
Setelah istirahat makan siang, Devan bergegas menuju ke kafe tempat Larissa bekerja. Dirinya sudah tidak sabar untuk menemui wanita itu dan membuat hatinya luluh. Jam tangan mewah berwarna silver dia masukkan ke dalam saku jasnya, dia yakin Larissa pasti akan menyukai pemberiannya ini.
Sesampainya di kafe, Devan dibuat terkejut ketika mengetahui kalau Larissa sudah tidak bekerja di tempat itu lagi.
“BOHONG!” bentak Devan pada salah satu pelayan pria.
“S-saya tidak berbohong Tuan, Larissa baru saja mengundurkan diri tadi pagi.” Keringat bercucuran dari pelipis pelayan itu, dia tampak ketakutan saat menghadapi Devan.
“PASTI KALIAN MEMPERLAKUKAN DIA DENGAN TIDAK BAIK, IYA KAN? MUSTAHIL DIA BERHENTI BEGITU SAJA.”
“Tidak Tuan,” seorang wanita berusia tiga puluhan menghampiri mereka berdua.
“Siapa kamu?” tanya Devan.
“Saya pemilik kafe ini. Nona Larissa mengundurkan diri karena diminta oleh suaminya.”
Devan mengepalkan telapak tangannya, amarah pria itu semakin memuncak ketika tahu kalau Larissa berhenti kerja karena perintah dari suaminya.
Devan mengeluarkan cek dan menulis sebuah nominal yang cukup besar. “Ini, anggap saja ini ganti rugi dariku karena telah membuat keributan.” Pria itu menaruh ceknya di atas meja lalu pergi.
Dia masuk ke dalam mobil lalu mencaci suami Larissa dengan banyak umpatan.
‘Dasar setan penganggu! Memangnya siapa dirimu? Seenaknya menyuruh Larissa untuk berhenti dari kafe itu. Memangnya berapa penghasilanmu? Berapa banyak uang yang bisa kau berikan untuknya? Dasar brengsek! Persetan! Lihat saja aku akan mencari tahu tentangmu dan memberimu pelajaran.’
...... ...
Larissa duduk di sofa sembari menatap ikan hias yang dia letakkan ke dalam sebuah akuarium kaca berukuran sedang. Dirinya merasa sangat bosan dan ingin kembali bekerja di kafe itu.
‘Memangnya seburuk apa hubungan mereka dulu? Aku masih penasaran dengan apa yang Adam alami sampai bisa sebenci itu. Apa sebaiknya aku ceritakan saja semua ini pada Livia? Mungkin dia bisa membantuku untuk mencari tahu.’
Rissa mengambil ponselnya lalu segera menelepon Livia.
Kebetulan Sahabatnya itu sedang di jam istirahat, jadi dia bisa langsung mengangkat telepon dari Larissa.
“Hallo Ris, ada apa?” Livi.
“Kamu lagi ngapain itu?” Rissa.
“Ini lagi makan siang di ruangan.” Livi.
“Ada siapa aja di sana?” Rissa.
“Aku doang sendiri, kenapa?” Livi.
“Aku mau cerita sedikit sama kamu.” Rissa.
“Soal apa?” Livi.
“Adam kan nyuruh aku berhenti dari kafe itu, nah semua itu gara-gara Devan sama Alex.” Rissa.
“Lah, kok gitu? Emangnya mereka saling kenal?” Livi.
“Si ART aku ngadu ke Adam, katanya dia liat aku lagi makan sama cowok-cowok di rumah kamu.” Rissa.
“Ngapain dia ngadu? Bangsat banget.” Livi.
__ADS_1
“Gara-gara itu Adam jadi nanya ke aku. Cowok berdua itu siapa? Dan aku jawab aja kalo mereka itu namanya Devan sama Alex.” Rissa.
“Terus?” Livi.
“Dan ternyata mereka itu musuh bebuyutan pas jaman SMA. Nah, Adam itu gak mau kalo aku kenal apalagi akrab sama mereka berdua. Katanya mereka berdua itu gak baik.” Rissa.
“Masa sih? Kayaknya mereka baik kok.” Livi.
“Makanya aku mau minta tolong ke kamu, tolong cari tau tentang masa lalu mereka. Tapi kamu jangan pernah kasih tau kalo suami aku itu Adam, oke?” Rissa.
“Kenapa mereka gak boleh tau?” Livi.
“Ya sengaja, biar mereka jujur. Intinya kamu tanya-tanya aja ke mereka soal cerita-cerita di SMA, dan lain-lain.” Rissa.
“Oke deh, entar aku cari tau.” Livi.
“Sipp, makasih ya sebelumnya.” Rissa.
“Ya udah, aku tutup ya. Ini udah mau beres jam istirahatnya.” Livi.
“Okee.” Rissa.
Tuuut--
Livia menutup telepon itu.
