
Aku bertemu dengan wakil dari si pemilik kafe itu. Dia bilang aku harus datang pukul delapan pagi, dan baru bisa pulang pukul tiga sore dari Senin sampai Jum’at. Ada dua pilihan jam kerja di sini, pertama jadwal pagi seperti yang aku ambil dan kedua ada jadwal malam yang mulai dari pukul tiga sore sampai sepuluh malam. Sebenarnya setiap pegawai harus bekerja tujuh hari dalam seminggu, dan mendapatkan pergantian jadwal tiap dua minggu sekali. Tapi Adam meminta si pemilik kafe untuk tidak menyamakan aku dengan pegawai lainnya. Sebenarnya aku takut para pekerja lain menjadi iri, tapi ya sudahlah lagi pula aku bekerja di sini bukan karena butuh uang.saya Tu....”
Wajah itu, sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi di mana ya? Haissh payah! Dari dulu aku memang selalu mudah melupakan wajah seseorang.
“K-kamu!”
“Iya kenapa, Tuan?”
Saat sedang bekerja, penampilanku menjadi sorotan semua orang. Mulai dari gaya rambut, jam tangan, kalung dan sepatu yang aku pakai. Sepertinya besok aku tidak usah memakai aksesoris sama sekali.
“
Para pelanggan bersikap sangat ramah dan baik padaku, mereka juga selalu berpikir kalau aku adalah pemilik dari kafe ini. Berbeda hal nya dengan pegawai yang lain. Tatapan mereka sangat menunjukkan ke tidak sukaan. Tapi aku mengerti kenapa sikap mereka seperti itu, jadi tidak masalah dan aku mewajarkan saja. Toh dengan se iring berjalannya waktu, sikap mereka pasti akan membaik dengan sendirinya.
Salah seorang pelayan laki-laki menghampiriku. “Rissa,” panggilnya.
“Iya?”
“Tolong handle pelanggan yang di meja dua puluh dong. Semua pelayan di sini udah kapok ngelayanin dia.”
“Kok semuanya kapok? Emang serem banget ya?”
__ADS_1
“Ya gitu deh. Coba aja kamu layanin dia, entar juga tau kok.”
“Emm, ba-baik,” jawabku ragu.
Semua pelanggan yang baru saja aku layani selalu bersikap sangat baik. Apa yang ini akan berbeda? Ucapan pelayan pria tadi membuat aku jadi gugup. Seharusnya dia cukup menyuruhku saja tanpa perlu menceritakan hal lainnya.
“Permisi Tuan, boleh saya catat pesanannya?”
“Kenapa pelayanan di tempat ini begitu buruk? Bisa-bisanya kalian membuat aku menunggu selama lima menit!” ucapnya sembari melirik ke arahku.saya Tu....”
Wajah itu, sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi di mana ya? Haissh payah! Dari dulu aku memang selalu mudah melupakan wajah seseorang.
“K-kamu!”
“Iya kenapa, Tuan?”
Wajah itu, sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi di mana ya? Haissh payah! Dari dulu aku memang selalu mudah melupakan wajah seseorang.
“K-kamu!”
Saya Tu....”
__ADS_1
Wajah itu, sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi di mana ya? Haissh payah! Dari dulu aku memang selalu mudah melupakan wajah seseorang.
“K-kamu!”
“Iya kenapa, Tuan?”
“Iya kenapa, Tuan?”
“Ah tidak! Tidak ada apa-apa.” Pria itu mengalihkan padangannya.
“Apa boleh saya catat pesanannya sekarang?”
“Klapertart sama dua puluh?” tanya pelayan 1.
“Iya, kenapa?”
“Kok bisa-bisanya dia kalem sama kamu? Biasanya dia galak banget loh. Sampe-sampe kita takut buat layanin dia,” pelayan 2.
“Tadi dia marah juga kok. Katanya dia kecewa sama pelayanan di kafe ini yang buruk banget. Masa dia harus nunggu lima menit sampe pelayan dateng ke mejanya.”
“Itu sih gak ada
__ADS_1