Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 9 (Yeon-Hwa)


__ADS_3

Saat aku terbangun, kami sudah berada di sebuah penginapan di Schere.


Tidak ada gunanya aku memarahi dua Naga cilik itu. Toh kami sudah sampai di Schere dengan selamat dan lima hari lebih awal dari yang kurencanakan serta menghemat ongkos perjalanan yang cukup besar. Shuu dan Kaze tampak puas saat aku kehilangan kata-kata untuk memarahi mereka. Di Orient mereka dianggap seagung Dewa dan Dewi, tak pernah sekali pun dalam hidupku aku ingin mengutuk Dewa dan Dewi sebesar aku ingin mengutuk mereka berdua karena membawaku terbang dalam keadaan tidak sadar. Aku mengurungkan niatku dan membiarkan mereka menang untuk kali ini. Sekarang kami tinggal memikirkan cara menyusup masuk ke Istana Schiereiland tempat tinggal Anna. Itu adalah bagian yang paling sulit.


"Kita tidak bisa datang begitu saja dan minta untuk dipertemukan dengan Putri Anastasia?" Tanya Kaze.


"Tidak bisa. Kita tidak sepenting itu."


"Kami penting. Kami adalah Naga Kembar." Shuu memprotes. Logat khas suku Jung ningratnya membuatku kesal.


"Oh, silahkan saja merubah wujud kalian menjadi Naga dan mengetuk pintu Istana! Kita lihat apakah mereka semua akan bersujud menyembah kalian atau justru menembaki kalian dengan panah dan tombak!"


Mereka pun terdiam. Sepertinya mereka paham bahwa di luar Orient, mereka tidak seagung itu. Aku jadi merasa tidak enak membuat Naga Kembar yang sebelumnya hanya ada dalam legenda jadi berkecil hati seperti itu.


Aku menghela nafas. "Lagi pula... tidak akan ada yang percaya kalau pun kalian menggembar-gemborkan identitas kalian sebagai Naga Kembar. Schiereiland bukan Orient." Kataku akhirnya. Tapi kata-kata itu tidak lantas mengobati rasa kecil hati mereka. "Bukan kah sebaiknya kalian tetap merahasiakan identitas kalian? Orang-orang Orient yang kehilangan kalian mungkin masih mencari kalian."


Shuu dan Kaze masih berdiam diri. Kali ini dari raut wajah mereka, aku dapat menebak, sepertinya mereka sedang mengingat sesuatu yang menyedihkan. Aku tidak berani bertanya. Tapi Shuu pasti membaca pikiranku sehingga dia menatapku dan menjelaskan dengan suara lirih,


"Saudari kami, Earithear, mati terbunuh di Schiereiland. Ratu kami mengatakan Earithear dihujani serangan anak panah beracun oleh tentara Nordhalbinsel yang saat itu menjaga wilayah perbatasan Schiereiland."


"Oh... Maaf... Aku sama sekali tidak tahu—“


"Tidak apa-apa." Jawab Kaze langsung. Terkadang anak perempuan manis itu lebih tegar dari yang terlihat. Dia bahkan memaksakan senyum padaku. Bukan berarti aku memaafkan tindakannya yang membawaku terbang saat aku tertidur.


Shuu dan Kaze kemudian saling bertatapan cukup lama. Aku yakin sekali mereka sedang bertelepati. Mungkin merencanakan hal licik lainnya.


"Kau pernah menjadi mata-mata di Istana Schiereiland." Kata Kaze kemudian. Aku tidak akan bertanya dari mana dia tahu. Mereka Naga Kembar. Aku tidak akan heran lagi. Shuu mungkin juga dapat mengetahui masa lalu seseorang selain membaca pikiran, kemudian memberitahukannya pada Kaze.


"Benar." Jawabku.


"Kalau begitu bagaimana caramu masuk ke Istana Schiereiland terakhir kali?" Kali ini Shuu yang bertanya.


