LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 26 : MALAM PERTAMAKU


__ADS_3

Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya


Malam harinya


“Buka gaunnya di sini aja. Kalo buka di kamar mandi nanti yang ada malah jadi basah semua.”


Aku mengambil baju handuk yang ada di dalam lemari. “Sana masuk lagi ke kamar mandi! Aku mau buka baju dulu, dan ganti pake baju anduk ini.”


“Lah ya tinggal buka aja, lagian kita sekarang kan udah jadi suami istri. Gak masalah kalo kamu tel*njang di depan aku.”


“Sana!”


“Gak mau.”


“Sana ih!”


“Emangnya kenapa sih?”


“Sengaja loh, biar kamu kepo. Pokoknya aku mau mandi dulu baru kamu boleh liat.”


“Astaga, ada-ada aja. Ya udah aku masuk nih.” Adam kembali ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu.


“Jangan dulu di buka sebelum aku bilang buka!”


“Iya."


Aku segera membuka semua yang aku kenakan dan menggantinya dengan baju handuk.


“Buka.”


Adam membuka pintu.


“Ya sudah, keluar dulu kamu. Giliran aku yang masuk sekarang.”

__ADS_1


Adam berjalan menghampiri tempat tidur, lalu duduk di atasnya. “Pake baju yang udah disediain di kamar mandi. Lagian cuma ada itu kok, gak ada baju lain. Besok pagi baru ada pelayan yang ngirim baju lain ke sini.”


“Oh oke,” jawabku santai.


Aku memasuki kamar mandi lalu menutup pintu.


Baju yang sudah di sediakan? Kira-kira baju seperti apa ya yang hotel ini sediakan?


Aku membuka lemari kecil yang ada di bawah wastafel.


Hah? Apa mereka sudah gila? Mana mungkin aku mau memakai pakaian seperti ini? Ini adalah Lingerie berwarna merah marun yang terlihat sangat sensual. Bahkan bagian bawahnya sengaja dibuat bolong seperti ini, ini pasti bolongan khusus untuk memasukan ‘itu'.


“Adaaaaaaam!!! Aku ingin baju yang lain!” teriakku dari dalam kamar mandi.


“Gak ada lagi, udah pake yang itu aja! Aku pengen liat kamu pake itu.”


“Tapi ini bajunya c*bul banget. Aku malu pake ginian, Dam.”


“Udah pake aja!”


Aku melihat ada barang lain di dalam laci itu dan segera mengambilnya.


.


“Ini udah aku pake, cuma malu aja nunjukinnya.”


“Buka!”


“Maluuu.”


“Buka, Rissa!”


Kenapa malam ini dia terlihat begitu buas dan menyeramkan? Aku jadi merasa takut.

__ADS_1


“Baiklah, akan aku buka.” Aku menjatuhkan baju handuk yang aku pakai, dan membiarkan Adam melihat semuanya.


Mata pria itu terbelalak saat melihatku dengan setelan ini.


“Kenapa ekpresinya kayak gitu? Apa aku gak pantes pake ini?” tanyaku ketus.


“Pantes kok, pantes banget.”


Aku menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Ku hampiri pria kekar itu dan mendorongnya agar berbaring di tempat tidur.


“Jawab jujur ya! Kamu udah ngelakuin ini berapa kali?” tanyaku.


“Kenapa kamu nanya itu?”


“Ya aku penasaran aja, emang gak boleh?”


“Hmmmmm.”


“Cowok ganteng, badan bagus, kaya dan tinggal di ibu kota. Kayaknya gak mungkin kalo kamu gak pernah ngelakuin hal kaya gini.” Aku semakin menindih tubuh kekar itu.


“Oke, aku jawab jujur. Aku ini bukan cowok baik, tapi aku udah berusaha buat berubah jadi lebih baik. Pergaulan aku agak kacau dan aku udah ngelakuin hal itu beberapa kali. Tapi semuanya aku lakuin sama cewek random yang bukan pacar.”


“Ooh, gitu.”


Adam memeluk diriku erat. “Itu masa lalu, jadi lupain aja. Sekarang fokus aja sama masa depan.”


“Lepasin!” Aku berusaha melepaskan pelukan Adam.


“Kenapa?”


“Lepasin!”


Adam melepaskan pelukannya. “Kamu marah?” tanyanya.

__ADS_1


Aku tidak menjawab


__ADS_2