
Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya.
“Aiden nyenyak banget deh, bener-bener gak kayak biasanya.”
“Nanti kalo dia udah empat bulan, jam tidur kita gak bakalan sekacau ini lagi.”
Livia tertawa. “Hahahahaha, kita? Kamu aja kali. Aku sih tetep kacau ya, tugasku kan numpuk kayak beban hidup.”
“Cepetan lulus makanya!”
“Nyogok aja bisa gak sih? Langsung dapet gelar gitu.”
“Mana aku tau.”
“Capeeeek kuliah itu capeeek.”
“Kamu capek kuliah, aku capek ngurus anak.”
“Idup emang bikin capek ya.”
“Gak mau capek ya jangan idup.”
Dfhdch tdd ftu futf fyf yfyu gi yigg
“Pengen mati aja tapi masih kepo sama muka jodoh.” Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Hilihhh, absurd banget.”
“Hahahaha haduuh au ah.” Livi mengambil hot chocolate miliknya.
“Katanya masih panas.”
__ADS_1
“Masih lebih panas hatiku.” Gadis itu meminum hot chocolate-nya.
Sreeett--
Terdengar suara gerbang yang didorong.
“Tuh Adam balik,” ucap Livi.
Aku langsung keluar dari rumah dan berlari menuju ke gerbang, Livia pun mengikutiku dari belakang.
“Buru-buru amat, sebegitu kangennya ya?” tanya Livi.
“Eh itu yang buka gerbangnya bukan si Adam loh. Adamnya mana ya?” tanyaku.
“Gak tau, mending kamu tanyain deh. Samperin sana!”
“Ya udah, aku nitip Aiden ya. Jaga-jaga takut dia nangis.”
“Iya.”
“Maaf kamu siapa ya? Adam di mana?”
“Saya pegawai di F3X club Nona. Tuan Adam mabuk berat dan menyuruh saya untuk mengantarnya pulang.”
Aku melihat ke kursi belakang mobil, ternyata benar Adam sedang tertidur di sana. Aroma khas alkohol tercium kuat dari tubuhnya, sebanyak apa yang dia minum?
“Dia nitipin kunci rumah gak?”
“Maaf sebelumnya, Nona ini siapa ya?”
“Saya tunangannya.”
__ADS_1
“Oh baiklah kalau begitu, ini kunci rumahnya.” Memberikan kunci itu padaku.
“Kamu parkirin mobilnya di sana ya.” Menunjuk ke tempat di mana Adam biasa memarkirkan mobilnya.
“Baik, Nona.”
“Terimakasih banyak ya,” ucapku.
“Sama-sama Nona. Kalau begitu saya pamit pulang.”
“Iya.” Aku mengantarkannya sampai ke depan gerbang.
Kew*nitaanku terasa sedikit perih akibat mengangkat tubuh Adam tadi. Jahitannya memang belum kering.
Pria ini tidak bisa aku tinggalkan sendiri. Tapi bagaimana dengan Aiden?
Aku berlari kembali ke rumah untuk meminta tolong pada Livi.
“Livi aku minta tolong boleh? Jagain dulu Aiden ya.”
“Boleh sih, tapi kok tiba-tiba banget?”
“Adam dianterin sama pegawai club tadi. Dia mabok parah sampe gak sadar.”
“Lah ko bisa? Biasanya orang mabok parah itu kalo lagi stress. Tapi dari yang aku liat, dia setiap hari kayak baik-baik aja tuh.”
“Kayaknya emang lagi ada masalah sih. Tadi siang juga aku abis ngobrol sama dia."
"Ngobrolin apa?"
"Soal pernikahan yang katanya dia gak pengen ngundang banyak orang. Dia mau pernikahan yang a tertutup seperti ini.
__ADS_1
Aku harus selalu bertanya terlebih dahulu, baru kamu mau cerita. Itupun aku tidak tahu kau menjawabnya dengan jujur atau tidak.
Aku menutup lalu mengunci pintu rumah. Tidak apa-apa kan jika seperti ini? Toh aku akan segera menikah dengannya. Lagi pula pria ini sedang tidak sadarkan diri, untuk bangun saja dia tidak bisa. Jadi sudah pasti tidak ada hal negatif yang bisa dia lakukan kepadaku saat ini.