LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 10 : SIKAPNYA BERUBAH


__ADS_3

Novel ini sedang dalam proses revisi. Mohon pengertiannya.


“Iya sama-sama.”


“Sayangnya Livi belom balik. Kalo mau ketemu dia, nanti malem aja.”


Adam mengernyitkan dahinya. “Kok Livi? Aku kan ke sini emang mau ketemu kamu.”


“Hmmm, tumben.”


“Gak boleh?”


“Boleh.”


“Si dede udah dikasih nama belom?”


“Udah, namanya Mikael Aiden.”


“Namanya bagus banget tuh. Panggilannya apa?”


“Aiden.”


“Hmmmm....”


Kenapa


“Adzan-in aja sekalian!”


“Okee siaapp!! Aku yang adzan-in dia ya.”


“Ehh?! Seriusan mau?”


“He'em.” Mengangguk.


“Padahal tadi aku bercanda doang.”


“Yaaaah, aku malah lebih seneng kalo kamu serius.”


Aku melihat ke arahnya, tidak disangka ternyata dia juga sedang melihat ke arahku. Netra kami bertemu, seketika hatiku jadi terasa hangat. Perasaan apa ini? Bisa-bisanya aku merasakan ketulusan dari tatapannya itu.

__ADS_1


“Kenapa ngeliatin aku kaya gitu?” tanyaku.


“Pengen aja. Kamu sendiri kenapa ngeliatin aku?”


Aku langsung mengalihkan pandangan.


“Yaaah lemah! Malah langsung ngelirik ke arah lain,” ledeknya.


“Apaan sih?” Aku tersipu malu.


“Kamu benci ke aku gak?”


“Enggak.” Aku menggeleng.


“Harusnya benci loh!”


“Lah kenapa?” tanyaku heran.


“Biar anaknya mirip aku, hahahaha.”


“Masih aja ada yang percaya sama mitos gituan.”


“Fakboy kelas kakap gini ya? Ibu hamil aja diceng-cengin.”


“Mana ada aku fakboy?” Mencubit pipi kanan ku.


“Ihhh sakit!!!”


“Hahahahaaa.” Tawa pria itu terdengar sangat keras.


Tiba-tiba tiga orang wanita paruh-baya datang menghampiri gerbang rumahku.


“Jangan terlalu deket sama lawan jenis, Dek! Nanti kejadian lagi yang kedua kali loh,” ucap salah seorang dari mereka.


“Iya loh, kita mah ngasih tau aja. Emangnya kamu mau makin terkenal di perumahan ini, Dek?”


Aku tertunduk, rasanya ingin sekali membalas omongan mereka. Tapi aku tidak bisa, ini sulit. Sekeras apapun aku menjelaskan, seperti apapun kebenarannya, pembenci akan tetap membenci.


“Do'ain biar lancar aja Bu! Sekalian ke tiga, empat, lima, enam. Ini dia pengen ku nikahin tapi nolaaak terus. Kayaknya aku harus bikin yang kedua ya Bu, biar dia pasrah dan akhirnya mau nikah.” Adam menggenggam tangan kananku erat.

__ADS_1


“Ihhh, anak-anak jaman sekarang ya.” Mereka bertiga pun pergi.


Aku melepaskan genggaman itu. “Kamu ngomong apa sih tadi?”


“Kalo gak digituin, mereka gak akan pergi. Orang nyinyir tuh harus digituin loh, Ris. Jangan mau kalah kamu! Lagian kalo kamu keliatan takut, kaget, atau malah jelasin segalanya. Mereka gak akan peduli, gak akan mau tau.”


“Hmmm.” Aku menunduk lagi.


“Jangan sedih dong! Nanti Aiden juga ikutan sedih loh.”


“Nanti tetangga pada ngomongin kamu juga loh! Emangnya kamu mau beneran digrebek?”


Adam tersenyum. “Kalo digrebek pasti dinikahin kan?”


“Iyalah.”


“Jadi pengen digrebek, hahaha.”


“Au ah, susah ngomong sama kamu mah!” Aku berjalan memasuki rumah dan langsung menutup pintu.


“Lah, kok aku ditinggal? Ini buahnya juga gak dibawa ke dalem. Ntar dimakan kucing loh!”


“Gak ada kucing yang suka buah!!” jawabku dari dalam.


“Ada loh, aku sering liat di Youtube. Nama kucingnya Lulu, dia pemakan segala.”


“Au ah!!” aku semakin kesal padanya.


Do'ain biar lancar aja Bu! Sekalian ke tiga, empat, lima, enam. Ini dia pengen ku nikahin tapi nolaaak terus. Kayaknya aku harus bikin yang kedua ya Bu, biar dia pasrah dan akhirnya mau nikah.” Adam menggenggam tangan kananku erat.


“Ihhh, anak-anak jaman sekarang ya.” Mereka bertiga pun pergi.


Aku melepaskan genggaman itu. “Kamu ngomong apa sih tadi?”


“Kalo gak digituin, mereka gak akan pergi. Orang nyinyir tuh harus digituin loh, Ris. Jangan mau kalah kamu! Lagian kalo kamu keliatan takut, kaget, atau malah jelasin segalanya. Mereka gak akan peduli, gak akan mau tau.”


“Hmmm.” Aku menunduk lagi.


“Jangan sedih dong! Nanti Aiden juga ikutan sedih loh.”

__ADS_1


__ADS_2