
"Raja Ludwig mungkin akan meminta berunding dengan Anda untuk gencatan senjata." Suara seorang pria yang ada di dalam ruangan itu. Dari logatnya, aku yakin dia orang suku Jung.
"Pangeran." Suara dingin yang tenang dan lembut itu adalah milik Sang Putra Mahkota Orient, putra pertama Kaisar, Pangeran Haru.
"Maaf?"
"Dia Pangeran Ludwig, bukan Raja Ludwig. Dia belum menjadi Raja. Dia adalah adik tiri dari Raja Nordhalbinsel yang sekarang." Kata Haru. Aku sudah mencuri dengar pembicaraan ini selama kurang lebih setengah jam dan pembicaraan mereka berdua masih juga belum selesai. Kakiku mulai terasa pegal dan gatal. Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Serangga-serangga musim semi beterbangan di sekitarku. Aku benci serangga. Tapi ini informasi yang lumayan menarik. Pangeran Ludwig—yang sepertinya menggantikan Raja Xavier untuk sementara waktu entah karena alasan apa—akan datang ke Istana Matahari besok. Aku harus mendengarkan lebih banyak lagi meski serangga-serangga itu mulai menggangguku. "Selama Raja Xavier masih hidup, dia masih seorang Pangeran. Jadi apa pun yang dia lakukan, keputusan apa pun yang dia ambil, tidak bisa dianggap sebagai keputusan Raja. Kita tidak bisa—siapa di sana?"
Sial. Kakiku digigit serangga sehingga mau tak mau aku menggerakkannya sedikit tadi. Tak kuduga telinga Haru dapat menangkap suara gerakan sekecil itu.
Pintu terbuka, menampakkan Haru yang terlihat curiga. Otakku dengan cepat mengarang cerita yang masuk akal.
Aku mengingat-ingat kembali keberadaan semua anggota keluarga Kaisar saat ini. Kaisar sedang di aula utama, minum teh bersama Maharani. Putri Mahkota Sae-Byeok sedang jalan-jalan di taman menikmati pemandangan indah rembulan bersama para dayang. Siapa yang bisa kujadikan kambing hitam?
Aku memasang tampang takut, menunduk, membuat tanganku sendiri terlihat gemetar, dan merubah nada suaraku, selembut mungkin, semanja mungkin, "Ampuni saya, Yang Mulia. Saya dipanggil oleh Pangeran Ketiga. Sepertinya saya tersesat."
Haru tidak langsung menanggapi. Kudengar dia pintar, jadi aku yakin dia tidak akan semudah itu mempercayai kata-kataku. Aku harus memikirkan cerita lain untuk berjaga-jaga.
"Pangeran ketiga?" Tanyanya, memastikan. Sudah kuduga, dia tidak akan langsung percaya. "Kenapa Yuza memanggilmu malam-malam begini?"
"Sa-saya tidak tahu, Yang Mulia." Jawabku, dengan sengaja tergagap. Aku masih menunduk, menghindari tatapannya. Dia pasti bisa langsung tahu bahwa aku berbohong jika aku menatapnya.
Dari sudut mataku aku dapat melihat Haru sedang mengamatiku. Tatapannya penuh penilaian. "Kau si penari itu, benar?" Dia bertanya lagi seperti menginterogasi. Tapi kali ini suaranya lebih lembut. Aku mengangguk. "Yuza baru saja meninggalkan Istana Matahari untuk kembali ke Jungdo, perintah mendadak dari Kaisar. Sepertinya kau tidak perlu pergi menemuinya malam ini. Kau bisa kembali ke kamarmu. Ini sudah larut."
"Terima kasih banyak, Yang Mulia. Saya mohon undur diri."
Aku segera berbalik untuk kembali ke kamarku. Sebisa mungkin tidak berlari meski aku sangat ingin pergi dari sini secepatnya.
Tentu saja aku tahu Yuza mendapat titah dari Kaisar untuk kembali ke Jungdo dan menangani masalah pemberontakan di sana—pemberontakan dari rakyat yang timbul akibat rumor-rumor yang disebarkan oleh Elias atas perintah dari Raja Xavier. Aku mengamati seluruh pergerakan anggota keluarga Kaisar setiap hari dan menghafalnya lalu melaporkannya pada Elias jika dia berkunjung. Seperti itulah kami bekerja sama selama ini. Tapi belakangan ini sepertinya Elias sangat sibuk, sudah lama dia tidak datang berkunjung.
