
Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya
Ku keluarkan ponsel itu dari dalam saku celana jeans, lalu mengecek siapa yang menelepon.
Ahhh, ini kakak.
“Hallo, Dam.”
“Iya Kak, ada apa?”
“Udah lama kamu gak pulang. Betah banget di sana?”
“Iya betah banget hahaha. Kangen aku, Kak?”
“Sedikit.”
“?”
“Awal CALON ISTRI? KAPAN PACARANNYA?”
“Udah lama, cuma aku gak bilang-bilang.”
“Idih!”
“Aku juga udah punya anak, Kak. Umurnya ampir dua bulan sekarang.”
“PACAR KAMU HAMIL UDAH DUA BULAN?”
“Ihh bukan dua bulan hamil! Tapi dia udah lahiran Kak, sekarang anak aku umurnya ampir dua bulan.”
“Kamu bercanda kan?”
“Aku serius, Kak. Anak aku laki-laki, namanya Aiden Haidar. Keren kan?”
“Gak, Kakak gak percaya.”
“Iya gak apa-apa, pokoknya nanti Mei aku bawa deh.”
“HAHAHAHHAHAHAHAHAHAH!!”
“Kok ketawa?”
“Ya abisnya, jauh dari rumah beberapa bulan tau-tau kamu jadi gila. Bisa-bisanya ngebohong kayak gitu.”
“Lah, siapa yang ngebohong? Aku beneran kak, serius! Nanti aku kirim photo anakku.”
Tuuut--
__ADS_1
Kakak mematikan teleponnya. Kenapa dia? Apa mungkin dia syok? Ah sudahlah, aku tidak peduli.
Segera ku kirimkan photo terbaru Aiden lewat Whatsapp.
Room chat
Adam : Ini anak aku, ganteng kan?
Teddy : Itu foto dari google.
Adam : Tunggu Mei aja, Kak!
Teddy : Y
Adam : Eh kak, keep ya informasi ini. Jangan kasih tau siapa-siapa, oke?
Teddy : Y
Chat end
.........
Malam harinya, di ruangan kerja.
Padahal aku tidak mengambil jabatan tinggi, kantor yang aku urus juga hanya kantor cabang. Tapi kenapa banyak sekali yang harus aku kerjakan setiap harinya?
Aku tidak bisa membayangkan sesibuk dan serepot apa pekerjaan kakakku di kantor pusat sana.
Larissa dan Aiden sedang apa ya sekarang? Sebentar lagi aku telepon dia ah.
Triiing--
Ponselku berdering.
Jangan-jangan itu Rissa? Aku segera mengambil ponsel dari dalam laci meja.
Eh, i-ini ini Leon. Untuk apa dia meneleponku? Pasti hanya membicakan hal yang tidak penting, jadi tak usah ku angkat.
Triiing--
__ADS_1
Aissh! Dia menelepon lagi.
Akhirnya aku mengangkat telepon itu.
“Ada apaan sih? Gue lagi kerja nih.”
“Sombong amat yang udah jadi boss.”
“Gak ada yang penting kan? Gue matiin nih teleponnya.”
“Lu masih di Bandung kan? Di mana nya sih?”
“Mau ngapain?”
“Ya mau maen lah, Dam.”
“Gak ada waktu gue.”
“Sekali doang masa gak ada? Ini gue lagi di Bandung sama si Bisma.”
“Beneran gak ada waktu. Udah dulu, gue masih banyak banget kerjaan.”
“Gue tau lu pasti di Kota Bandung kan? Mustahil sih kalo kantor lu nyempil di ujung-ujung. Gampang sebenernya gue buat nyamperin lu.”
“Kok maksa?”
“Lagian ini baru jam delapan, mendingan lu cepetan aja ke sini. Ada orang yang pasti pengen banget lu temuin.”
“Siapa?”
“Ke sini aja cepetan!”
“Bang*at lu ya! Anjing emang ni orang. Kemana?Jam sembilan gue berangkat dari sini.”
“F3X
“Eh bentar, bi....”
Tuut--
Larissa mematikan teleponnya.
Yaaah, padahal aku belum selesai bicara.
Aku menyimpan ponselku ke tempat semula, di dalam laci meja. Sebentar lagi pukul sembilan, aku harus berangkat ke F3X Club.
Padahal aku ingin sekali pulang.
__ADS_1
Dasar Leon sialan!