LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 40 : TAKTIK


__ADS_3

“Emmm, apa jangan-jangan karena itu ya?” Livi sengaja membuat Alex penasaran.


“Karena apa?” tanya Alex.


Livia tersenyum smirk, dia telah berhasil membuat Alex menanyakan pertanyaan yang dia tunggu-tunggu.


“Tapi aku masih gak yakin sih.”


“Iya apa dulu, omongin aja!” Alex memaksa.


“Jadi Rissa ada cerita ke aku, katanya dia ribut sama suaminya gara-gara pertemuan kita kemaren.”


“Pas mampir ke rumah kamu itu?”


Livi mengangguk.


“Kok ribut gara-gara itu? Suaminya cemburuan?”


“Inget kan pas kita lagi makan siang, tiba-tiba ART-nya Rissa masuk rumah aku.”


“Terus?” Alex semakin penasaran.


“Kata Rissa, si ART itu ngadu yang enggak-enggak ke suaminya. Kebetulan suaminya itu agak jahat, gak tau diri dan cemburuan parah. Jadi kayaknya Rissa berhenti kerja karena itu deh.” Jelas Livi.


Alex terdiam selama beberapa detik.


“Kok diem gitu? Kenapa?” tanya Livi.


“Kasian aja sama Rissa, suami dia kok kayak gitu amat.”


“Kalo Pak Devan beneran suka kayaknya bagus, ya gak sih? Tapi sayangnya laki-laki sempurna kayak Pak Devan pasti susah buat nerima kehadiran Aiden.”


Adam menggelengkan kepalanya. “Enggak, dia malah pengen punya anak. Apalagi anaknya laki-laki.”


“Hmmm tapi kan dia masih muda, dan pastinya sehat juga. Kalo mau anak laki-laki ya kan tinggal nikah terus bikin? Mau kayak gimana pun, bakal tetep beda aja kalo ke anak tiri.”


“Iya tapi kan Aiden itu anak kand....” Alex tiba-tiba menghentikan ucapannya.


Livia menatap dingin ke arah Alex. “Anak apa? Kok gak di lanjutin?”


“Aku baru inget ada kerjaan lain, permisi.” Alex keluar dari ruangan itu.


‘Ternyata orang itu mudah terpancing, pasti tidak sulit untuk menggali informasi darinya. Tapi tadi dia bilang tentang anak laki-laki? Anak laki-laki kan identik dengan pewarisan harta. Apa jangan-jangan?’


Livi membuka browser lalu mengetik sebuah kalimat.


'Kandidat pewaris keluarga Julius'


Ada banyak artikel yang bermunculan, dan Livia memilih artikel terbaru yang ditulis sekitar dua minggu lalu.


... ...


............................. Erick Geovani Julius, sang pemilik perusahaan raksasa yang dinobatkan sebagai salah satu dari lima orang terkaya di Indonesia.................... namun dia tidak memiliki anak laki-laki sehingga sulit untuk menentukan pewaris tahtanya.......................... Dua cucu laki-laki yang bernama Devan dan Lucas, kedua cucunya itu menjadi kandidat pewaris utama perusahaan.......................................... Keduanya sangat berkompeten, entah persyaratan apa yang akan di berikan Erick pada kedua cucunya itu....


 


‘Keduanya sangat berkompeten hingga sulit untuk menentukan pilihan. Apa jangan-jangan cucu laki-laki di jadikan sebagai syarat utamanya? Entah kenapa aku merasa sangat yakin dengan perkiraanku. Dan kalau itu benar, berarti lagi-lagi Devan menggunakan Larissa untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahaya jika keluarga Haidar sampai tahu kalau Aiden itu bukan anak kandung dari Adam. Larissa pasti akan menjadi sangat buruk di mata mereka, dan hal yang paling ditakutkan adalah, Devan mengambil paksa Aiden dari tangan Larissa. Aku tidak mau kalau hal itu sampai terjadi, tapi apa yang bisa aku lakukan? Sulit sekali melawan orang-orang kaya seperti mereka.’


... ...


.........


Malam harinya di kamar Rissa.

__ADS_1


Tringg--


Ponsel Larissa berbunyi.


Larissa mengambil ponselnya yang berada di atas tempat tidur.


‘Pesan dari Livia'


Risaa segera membuka pesan itu.


Livia : Adam udah balik kerja kan? Aku ada yang harus ditanyain ke dia soal aplikasi kerjaan kantor.


Rissa : Udah kok, ini dia lagi bersih-bersih badan di kamar mandi. Mau kamu yang ke sini atau aku suruh Adam ke sana?


Livi : Kerjaan aku ada di PC sih, kalo gak masalah ya aku pengen Adam aja yang ke sini. Serius ini aku bingung banget sama aplikasinya, si Adam pasti ngerti.


