
“Kamu itu kerjanya gimana sih? Saya udah ngasih tiga kali kesempatan buat kamu. Tapi semuanya salah,
“Okee sip, aku keluarin mobil dulu. Nanti kamu langsung ke depan kantor aja ya, aku tunggu di sana.”
“Baik, Pak.” Livia mengangguk.
Beberapa menit kemudian.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, Livia segera merapikan tasnya dan bergegas menuju ke pintu utama kantor itu.
‘Mimpi apa aku semalam? Bisa-bisanya hari ini aku pergi ke kafe bersama dengan Alex.’
Sesampainya dia di tempat yang sudah di janjikan, livia melihat keberadaan Alex yang sedang duduk di dalam mobil mewahnya.
‘Dia benar-benar menungguku.’
Livia berjalan menghampiri mobil Alex.
“Pak?” sapa Livi.
“Akhirnya kamu dateng juga.” Alex turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Livi.
“Tidak usah repot-repot, Pak.”
“Repot apanya? Ayo masuk!”
Livi tersenyum kecil sembari masuk ke dalam mobil. Setelah Livi benar-benar terlihat sudah nyaman, barulah Alex memasuki pintu yang ada di sebelahnya.
“Gak usah formal kayak gitu dong ngomongnya. Lagian ini kan lagi gak di kantor.”
“Emm, i-iya.”
“Panggil Alex aja, terus ngomongnya gak usah formal oke? Biasa aja biar kesannya akrab.”
“Iya, Alex.”
“Nah gitu dong.”
Perasaan wanita itu saat ini sedang sangat berbunga-bunga. Siapa sangka pria yang dia sukai tiba-tiba bersikap seperti ini padanya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berdua sampai di kafe tujuan.
__ADS_1
Alex segera turun dari dalam mobilnya dan membukakan pintu untuk Livia.
“Terimakasih, Alex.”
“Iya sama-sama.”
“Ayo.” Livi mengajak Alex masuk.
“Iya, Ayo.”
Mereka berdua memasuki kafe itu dan duduk di meja nomor sepuluh.
“Temanmu yang mana?” tanya Alex.
“Aku tadi udah chat dia sih, palingan bentar lagi juga ke sini.”
“Ohh oke.”
Dua menit kemudian.
“Heh, Liv! Ke mana aja kamu? Bisa-bisanya baru mampir lagi ke sini,” ucap Larissa yang berhasil mengagetkan keduanya.
Betapa terkejutnya Alex saat mengetahui kalau teman Livi itu ternyata Larissa.
“Kenalin nih, temen kantor aku. Namanya Alex, dia audit yang pernah aku ceritain.”
“Emm, halo,” Rissa menyapa Alex.
“Kita pernah ketemu kan sebelumnya?” tanya alex.
“Wah,
“Udah, anaknya cowok lucuuu banget.”
“Umur berapa?”
“Lima taun lebih kayaknya.”
“Eh, wait?” Alex memasang ekspresi bingung.
“Emmm?” Livi mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Hahaha, skip aja udah.”
Livi mengangguk.
“Pesanannya....” Rissa mendatangi meja tempat Livi dan Alex berada.
“Lamaa,” keluh Livi.
“Ya kan bintang satu,” ledek Livi.
“Budu amat.” Larissa meninggalkan meja itu.
“Hahaha, ayo makan. Waktu istirahatnya nanti keburu abis loh.” Alex.
Livia mengangguk.
.........
Malam harinya, di rumah Alex.
Pria itu sedang duduk di balkon rumahnya sembari menatap langit malam.
‘Sepertinya memang benar kalau anak yang ada di video call kemarin itu adalah anaknya Devan.
Tapi, kalaupun
Aku takut Devan nekat dan mengambil paksa anak itu dari ibunya.
Dan lagi, aku tidak pernah berfikir kalau akan ada pria yang mau menikahi Larissa dan menerima anaknya juga. Beruntung sekali wanita itu bisa berjodoh dengan pria sebaik suaminya. Jujur saja aku jadi merasa tidak tega bila harus membuat mereka berdua berpisah. Tapi di sisi lain, aku juga ingin membantu Devan untuk mendapatkan posisi yang dia impikan sejak lama.
Astaga, jadi aku harus bagaimana?’
...Visual Alex dan Livi
...
__ADS_1