
Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya
“Eh?!” Aku terkejut.
“Jangan sampe kamu ngalamin karma yang Kakak dapet, Inget itu Adam!”
“Iya lagian sekarang bayinya udah lahir kan? Aku bertanggung jawab kok.”
“Ya udah, kalian ke kamar aja istirahat. Ngobrolnya lanjutin nanti aja sambil makan malem. Kakak harus ke kantor buat nemuin investor.”
“Iya, Kak.”
“Kalian berduaan aja, oke? Aiden biar Tante sama Dessy yang asuh,” ucap tante Sarah.
“Eh, apa gak ngerepotin?” tanya Adam.
“Gak lah, malahan seru. Iyakan Dessy?”
Kak Dessy mengangguk.
“Oke deh kalo gitu, aku sama Rissa mau istirahat dulu di kamar.”
Kami berdua pamit pergi dari ruangan itu.
Adam membawaku ke kamarnya, jarak kamar Adam dari ruangan tadi ternyata cukup jauh. Rumah ini lebih luas dari yang aku bayangkan.
Piip--
Piip--
Piip--
Adam memasukkan sandi untuk membuka kunci kamarnya.
Klak--
Pintu itu terbuka.
“Yuk,” ajak Adam.
Lampu di kamar itu menyala secara otomatis saat mendeteksi adanya gerakan. Kini aku bisa melihat keseluruhan kamar ini dengan sangat jelas.
__ADS_1
“Kamu suka banget warna abu ya?” tanyaku.
“Emmmm iya, kenapa emang?”
“Kamar kamu yang di perumahan dipenuhin warna abu, kamar yang di sini juga temanya abu.”
“Kalo kamu gak suka, aku bisa ganti kok warnanya.”
“Suka kok.”
“Yakin?”
Aku mengangguk.
“Oke deh.” Adam menutup pintu.
Aku berjalan mendekat ke tempat tidur. “Gede banget tempat tidurnya.”
“Muat lima orang tuh.”
“Ukuran apa ini? Kayaknya lebih gede dari King-Size.”
Buukk--
Aku menghempaskan diri ke tempat tidur itu. Tidak ku sangka ternyata di dunia ada tempat tidur yang rasanya senyaman ini.
“Nyaman kan tempat tidurnya?” tanya Adam.
“Nyaman bangeeeeettt.”
Adam membaringkan tubuhnya tepat di sampingku. “Ini sebenernya berlebihan sih kalo dipake buat tidur sendirian. Untung sekarang ada kamu.”
“Kan kita di sini cuma dua minggu loh,” ucapku.
“Mau lebih lama?”
“Terserah kamu aja.”
“Kalo terserah aku ya berarti cukup dua minggu.”
“Aku mau tanya sesuatu boleh?”
__ADS_1
“Nanya apa?”
“Keluarga kamu asik-asik kok, rumah kamu yang di sini juga ratusan kali lebih nyaman dari rumah kamu yang di Bandung. Tapi kenapa lebih suka di sana?”
“Aku pengen hidup mandiri, jadi gak terlalu bergantung sama privilege. Percuma kan kalo orang tua kita kaya, tapi anaknya gak punya skill bertahan hidup. Yang namanya warisan itu pasti bakal habis kalo kita gak bisa nyari duit tambahannya.”
“Emmm iya juga sih.”
“Recananya aku sekarang mau hidup sederhana aja. Nanti umur tiga puluhan baru deh nikmatin harta.”
“Emmmmm....”
“Kamu gak masalah kan sama pilihan hidup aku.”
“Ya enggak lah! Malah bagus kan?”
“Aku seneng kalo kamu mau nerima.”
“Aku mau tanya satu hal lagi.”
“Apa?”
“Kakak D, aku pengen nambah anak. Boleh kan?”
Aku melirik ke arah Adam, lalu menatap kedua bola mata pria itu. “Boleh kok, boleh banget. Tapi kamu ya yang hamil dan ngelahirinnya!”
“Hih! Mana bisa gitu.”
“Sakit banget tau rasanya, aku sampe trauma.”
Adam memeluk tubuhku erat. “Nanti kan aku support lagi kayak kemaren.”
Cup--
Ciuman lembut mendarat di keningku.
“Ihh malah cium-cium! Nakal banget ya.”
“Yakin aku nakal? Bukannya kamu ya yang suka lebih nakal dan liar?”
Aku bersembunyi di dada bidangnya. Ucapannya itu membuatku malu, karena hal itu benar adanya.
__ADS_1