"Ada sebuah acara besar." Aku memulai, "Pesta dansa kerajaan. Raja dan Ratu Schiereiland mengundang tamu dari berbagai negara termasuk Orient. Aku masuk dengan menyamar sebagai salah satu tamu dari Orient, salah satu selir Kaisar karena ada banyak sekali selir Kaisar yang datang ke pesta. Dan setelah berhasil masuk, aku menyamar menjadi pelayan dengan mencuri seragam pelayan di gudang penyimpanan. Lalu setelah pesta usai, aku menyamar menjadi seorang pengawal Istana dengan melumpuhkan salah satu pengawal yang sedang berjaga dan mengambil pakaiannya. Begitu seterusnya."


"Kedengarannya mudah." Kaze mengangguk. Shuu yang mengernyit sepertinya sama sekali tidak sependapat.


"Sama sekali tidak mudah." Sanggahku. "Terlebih lagi, kini Raja Alexis menutup rapat-rapat pintu Istana karena Schiereiland bisa dibilang masih dalam tahap pemulihan usai pengembalian takhta. Raja muda itu khawatir Schiereiland akan kembali direbut dari tangannya."


"Jadi tidak akan ada pesta dansa atau sejenisnya?" Shuu bertanya memastikan.


Aku mengangguk, "Untuk sementara ini, tidak akan ada. Paling tidak kita harus menunggu salah satu di antara Putri Anastasia atau Raja Alexis menikahi pasangan mereka. Baru lah gerbang Istana akan dibuka untuk perayaan."


Sambil mengatakan itu, aku menangkap kedua Naga cilik itu kembali saling bertukar pandang. Aku benar-benar berharap dapat ikut bertelepati bersama mereka sehingga aku bisa tahu apa yang mereka rencanakan dalam diam.


Kaze yang pertama berpaling ke arahku dan berkata sambil tersenyum menenangkan—yang sama sekali tidak membuatku tenang, "Tenang lah. Kami bisa masuk. Kau juga. Percayakan saja pada kami."


Aku tidak akan pernah bisa memercayai mereka.


...****************...


Esok harinya, aku mendapati diriku hanya seorang diri dalam kamar penginapan kami bertiga. Shuu dan Kaze tidak ada di mana pun. Aku berusaha untuk tidak panik. Mereka Naga Kembar. Mereka tidak akan mungkin semudah itu diculik. Sebuah kertas kecil berisi tulisan dengan coretan-coretan gambar di meja nakas membuatku bernafas lega.



"Kepada Lee Yeon-Hwa, Tunggu kami di sini. Jangan ke mana-mana. Akan ada yang datang menjemputmu ke Istana nanti. Dari Kaze dan Shuu."


Ada banyak gambar hati dan senyuman di kertas itu jadi aku tahu bahwa yang membuat suratnya adalah Kaze.


Siang harinya, aku mendapat undangan langsung dari Grand Duchess Smirnoff untuk mendampinginya dalam acara minum teh mingguan di Istana Schiereiland khusus para bangsawan. Aku bahkan tidak tahu siapa itu Grand Duchess Smirnoff, tapi para pengawalnya dan para pelayannya mendatangiku dan menyiapkanku untuk memasuki Istana sore itu. Grand Duchess Smirnoff, yang ternyata merupakan kerabat dekat dari keluarga kerajaan, memberiku gaun mewah dan mendandaniku sehingga aku terlihat seperti salah satu bangsawan Schiereiland. Kami pun masuk ke Istana tanpa dicurigai oleh siapa pun.

__ADS_1


"Yang Mulia Putri Anastasia memberitahuku untuk membawamu masuk. Setelah itu, lakukan apa yang mau kau lakukan. Aku akan memastikan kau dapat menemuinya dengan aman tanpa kendala apa pun. Kau hanya harus mengingat satu hal. Semua orang mengira Putri Anastasia bisu dan jiwanya masih terguncang akibat kejadian-kejadian yang dia alami belakangan ini sebelum pengembalian kekuasaan Schiereiland. Pastikan tidak ada siapa pun di sekitar kalian sebelum kau mulai mengajaknya bicara. Aku yakin kau lebih tahu cerita yang sebenarnya mengingat Putri Anastasia mengatakan padaku bahwa kau adalah temannya."


