LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 38 : GELISAH


__ADS_3

Larissa duduk di sofa ruang tamu sendirian, dirinya menunggu kedatangan Adam yang katanya akan sampai di rumah sebentar lagi.


Satu jam berlalu, sekarang sudah pukul sebelas malam tapi Adam belum juga sampai.


‘Ke mana dia? Aku telepon juga tidak di angkat.’


Wanita itu mulai merasa khawatir. Lalu,


Tokk--


Tokk--


Tokk--


Suara yang diharapkan akhirnya terdengar juga. Larissa segera membuka pintu dan menyambut kedatangan suaminya.


“Kok telat sih? Padahal sejam lalu bilang bakal sampe bentar lagi.” Tanya Rissa.


Cup--


Ada mencium kening istrinya. “Tadi tiba-tiba macet Sayang.”


Larissa membantu Adam membawakan tas dan beberapa barang bawaanya. “Ini kamu bawa apa aja? Banyak banget.”


“Mainan sama makanan doang,” jawab Adam sembari menutup dan mengunci pintu rumah.


“Mainan yang dipesen Aiden?”


Adam mengangguk. “Aku nanya-nanya ke Kak Teddy, dan tadi sore aku langsung datengin tokonya.”


“Aiden pasti seneng banget besok pas liat ini.” Larissa mengecek isi tas yang satunya.


“Yang itu cuma cemilan doang.”


“Hmm, aku gak di bawain oleh-oleh nih?” tanya Rissa sembari menyipitkan kedua matanya.


“Kan itu oleh-olehnya cemilan,” jawab Adam polos.


“Haisshh!”


Adam duduk di sofa guna mengistirahatkan tubuhnya.


“Oh iya, aku mau tanya sesuatu boleh kan?” tanya Adam.


“Boleh lah, mau tanya apa?”


“Kemaren ada tamu ke rumah Livi?”


“Iya.”


“Berapa orang?”


“Cowok dua orang.”


“Siapanya Livi? Kamu kenal mereka juga?”


“Itu kenalan Livi di tempat kerjanya. Yang satu atasannya, yang satu lagi auditnya. Nah si auditnya ini yang jadi gebetan Livi.” Jelas Rissa.


“Terus si atasannya ngapain ikut?”


“Gak tau juga, ya mungkin emang mau gabung aja kali. Oh iya, kan aku belum cerita apa-apa ke kamu. Jadi tau dari mana?” Rissa penasaran.


“Emm, si Bibi ART kita yang ngasih tau. Katanya kemaren dia liat kamu lagi makan-makan bareng dua cowok di rumah Livi. Dan ya, itu kamu ngelakuinnya pas aku lagi di luar kota. Kamu kenapa gak langsung cerita sama aku sih?”


Larissa merasa kesal pada asisten rumah tangganya. Dia tidak punya hak untuk mengadukan hal-hal seperti ini kepada Adam, kesalahan pahaman bisa saja terjadi akibat aduannya itu.


“Ya kan itu tamunya Livi, jadi aku gak langsung ngasih tau kamu. Lagian aku di sana cuma bantuin Livi buat nyiapin makanan. Sekalian aja pas siangnya makan bareng-bareng.”


“Jadi kamu gak kenal juga kan sama tamu-tamunya Livi itu?”


“Kenal sih enggak, cuma aku udah beberapa kali ketemu mereka berdua. Mereka kan pelanggan di kafe tempat aku kerja.”


“Nama mereka siapa?”


“Yang jadi gebetannya Livi itu namanya Alex, kalo atasannya itu namanya Devan.”


Adam terkejut ketika mendengar pernyataan istrinya tadi. Dia tidak pernah menyangka kalau kantor tempat Livia bekerja itu adalah kantor milik Devan, dan kafe tempat Larissa bekerja sering di kunjungi oleh orang-orang itu. Rasa khawatir dan gelisah seketika muncul dan menguasai dirinya, dia tidak ingin Larissa bertemu lagi dengan Devan, apalagi kalau sampai akrab dengannya.

__ADS_1


“Kemaren cowok-cowok itu ketemu sama Aiden?”


“Iya, soalnya kan Aiden ikut ke rumah Livi. Dan anehnya anak kita bisa gampang banget akrab sama Devan, padahal kan dia tipe anak yang susah banget buat dideketin.”


Mendengar jawaban itu, hati Adam jadi terasa seperti di bakar. Dadanya terasa panas dan sesak, dia takut Devan akan sadar kalau Aiden itu adalah darah dagingnya.


Raut wajah penuh amarah terlihat begitu jelas, ini pertama kalinya Larissa melihat Adam yang seperti itu. “K-kamu, kamu kenapa?” tanya Rissa gugup.


“Berhenti dari kafe tempat kamu kerja dan jangan pernah ketemu sama dua orang itu lagi!” ucap Adam dengan nada suara yang begitu tegas.


Larissa terkejut, Adam tidak pernah seperti ini sebelumnya. “Kenapa?”


“Gak usah nanya kenapa! Pokoknya aku gak suka, gak boleh!”


“Kalo kamu emang maunya kayak gitu, oke aku nurut. Tapi please jelasin dulu lah, segalanya kan harus pake penjelasan.”


“M-mereka itu,” mulut Adam tertahan, dia sebenarnya ingin memberitahu Larissa tentang siapa mereka berdua. Tapi dia takut kalau istrinya ini akan menjadi sangat kecewa terhadapnya.


‘Larissa pasti akan marah kalau aku menceritakan semua padanya.  Aku yakin dia akan sangat kecewa karena ternyata aku sudah tahu sejak lama siapa saja penculiknya di malam itu. Tapi selama lima tahun pernikahan kami, aku malah merahasiakannya, dan terus berpura-pura tidak tahu apa-apa.’