"Tunggu." Haru menghentikan langkahku. Jantungku berdegup kencang. Apa lagi kali ini? "Namamu... Yeon-Hwa, benar kan?"
Aku berbalik menghadapnya dan mengangguk. "Saya merasa terhormat Yang Mulia mengingat nama saya." Kataku dengan nada suara yang sengaja kubuat terdengar malu-malu. Aku benci bersandiwara seperti ini. Ingin rasanya aku membenturkan kepalaku sendiri ke dinding karena tindakan rendahan ini, tapi aku harus bertahan.
"Kau sangat mirip dengan seseorang, makanya aku ingat." Katanya.
Siapa? Aku hanya mirip dengan ibuku.
Oh.
Aku mirip dengan Ibuku. Aku mirip dengan Putri Lee Seo-Hwa. Aku mirip dengan saudari tiri ayahnya.
Bagaimana aku harus menanggapi ini? Bagaimana caraku berkilah agar Haru tidak mencari tahu tentang latar belakangku? Bagaimana caranya agar aku bisa segera menghilang dari hadapannya sekarang juga?
"Wakil Menteri Jiang..." Haru memanggil pria yang masih ada di dalam ruangannya yang sejak tadi bicara dengannya. Apa yang akan Haru lakukan? Kenapa dia memanggil Wakil Menteri Jiang? Apa mungkin dia mencurigaiku?
Pria itu keluar. Dia terlihat lebih tua dari suaranya. Usianya mungkin sama dengan ayahku, tapi dia terlihat jauh lebih tua karena dia sudah bungkuk sedangkan ayahku masih segar bugar meski buta. Jelas saja, ayahku dulunya panglima perang.
"Anda memanggil saya, Yang Mulia?"
"Wakil Menteri Jiang, untuk acara besok malam, apakah sudah ada penarinya?" Tanya Haru tanpa mengalihkan tatapannya dariku. Aku terus menunduk menghindari tatapannya.
"Saya akan mencari tahu—“
"Walau pun sudah ada, batalkan. Yeon-Hwa yang akan menjadi penari untuk acara besok malam."
Karena terkejut, aku pun mendongak menatapnya. "Saya?"
Saat itu, saat aku akhirnya benar-benar menatapnya dengan benar dari jarak dekat, aku jadi percaya perkataan orang-orang bahwa keturunan Kaisar memiliki darah naga dalam diri mereka sehingga membuat mereka awet muda. Jika perhitunganku tak salah, Haru seharusnya hanya beberapa tahun lebih muda dari ibuku, tapi dia tampak berusia tak jauh dariku. Mungkin seusia Elias. Kulit putihnya sempurna bak porselen mahal yang membuatku sangat iri padanya. Kulitku seperti kulit seorang ksatria wanita, tanpa perawatan khas bangsawan.
Dia tersenyum karena berhasil membuatku terkejut hingga melupakan peranku sebagai penari pemalu yang polos. "Oh, aku baru memperhatikannya sekarang. Namamu dan cara bicaramu seperti orang suku Han, tapi matamu menunjukkan bahwa kau berasal dari suku Jung." Aku terdiam, tak benar-benar tahu harus menjawab apa. Akan jauh lebih baik jika aku tidak perlu menjawab apa pun selama dia tak bertanya siapa orang tuaku. Haru menelengkan kepala, tampak menilai. Kemudian dia kembali bertanya, "Kenapa kau tampak terkejut? Kau tidak bersedia menari besok?"
Ya. Aku tidak bersedia. Aku lelah. Badanku sakit semua karena terus menari.
Tapi tentu aku tak mengatakannya. "Saya—“
Haru memotong perkataanku, "Besok akan datang tamu dari Nordhalbinsel. Pangeran Ludwig akan datang bersama tunangannya, Putri Anastasia dari Schiereiland. Orang-orang utara tidak pernah melihat tarian yang indah, itulah sebabnya aku ingin kau yang menari, untuk menunjukkan budaya dan seni negeri kita yang indah dan membanggakan. Aku menyukai tarianmu. Tunjukkan tarian yang kau perlihatkan di malam seribu bintang itu. Kurasa itu bukan permintaan yang sulit kecuali besok malam kau ada acara lain atau mendatangi kamar pangeran lainnya."
Aku berusaha menyembunyikan tanganku yang mengepal. Aku tidak boleh menunjukkan amarahku. Bersabar adalah kunci utama dalam pekerjaan ini.
