LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 23 : DIA?


__ADS_3

Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya


“Jangan ngebayangin yang enggak-enggak. Intinya kita jalanin dulu aja, soal nanti ya gimana nanti.”


“Hmmm ya udah deh.”


“Soal ini tuh gak usah dipikirin, apalagi dibahas. Oke?”


“Iya.” Aku mengangguk.


“Ya udah, aku ke ruang kerja lagi. Banyak banget kerjaan yang harus aku beresin.”


“Minta uang dong, hehehe.”


Mengeluarkan kartu ATM dari dalam dompetnya. “Cash ku cuma ada sejuta. Pake kartu ini aja ya? Sandinya dua lima nol lima nol satu.”


“Gak mau ATM, aku mau cash aja. Lagian kalo di ATM sih aku juga ada duit. Ini masalahnya aku lagi gak bawa cash.”


“Emang mau beli apa?”


“Gak tau juga sih mau beli apa. Aku cuma lagi pengen motoran keluar aja, nyari angin.”


“Ya udah nih.”Memberiku semua uang cash yang ada di dalam dompetnya.


“Kebanyakan ihhh, aku minta tiga ratus aja.”


“Ambil aja semua, sekalian nih kartu ATM nya juga.”


Aku mengambil uang dan kartu ATM itu dari Adam. “Makasih banyaaaak.”


“Iya sama-sama. Ya udah aku mau kerja lagi ya.”


“Iya.”

__ADS_1


“Ajak Luna buat nemenin kamu!”


“Okeee siaap.”


Adam pun kembali ke ruang kerjanya di lantai tiga.


Aku langsung menghubungi Luna lewat telepon. Walaupun kita berada di satu rumah yang sama, tapi akan sulit menemukannya jika dicari dengan cara manual.


“Halo, Nona. Ada apa?”


“Siapin motor dong, aku pengen jalan-jalan keluar nyari angin. Sekalian kamu juga ikut ya.”


“Baik, Nona.”


“Makasih banyak, Luna.”


“Tidak perlu berterima-kasih, Nona.”


Aku mematikan teleponnya.


Sekarang Luna berusia dua puluh tujuh tahun, dan dia bekerja di rumah ini dari usia dua puluh satu tahun. Dia adalah sosok pelayan yang cantik, pintar, dan serba bisa. Rasanya sangat disayangkan jika wanita seperti dia menghabiskan hidupnya untuk menjadi seorang pelayan.


Aku berjalan keluar dari dalam kamar dan turun ke lantai satu.


Setelah berjalan selama kurang lebih tiga menit, akhirnya aku sampai di teras depan. Di sana ada Luna yang menungguku dengan motor matic yang sudah dia siapkan.


“Aku yang bawa motornya ya.”


Luna mengangguk. “Iya, Nona.”


Aku mengemudikan sepeda motor itu untuk mengelilingi kompleks perumahan elite ini.


“Kenapa tidak naik mobil saja, Nona?”

__ADS_1


“Kan aku pengen nyari angin. Di mobil tuh ketutup gak ada anginnya.”


“Kan jedelanya bisa dibuka.”


Jawaban Luna membuatku jadi sedikit malu, “Iya juga ya, hehehe.”


“Mobil Ferarri milik Tuan Adam juga atapnya bisa dibuka, Nona. Tinggal dibuka saja dan pastinya ada angin.”


“Adam punya Ferarri? Aku kira mobil dia Alphard doang.”


“Tuan Adam mempunyai tiga mobil, Nona.”


“Ohh gitu ya.”


“Iya, Nona.”


Aku melihat ada Alfamart di depan sana.


“Kita jajan-jajan di Alfa sana yuk?”


“Iya ayo, Nona.”


Aku memarkirkan motor di halaman toko ritel itu. Pandanganku langsung tertuju pada sebuah mobil sport warna emosi.


Tapi bukannya membalas omonganku, pria itu malah mematung sembari menatap wajahku. Ekspresi wajahnya terlihat sangat terkejut. Kenapa dia?


“Tanggung jawab!”


“I-iya.” Dia mengambil dompet dari dalam saku celananya.


“Seratus,” ucapku.


Tapi tanpa

__ADS_1


Jantungku berdegup kencang saat tiba-tiba mengingat sesuatu.


Ya, mata itu.


__ADS_2