
Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya
Muntahan yang ada di tubuhnya harus aku lap terlebih dahulu.
Ah, iya es batu.
Ku ambil sepotong es batu dari dalam kulkas, lalu memasukkan es itu ke dalam mulut Adam.
“Jangan dikeluarin es nya ya. Tahan aja dulu, biar kamu gak tepar lagi.”
“Enghhhhhh.” Adam mengangguk.
Aku membuka kaos dalam Adam yang kini sudah sangat kotor, kemudian mengelap tubuh itu menggunakan handuk kecil yang sudah aku basahi.
“Nah udah lumayan bersih. Yuk bangun, kita ke WC dulu.”
Aku membantu Adam untuk berjalan sampai ke kamar mandi, untung saja saat ini dia sudah cukup kuat untuk berjalan.
“Duduk di sini.” Aku mendudukkan Adam di kursi plastik yang sudah aku letakkan di kamar mandi.
“Diem ya, jangan pingsan lagi! Aku bersihin dulu badan kamunya.”
Adam mengangguk.
__ADS_1
Bagaimana ini? Celana panjangnya juga terkena muntahan. Aku harus membersihkan bagian kakinya juga.
Apa guig
Lima belas menit kemudian.
Aku selesai memakaikan Adam baju dan menidurkannya di atas tempat tidur.
Ini sangat melelahkan, tubuhnya benar-benar berat. Awas saja, aku akan memarahinya kalau sudah sadar nanti.
Karenanya jahitanku jadi terasa sakit lagi.
Aku harus mengepel lantai ruang tamu dan mengelap sofa. Ada cukup banyak muntahan Adam di sana, baunya sangat mengganggu.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya aku sudah menyelesaikan segalanya.
Aku berlari memasuki kamar Adam dan menempelkan jari telunjuknya pada layar ponsel.
Berhasil, ponsel ini sudah terbuka sekarang. Dengan cepat aku memasang sidik jariku di ponsel itu, berjaga-jaga siapa tau aku akan membuka ponsel ini lagi nanti.
Aku membuka galeri ponsel itu, isinya hanya ada sekitar dua ratus photo saja. Diantaranya ada sedikit photo dirinya sendiri, banyak photoku dan Aiden, terakhir adalah photo yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Orang ini tidak punya banyak sosial media. Dia hanya meng-install Whatsapp, Facebook, dan Twitter saja.
__ADS_1
Pertama aku membuka isi Whatsapp-nya, sama sekali tidak ada yang aneh di sana. Kedua aku membuka Twitter-nya, dan di sana juga hanya berisi tentang informasi bisnis. Apa dia memang se tertutup itu? Whatsapp-nya saja hanya dipenuhi oleh pesan-pesan dari grup chat. Dia tidak banyak bersosialisasi dengan orang-orang.
Bagaimana dengan Facebook-nya, apakah sama saja?
Aku membuka akun Facebook miliknya, di sana terlihat ada beberapa notifikasi pesan yang belum dibuka. Dari sekian banyak pesan yang masuk, ada dua nama yang membuatku penasaran. Irene dan Leon, siapa mereka?
Aku membuka pesan dari Leon terlebih dahulu.
Leon : Kenapa lu pergi sih? Harusnya gak kaya gitu.
Adam : Harusnya gue yang tanya, kenapa juga lu maksa gue buat dateng?
Leon : Kan gue mau bikin lu seneng. Kejutan besar loh itu, gue bawain Irene buat ketemu lu.
Adam : Tapi gue gak mau ketemu dia.
Leon : Kenapa? Gak kuat hati lu?
Jadi Adam ke club itu karena diajak Leon? Leon sengaja agar Adam bisa bertemu dengan Irene.
Aku keluar dari room chat itu dan berpindah pada chat yang berasal dari Irene.
__ADS_1
Pasti orang ini kan? Aku mengecek photo profilnya terlebih dahulu.