Tunggu dulu... tadi dia bilang...
Putri Anastasia? Anna bertunangan dengan Pangeran Ludwig? Apa aku tidak salah dengar? Anna dengan Ludwig?
__ADS_1
Aku mendongak menatap Haru sambil tersenyum semanis mungkin, "Tentu saja saya bersedia untuk menari besok, Yang Mulia. Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk tampil di hadapan tamu luar negeri."
Haru tersenyum congkak. "Tentu saja. Kau boleh pergi sekarang."
Aku menunduk hormat padanya sebelum berbalik dan pergi. Aku sengaja memelankan langkahku untuk mendengar sisa-sisa percakapan mereka.
"Yang Mulia, mengenai persiapan besok, apakah ada permintaan khusus dari Putri Anastasia? Para wanita kerajaan biasanya lebih rewel soal penyambutan."
"Tidak ada yang khusus. Jangan terlalu dipusingkan. Kudengar Putri itu bisu."
"Lalu kenapa Pangeran Ludwig mau menikah dengannya?"
"Kenapa lagi? Sang Putri adalah kakak dari Raja Schiereiland. Tentu saja dia menikah dengannya untuk menguasai Schiereiland. Itu ambisi Nordhalbinsel sejak dulu." Ada jeda sejenak sebelum dia kembali bicara, aku menajamkan pendengaranku, "Tidakkah wajah penari itu mengingatkanmu pada seseorang?"
"Dia memang cantik, tapi ada sangat banyak wanita cantik di negeri ini, yang seperti itu banyak di rumah-rumah bordil, jadi saya pikir—“
"Bukan itu maksudku. Dia mirip dengan seseorang yang kita kenal."
"Siapa yang Anda maksud, Yang Mulia?"
"Seo-Hwa. Putri Lee Seo-Hwa."
...****************...
Dia bukan Anna. Pasti bukan.
Seharusnya aku tahu sejak awal bahwa Anna tidak akan setuju bertunangan dengan Pangeran Ludwig. Jadi tidak mungkin dia yang bertunangan dengan putra pertama dari Permaisuri Selena itu.
Aku berhasil membawakan tarianku dengan baik di hadapan semua orang malam ini. Sambil menari, aku mendengar bincang-bincang di antara mereka semua. Ludwig menawarkan kerja sama dengan Haru. Tujuan utamanya ke Orient bukan untuk perundingan gencatan senjata seperti yang diduga oleh Wakil Menteri Jiang, melainkan untuk menawarkan kerja sama dengan Sang Putra Mahkota—bukan dengan Kaisar.
Aku mendengar sesuatu tentang racun Morta. Aku tidak yakin, tapi sepertinya racun itu sangat mematikan dan terbuat dari sihir. Ludwig mengaku bahwa dirinya lah yang membuat racun itu setelah melakukan penelitian dan percobaan selama bertahun-tahun, kemudian seorang penyihir bernama Luna merebut hasil penelitiannya itu dan menjualnya pada Maharani dan Haru. Haru tampak tak terlalu percaya, tapi Ludwig berjanji akan membuktikannya. Dia mengatakan bahwa dia bisa membuat penawar racunnya dan memberikannya dengan gratis pada Orient dengan syarat Orient tidak menyerang Nordhalbinsel.
Penawaran itu pada akhirnya diterima oleh Haru setelah diskusi bisik-bisik yang cukup alot antara mereka berdua sepanjang durasi tarianku. Bukan tanpa syarat, tentu saja. Haru memberi waktu satu bulan untuk Ludwig menciptakan penawar racun tersebut. Tapi Ludwig mengatakan bahwa dalam waktu kurang dari sebulan dia akan menikahi Putri Anastasia dan tidak bisa fokus mengerjakan penawar racunnya karena persiapan pernikahan. Mereka kemudian sepakat bahwa Ludwig hanya punya waktu dua bulan untuk mempersiapkan penawar Morta.
Informasi ini akan segera kusampaikan pada Elias andaikan saja dia datang. Sudah berhari-hari dia tidak datang. Sesuatu yang tidak beres pasti sedang terjadi.
Tapi ada urusan lain yang harus kukerjakan saat ini sebelum memikirkan absennya penyampai pesanku itu.
Aku mengikuti Anna palsu saat dia izin untuk berjalan-jalan menikmati taman. Para pengawal mengikutinya, tapi kemudian dia menggunakan bahasa isyarat untuk menyuruh mereka semua meninggalkannya. Mereka tidak repot-repot untuk menolaknya dan segera menurutinya.
