LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 37 : MENGAMBIL HATI


__ADS_3

Dua jam sudah berlalu, mereka bertiga telah cukup banyak membicarakan berbagai topik. Dari topik yang penting, sampai topik yang tidak penting sama sekali. Ternyata benar kalau Devan itu hanya bersikap keras saat di tempat kerja saja, sedangkan saat di luar jam kerja sikapnya itu berbeda seratus delapan puluh derajat.


Tidak di sangka ternyata dia itu pria yang cukup banyak bicara dan sedikit humoris. Bahkan di saat yang seperti ini, Devan malah terlihat lebih ceria dari pada Alex.


Larissa dan Livi dibuat terkejut dengan sikap asli seorang Devan, pria yang ada di hadapan mereka ini malah terlihat seperti seseorang yang sangat berbeda.


Livi membisikkan sesuatu ke telinga Rissa. “Ris, kamu bakal nyangka gak sih kalo si Devan ternyata aslinya kayak gini?”


“Mungkin kalo di kantor dia sengaja keras biar di hormatin sama pegawainya.”


“Kayaknya iya sih, jadi pegawainya pada nurut gitu.”


“Tapi Liv, kok aku malah serem ya sama orang yang punya dua sifat kayak dia?”


“Emang kenapa?” tanya Livi penasaran.


“Jatohnya malah kayaknya psikopat yang punya kepribadian ganda.”


“Iya juga sih.” Livi mengangguk.


Aiden biasanya sulit didekati oleh orang baru, tapi berbeda dengan Alex dan Devan. Anak itu malah mudah sekali akrab dengan mereka berdua. Dua jam yang lalu Aiden masih menatap kedua pria itu dengan tatapan yang sangat sinis, tapi sekarang mereka bertiga sudah bisa bercanda seperti ini.


‘Kenapa anakku bisa akrab dengan dua orang itu? Apalagi Devan, terlihat sekali kalau Aiden nyaman duduk di pangkuannya. Apa aku harus merubah pandanganku terhadap mereka berdua?’


“Akrab banget Aiden sama Devan, udah kayak bapak sama anak,” ucap Livi.


“Masa sih?” tanya Devan.


“Iya loh,” Livi tampak serius.


“Apa-apaan sih kamu?” Rissa sedikit kesal dengan pernyataan sahabatnya tadi.


“Hahaha, kok kayak kesel gitu? Lagian dia cuma bercanda kok.” Alex.


Devan tersenyum. “Beneran juga gak apa-apa.”


“Gak bisaaaaa, Om Devan cukup jadi Om aku aja.”


“Lah, kok gitu sih?” tanya Devan.


“Kan aku udah punya Ayah Adam.”


“Gantengan mana sama Om?”


“Ayah Adam lah.”


“Wih, masa sih? Padahal Om kan cowok paling ganteng di dunia.”


“Tapi Ayah Adam itu cowok paling ganteng di hati aku sama Bunda.”


Devan di buat terdiam oleh jawaban yang keluar dari mulut Aiden, bisa-bisanya anak berusia lima tahun sampai terpikir jawaban seperti itu.


“Savage-nya kayak kamu Dev,” ucap Alex.


“Hahaha.” Devan tertawa kecil.


Jam menunjukkan pukul setengah dua belas siang.


Livi bangkit dari sofa tempatnya duduk. “Ris, ayo kita ke meja makan dulu rapi-rapi.”

__ADS_1


“Ah iya.”


Livi dan Rissa memasuki dapur kemudian menata makanan di atas meja makan.


“Ini mereka bawa buah sama cemilan banyak banget,” ucap Livi sembari mencuci beberapa buah apel dan jeruk.


“Harusnya mereka bawa makanan biasa aja, cemilan kaya gini kan enaknya buat ngumpul malem.”


“Iya sih.”


“Ini makanan asinnya kan aku tadi bikin spaghetti sama macaroni schotel, kalo yang manisnya aku bikin klappertart, nah minumnya cappucino cincau. Udah aja kan?” tanya Rissa.


“Ambil satu botol bir aja di kulkas, siapa tau mereka mau minum alkohol.”


“Eh jangan, nanti mereka kan baliknya nyetir.”


“Oh iya, ya udah kamu panggil mereka gih!”


Rissa berjalan menghampiri Alex dan Devan di ruang tamu.


“Yuk sini, makanannya udah siap.”


