LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 27 : WAKTU BERJALAN BEGITU CEPAT


__ADS_3

“Ya udah cepetan bersih-bersih dulu.”


“Iya siap, Bunda.” Aiden berlari ke kamarnya.


Anak itu sudah sangat mandiri. Di usianya yang baru lima tahun, dia sudah bisa melakukan banyak hal sendiri. Seperti makan, ganti baju, mandi, dan lain-lain.


Aku mengambil mentega, saus barbeque, dan satu pack sosis dari dalam kulkas.


“Siapa yang mau ngoles menteganya?”


“Akuuuuuu,” jawab Aiden sembari berlari menghampiriku.


“Yang rapih ya, jangan berceceran ke mana-mana.”


“Siap!” Aiden membaluri sosis itu dengan mentega dan saus barbeque.


“Tadi di sekolah belajar apa aja?”


“Belajar ngitung sama ditest bahasa Inggris.”


“Bisa?”


“Ya bisa dong, Bun.”


“Sippp, anak Bunda emang terbaik.”


“Abis makan sosis, aku boleh pinjem HP gak Bunda?”


“Boleh tapi satu jam aja ya? Jam dua belas nanti kamu harus minum susu terus tidur siang!”


“Siaapp! Makasih ya Bundaaa.”


“Iya Sayangku.”


Cup--


Aku mencium kening Aiden.


“Ini Bunda sosisnya.”


“Wiiih, rapih banget olesannya. Bunda bakar dulu ya.”


“He'em.” Aiden mengangguk.


Sepuluh menit kemudian.


“Sosisnya udah jadi.” Aku meletakkan piring berisi empat potong sosis bakar itu di meja makan.


“Aku dua potong ya.”


“Abisin semuanya juga boleh kok.”


“Nanti Bunda gak kebagian dong?”


“Bunda kan tinggal bikin lagi, Sayang.”

__ADS_1


“Enggak ah, aku mau makan dua aja.”


“Ya udah terserah kamu. Nih HP nya.” Aku memberikan ponselku pada Aiden.


“Makasih, Bunda.” Aiden membuka Whatsapp dan menelepon Adam.


“Eh jangan dulu telepon Ayah, takutnya dia lagi meeting. Entar ganggu loh.”


“Oh iya.” Aiden membatalkan panggilannya.


Aku menuangkan susu cair rasa cokelat pada sebuah gelas yang kosong. “Nanti susunya abisin oke? Bunda mau ke ruang tengah, nonton film.”


“Okee Bunda.”


Aku meninggalkan Aiden di ruang makan.


Beberapa menit kemudian.


“Bundaaaaa.” Aiden menghampiriku yang saat itu sedang berbaring di atas sofa.


“Apa?” tanyaku.


“Aku pengen sepeda baru boleh? Pengen yang lebih tinggi.”


“Boleh sayang, nanti minta sama Ayah aja.”


“Sepeda yang ini mau aku kasih ke temen.”


“Siapa?”


“Namanya Fikri, kasian dia jalan kaki terus.”


“Beneran boleh?”


Aku mengangguk.


“Ini HP-nya Bunda.”


“Udah? Kan belum jam dua belas.”


“Aku mau tidur sekarang aja.”


“Oalah, ya udah kalo gitu.”


“Aku ke kamar dulu ya, Bun.”


“Iya Sayang.”


Aiden menaiki tangga ke lantai dua karena di sanalah kamarnya berada.


Malam harinya.


Tok--


Tok--

__ADS_1


Tok--


“Aku pulang,” ucap Adam dari balik pintu depan.


“Ayaaaaah.” Aiden bergegas membukakan pintu.


Klaak--


Pintu itu pun terbuka.


Cup--


Adam mencium kening Aiden.


“Tebak Ayah bawa oleh-oleh apa?”


“Makanan?”


“Bukan.”


“Baju?”


“Bukan juga.”


“Emmmmmm, Mainan?”


“Bukan.”


“Terus apa dong?” tanya Aiden penasaran.


“Liat deh di belakang mobil.”


“Oh masih lumayan lama itu.”


“Iya kan harus mulai persiapan dulu dari sekarang.”


Adam tersipu, “Kamu gak akan nyuruh aku yang hamilnya kan? Hahaha.”


, lampu depan rumah juga tadi masih mati.”


“Tante Livi sekarang sibuk banget ya? Aku kangen maen sama Tante Livi.”


“Nanti weekend juga kamu bisa kok maen sama Tante Livi,” jawab Adam.


Aiden mengangguk.


“Sekarang cepet abisin makanannya! Abis itu sikat gigi, terus belajar.”


“Siap, Bunda!”


Kami bertiga menghabiskan makan malam lalu masuk bersama ke dalam kamar mandi untuk menyikat gigi.


Visual Aiden


__ADS_1


Visual terbaru Adam dan Rissa



__ADS_2