‘Semoga saja Livi bisa cepat menemukan jawabannya. Aku benar-benar merasa penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka.’
...... ...
Di ruangan kerja Livia.
Livia menelepon Adam, dan semenit kemudian Adam mengangkat telepon darinya.
“Hallo Adam, langsung aja ya. Aku mau tanya sesuatu.” Livi.
“Tanya apa? Cepet ya, bentar lagi aku harus meeting.” Adam.
“Larissa cerita ke aku, katanya kamu nyuruh dia buat berhenti dari kafe. Otomatis aku tanya dong, kok tiba-tiba di suruh berhenti kayak gitu? Nah si Rissa jawab, katanya gara-gara Alex sama Devan. Rissa gak cerita banyak sih, cuma sampe situ aja. Tapi wajar kan kalo aku penasaran? Coba ceritain deh sama aku!” Livi.
“Gak bisa Liv.” Adam.
“Kamu tau kan kalo aku ini orangnya kayak gimana? Kalo menurut kamu ini rahasia, ya bakalan aku keep. Lagian malah bagus kalo aku tau kan? Aku bisa bikin mereka supaya gak pernah ketemu lagi dan ngejauh dari Larissa.” Livi.
“Tapi janji ya jangan cerita apa-apa ke Rissa.” Adam.
“Iya, jadi kenapa?” Livi.
“Mereka berdua itu brengsek, apalagi si Devan. Aku udah kenal mereka sejak lama, dan otomatis udah hafal sama sikap mereka berdua.” Adam.
“Terus, apa hubungannya sama Rissa? Itu kan masalah kamu sama mereka. Emangnya harus gitu sampe minta Rissa buat berhenti kerja?” Livi.
“Devan itu ayah dari Aiden, Liv.” Adam.
“HAH?!” Livi.
__ADS_1
“Mereka yang culik dan perkosa Larissa enam tahun lalu. Aku udah tau ini sejak lama Liv, tapi aku rahasiain. Rissa gak tau muka mereka, tapi mereka tau muka Rissa. Coba pikir pake logika, ngapain si Devan deketin lagi Rissa? Deketin cewek yang pernah dia perkosa.” Adam.
“Aku gak tau harus ngomong apa lagi, Dam.” Livi.
“Aku tutup teleponnya, meeting udah mau mulai.” Adam.
Adam menutup telepon itu.
Tubuh Livia gemetar saat mengetahui fakta yang sebenarnya. Pria yang dia sukai adalah salah satu dari penculik sahabatnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Alex dan Devan adalah pria yang se brengsek itu.
‘Benar apa yang Adam katakan tadi. Rissa tidak tahu wajah penculiknya, sedangkan para penculiknya tahu wajah Rissa. Rissa mau bersikap baik pada Devan karena dia tidak tahu siapa pria itu sebenarnya, tapi Devan bersikap baik pada Rissa dan Aiden? Apa jangan-jangan Devan sadar kalau Aiden itu anaknya? Mencurigakan, aku harus mencari tahu lebih dalam lagi. Jangan sampai hal buruk menimpa Larissa dan Aiden yang sudah bahagia.’
Tokk--
Tokk--
Tokk--
“Masuk!” titah Livia.
Klaak--
Alex memasuki ruangannya.
“Tadinya aku mau ngajak kamu makan siang, tapi malah ada urusan mendadak.” Alex berdiri di samping Livia.
“Iya gak apa-apa.” Livi berpura-pura ramah.
“Oh iya, temen kamu udah gak kerja di kafe itu lagi?” tanya Alex.
Livia mengangguk. “Dia berhenti tadi pagi.”
“Kok tiba-tiba?”
“Aku juga gak tau. Oh iya, kamu kok bisa tau kalo dia berhenti?”
“Tadi Devan ke kafe itu, terus kata pelayan di sana temenmu udah berhenti.”
“Kok pelayannya ngasih tau soal itu? Gak mungkin tiba-tiba kan? Pak Devan nyariin Larissa?”
“Emmm mungkin iya.”
“Ngapain Pak Devan nyariin dia? Padahal kan banyak pelayan lain.”
“Gak tau juga.”
Livia menyipitkan kedua matanya. “Jangan-jangan Pak Devan suka sama Rissa?”
“Emmm mungkin iya.”
“Tapi kan Pak Devan tau kalo Rissa itu udah nikah dan punya satu anak.”
“Ah entahlah.” Alex tampak kehabisan kata-kata.
Livia menggigit bibir bawahnya, saat ini otaknya sedang berpikir keras. Jangan sampai dia salah langkah dan malah membuat Alex jadi curiga.
__ADS_1
‘Aku harus membuat pria ini mempercayaiku. Dia pasti tau banyak hal tentang Devan, dan apa alasan Devan mendekati Rissa lagi.’