Begitu lah pesan dari Grand Duchess Smirnoff. Kuduga kami seusia, tapi entah karena pembawaannya atau karakternya, dia terlihat jauh lebih dewasa dariku. Untuk ukuran seorang Grand Duchess yang menempati posisinya karena warisan dan bukan karena pernikahan, bisa dibilang dia terlalu muda dan terlalu cantik.


Aku pun akhirnya berhasil masuk ke kamar Anna. Dia sedang duduk memunggungiku, menghadap ke luar jendela. Bahkan dari ambang pintu kamarnya, aku dapat melihat ratusan mawar bermekaran di luar jendela kamarnya. Kelopak-kelopak mawar itu semerah rambutnya yang terkena pancaran sinar matahari senja.


Setelah pintu tertutup rapat, baru lah dia menoleh ke belakang. Ke arahku. Senyumnya mengembang lebar sekali.


Aku sungguh tidak mengenalinya. Sudah berapa lama aku tak bertemu dengannya? Dia terlihat lebih kurus dari saat terakhir kami bertemu di Montreux, atau mungkin itu efek pemakaian korset yang luar biasa ketat yang juga sedang kukenakan saat ini. Rambut merahnya yang bergelombang kini sudah memanjang melewati bahu. Kepalanya dihiasi tiara dari emas dan permata. Dia mengenakan gaun khas Schiereiland bernuansa putih dan emas serta taburan berlian yang membuatnya tampak semakin bersinar. Sebuah kalung dengan permata emerald menggantung dengan cantik di lehernya. Dia persis seorang putri yang diceritakan dalam dongeng.


Dia tetap Anna yang sama, yang merawatku di ruang pengobatan Kastil Montreux, yang berjuang bersamaku mengikuti pemilihan pengawal pribadi di taman Tulip kristal Istana Nordhalbinsel, tapi mau tak mau aku langsung merasa ingin membungkuk penuh hormat di hadapannya begitu melihatnya. Dia benar-benar terlihat seperti putri kerajaan, sebagaimana dia seharusnya. Jika ada yang melihatnya saat ini, tidak akan ada yang percaya bahwa dia dapat bertarung dengan pedang.


Aku baru akan membungkuk padanya sebagaimana seharusnya sikapku terhadap seorang putri kerajaan, tapi dia langsung berlari menghampiriku dan memelukku erat. "Lama tak berjumpa, Honey!" Anna kemudian melepaskan pelukannya. Dia tersenyum lebar. Matanya berkilauan sewarna cahaya matahari. "Kudengar nama aslimu adalah Lee Yeon-Hwa. Kaze dan Shuu sudah menceritakan semuanya padaku. Kau lebih suka kupanggil dengan nama yang mana?"


Saat mengatakan itu, dua remaja Orient itu memperlihatkan diri mereka dari sudut ruangan yang tidak kuperhatikan sebelumnya sambil tersenyum jail dan melambaikan tangan padaku.


"Mereka datang semalam dan memberitahuku semuanya. Mari duduk, dan ceritakan semuanya dalam versimu padaku." Kata Anna.


...****************...


Jadi aku menjelaskan semuanya pada Anna. Tentang diriku. Tentang keluargaku. Tentang ibu dan ayahku dan siapa mereka sebenarnya. Kaze dan Shuu turut mendengarkan dalam diam. Aku yakin mereka sebenarnya saling berkomentar dalam telepati mereka.


Aku juga menceritakan tentang Serigala Salju sebesar kuda yang selama ini selalu mengejarku yang ternyata adalah Jenderal Elias Winterthur, saudara kembar Ratu. Aku jelas tidak dapat kembali ke Nordhalbinsel karena aku sudah mengusirnya dari rumahku. Tapi aku juga tidak mau kembali ke Westeria lalu menikah dengan Raphael Ortiz dan menetap selamanya di sana. Jadi aku meminta Anna untuk memberiku pekerjaan. Inilah alasan lain kenapa aku bersedia membantu Naga Kembar untuk menemuinya.


"Jadi singkatnya..." Anna bergumam seperti bicara dengan dirinya sendiri, "Kau membutuhkan pekerjaan yang bisa membuatmu jauh dari Westeria dan dari kejaran Serigala Winterthur, kau juga ingin perlindungan dan kepastian bahwa kau tidak akan hidup dalam kejaran siapa pun?"