Anna palsu itu berbalik, dia menatapku. Kemiripannya luar biasa. Ini pasti sihir tingkat tinggi.
Tapi senyumnya berbeda. Anna lebih ramah. Senyuman si palsu ini dingin dan licik. "Kita pernah bertemu sebelumnya. Masa kau tidak ingat? Aku sengaja meminta Ludwig untuk tidak merubah suaraku karena aku tidak perlu berbicara untuk berpura-pura menjadi tunangannya yang bisu."
Tentu saja aku menghafal suara itu. "Grand Duch—“
"Sssttt..." Dia meletakkan telunjuknya di depan bibir. Dia Grand Duchess Constanza Smirnoff. Sepupu Anna. Mantan tunangan Pangeran Ludwig. "Ini rahasia. Jangan sebut nama asliku, nanti sihirnya bisa hilang."
"Tapi kenapa? Kenapa Anda yang datang ke sini? Di mana Anna? Apa yang terjadi sebenarnya?" Sebenarnya ada lebih banyak lagi pertanyaan di kepalaku yang ingin segera kuajukan, tapi untuk sementara ini, itu saja cukup.
Constanza tampak bingung. Dia bingung dalam wajah Anna, justru membuatnya jadi lebih mirip dengan Anna. "Masa kau belum diberitahu?" Dia balik bertanya.
"Diberitahu apa?"
"Putri Anastasia ada di negeri ini meski aku tak tahu pasti di mana. Dia berada di Orient kalau tidak salah sejak hampir dua bulan yang lalu. Aku cukup yakin kau sudah bertemu dengannya. Dia bersama Raja Nordhalbinsel itu ada di Orient."
...****************...
Saat tengah malam dan aku sudah cukup terlelap dalam tidurku, aku mendengar suara di kamarku. Padahal aku cukup yakin aku sudah mengunci pintu kamar dan menutup jendelaku rapat-rapat. Jadi itu pasti bukan orang biasa. Aku segera membuka mataku untuk mengonfirmasi dugaanku. Dan dugaanku ternyata benar. Elias datang.
"Anna dan Raja Xavier ada di Orient. Kau tahu itu?" Tanyaku langsung. Kami memutuskan bahwa aku boleh tidak menggunakan bahasa formal padanya karena akan memudahkan kami bekerja sama. Begitulah katanya. Tentu saja, aku setuju.
Elias tak langsung menjawab, dia menyerahkan sebuah kantung kain berisi kotak bekal. Aku langsung membukanya. Dia membawakanku kue Lotus. Aroma manisnya membuat perutku keroncongan. Aku segera memakannya dengan lahap, tak peduli meski sudah larut malam dan makanan manis dapat membuatku gemuk. Aku lapar.
Aku bukannya kekurangan makanan di Istana. Tapi aku tak tahu makanan mana yang aman untuk kumakan. Dan aku bukan anggota keluarga Kaisar sehingga tidak akan ada orang yang mencicipi makananku untuk memastikan bahwa tidak ada yang menaruh hal-hal aneh pada makanan yang akan kumakan.
Elias bersandar di dekat jendela usai mengamati dengan teliti seisi kamarku—setiap celah dinding, setiap perabot dan segala hal yang ada di kamar ini. Terakhir kali dia datang, dia berhasil menemukan satu lubang di dinding yang sepertinya digunakan oleh orang—entah siapa—untuk mengintipku. Dia sudah menambal lubang itu, tentu saja. Tapi bukan tak mungkin ada lubang lainnya.
"Itu yang kau ucapkan setelah hampir seminggu aku tidak datang?" Katanya. "Makan lah pelan-pelan. Aku tidak akan merebutnya kembali." Dia mengambilkan segelas air dan menaruhnya di meja samping ranjangku, kemudian duduk di tepi ranjangku.
Aku memelankan kunyahanku dan menelan, lalu meminum air itu. Perutku bersuka cita atas camilan larut malam ini. "Apa kabar?"
Elias mendengus. "Apa kabar?"
__ADS_1
"Jawab saja lah pertanyaanku. Jadi kau tahu atau tidak? Dan kau ke mana saja seminggu ini?"
"Aku baru tahu siang ini."
"Jadi Riz dan Diana..."
