dan sepupu perempuanku masih tertidur lelap di kamarnya.
Kini jam sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh pagi. Segera aku menyambar sepatu pantofel hitam yang ku taruh di rak sepatu dekat pintu depan. Dengan cepat ku pakai sepatu pantofel hitam itu, menutup pintu, lalu berlari menyusuri gang kecil yang mengarah ke jalan raya.
Payah! Aku malah lupa menggunakan jaket. Cuaca sedang sangat tidak bersahabat, jangan sampai aku terserang flu. Untung saja aku belum berlari terlalu jauh, jadi masih memungkinkan untuk ku kembali ke rumah dan mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamar.
Klaaak--
Aku membuka pintu rumah yang belum terkunci. Sepertinya bibi dan Diana masih belum bangun. Hidup mereka berdua memang selalu seenaknya begini, entah mau sampai kapan. Semua warisan orang tuanku telah mereka jual dan uangnya habis entah ke mana. Jika bukan karena uang pensiunan ibuku yang mereka nikmati tiap bulan, mungkin bibi sudah menjual rumah ini juga.
HUFT!! Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Akan ku usahakan untuk mengambil beberapa dokumen tanpa sepengetahuan bibi. Meminjam sejumlah uang ke bank, dan kabur dari sini. Lihat saja, aku akan mulai bertindak setelah hari kelulusan nanti. Kesabaranku sudah benar-benar habis.
Krieeett--
Pintu kamar bibi terbuka. Ku lihat seorang wanita paruh baya dengan kimono tidur yang berantakan berjalan keluar dari kamarnya kemudian menghampiriku.
"Heh Rissa! Tumben kamu belum berangkat?" tanyanya.
__ADS_1
Aku segera memasuki kamarku, mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu, lalu berjalan menghampiri bibi.
"Ini mau berangkat, Bi."
Bibi menatap wajahku dengan sangat sinis, "Ada apa, Bi?" tanyaku heran.
"Kamu udah beres ujian, kan?"
Aku mengangguk.
"Abis itu apalagi?"
"Ahhh udah lah. Mending to the point."
"Nanti aja Bi. Aku mau berangkat ke sekolah." Dengan cepat aku berjalan menuju pintu depan yang berjarak sekitar empat meter dari tempatku berdiri.
" NIKAH SAMA PRIA ITU, BI."
Segera aku berlari keluar dari rumah itu. Suara teriakan bibi yang memanggil namaku masih terdengar sangat jelas. Tcih! Sungguh tidak tahu malu, padahal banyak rumah tetangga di sekitar sana.
__ADS_1
Ku nyalakan ponsel guna melihat jam. Di sana tertulis pukul tujuh lewat lima belas. Ah, aku telat datang ke sekolah. Lima belas menit lagi gerbang ditutup, sedangkan aku masih berdiri di pinggir jalan menunggu angkot yang lewat. Harus ke mana sekarang? Aku benar-benar tidak ingin pulang ke rumah. Tapi untuk datang ke sekolah juga tidak mungkin.
Seketika aku teringat akan sahabatku Livi. Hanya dia yang bisa membantuku sekarang. Ku buka kontak di ponsel dan segera meneleponnya.
Satu menit kemudian. Akhirnya Livi mengangkat telefon dariku.
"Halo, Vi."
"Iya halo Ris. Eh kamu kenapa gak masuk?"
"Tadi ada problem dikit Vi. Jadi aku telat berangkat."
"Bibi kamu lagi?"
"Iya, biasalah."
"Bibi sama sepupu kamu trouble maker banget sih. Hari ini mereka udah ngapain lagi?"
"Nanti aku cerita deh Vi. Oh iya, aku minjem duit boleh gak? Pengen nyari tempat healing ."
__ADS_1
"Sorry Ris, aku bukan gak mau ngasih. Tapi sisa duit ini tinggal delapan puluh ribu."