“Yuuuk.” Aiden menarik tangan kanan Devan.


Devan mengangguk.


“Makanannya semua bikinan Bunda loh, masakan Bunda itu enaaaak banget.”


“Om percaya sih, masakan Bunda kamu pasti enak. Wanginya aja udah kecium sampe sini.”


Mereka bertiga berjalan mengikuti langkah Rissa.


“Lah, kebetulan banget ini makanan favorit aku semua.”


“Masa?” tanya Rissa.


“Iya serius.” Devan mengangguk.


“Bagus deh kalo gitu, jadi udah pasti bakal di makan ya.”


Devan, Alex, Aiden dan Livi sudah duduk di kursi meja makan, sedangkan Rissa masih sibuk memotong-motong klappertart nya.


“Mau aku bantu?” tanya Devan.


“Gak usah, ini udah selesai kok.” Jawab Rissa.


Meja makan itu berukuran cukup besar, dan di lengkapi dengan empat kursi. Dua kursi di sebelah kanan, dan dua kursi lagi di sebelah kiri.


“Kamu gak kebagian tempat duduk dong?” tanya Alex.


“Ada kok.” Rissa membawa kursi tambahan dari ruang tengah.


Dengan cepat Devan membantu Rissa untuk menarik kursi itu. “Biar aku aja yang bawain.”


Rissa mengangguk.


Akhirnya mereka berlima sudah duduk di kursinya masing-masing.


Makanan yang Rissa buat terasa sangat enak, hal itu berhasil membuat Alex dan Devan jadi ketagihan.

__ADS_1


“Aku paling suka sapa klappertart-nya sih, rasanya balance,” puji Devan.


“Cappucino ini juga manisnya pas banget, susunya juga kerasa.” Alex.


“Beruntung kan yang jadi suaminya? Tiap hari dimasakin terus sama si Rissa,” ucap Livi.


“Oh iya, suami kamu mana?” tanya Devan.


“Dia lagi ada kerjaan di luar kota,” jawab Rissa.


“Emang kerjaan dia apa?” tanya Devan lagi.


“Apa ya? Aku juga gak tau sih dia di kantor kerjanya ngapain aja.”


“Ohh pekerja kantoran.”


“Iya.” Rissa mengangguk.


Tiba-tiba asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Rissa masuk ke ruang makan tempat mereka berada.


“Eh, Nyonya sedang punya tamu ya?”


Livi jengkel dengan kedatangannya yang tiba-tiba. “Kenapa gak ngetuk pintu dulu sih, Bi?”


“Maaf Non Livi tadi saya lihat pintu rumahnya kebuka, jadi saya langsung masuk aja,” jawabnya.


“Ada apa?” tanya Rissa.


“Saya tadi udah selesai cuci baju, nyetrika, nyapu, ngepel, sama beres-beres. Jadi saya mau pulang sekarang ya, Nyonya?”


Rissa menghela nafas dalam, sikap ibu-ibu ini terasa semakin menyebalkan. “Baru juga jam setengah dua, Bi.”


“Ya kan asal udah beres aja kerjaannya.”


“Ya udah deh, Bibi boleh pulang.”


“Makasih Nyonya.” Wanita paruh baya itu lalu pergi tanpa permisi.


“Kok pembantu kamu error banget sih?” tanya Livi dengan penuh rasa kesal.


“Au ah aku juga pusing, ya udah aku balik dulu mau ngunci pintu.”


“Oke.”


Rissa segera kembali ke rumahnya.


Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali ke ruang makan dengan ekspresi wajah yang masam.


“Kamu kenapa?” tanya Devan.


“Beres-beres apanya? Teras rumah aja belum di pel. Perasaan rumah aku gak gede-gede amat deh, terus dari pagi dia itu ngapain aja? Masa nyuci baju sama nyetrika doang sampe tujuh jam? Lagian nyucinya juga kan pake mesin.”


Livi tertawa. “Hahaha, lagian sih nyomot pembantu kok bukan dari agen khusus?”


“Orang dia yang dateng sendiri ke rumah sambil mohon-mohon minta kerjaan.” Rissa kembali duduk di kursinya.


Devan menatap lekat wajah Rissa yang tampak sangat imut saat sedang marah.


‘Ekspresi kesalnya yang terlihat seperti itu jadi membuatku semakin ingin memilikinya.’

__ADS_1


__ADS_2