
Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya
“Yuk duduk dulu, istirahat.” Adam menduduki salah satu sofa yang ada di sana.
Aku duduk tepat di samping Adam. “Orang rumah pada ke mana?” tanyaku.
“Ada kok, sebentar lagi juga pada ke sini.”
“Hmmm....”
Sekitar dua menit kemudian datanglah dua orang wanita cantik menghampiri kami. Dan salah satu dari mereka sedang menggendong Aiden.
Adam berbisik ke telingaku. “Yang masih muda rambut cokelat itu Dessy, kakak iparku. Satunya lagi itu tante Sarah.”
Kami berdua langsung berdiri dan memberi salam.
“Itu calon istri kamu?” tanya tante Sarah.
“Iya Tante,” jawab Adam.
“Anak kamu lucu banget deh, jadi iri aku. Pengen juga punya baby,” ucap kak Dessy.
“Kenapa berdiri? Ayo duduk lagi.” Tante Sarah duduk di sofa sebelah kiri yang berada di dekatku, sedangkan Kak Dessy duduk di sofa kanan yang masih kosong.
“Kak Teddy mana?” tanya Adam.
“Lagi di WC dia, mules katanya,” Dessy.
“Hahaha, mules apa gugup?”
“Gugup sih kayaknya, haduuh dasar. Tau gak sih, Kakak kamu itu rusuh sendiri pas tau kamu punya baby. Aku yang jadi kerepotan nanganinnya,” keluh Dessy.
__ADS_1
“Gak nyoba bayi tabung lagi, Kak?” tanya Adam.
“Nanti lagi deh, capek juga udah gagal tiga kali. Lagian ada baby kamu kan sekarang, biar aja tuh nanti diasuh Kakakmu.”
“Idih ogah, entar malah diajarin yang enggak-enggak.”
“Hahahahaha.” Adam dan Kak Dessy tertawa bersamaan.
Ternyata rumah ini tidak setegang yang aku kira, mereka ramah dan ceria. Sungguh berbeda dari keluarga orang kaya yang aku lihat di film-film.
“Aiden kan namanya?” tanya tante Sarah kepadaku.
“Iya, Tante.”
“Udah lamaaaa banget Tante pengen gendong baby, tapi baru terwujud sekarang. Mana baby-nya cowok dan dikejutkan oleh suara pukulan yang cukup keras.
“Arrghh! Sakit dong!” Adam mengusap-usap kepala belakangnya.
“Sakit, sakit. You'r eyes! Punyak anak kok nyalip?”
“Iri lah bodoh! Udah aja anakmu buat Kakak!”
“Ngarep.”
“Kamu kan tinggal bikin lagi!”
“Kakak juga kan tinggal bikin aja!”
“Ehhh, udah dong. Kok malah pada ribut? Suara kalian berisik banget. Kasian nih Aiden nanti bangun loh.” Tante Sarah menenangkan kakak beradik itu.
“Emang paling bener sih mereka itu harus dipisah. Pokoknya jangan sampe tinggal satu atap, biar gak rusuh terus.” Dessy.
__ADS_1
Teddy duduk di samping Dessy. “Maaf sayang.”
“Miif siying, miif siying, miif siying,” ledek kak Dessy.
“Mending langsung ke intinya aja ya,” ucap Adam.
“Yaudah, mau ngomong apa?” tanya kak teddy.
“Aku pengen nikah sama Larissa minggu depan. Gak usah ngundang orang luar, aku gak mau banyak tamu. Dua puluh orang aja cukup.”
“Eh kok gitu?” kak Teddy nampak keheranan.
“Males aja aku sama pesta-pesta gitu, kan yang penting sah nya aja.”
“Gaun pengantin tetep wajib pesen, minimal kalian punya photo kenangan,” Sarah.
“Kalo itu sih pasti, parah kalo sampe gak ada photo sama sekali.”
“Tapi Kakak bingung, kok kamu gak mau pesta sih?”
“Ya pokoknya gak mau aja, Kak.”
“Aneh.”
“Kamu mau setuju gitu aja?” tanya kak Dessy padaku.
“Aku sih terserah Adam aja,” jawabku.
“Aku mau gedein mas kawinnya aja.”
“Emang mas kawinnya mau apa?” tanya tante Sarah.
__ADS_1
“Dia udah aku tawarin, tapi jawabannya sama terus. Terserah kamu aja, Dam. Gitu aja jawabannya.”
“Jadi kamu percuma saja selama ini aku merasa takut.