“Mereka itu siapa?” tanya Rissa yang semakin merasa penasaran.


Adam bangkit dari sofa lalu berjalan menaiki tangga.


“Lah kok malah pergi?”


“Aku mau mandi,” jawab Adam dingin.


“Ya jangan pergi kaya gitu dong, jawab dulu lah!” Larissa mengikuti Adam dari belakang.


Langkah Adam terhenti. “Mereka itu musuh bebuyutan aku dari SMA, jadi wajar kan kalo aku gak suka istriku kenal sama dua orang itu? Mereka itu bukan orang baik, aku udah hafal sifatnya sejak lama. Puas?”


Larissa terdiam.


“Gerah, aku mau mandi.” Adam meneruskan langkahnya.


 Larissa menatap punggung suaminya yang sedang berjalan menuju kamar.


‘Alasannya memang masuk akal, tapi apa benar hanya karena itu? Adam yang aku kenal adalah seorang pemaaf. Dan mereka berdua hanya musuh dari SMA, jadi sudah berapa tahun itu berlalu? Rasanya aneh kalau seorang Adam masih menyimpan dendam sampai hari ini.’


.........


 


Dari kemarin malam sampai detik ini, Adam masih terus bersikap dingin pada Larissa. Hal itu membuat Rissa jadi merasa canggung pada suaminya sendiri.


“Udah buka oleh-oleh dari Ayah kan?” tanya Rissa.


“Udah dong, Bun.”


“Seneng banget nih pasti.”


“Seneng banget, banget, banget. Tadi juga aku langsung cium Ayah pas tau oleh-olehnya itu.”


“Jadi gak sabar pengen cepet-cepet pulang sekolah ya, buat maenin itu?”


“Iya Bunda.”


Larissa tersenyum lalu menatap Adam yang sedang menyantap sarapannya.


‘Biasanya Adam selalu banyak bicara saat sedang di meja makan seperti ini. Tapi sekarang dia hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia pasti masih sangat marah, apa yang harus aku lakukan?’


“Bunda gak siap-siap?” tanya Aiden.


“Enggak Sayang, soalnya Bunda udah gak kerja di kafe itu lagi.”


“Kenapa?”


“Pengen di rumah aja deh, capek.”


“Berarti nanti siang Bunda bisa temenin aku main ya?”


“Iya Sayangku.”


Aku segera menghabiskan sarapan lalu menyiapkan bekal makanan untuk Aiden.


“Susu kotaknya mau rasa apa?”

__ADS_1


“Rasa yang putih aja Bunda.”


“Oke.” Larissa memasukkan makanan dan minuman itu ke dalam tas sekolah Aiden.


“Aku berangkat dulu ya, Ayah.”


“Iya, hati-hati bawa sepedanya.”


Cup--


Adam mencium bibir Aiden.


Aiden berlari menghampiri Larissa yang sudah berdiri di depan pintu. “Bunda, aku berangkat.”


“Iya Sayang,” ucapnya sembari memakaikan tas pada Aiden


“Dadah Ayah, dadah Bunda.”


“Dadah Aiden,” jawab Adam dan Larissa bersamaan.


Larissa menutup pintu dan kembali ke ruang makan. Di sana terlihat  Adam yang sudah selesai dengan sarapannya dan kembali ke kamar untuk bersiap-siap.


‘Mau sampai kapan seperti ini?’


Larissa sudah tidak tahan lagi, dengan cepat dia mendatangi Adam yang sedang berada di kamarnya.


Klaak--


Larissa membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tatapannya langsung tertuju pada Adam yang sedang telanjang dada sembari memilih-milih kemeja yang tergantung di lemari.


Dengan cepat Rissa menutup pintu dan berjalan mendekati Adam.


“Masih marah?” tanyanya.


Adam menggeleng.


“Bohong!”


Adam hanya diam tanpa menjawab apapun.


Larissa memeluk tubuh kekar suaminya dari belakang. Kedua telapak tangannya mengusap lembut otot perut Adam yang sangat dia sukai.


“Aku minta maaf, maaf, maaf. Aku beneran gak bakal ketemu sama mereka lagi kok. Please lah jangan dingin kayak gini, ini gak kaya kamu yang biasanya.”


Adam melepaskan pelukan Larissa lalu berbalik menatapnya.


“Aku udah gak marah kok, cuma keselnya masih ada aja sedikit.”


“Sedikit tapi kok dingin kayak gini?”


“Ya mood aku aja lagi jelek.”


“Bagusin lagi,” ucap Rissa dengan nada dan ekpresi wajah yang manja.


Adam menatap wajah istrinya yang terlihat begitu menggemaskan. “Baterai mood ku udah lowbat, coba deh cas.”


“Cas?” Larissa merasa sedikit kebingungan.


“Ya udah kalo gak mau ngecas. Baterainya bakal lowbat terus-terusan dan gak bakal bisa full lagi.”


Larissa tersenyum saat menyadari apa yang Adam maksud. “Oke, kamu merem dulu tapi.”


Adam memejamkan kedua matanya.


“Tiga, dua, satu,” Larissa menghitung mundur, lalu wanita itu berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan Adam.


Cup--


Dia ******* bibir suaminya dengan penuh semangat. Kini sepasang suami istri itu saling berciuman sembari sesekali tertawa kecil.


“I love you,” ucap Adam lembut.


“I love you too,” balas Rissa.


Mereka berdua lalu melanjutkan aktifitasnya di atas tempat tidur.


 

__ADS_1


Bersambung...


Aktifitas apa hayo??? MUEHEHEHHEHEHEHEHEH.


__ADS_2