LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)

LIKE A DANDELIONS (Proses Revisi)
BAB 25 : HARI YANG DINANTIKAN


__ADS_3

Novel sedang direvisi, mohon pengertiannya


“Ya udah, Tante mau ke kamar Aiden lagi ya. Gak liat mukanya beberapa menit aja rasanya udah kangen banget.”


“Haha, iya Tante.”


Tante Sarah berjalan menuju ke kamar tempat Aiden berada.


Andai saja aku menemukan teko ajaib seperti di film Aladin, pasti aku akan meminta agar Aiden jadi anak kandung Adam saja.


.........


Keesokan harinya


Pukul lima pagi aku sudah di dandani oleh seorang makeup artist profesional. Ku kira prosesnya tidak akan selama ini, ternyata sudah lewat tiga jam tapi persiapannya masih belum selesai.


Hari ini akan menjadi hari lamaran, sekaligus hari pernikahanku. Ada dua puluh orang yang di undang ke acara ini diantaranya ada Livia, bu Tuti, kedua orang tua kak Dessy, saudara kandung kak Dessy, dan beberapa kerabat dekat Adam.


Mereka semua pasti bertanya-tanya, dan merasa heran. Kenapa pernikahan kami diadakan seperti ini? Tapi karena keluarga ini berasal dari golongan elite yang berpendidikan, jadi mereka tidak banyak bertanya tentang hal-hal pribadi seperti ini.


Klaak--


Livia membuka pintu ruangan tempatku berada.


“Ini seriusan kamu, Ris?” Livi terkejut melihat penampilanku.


“Seriusan lah. Emangnya kenapa sih?”


“Gila kamu cantik banget.”


“Masa? Aku belum liat ke cermin sih. Miss-nya larang aku liat ke cermin sebelum semuanya selesai.”


“Parah sih, aku gak nyangka kamu bakalan jadi secantik ini. Gak keliatan kayak anak umur sembilan belas taun.”


“Kayak tua?”

__ADS_1


“Bukan tua, cuma lebih dewasa aja. Seriusan ini kamu keliatan cakep banget.”


“Miss, kapan beresnya ini? Aku pengen liat ke cermin.”


Memasangkan anting di kedua telingaku. “Nah, sekarang sudah selesai.”


“Udah boleh ngaca dong?” tanyaku.


“Boleh-boleh.”


Aku menghadapkan diri pada sebuah cermin besar yang sudah sedari tadi ada di belakangku.


“I-ini beneran aku?”


“Iya Nona,” jawab makeup artist itu.


“Beneran cantik kan?” Livi.


“Andai tiap hari aku bisa secantik ini.”


“Yaaa, semoga aja.”


“Warna sama model gaunnya cocok banget sama kamu.”


“Ini pilihan Kak Dessy, selera dia emang bagus banget.”


Livia membuka aplikasi photo di ponselnya. “Cepetan pose! Aku pengen ngambil photo kamu.”


“Pose kayak gimana?”


“Coba duduk terus nyender di pinggir lemari coklat itu.”


“Oke, bentar.” Aku mencoba bergaya sebisaku.


“Coba tangan kamu di bawah dagu,  terus matanya liat ke kamera.”

__ADS_1


“Gini?”


“Nah bagus, sip.”


Ckrek--


Livia mengambil photoku.


“Gilaaa, keren banget.”


“Mana? Aku pengen liat.”


“Nih.” Livi menunjukkan hasil photonya padaku.



Aku kagum saat melihat hasil photo itu, diriku jadi tampak seperti putri di film Disney.


.........


Seluruh tamu undangan sudah berkumpul di taman belakang rumah. Mereka duduk sembari saling berbincang satu sama lain. Sementara itu aku dan Adam hanya melihat mereka dari sebuah gazebo kecil yang ada di tengah taman.


Kak Teddy mengambil mic lalu memintaku dan Adam untuk berdiri di depan semua tamu undangan.


Sekarang adalah acara lamarannya. Ya tuhan, aku sangat gugup.


Ku pandangi Aiden yang sedang tidur di pangkuan Livi. Wajahnya yang polos tanpa dosa selalu bisa menjadi


“Hah? Apa?”


Menyebalkan! Dia pasti hanya berpura-pura tidak mendengar. Baiklah kalau itu mau mu, aku akan menjawabnya dengan lantang.


“IYA ADAM HAIDAR, AKU MAU MENIKAH DENGANMUUUU!!”


__ADS_1



__ADS_2