
Novel ini sedang dalam proses revisi. Mohon pengertiannya
uka lembaran baru, dan menerima segala hal yang telah aku alami sebelumnya.
"Buat makan kamu udah aman tuh dua setengah juta sebulan dari pensiunan mama kamu. Itu kamu ngambil sertifikat rumah juga, mau di jual?"
"Iya, kalo ada yang beli sih mau aku jual. Tapi kalo dalam enam bulan ini gak nemu pembeli, bakal aku pake buat minjem duit ke bank."
"Gila bisa kepikiran kaya gitu ternyata otaknya."
"Bisa dong!"
"Serem juga ya kamu. Bibi sama sepupu kamu nanti gimana dong?"
"Entah, aku gak peduli sama sekali. Lagian uang punyaku juga udah sekitar satu miliyar mereka abisin."
"Kesabaran udah abis ya, ahahaha."
"Yoi."
...…...
Setelah perjalanan panjang, akhirnya aku dan dan Livi sampai di kota Bandung. Saat ini kami berdua sedang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi.
"Gila, sebelas jam perjalanan." Livi tampak sangat kelelahan.
"Tempat tinggal kita masih jauh?"
"Masih enam Kilo meter lagi. Aku pesen taksi online dulu."
Aku mengangguk.
"Rumahnya itu nyaman banget, di perumahan Dahlia. Tempatnya bersih, akses jalannya juga luas. Sebulannya lumayan sih, tujuh ratus ribu. Tapi kan kita bagi dua, jadi cuma tiga ratus lima puluh ribu. Depan rumah kita itu ada rumah si ibu yang punya kontrakan. Jadi satu blok tuh punya dia semua."
"Orang kaya ya."
Livi mengangguk. "Iya, emak-emak tajir dia."
"Kamu dapet info itu dari mana?"
"Dari Bunda, kan yang punya kontrakan itu temen SMA-nya Bunda."
"Oh enak dong, kita pasti dijagain kalo yang punya itu temen tante Sisca."
__ADS_1
"Ya jelas."
"Itu taksi yang kamu pesen kan?" tanyaku.
"Iya."
Supir taksi keluar lalu menghampiri kami berdua.
"Kopernya saya masukin ya, Mbak."
"Iya Pak," jawabku.
"Cukup buat empat koper pak?"
"Cukup kok. Dua di bagasi, dua lagi di kursi belakang."
"Aku duduk di depan ya, Vin?"
"Iya bebas. Ya udah yuk masuk ke mobil."
"Siaap!"
Perjalanan dari tempat itu menuju ke perumahan yang dituju, menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit.
"Rumahnya yang mana?" tanyaku.
"Tuh yang itu." Livi mengarahkan jari telunjuknya pada rumah berwarna putih yang berada di samping kananku.
"Bagus juga rumahnya."
"Dalemnya lumayan luas tuh. Menurut aku tujuh ratus ribu sih gak kemahalan."
Aku turun dari dalam taksi dan berjalan ke rumah yang ada di sebrang.
"Ambil kuncinya di yang punya dulu kan?"
"Iya ayo."
Livi masuk ke halaman rumah si pemilik kontrakan.
Tok--
__ADS_1
Tok--
Tok--
"Permisi, Bu."
Klak--
Si pemilik kontrakan membuka pintu rumahnya.
Wanita paruh baya itu sepertinya berusia sekitar empat puluh lima tahun. Dia terlihat cantik dan ramah.
"Aku Livia, Bu."
"Ooohh, Livia. Sini-sini masuk Liv," ajaknya.
"Iya, Bu. Yuk Ris, masuk."
Aku mengangguk.
Kami berdua duduk di sebuah sofa empuk berwarna putih.
"Ini temen kamu Larissa ya?"
"Iya, Bu." Livi mengangguk.
"Udah tau nama Ibu belom?"
"Belum, Bu," jawabku.
"Tuti Nirmala, panggil aja Bu Tuti."
Aku dan Livi mengangguk.
"Bunda kamu cerita banyak sama Ibu. Dia juga minta Ibu buat jagain kalian, terutama Larissa."
"Eh, Bunda cerita soal Larissa yang hamil?" Livi terkejut.
"
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Ibu i Ibu kemana?" tanyaku.
"
__ADS_1
"Oh gitu ya, mending ambil dari panti asuhan aja kalo gitu. Jadi gak akan diambil lagi," ucap Livi.
"Kalo