Aku mengangguk dengan penuh antusias.


Anna menoleh pada Naga Kembar. Naga Kembar mengerjap, memandangi Ratu mereka dengan tatapan takjub dan memuja. Aku mulai curiga bahwa Anna juga bisa bertelepati dengan mereka.


"Aku harus memastikan satu hal. Apa kau benar-benar putri dari Lee Seo-Hwa, putri Orient yang menghilang bertahun-tahun yang lalu?"


"Kalau begitu, bukankah itu berarti kau pewaris sah takhta Orient yang sesungguhnya?"


"Aku tidak pernah berpikir demikian. Kurasa aku tidak cocok mengenakan mahkota."


Anna tertawa menanggapi. Aku mengernyit heran. "Maaf. Hanya saja... Kenapa kita bisa sepikiran soal mahkota." Mimiknya kemudian berubah serius dan penuh kebijaksanaan, dia mendadak berubah dari Anna, temanku, menjadi Putri Anastasia yang berwibawa atau malah reinkarnasi dari Ratu Agung Zhera yang tadinya kupikir hanya ada dalam legenda dan dongeng belaka, "Mahkota bukan soal cocok atau tidak dikenakan. Itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar yang harus diemban oleh seseorang yang pantas. Dan bukan kita sendiri yang dapat menilai pantas atau tidaknya. Pengalaman dan latihan akan membuat mahkota itu pantas diletakan di atas kepalamu. Tidak ada penguasa yang sempurna, hanya ada penguasa yang berpengalaman dan terlatih."


"Kau mengutipnya dari sebuah buku." Aku menebak.


Di luar dugaan, tebakanku benar. Anna tersenyum, "Sebuah buku yang tak sengaja kutemukan belakangan ini di perpustakaan. Dan itu sungguh menamparku saat aku membacanya. Karena sepertimu, aku juga pernah beranggapan bahwa aku tak cocok mengenakan mahkota."


"Itu juga menamparku. Baru saja." Aku kemudian mengalihkan topik, sebagian karena aku tidak mau memikirkan mahkota yang bisa saja kukenakan, sebagian lagi karena aku memang penasaran, "Jadi apa hubunganmu dengan Raja Xavier?"


Wajah Anna merona. Reaksinya adalah jawaban yang cukup untukku. Dia bahkan tergagap sebelum dapat menjawab dengan benar.


"Kami tidak—bukan—“


"Jadi kalian dulunya pasangan? Lalu sekarang bagaimana? Kau menyukainya? Maaf, pertanyaan bodoh, aku tahu. Memangnya ada orang yang tidak menyukainya? Oh! Apa mungkin... Kalian akan menikah? Tunggu... Jangan-jangan sudah?"


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan semua itu?"


"Kaze memperlihatkanku sesuatu yang menarik." Aku mengedikkan kepala ke arah Kaze yang kini duduk tegak dan tegang.


Anna melirik ke arahnya, menanti penjelasan.


"Hanya sepotong ingatan dari masa seribu tahun yang lalu." Kaze menjelaskan. Dia tampaknya tidak lagi menggunakan bahasa formal pada Anna. Shuu di sampingnya mengangguk setuju, mendukung saudari kembarnya.


"Ceritanya panjang." Jawab Anna kemudian setelah beralih kembali padaku. Tapi wajahnya yang bersemu kemerahan membuatku ingin menggodanya. Sudah lama aku tidak memiliki teman yang bisa digoda seperti ini.

__ADS_1


"Oh, ayolah, ceritakan saja. Kita punya teh dan camilan di sini, aku punya banyak waktu untuk mendengarkan ceritamu karena sekarang aku pengangguran." Kataku sambil mengangkat cangkir tehku dan mulai menyesapnya.


"Baiklah... jadi kau menginginkan pekerjaan?"


