
Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya
.........
Sekarang sudah pukul delapan, aku akan kembali mengecek Adam.
“Nitip lagi Aiden-nya ya, Bu. Maaf banget.”
“Lah ngapain minta maaf? Kan udah Ibu bilang, ibu seneng banget ngelakuin ini semua.”
“Makasih banyak ya, Bu.”
“Iya, ya udah sana!”
Aku pun pergi.
Kebetulan di depan rumahku ada sekelompok anak kecil yang sedang bermain sepeda.
“Dek, sini,” aku memanggil salah satu dari mereka.
Anak laki-laki yang memakai kaos berwarna biru menghampiriku. “Ada apa, Kak?”
“Kakak mau nitip sesuatu, boleh?”
“Boleh, Kak.”
“Beliin air kelapa muda dua, sama susu beruang dua. Kembaliannya ambil aja buat jajan.” Aku memberikan uang sebesar lima puluh ribu rupiah kepada anak itu.
“Siap Kak!”
“Nanti ketuk aja pintu rumah Kak Adam ya, soalnya Kakak ada di sana.”
“Okeeee.” Anak itupun pergi dengan menggunakan sepedanya.
Aku berjalan memasuki kawasan rumah Adam kemudian membuka pintu rumah itu.
Ternyata Adam sudah bangun, saat ini dia sedang duduk bersandar di sofa.
“Akhirnya kamu bangun juga.”
“Ri-rissa?”
“Kamu tuh ngerepotin banget! Jam dua malem baru pulang mana mabuk parah. Aku bantuin kamu jalan sampe jahitan aku sakit lagi.”
“Maaf.”
“Terus kamu juga muntah banyak banget. Badan kamu kena semua, sofa, lantai, meja. Ihhh jorok banget pokoknya!”
__ADS_1
“Seriusan aku muntah?”
“Ya iyalah serius. Aku yang bersihin badan kamu, aku genti bajunya. Terus aku bersihin juga ruang tamu ini.”
“Wait! Kamu mandiin aku?”
“Iya.”
“Seriusan?”
“Serius lah.”
“Dibuka semuanya?”
“Ya iyalah! Kalo gak aku buka, mana bisa bersih?”
“Ja-jadi kamu liat itu?”
“Ya jelas lah aku liat.”
Ekspresi Adam menunjukkan kalau dirinya sekarang sedang merasa sangat malu. “Menurut kamu, punyaku ini gimana?”
“Gak bangun aja bisa segede itu, gimana kalo bangun?”
“Mau liat gak bangunnya segede gimana?”
“Hehehe.”
Tokk--
Tokk--
Tokk--
“Permisi, Kak. Ini semuanya udah aku beli.”
“Wah cepet banget.”
“Aku kan buru-buru mau main sepeda lagi.”
“Oh ya udah, makasih banyak ya, Dek.”
“Iya, Kak.” Anak itupun pergi.
Aku
Cup--
__ADS_1
Cup--
Adam mencium bibirku berkali-kali.
“Aiden gak sendirian kan?” tanyanya.
“Enggak kok, kan ada Livia sama Bu Tuti.”
Adam memeluk tubuhku semakin erat. “Bagus dong, itu artinya kamu bisa lama nemenin aku di sini.”
“Aku pengen tanya sesuatu, jawab jujur ya!”
Adam mengangguk.
“Pulang dari kantor semalem kamu ke club mana?”
“F3X.”
“Sama siapa?”
“Ada temen yang maksa banget, akhirnya aku terpaksa dateng.”
“Irene siapa?”
“Eh?” Adam terkejut, masuk ke dalam pakaianku.
“Ka-kamu mau ngapain?”
Adam tidak menjawab pertanyaanku, pria itu terus saja melakukan aksi nakalnya. Dia mengusap-usap punggungku sampai membuatku geli.
“Aku ingin membuat kiss mark di lehermu. Tapi nanti saja, sekarang belum saatnya.”
Aku hanya menunduk, tidak bisa menjawab apa-apa.
“Tenang saja, aku pria yang pandai mengendalikan nafsu. Apalagi jahitan mu masih belum kering, jadi aku tidak mungkin melakukan hal itu.”
Ternyata di sini malah aku yang kehilangan kendali. Ku gigit lehernya sampai muncul tanda merah di sana.
Adam hanya diam saat aku melakukan hal itu kepadanya.
Perilakunya yang seperti ini malah membuatku jadi semakin jengkel. Ku luapkan semua amarahku yang aku tahan dari beberapa jam lalu. Belasan tanda merah memenuhi leher, bahu, dan dadanya.
“Apa kulitku seenak itu?”
“Aku hanya sedang kesal.”
“Hahaha, lakukan saja semaumu.”
__ADS_1
“Jangan menantang aku seperti itu! Akan ku buat kau menyesal Tuan Adam.”