
“
“Kok lu ngomong gitu sih, Lex?”
“Ya ini kenyataan loh!” jawab Alex tegas.
“Jadi selama ini lu mandang gue kayak gitu? Gak nyangka gue sama lu.”
“Gak usah baper kayak gitu deh! Pokoknya kali ini lu harus nurut apa kata gue!”
“Lu merintah gue?” tanya Devan kesal.
“Iya gue tidak terlalu ambisius untuk mendapatkan harta warisan itu, tapi ibunya lah yang sangat menginginkannya.
‘Terpaksa aku harus membantu Devan untuk mendapatkan Larissa dan juga anaknya. Sebenarnya aku merasa sengat lelah, berapa banyak dosa yang sudah aku buat akibat menolong orang itu?’
Alex berjalan menuju ke ruangan tempat Livia berada. Kebetulan pintu di ruangan itu sedang terbuka lebar, jadi Alex tidak perlu repot-repot mengetuk.
Tidak terlalu ambisius untuk mendapatkan harta warisan itu, tapi ibunya lah yang sangat menginginkannya.
‘Terpaksa aku harus membantu Devan untuk mendapatkan Larissa dan juga anaknya. Sebenarnya aku merasa sengat lelah, berapa banyak dosa yang sudah aku buat akibat menolong orang itu?’
Alex berjalan menuju ke ruangan tempat Livia berada. Kebetulan pintu di ruangan itu sedang terbuka lebar, jadi Alex tidak perlu repot-repot mengetuk
“Permisi.” Alex memasuki ruangan itu.
Terlihat di sana ada Livia yang sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya.
“Siang Pak Alex,” sapa Livi sembari tersenyum.
“Siang juga, lagi sibuk banget ya?” tanya Alex.
__ADS_1
“Iya nih, biasalah akhir bulan,” jawab Livi.
Alex duduk di kursi tamu yang menempel di meja kerja Livi. Pria itu menatap lekat wajah cantik wanita yang ada di hadapannya.
“Eng- anu ada apa ya, Pak?” tanya Livi gugup.
“
Alex membuka kunci ponsel itu lalu memasukkan kontaknya ke sana.
“Nih.” Mengembalikan ponsel milik Livi.
Livi mengambil kembali ponselnya, dan seketika dia dibuat tertawa oleh apa yang sudah dia lihat.
“Kenapa?” tanya Alex.
“Ini loh nama kontaknya lucu, Audit Ganteng.”
“Nanti aku chat ya, Pak.”
“Ya udah aku pergi dulu ya.”
“Iya Pak hati-hati.”
“Yang semangat kamu kerjanya!”
Livi mengangguk.
‘Kenapa dia tiba-tiba mau datang ke rumahku? Apa jangan-jangan dia menyukaiku?’
.........
__ADS_1
Malam harinya di rumah Larissa.
Keluarga kecil itu sedang menghabiskan makan malam mereka.
“
“Bibi juga masakannya gak enak loh Ayah, terus hari minggu jarang masuk.” Aiden ikut mengeluhkan kinerja dari asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu.
“Tuh Aiden juga masih kecil tapi ngerti. Masa kamu gak ngerasa?” tanya Adam.
“Ngerasa sih, tapi kan kasian kalo sampe dipecat.”
“Kasih dia enam juta nanti akhir bulan, terus suruh jangan kerja lagi. Nanti aku cari asisten lain aja di agen khusus.”
“Ya udah deh, gimana kamu aja.”
“Kamu kan capek kerja, belum lagi ngurusin rumah. Ngerasa percuma banget punya banyak uang kalo sampe istri sendiri jadi kerja keras kayak gitu.”
“Itu kan kemauan aku loh.”
“Tapi kemauan aku bukan gitu,” ucap Adam sembari merapihkan piring-piring kotor yang ada di meja makan.
Larissa berjalan memasuki dapur lalu mengisi sabun dan air pada mesin cuci piring yang ada di sana.
Adam dan Aiden terlihat berjalan menghampiri Larissa sembari membawa piring dan gelas yang kotor.
“Jujur aja aku lebih suka kayak gini sih, jadi kebersamaannya kerasa. Aku gak bisa bayangin kalo kita kasih semua kerjaan ini sama asisten, pasti kebersamaan kayak gini bakal berkurang karena kita jadi sibuk sendiri sama kegiatan lain," jelas Larissa.
“Hehee, iya juga sih.”
Cup--
__ADS_1