LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 36 : PERTEMUAN


__ADS_3

Adam tersenyum. “Jelas dong semangat, lagian support system-ku secanggih ini.”


Larissa tertawa kecil.


“Ya udah Sayang, aku berangkat dulu ya.”


“Iya Suamikuuu,” ucap Rissa dengan nada suara yang manja.


Wanita itu berdiri di depan gerbang sembari memperhatikan Adam yang memasuki mobil, lalu pergi menuju ke kantor tempatnya bekerja.


‘Aku ingin Adam segera punya banyak waktu lagi. Aku rindu menghabiskan waktu seharian dengannya dan melakukan hal-hal konyol bersama.’


Tiba-tiba suara teriakan seorang wanita memecah lamunannya.


“HEY RISSA!” Livia menepuk bahu kanan Rissa.


Larissa dibuat terkejut oleh suara itu. “Ih kaget tau!” bentaknya kesal.


“Lagian jam segini udah ngelamun aja.”


“Aku gak ngelamun kok.”


“Boong banget.”


“Tcih!”


“Mending sekarang kamu siap-siap deh, kita berangkat kerja. Udah mau jam tujuh ini, belom lagi jalanan yang pasti macet."


"Ya udah aku siap-siap dulu.”


Larissa kembali ke dalam rumah untuk mengambil tas dan mengunci pintu, sementara Livia memanaskan mobil honda jazz berwarna kuning yang ada di halaman rumahnya.


Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya Livia memarkirkan mobil miliknya itu di depan gerbang rumah Rissa.


“AYO RISS CEPETAN!!”

__ADS_1


“IYA INI UDAH,” jawab Rissa yang saat itu sedang dalam proses memakai sepatu pantofel nya.


Wanita satu anak itu menutup gerbang dan segera masuk ke dalam mobil.


“Rumah sama gerbangnya kok dikunci? Emang asisten rumah tangga kamu gak masuk lagi?” tanya Livi.


“Biasalah.”


“Gak guna banget dia.” Livi mengemudikan mobilnya.


“Akhir bulan ini mau dipecat kok, Adam juga udah gak tahan sama dia.”


“Bagus lah, mendingan kayak gitu. Oh iya Ris, ada yang mau aku ceritain.”


“Apa?” tanya Rissa.


“Pak Alex mau maen ke rumah aku besok.”


“Wah bagus dong, kayaknya dia naksir kamu deh.”


“Ya semoga aja kayak gitu, biar cinta aku gak bertepuk sebelah tangan.”


“Sippp.” Larissa mengacungkan kedua jempolnya.


“Bantuin aku ya besok buat nyiapin makanan sama beres-beres rumah,” pinta Livi.


“Keluar kota buat apa?”


“Katanya sih ada kerjaan di kantor pusat.”


“Oh iya, si Alex juga bilang kalo dia mau bawa temennya. Aku takut kalo ternyata temen yang dia bawa itu Pak Devan.”


“Aku juga males banget kalo si Alex bawa Devan, pasti suasananya bakalan canggung parah,” keluh Rissa.


Kedua wanita itu terus membicarakan banyak hal di dalam mobil, hal itu membuat perjalanan mereka jadi

__ADS_1


‘Jujur saja sebenarnya aku tidak terlalu menyukai mereka berdua, terutama pria yang bernama Devan itu. Apa ini hanya perasaanku saja atau memang mereka sebenarnya bukanlah orang baik?’


“Bunda ngapain ngintip di situ?” tanya Aiden.


“Gak kenapa-kenapa kok.”


“Aku mau ngambil Bagus lah, mendingan kayak gitu. Oh iya Ris, ada yang mau aku ceritain.”


“Apa?” tanya Rissa.


“Pak Alex mau maen ke rumah aku besok.”


“Wah bagus dong, kayaknya dia naksir kamu deh.”


“Ya semoga aja kayak gitu, biar cinta aku gak bertepuk sebelah tangan.”


“Sippp.” Larissa mengacungkan kedua jempolnya.


“Bantuin aku ya besok buat nyiapin makanan sama beres-beres rumah,” pinta Livi.


“Keluar kota buat apa?”


“Katanya sih ada kerjaan di kantor pusat.”


“Oh iya, si Alex juga bilang kalo dia mau bawa temennya. Aku takut kalo ternyata temen yang dia bawa itu Pak Devan.”


“Aku juga males banget kalo si Alex bawa Devan, pasti suasananya bakalan canggung parah,” keluh Rissa.


Kedua wanita itu terus membicarakan banyak hal di dalam mobil, hal itu membuat perjalanan mereka jadi


‘Jujur saja sebenarnya aku tidak terlalu menyukai mereka berdua, terutama pria yang bernama Devan itu. Apa ini hanya perasaanku saja atau memang mereka sebenarnya bukanlah orang baik?’


“Bunda ngapain ngintip di situ?” tanya Aiden.


“Gak kenapa-kenapa kok.”

__ADS_1


“Aku mau ngambil


__ADS_2