LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 17 : MASA LALU YANG KEMBALI DATANG


__ADS_3

Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya


Duduk di samping Leon. “Kan gue sibuk, gak beban keluarga kayak lu.”


“Tuh liat depan lu!” titah Leon.


“I-irene!” aku tertegun melihat keberadaanya di sini.


Tersenyum kepadaku. “Akhirnya aku bisa liat kamu lagi, Adam.”


“Ahh, iya.”


“Hampir tiga taun loh kita gak ketemu. Kamu pasti kangen aku kan? Penampilan kamu juga sekarang udah banyak banget berubah.”


“Sejujurnya enggak sih,” jawabku tegas.


“Hahahaha, gak usah malu-malu kaya gitu Adam. Kamu kira aku lupa? Kamu kan ngejar-ngejar aku banget.”


“Itukan dulu.”


“Sekarang udah enggak?” tanya Leon.

__ADS_1


“Gak! Gue udah punya orang lain sekarang.”


“Masa? Ko lu gak cerita?”


“Ngapain cerita? Gak penting juga gue nyeritain ke lu.”


Irene menghampiriku, kemudian dia duduk di pangkuanku.


“Yakin kamu udah bener-bener ngelepasin aku?”


“Kan kamu yang minta buat dilepas.”


“Pas itu aku belum dewasa loh, Dam. Coba aja waktu bisa di ulang, pasti aku gak akan kayak gitu.” Jari-jari tangannya masuk merayap ke dalam kemejaku.


Aku turun ke lantai satu dan memilih untuk memesan meja sendiri. Pikiranku saat ini benar-benar kacau, beberapa gelas Tequila mungkin bisa membuatku lebih tenang.


Aku menyalakan korek api dan mengarahkan korek itu ke atas. Tidak sampai semenit seorang pelayan wanita yang cantik dan sangat seksi menghampiriku.


“What can i get for you?”


“One bottle high-end Reposado Tequila.”

__ADS_1


“Ada lagi?”


“No.”


“Tunggu sebentar ya, Tuan.” Pelayan itupun pergi untuk mengambil pesananku.


Aku mengambil uang cash sebesar lima juta rupiah dari dalam dompet.


Beberapa saat kemudian.


“Ini pesanan dan bill-nya, Tuan.”


“Kalau aku mabuk berat dan belum pulang dari sini sampai jam dua nanti, tolong suruh salah satu pegawai untuk eminumnya dalam satu tegukan. Aku memang berniat untuk minum banyak malam ini, mungkin kepalaku akan terasa sangat pusing besok.


Aahhhh! Dulu wanita yang aku sukai malah meremehkan ku kemudian memilih Devan. Dan sekarang Rissa, hahaha. Keper*wanan calon istriku juga diambil oleh kepar*t itu.


Hei Devan! Apa kau tau kalau darah dagingmu sekarang aku yang mengurusnya? Aku mengurus dan menyayangi anak dari musuh bebuyutan ku sendiri. Bodoh memang, aku tidak tau hati dan otakku ini terbuat dari apa. Padahal lebih masuk akal jika aku buang saja anak si kepar*t itu, tapi aku malah mengurusnya dengan penuh kasih sayang.


Irene adalah cinta pertamaku, aku mencintainya sejak duduk di bangku SMA kelas satu. Di mataku dia adalah seorang malaikat tercantik yang turun ke bumi. Tapi saat itu aku belum seperti sekarang, sampai-sampai dia memanggilku dengan sebutan babi gempal.


Ya sebenarnya hinaan itu bagus untukku, karenanya aku jadi termotivasi untuk lebih banyak berolahraga dan mengurus diri. Saat usiaku delapan belas tahun, penampilanku sudah mulai berubah. Tapi itu tidak cukup untuk seorang dewi seperti Irene. Dia berkenalan dengan pria tampan yang keluarganya sangat kaya, Irene begitu tergila-gila padanya. Walaupun sikap pria itu sangat kasar dan brengs*k anehnya Irene tetap memuja dia.

__ADS_1


Saat kuliah aku sering dipermalukan olehnya. Tapi cinta membuat aku menjadi sangat bodoh dan buta. Aku tetap


__ADS_2