
Hallo guyss, ini author! Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya
"Makanya sini ikut dulu! Cari tempat sepi buat omonginnya."
Adam mengangguk dan mengikuti Leon.
Tibalah mereka berdua di meja paling ujung yang ada di club itu.
"Duduk sini!" perintah Leon.
Adam duduk di sampingnya. "Mau cerita apa sih?"
"Jadi minggu lalu gue kan ke diskotik di luar kota. Nah, di sana gue ketemu sama Devan dan Alex. Lu tau sendiri ya kan sikap mereka berdua itu kaya apa?"
"Terus?"
"Gue ajak mereka buat gambling, tapi gak pake duit. Jadi yang kalah itu wajib nurutin permintaan dari yang menang."
"Yang menang siapa?"
"Ya gue lah, sejak kapan gue kalah maen poker?"
Adam semakin antusias, "Terus gimana?"
"Malem itu gue suruh lah si Devan buat cari cewek random. Bius, dan perk*sa itu cewek. Demi tuhan loh Adam, gue gak serius. Tadinya kalo dia nolak pun, ya palingan cuma gue ledekin doang. Eh dia malah setuju loh, Dam. Dia beneran bawa anak SMA ke hotel, mana tu cewek masih perawan."
Adam terkejut, "Lah, Seriusan?"
"Serius lah! Gue aja gak habis pikir."
"Bisa-bisanya dia setuju gitu aja. Masih mending kalo disuruh booking, lah ini kan perk*sa loh."
__ADS_1
"Ternyata dia lebih gila dari gosip yang selama ini kita denger. Parahnya itu orang malah bilang, demi harga dirinya. Lah, di mana letak harga dirinya? Jelas-jelas perk*sa orang itu gak ada harga diri dan pengecut banget."
"Kabar ceweknya sekarang gimana?"
"Ya mana gue tau."
"Lu juga salah sih! Malah nyuruh gituan."
"Lah kan gue emang gak serius."
"Sumpah, kalian gak punya otak!"
"Gue juga masih kepikiran banget sama cewek itu, Dam."
"Udah sih, masa depannya pasti ancur."
Flashback off
Saat
Tapi kenapa sekarang aku malah jatuh cinta? Aku ingin menikahi gadis itu, dan menjadi ayah untuk anak yang sedang dikandungnya. Aku paham, dia pasti masih trauma untuk berurusan dengan pria. Tapi tak apa, aku akan sabar menunggunya.
Dugg--
Dugg--
...… ...
...Larissa POV...
Kenapa orang itu belum tidur dan malah memukul-mukul dinding?
__ADS_1
Tempat tidurku menempel dengan dinding itu, jadi suara pukulannya terdengar sangat jelas. Untung saja aku memang belum tidur, jadi untuk saat ini aku tidak merasa terganggu. Tapi jika nanti aku terbangun karena suara-suara itu, pasti akan ku bunuh dia.
Pernyataan cintanya masih terngiang-ngiang di kepalaku. Apa dia yakin dengan perkataannya itu?
Aku juga sudah bertanya pada Livi, dan dia menceritakan semuanya padaku. Jika aku egois, pasti aku akan langsung menerimanya. Lagi pula ini sangat menguntungkan bagiku, anak ini akan punya ayah dan akta kelahirannya
Siang itu
"Yakin mau di rumah aja?"
"Iya." Aku masuk ke dalam.
Masih ada satu hal yang Adam bicarakan, tapi entah apa itu. Pintu rumahku sudah kututup, jadi aku tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas. Kira-kira apa ya barusan? Ah sudahlah, pasti tidak penting.
.........
Keesokan harinya, tanggal tiga puluh satu Desember, pukul sepuluh malam.
Tok--
Tok--
Tok--
"Rissa, buka pintunya."
Loh, itukan suara Adam. Mau apa lagi dia?
Aku berjalan dari kamar menuju pintu depan. "Mau ngapain malem-malem ke sini? Sana pulang! Aku gak bakal bukain pintunya."
"Ko gitu? Bukannya kemaren udah setuju ya," ucap Adam dari balik pintu.
__ADS_1
"Setuju apanya?"
"Kemaren kan aku