LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 30 : SIAPAKAH PRIA TADI?


__ADS_3

Adam menyuruh sopir untuk menjemputku tepat pukul tiga sore. Semua pegawai di sana terkejut saat melihat aku


“Iya Sayang, iya.”


"Nanti aku mau maen ke tempat kerja Bunda ya, boleh kan?" tanya Aiden.


"Yeeeyyy!!" Aiden bersorak.


“Ya udah sekarang lebih baik kamu istirahat, soalnya besok kan udah cape lagi.”


“Mau kok, tapi bentar lagi ya. Aku mau ke rumah Livi dulu, ada yang harus aku tanyain ke dia.”


“Oh oke, jangan lama-lama ya.”


“Iya, siap. Ya udah aku ke rumah Livi dulu ya.”


“Iya, Sayang.”


Aku bergegas mendatangi rumah Livi.


Tok--


Tok--


Tok--


“Liviii, buka dong.”


Tok--


Tok--


“Iya bentar,” jawab Livi dari dalam rumah.


Klaak--


Pintu itupun terbuka.


“Ada apa?” tanya Livi.

__ADS_1


Aku menarik Livi untuk masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintu.


“Eh, ada apa sih? Kok kaya mau ngomongin rahasia negara?”


“Aku mau nanya sesuatu.”


“Apa?”


“Di perusahaan kamu ada atasan yang ganteng tapi galak gak?”


“Emmm ada sih, tapi kenapa kamu tiba-tiba nanyain itu?”


“Jadi gini, di kafe tempat aku kerja tuh ada pelanggan yang bikin semua pelayannya ketar-ketir. Dia songong, sombong, galak. Katanya sih dia itu Boss di perusahaan kamu.”


“Emmm, pasti itu Pak. Devan. Sikap dia emang buruk banget, banyak pegawai yang gak suka sama dia. Dia itu manajer baru di perusahaan. Katanya sih perusahaan tempat aku kerja ini cuma salah satu dari puluhan cabang yang Kakeknya punya.”


“Oalaah, pantesan sombong banget.”


“Gak sih, gak pantes. Itu Adam kan orang kaya loh, tapi dia gak sombong. Malah kayaknya Adam lebih kaya dari si Devan sih.”


“Dia kali. Adam menyuruh sopir untuk menjemputku tepat pukul tiga sore. Semua pegawai di sana terkejut saat melihat aku


“Iya Sayang, iya.”


"Nanti aku mau maen ke tempat kerja Bunda ya, boleh kan?" tanya Aiden.


"Yeeeyyy!!" Aiden bersorak.


“Ya udah sekarang lebih baik kamu istirahat, soalnya besok kan udah cape lagi.”


“Mau kok, tapi bentar lagi ya. Aku mau ke rumah Livi dulu, ada yang harus aku tanyain ke dia.”


“Oh oke, jangan lama-lama ya.”


“Iya, siap. Ya udah aku ke rumah Livi dulu ya.”


“Iya, Sayang.”


Aku bergegas mendatangi rumah Livi.

__ADS_1


Tok--


Tok--


Tok--


“Liviii, buka dong.”


Tok--


Tok--


“Iya bentar,” jawab Livi dari dalam rumah.


Klaak--


Pintu itupun terbuka.


“Ada apa?” tanya Livi.


Aku menarik Livi untuk masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintu.


“Eh, ada apa sih? Kok kaya mau ngomongin rahasia negara?”


“Aku mau nanya sesuatu.”


“Apa?”


“Di perusahaan kamu ada atasan yang ganteng tapi galak gak?”


“Emmm ada sih, tapi kenapa kamu tiba-tiba nanyain itu?”


“Jadi gini, di kafe tempat aku kerja tuh ada pelanggan yang bikin semua pelayannya ketar-ketir. Dia songong, sombong, galak. Katanya sih dia itu Boss di perusahaan kamu.”


“Emmm, pasti itu Pak. Devan. Sikap dia emang buruk banget, banyak pegawai yang gak suka sama dia. Dia itu manajer baru di perusahaan. Katanya sih perusahaan tempat aku kerja ini cuma salah satu dari puluhan cabang yang Kakeknya punya.”


“Oalaah, pantesan sombong banget.”


“Gak sih, gak pantes. Itu Adam kan orang kaya loh, tapi dia gak sombong. Malah kayaknya Adam lebih kaya dari si Devan sih.”

__ADS_1


“Dia kali.


__ADS_2