LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 2 : INSIDEN MALAM ITU #1


__ADS_3

Novel sedang proses revisi alur ya kak. Mohon pengertiannya.


Ku perhatikan pintu mobil itu terbuka. Menakjubkan, rasanya seperti mimpi. Apa benar aku akan menaiki mobil semewah ini? 


Namun seketika senyum di wajahku lenyap. Alangkah terkejutnya aku saat melihat semua pintu yang ada di mobil itu terbuka. Tidak berselang lama, tiga orang pria tinggi keluar dari mobil itu. Wajah mereka semua tertutup masker berwarna hitam.


"Siapa kalian?" Tubuhku gemetar saking takutnya. Naluriku berkata kalau tiga pria yang ada di hadapanku ini bukanlah orang baik. 


Aku mundur satu langkah. "Kenapa ngeliatin aku kaya gitu? Ngeri. "


Salah satu dari mereka mendekatiku. "Jangan ngelakuin perlawanan! Pilih diam atau mati?"


Nada suaranya yang dingin membuat aku semakin ketakutan. Tubuhku terasa sangat lemas, terutama di bagian kaki. 


"Ma- ma- mau apa kalian ini?" suaraku bergetar, rasa takut ini semakin menjadi-jadi hingga air mata mengalir dengan sendirinya. 


Tanpa basa-basi pria itu langsung menarik tanganku, mulutku disumpal menggunakan kain yang aku yakin itu pasti sebuah sapu tangan. Sekuat tenaga aku melawan, tetapi semuanya sia-sia. Mereka berhasil memasukkan tubuhku ke dalam mobil secara paksa. Tentu saja aku tidak tinggal diam. Kaki, tangan, serta kepala aku gerakan ke sana kemari sebagai bentuk perlawanan. 


"DIEM LU DASAR J*LANG!!" bentak seorang pria yang duduk di kursi sebelah supir. 


J*lang katanya? Apa-apaan ini? Jelas-jelas mereka yang menculik ku seperti ini. Kenapa malah aku disebut j*lang? 


"Lu gak usah bentak dia kaya gitu," ucap pria yang duduk di sampingku. 

__ADS_1


"Bius aja dia sekarang! Ngerepotin kalo dia berontak terus." Pinta pria yang mengemudikan mobil ini. 


Pria di sampingku mengangguk, kemudian dia memaksaku untuk meminum sebotol air putih. Sulit untuk diriku menolak minuman ini. Dia memasukkan air itu secara paksa ke tenggorokanku. Kini tubuhku mulai lemas, aku yakin mereka sudah mencampurkan obat bius di air minum tadi. Sebenarnya apa yang akan mereka lakukan padaku?


Hanya butuh waktu beberapa detik saja sampai aku benar-benar kehilangan kesadaran. 


...Author POV...


Mobil sport berwarna putih itu melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka harus sampai di tujuan tepat waktu. 


Sementara itu, di rumah Livia. 


Gadis itu terlihat seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Matanya berkaca-kaca. 


"Ini aku masih keliling nyari dia di sekitar sini."


"Aku khawatir banget sama Larissa loh, Sayang."


"Iya-iya aku ngerti kok. Ini masih aku usahain juga buat nemuin dia."


"Lagian ini orang ke mana sih? Pake acara ngilang segala. Kan udah aku kasih tau dia buat nunggu sekitar sepuluh sampe lima belas menit."


"Mungkin dia pulang ke rumahnya?"

__ADS_1


"Kayanya enggak deh. Aku yakin dia gak mungkin pulang ke rumahnya."


"Hmmm, terus sekarang gimana? Aku udah keliling nyari dia tetep gak ketemu."


"Apa Jangan-jangan dia diculik?"


"Jangan mikir yang enggak-enggak! Positif aja loh."


"Kalo besok dia masih ilang, aku bakalan telepon polisi."


"Iya sayang. Terus aku ini gimana? Pulang aja gitu?"


"


"


"Damn! Bisa-bisanya aku memberikan keperjakaanku pada wanita ini. Menyedihkan!" ucapnya dalam hati.


...Visual...


Damn! Bisa-bisanya aku memberikan keperjakaanku pada wanita ini. Menyedihkan!" ucapnya dalam hati.


 

__ADS_1


__ADS_2