Kali ini aku duduk dengan tegak seolah temanku itu akan memulai wawancara sebelum mulai memperkerjakanku. Aku bahkan akan menerima jika dia memperkerjakanku menjadi pelayannya. Apa pun asalkan aku tidak perlu kembali ke Westeria dan Nordhalbinsel. Di Westeria ada masa lalu, Di Nordhalbinsel ada serigala. Keduanya sama buruknya bagiku.


"Lee Yeon-Hwa, maukah kau menjadi mata-mataku dan pergi ke Orient?" Tanya Anna akhirnya. "Kudengar kau punya pengalaman sebagai mata-mata."


Aku melemparkan tatapan tajam pada Shuu. "Aku memang punya pengalaman soal itu..." Kataku kemudian. Aku tahu cepat atau lambat aku harus mengakui hal ini pada Anna. "Aku minta maaf. Aku bersumpah tidak pernah membocorkan informasi penting apa pun tentang kerajaanmu pada Selena."


"Tidak apa-apa. Itu sudah berlalu."


"Jadi kau butuh mata-mata di Orient? Untuk mengawasi siapa tepatnya?"


"Putra Mahkota kekaisaran Orient. Pangeran Haru." Jawab Anna dengan mata berkilat-kilat.


...****************...


Pembicaraanku dengan Anna akhirnya membawaku ke Orient. Negeri yang—meski aku dan kedua orang tuaku berasal dari sana—tidak pernah kupijak sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah bermimpi akan menginjakkan kaki di tempat ini.


Rencana Anna cukup sederhana dan terkesan mudah. Aku akan masuk ke Istana Giok yang ditempati oleh Putra Mahkota Haru dan istrinya, Putri Mahkota Lee Sae-Byeok. Aku harus bisa masuk ke sana bagaimana pun caranya, entah mendaftar menjadi pelayan atau cara lainnya. Anna memercayakanku untuk urusan itu karena katanya aku berpengalaman dalam bidang tersebut. Aku akan mengawasi Pangeran Haru dan melaporkan setiap informasi yang kumiliki pada orang yang sudah di utus oleh Anna yang akan membantuku selama di Orient. Kemudian mereka akan menyampaikan informasi tersebut pada Anna dan Raja Xavier.


Anna pada akhirnya tetap tidak memberitahuku tentang hubungannya dengan Raja Xavier. Dia hanya mengatakan bahwa mereka bekerja sama secara profesional demi perdamaian antar negara dan hanya itu saja. Padahal ekspresinya, tingkah lakunya, sorot matanya dan caranya menyebut nama Sang Raja benar-benar tidak bisa membohongi siapa pun. Saat aku menanyakannya pada Shuu dan Kaze, mereka justru mengatakan hal yang lebih aneh dan tidak kumengerti,


"Mereka ditakdirkan untuk tidak bersama." Kata Shuu. Saat mengatakannya, dia lebih mirip dengan roh leluhur berusia ratusan tahun alih-alih remaja berusia lima belas tahun.


"Sayang sekali... Mungkin memang lebih baik begini." Kata Kaze, sambil setengah termenung seperti gadis muda yang sedang patah hati.


Saat aku baru akan menanyakan soal Jenderal Leon pada Anna, saat pertanyaan itu masih ada di pikiranku dan belum benar-benar ada di ujung lidahku, Shuu sudah terlebih dahulu melarangku. Kaze membisikiku agar jangan membahas Sang Jenderal yang terakhir kali kuketahui sedang ada di kediaman Ratu Eleanor.


Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak mencampuri urusan mereka. Aku hanya akan fokus pada pekerjaan baruku sebagai mata-mata.


Tepatnya, ada empat orang yang akan membantuku selama di Orient. Dua orang sudah cukup kukenal, dua lainnya sama sekali belum pernah kutemui. Dua orang yang sudah kukenal itu, tak lain dan tak bukan adalah Naga Kembar. Shuu dan Kaze.


Awalnya Anna tidak mengizinkan Shuu dan Kaze untuk kembali ke Orient. Mereka tidak aman di sana karena keberadaan para Torakka—orang-orang dengan mata Naga yang mungkin akan memburu mereka untuk diserahkan kembali pada Kaisar.  Tapi Shuu dan Kaze bersikeras ingin membantu Ratu mereka bagaimana pun caranya. Argumen Shuu memperkuat alasan itu.