"Adalah Xavier dan Putri Anastasia—atau harus kusebut Ratu Anastasia sekarang. Benar. Itu mereka sejak awal."
"Astaga..." Jadi selama ini... "Apa kau tahu kalau Raja belajar memasak dan masakannya ternyata sangat enak?"
"Xavier? Memasak?" Dari ekspresi terkejutnya, kutebak Raja Xavier memang tidak biasanya seperti itu. Sudah kuduga. "Aku bahkan berani jamin dia tidak tahu cara memotong sayuran. Dia lahir dan besar dengan masakan koki Istana. Dia hanya tahu hasil akhirnya, mana tahu dia tentang cara membuat makanan?"
"Tak kuduga Raja bisa sampai seperti itu demi Anna." Tanpa sadar aku tersenyum, turut senang saat memikirkan betapa serasinya mereka. Betapa berbahagianya mereka.
Elias kemudian menatapku cukup lama sampai aku pikir dia sedang melamun. Tapi kemudian dia bertanya, "Apa kau suka pria yang bisa memasak?"
Aku sampai bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan aneh yang tiba-tiba itu. "Memangnya ada wanita yang tidak suka dibuatkan makanan? Apalagi oleh pria yang disukai. Ah, aku hampir lupa kau seorang bangsawan, wanita-wanita bangsawan tidak perlu bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan makanan untuk keluarganya. Wanita yang berasal dari kalangan rakyat biasa sepertiku, terutama di Orient, harus memasak setiap hari, tiga kali sehari, untuk seluruh anggota keluarga, seumur hidup."
"Seumur hidup... Itu pasti sulit sekali." Elias merenung. "Tapi kau kan bukan rakyat biasa. Kau saja yang tidak mau mengakui bahwa kau keturunan Kaisar."
"Sudah lah, aku tak mau menganggap diriku bagian dari mereka." Kataku. "Tapi... Kenapa kau tidak diberitahu oleh Raja? Maksudku, aku mengerti jika aku tidak diberitahu sejak awal, karena mereka masih harus menguji apakah aku dapat dipercaya atau tidak sebagai mata-mata utusan mereka. Tapi kau... Kau kan temannya Raja."
Elias tampak bingung sebelum menjawab. Kuduga dia juga tak tahu alasannya. "Sepertinya itu karena aku juga menyembunyikan sesuatu dari Xavier."
"Menyembunyikan apa tepatnya?"
Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya, "Jadi ada informasi apa yang mau kau laporkan?"
"Pangeran Ludwig dan tunangannya tadi ke sini." kemudian aku menceritakan semua hal yang kutahu dan semua detailnya. Tentang rencana Ludwig untuk membuat penawar racun Morta, tentang kesepakatannya dengan Haru, dan tentang Anna palsu yang ternyata adalah Constanza Smirnoff. Elias diam mendengarkan dengan seksama.
"Jadi... Ludwig bisa membuat penawar racun Morta?"
Aku mengangguk. "Dia berjanji akan selesai dalam dua bulan."
"Dia mungkin berbohong. Mungkin dia hanya mengulur-ulur waktu. Mungkin dia merencanakan sesuatu. Kita tidak bisa mempercayai Ludwig begitu saja."
"Kenapa? Setahuku Pangeran Ludwig memang terkenal jenius."
"Aku mengenal orang yang terkena racun itu. Dia sendiri tahu bahwa tidak ada penawarnya. Kau tahu apa yang diperbuat oleh racun itu?" Aku menggeleng. Elias menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Racun itu masuk ke pembuluh darah, memakan sel darahmu, memperbanyak diri dan menyebar hingga semua pembuluh darahmu hanya berisi racun. Lalu racun itu menghancurkanmu dari dalam. Menghancurkan seluruh organ tubuhmu, memaksamu memuntahkan darah yang merupakan hasil dari penghancuran isi tubuhmu dan akhirnya membuatmu mati. Normalnya proses itu terjadi dalam hitungan detik. Tapi untuk orang keras kepala yang memaksakan diri mau tetap hidup dan tidak mau mati sebelum memastikan bahwa dunia dan wanita yang dia cintai akan benar-benar aman, racun itu ajaibnya bisa bertahan di dalam tubuh jauh lebih lama. Tapi akhirnya tetap sama—kematian."
"Kau sepertinya sangat dekat dengan orang yang terkena racun itu. Siapa? Apa dia masih hidup sampai sekarang?"
