LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 3 : INSIDEN MALAM ITU #2


__ADS_3

Novel sedang proses revisi alur ya kak. Mohon pengertiannya.


Bagaimana ini? Aku merasa sangat gugup. Selama ini aku hanya menonton video lewat situs p**no. Siapa sangka aku akan melakukan hal itu sekarang?


Ku dekati leher jenjang gadis malang ini. Kulitnya putih bersih, serta wangi. Ini aroma Musk  kesukaanku. Rambut dan pipinya begitu halus. Tubuh kecil ini sangat mudah untuk aku angkat. Beratnya pasti kurang dari lima puluh kilo gram. 


Mataku menelisik rambut panjangnya yang indah. Aku baru menyadari, gadis ini ternyata cukup menggoda.


Ku terkejutnya diriku ketika melihat ada darah segar yang menetes keluar dari dalam sana. 


"Haha, dia masih perawan. Sial amat nasibnya," ledek Leon. 


"Lu udah ngancurin masa depannya," Alex merasa sangat kecewa. 


Leon menarik lengan Alex dan Bisma. "Udah, yok keluar." Ketiga pria itu berjalan keluar melewati pintu kamar. 


Nasi sudah menjadi bubur, biarlah. Lagi pula aku sendiri masih perjaka. Jadi kita impas kan? 


Ku


"Gak! Lagian tadi gue udah simpen cash lima puluh juta di tasnya."


"Lu kok bisa bawa cash sebanyak itu?"

__ADS_1


"Gue kan bawa tas, jadi gue umpetin dalem situ biar Leon sama Bisma gak curiga. Syaratnya kan gak boleh di bayar."


"Gak kekecilan lima puluh juta buat perawan?"


"Mau gimana lagi? Tas gue cuma nampung segitu."


"Ambil lagi ke ATM!"


"Najis, gak ada kerjaan lain apa? Males ah, Yuk balik!" Devan membuka pintu mobilnya. 


"Moga cewek itu gak kenapa-napa," gumam Alex.


...…...


Keesokan harinya. 


Aku mengerjapkan kelopak mataku beberapa kali, guna menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke indra penglihatan. 


Tubuhku lemas dan kewanitaan ku terasa sangat perih. Sepertinya aku tahu apa yang sudah aku alami semalam. 


Seperti mimpi di siang bolong. Kenapa semua yang jadi milikku selalu di renggut paksa?  


 Kedua orang tuaku, harga warisanku, dan sekarang kehormatanku. 

__ADS_1


Apa tuhan begitu membenciku? Kenapa dunia terasa sangat tidak adil. 


Aku menangis sejadi-jadinya, ku luapkan segala emosi di kamar itu. Semangat hidupku telah lenyap, rasanya aku ingin mati saja.


Sebenarnya siapa mereka? 


Aku melihat ke segala arah. Kamar hotel ini begitu mewah. Mereka pasti sangat kaya, dan tentunya sangat brengsek. 


Perlahan aku turun dari kasur dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setiap gerakan kaki yang aku ciptakan, menimbulkan rasa perih di bagian dalam organ intimku.


Apa aku digilir? membayangkannya saja sudah menjijikkan. Aku layaknya sampah yang digunakan lalu dibuang begitu saja. 


Tanganku mendorong pintu kamar mandi yang masih tertutup. Ketika pintu itu terbuka, aku langsung bisa melihat pantulan diri lewat cermin besar yang berbentuk persegi panjang. Wajah pucat, merah-merah di leher, juga pakaian dan rambut yang masih sangat berantakan. Benar-benar terlihat seperti korban pemerkosaan.


Segera ku lepaskan semua pakaian yang aku gunakan. Ku nyalakan shower dan membiarkan tubuh ini tersiram oleh air hangat yang keluar dari lubang-lubang kecil itu.


Tiga puluh menit berlalu, aku sudah selesai mandi dan memakai baju. Sekarang aku sudah rapi dan siap untuk keluar dari kamar neraka ini. Terlihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. 


Kruyukk--


Tanganku mendorong pintu kamar mandi yang masih tertutup. Ketika pintu itu terbuka, aku langsung bisa melihat pantulan diri lewat cermin besar yang berbentuk persegi panjang. Wajah pucat, merah-merah di leher, juga pakaian dan rambut yang masih sangat berantakan. Benar-benar terlihat seperti korban pemerkosaan.


Segera ku lepaskan semua pakaian yang aku gunakan.

__ADS_1


__ADS_2