"Kami mengenal Orient lebih baik dari Yeon-Hwa. Dia akan membutuhkan bantuan kami. Dan kami bisa menjadi perantara antara Yeon-Hwa denganmu." Shuu bahkan tidak lagi menyebutku dengan 'noona'. Cukup adil karena dia juga tidak bersikap formal pada Anna padahal dia Ratu mereka dan Anna sama sekali tidak keberatan.


Akhirnya, dengan berat hati, seperti seorang ibu yang melepaskan dua anak kesayangannya untuk pergi, Anna mengizinkan Shuu dan Kaze untuk ikut denganku. Aku sama sekali tidak keberatan. Paling tidak aku akan bekerja sama dengan dua remaja yang memiliki kekuatan dan kesaktian setara dengan Dewa dan Dewi.


Dua orang lainnya, yang menurut informasi dari Anna akan bisa membantuku, baru akan kutemui hari ini.


Aku tidak menghitung berapa hari tepatnya aku sudah berada di Orient, mungkin sudah dua minggu atau satu bulan. Aku sudah berhasil masuk ke Istana Giok sebagai salah satu pelayan untuk Putri Mahkota Lee Sae-Byeok. Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Informasi yang kudapat juga sudah tersampaikan baik pada Anna. Tapi Naga Kembar tidak bisa berkeliaran dengan bebas di jalanan Orient. Jadi Anna mengutus dua orang lainnya ini untuk menampung Naga Kembar juga untuk membantuku menyiapkan apa pun yang kubutuhkan.


Nama mereka adalah Diana Vinogradoff, wanita asal Schiereiland, dengan suaminya yang orang Westeria bernama Riz. Sepasang suami istri itu memiliki kedai anggur di daerah distrik merah pinggir ibu kota Jungdo. Kedai anggur itu bernama Dong-gung, Istana Timur. Dan aku baru paham kenapa dinamakan demikian setelah benar-benar sampai di tempat itu.


Dari luar, tempat itu tampak seperti salah satu rumah bordil yang ada di sepanjang jalan di daerah itu, namun lebih tertutup dengan pagar batu tinggi dan gerbang kayu yang senantiasa tertutup rapat. Orang yang melewati tempat itu akan mengira tempat tersebut adalah rumah bordil yang sudah lama tidak beroperasi. Atau mungkin hanya aku yang beranggapan demikian. Karena nyatanya, ada saja orang yang masuk ke dalam untuk menikmati anggur mereka yang katanya terkenal.


Setelah beberapa kali ragu, akhirnya aku memutuskan untuk membuka gerbang kayu itu. Aku langsung dibuat terpana pada arsitektur bangunan kedai tersebut. Mirip seperti bangunan Istana, namun jauh lebih kecil dari Istana asli. Sebuah kolam dipenuhi bunga lotus berada di tengah bangunan tersebut. Orang-orang yang datang pun tampak berasal dari berbagai negara. Sepertinya tempat ini menjadi favorit para turis asing.


"Selamat datang, kau ingin memesan sesuatu?" Tanya seorang pria yang kuduga berasal dari Westeria karena kulit gelapnya, tapi bahasa Orient-nya sempurna. Dia mengenakan pakaian tradisional suku Han, Hanbok, yang berwarna ungu tua. Lalu tatapanku tertuju pada matanya. Demi Naga Api Agung! Ini di luar dugaanku. Betapa terkejutnya aku, dia pemilik mata Amethyst, Klan Navarro dari Westeria. Mereka lah yang dianggap paling berbahaya di Westeria.


Aku berusaha untuk tidak gemetar ketakutan dan mengingat-ingat petunjuk dari Anna yang disampaikan lewat Naga Kembar beberapa hari yang lalu. "Aku memesan kue Lotus." kataku. Itu adalah kode yang harus kuucapkan untuk menyampaikan pada pasangan pemilik kedai anggur ini bahwa aku adalah mata-mata utusan Anna.


Pria itu tersenyum ramah. Seorang Navarro tersenyum ramah!


"Silahkan, lewat sini." Katanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2