"Jangan tanya. Intinya, racun itu sangat mematikan dan tidak mungkin ada penawarnya."
"Kenapa begitu pesimis? Siapa tahu Pangeran Ludwig memang bisa membuat penawarnya. Kalau memang benar dia yang membuat racun itu, bukankah ada kemungkinan dia bisa membuat penawarnya?"
"Sungguh aku juga berharap demikian. Tapi pikirkan ini... Untuk apa Ludwig memberikan penawar racun pada Orient? Dan kenapa harus lewat Haru? Kenapa dia tidak langsung berdiskusi dengan Kaisar? Tidakkah menurutmu ini mencurigakan?"
...****************...
Tiga hari setelah kedatangan Elias, pihak Istana mengumumkan berita duka. Kaisar Qin meninggal dunia, diduga akibat serangan jantung. Anehnya, aku sempat melihat jasad Qin sebelum dia dikremasi, dan kulitnya sangat pucat dengan pembuluh darah menonjol berwarna hitam. Itu bukan tanda-tanda orang yang terkena serangan jantung.
Dalam waktu singkat, Haru diangkat menjadi Kaisar, dan dia melakukan perombakan total pada seluruh kekaisaran. Dia mengisi posisi-posisi penting dalam pemerintahan dengan para pemuda dan pemudi cerdas yang lolos ujian. Dia adalah Kaisar Orient pertama yang mengadakan sistem ujian yang dapat diikuti oleh seluruh warga sipil baik kaya maupun miskin. Dia juga menangkap para pejabat korup dan memberi hukuman gantung di depan seluruh rakyat agar tidak ada lagi pejabat yang berani melakukan korupsi.
Haru dipuja-puja sebagai Kaisar yang adil dan bijaksana. Kecerdasannya adalah aset berharga bagi Orient. Para pejabat kemudian mulai sering berdatangan memintanya untuk segera memiliki anak-anak yang akan mewarisi kecerdasannya, mereka menawari putri-putri mereka untuk menjadi selirnya.
Meski usia pernikahannya dengan Sae-Byeok sudah delapan tahun, mereka masih juga belum dikaruniai oleh seorang anak. Hal ini meresahkan Ibu Suri. Akhirnya Ibu Suri turun tangan langsung untuk membujuk Haru agar mengadakan pemilihan selir. Setelah diskusi alot selama berhari-hari, Haru akhirnya menyetujui permohonan Ibu Suri dengan syarat Maharani Sae-Byeok sendiri lah yang akan menjadi juri untuk pemilihan selir tersebut.
Setelah Jungdo cukup aman dan pemberontakan mereda semenjak kematian Qin serta penobatan Haru menjadi Kaisar, seluruh keluarga Kaisar yang tinggal di Istana Matahari akhirnya akan kembali ke ibukota itu. Rakyat Jungdo bersiap menyambut kedatangan Kaisar baru mereka. Semua orang tampak berbahagia. Termasuk aku. Karena akhirnya, aku akan bisa kembali pulang ke Dong-gung.
Aku sudah selesai mengemasi barang-barangku untuk segera pulang ke Dong-gung sebelum pemilihan selir dimulai dan Istana menjadi semakin ramai, namun seseorang mengetuk pintu kamarku.
Aku segera membuka pintu dan mendapati seorang wanita cantik jelita di hadapanku. Aku buru-buru membungkuk penuh hormat saat menyadari siapa wanita itu.
Maharani Orient yang baru. Lee Sae-Byeok.
Tanpa basa-basi, Sae-Byeok mendorongku masuk kembali ke kamar dan menutup rapat pintu kamarku. Dia menatapku dengan dingin.
"Dengarkan baik-baik, Penari. Aku sudah tahu siapa kau." Suaranya terdengar seperti nyanyian dewi-dewi. Begitu merdu dan memikat. Namun kata-katanya membuat sekujur tubuhku gemetar ketakutan. "Kau adalah mata-mata yang dikirim oleh Raja Nordhalbinsel. Dan kalau kau pikir kau bisa pergi dari sini, kau salah besar. Kau tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan memastikan kau tidak akan bisa pergi ke mana pun."
Tidak mungkin. Aku tidak mungkin tertangkap. Dia tidak mungkin tahu siapa aku.
Sae-Byeok menatapku dengan tajam sebelum dia melanjutkan kalimatnya. "Kau akan menjadi Selir Kaisar dan memastikan posisiku sebagai Maharani tetap aman."
__ADS_1
...****************...