Rissa : Oke entar aku suruh dia ke sana.


Livi : Sip.


Klaak--


Adam membuka pintu kamar mandi.


Larissa menaruh kembali ponselnya di atas tempat tidur dan berjalan menghampiri Adam.


“Sayang, tadi Livia chat aku. Katanya dia bingung sama aplikasi kerjaannya gitu, dan dia minta kamu ke sana buat bantuin.”


Adam sadar, pasti ada yang ingin Livia bicarakan tentang Devan. “Emm oke aku ke sana.”


“Aku ikut jangan?” tanya Rissa.


“Gak usah, bentar doang palingan,” jawab Adam.


“Oke.”


Tokk--


Tokk--


Tokk--


Adam mengetuk pintu.


Klakk--


Livia langsung membuka pintu rumahnya.


“Ada apa?” tanya Adam.


“Di dalem aja ngomongnya.”


Adam memasuki rumah itu.


Livia mengajaknya menuju ke komputer yang berada di ruang tengah.


“Aku jelasin nih, lengkap.”


“Gimana?” tanya Adam.


“Pas di kantor kan aku ngobrol sama Alex, nah aku sedikit mancing-mancing dia. Gak nyangka banget ternyata dia itu orangnya gampang kepancing. Dari sekian banyak yang kita bicarain, ada satu kalimat yang mengganjal di aku.”


“Kalimat apa?”

__ADS_1


“Alex bilang kalo Devan itu pengen punya anak, apalagi anaknya laki-laki.”


Adam merasa sedikit kebingungan. “Kalimat gitu doang? Apanya yang bikin mengganjal?”


“Masa kamu gak ngerti sih?”


“Enggak.” Adam menggeleng.


“Astagaaaaa, padahal harusnya kamu langsung ngerti.”


“Emang apa?”


“Anak laki-laki itu identik sama pewaris tahta,” jelas Livi.


“Ohh iya-iya, terus?”


“Aku langsung nyari kan di google tentang keluarga Julius ini. Nah aku nemu artikel yang lumayan lengkap ngebahas tentang mereka, coba baca deh.”


Adam membaca artikel yang sudah terbuka di komputer itu.


“Nah perkiraan aku tuh gini, itu kan kandidat pewarisnya ada dua. Lucas dan Devan itu bener-bener setara, jadi susah buat nentuin salah satu dari mereka. Kemungkinan besar Tuan Erick ngejadiin cucu laki-laki sebagai syarat utamanya.”


“Berarti Devan ada rencana ngambil Aiden buat menangin warisan itu. Keterlaluan, ini gak bisa didiemin gitu aja.” Adam emosi.


“Tapi di pihak kamu juga susah buat ngelawan. Keluarga kamu kan tau nya Aiden itu darah dagingmu, semisal nanti pihak Devan ngungkapin semuanya gimana? Apa kamu masih bisa ngelawan? Apa keluarga kamu bakal mau bantu?”


Adam terdiam, dirinya kehabisan kata-kata.


“Udah ada rencana harus gimana?” tanya Livia.


“Gak tau Liv, otak aku buntu,” jawab Adam lirih.


“Keluarga kamu pasti bakal kecewa karena ngerasa ditipu selama ini.”


Adam menghela nafas dalam. “Nanti aku pikirin lagi deh, Liv. Kalo udah gak ada jalan lain, mungkin aku bakalan jujur aja ke keluarga. Semoga mereka lebih bisa nerima kalo taunya langsung dari mulutku sendiri.”


“Aku bakalan bantu sebisa mungkin. Tapi kamu juga gak bisa terus rahasiain ini dari Rissa, cepat atau lambat kamu harus cerita ke dia.”


“Iya Liv, ya udah aku balik dulu. Pusing banget kepala mikirin ini semua.”


“Oke, Dam.”


Livia mengantarkan Adam sampai ke depan pintu.


Adam berjalan kembali ke rumahnya, tubuhnya lemas dan wajahnya kini jadi sedikit pucat.


Klaak--


Dia membuka pintu rumah, terlihat Larissa sedang duduk di sofa sembari menunggunya pulang.


“Udah?” tanya Rissa.


“Udah Sayang,” jawab Adam.


“Mau langsung tidur atau nonton dulu?”


Adam duduk di samping Larissa dan langsung memeluk tubuh wanita kesayangannya itu.


“Idih, tiba-tiba meluk kayak gini. Hayoo mau ngapain? Padahal baru kemaren loh, masa mau lagi?” Larissa menggoda suaminya.


“Enggak kok Sayang, aku cuma lagi pengen meluk kamu kayak gini.”


“Kamu ada masalah?”

__ADS_1


Adam tidak menjawab dan terus memeluk Larissa semakin erat.


 


__ADS_2