
Aku tidak akan pernah bisa terbiasa dengan pantulan diriku di cermin. Kulit halus sempurna tanpa bekas luka, rambut merah panjang yang membingkai wajah oval yang tampak lembut, mata cokelat keemasan, bibir merah alami dan bulu mata yang lentik ini semuanya bukan milikku. Ini bukan wajahku.
Saat aku sedang menghapus riasan wajahku, memperlihatkan wajah cantik natural sepupuku di cermin, seseorang mengetuk jendela kamar ini—kamar Anastasia, bukan kamarku. Aku sudah tahu siapa yang mengetuk karena aku memang sedang menanti kedatangannya. Dengan cepat aku menyelesaikan menghapus riasan wajah lalu membukakan jendela balkon kamar ini.
Ludwig tidak langsung masuk, dia masih berdiri di balkon, "Pertemuan dengan para bangsawan berlangsung lebih lama dari dugaanku. Maaf aku terlambat, Constanza." Katanya.
Dan dengan perkataannya itu, dengan menyebut namaku, wajahku kembali. Rambut hitamku kembali. Bekas luka di wajahku kembali. Betapa aku sangat merindukan menjadi diriku sendiri. Aku mundur beberapa langkah untuk memberi jarak agar Ludwig bisa masuk. Tapi dia hanya berdiri diam di sana sambil menatapku.
Aku selalu suka saat dia menatapku seperti itu. Seperti dia tak bisa melihat hal lain di sekitarnya dan hanya ada aku. Aku tahu dia terpesona padaku, seperti halnya aku yang selalu terpesona setiap melihatnya meski aku enggan mengakuinya. Aku tahu dia masih mencintaiku, seperti aku yang masih mencintainya. Aku tak bisa membencinya bahkan jika aku berusaha. Jadi aku menyerah mencoba membencinya.
Apakah dia tahu bahwa saat ini pun jantungku berdebar karena tatapannya?
"Kau mau berdiri di sana saja?" Tanyaku, berusaha menjaga nada bicaraku sedatar mungkin.
"Kau mengizinkanku masuk?"
"Apa ada alasan aku tidak mengizinkanmu masuk? Kau perlu undangan terlebih dahulu?" Aku berbalik memunggunginya, masuk ke dalam kamar terlebih dahulu agar dia mengikuti. Sebenarnya, itu karena aku tidak ingin dia melihat wajahku merona. "Masuk lah, Ludwig. Kau kan bisa langsung berteleportasi ke dalam kamar, untuk apa mengetuk?"
"Karena ini bukan kamarku."
Aku tertawa mendengarnya, "Ini juga bukan kamarku."
"Tapi kau ada di dalam sini."
"Lalu?"
"Tidak sopan jika aku masuk kamar wanita begitu saja, terlebih di malam hari."
"Dasar para pria utara dengan kesopanan kalian yang membuatku frustasi—Kenapa? Ada apa di sana? Apakah ibumu melihat kita?" Tanyaku saat melihat Ludwig melihat ke arah luar jendela.
"Tidak ada apa-apa." Katanya tanpa menatapku. Telinganya memerah. Wajahnya memerah. Aku bisa melihatnya bahkan meski dia berusaha menyembunyikannya. Dia berdehem, "Hanya saja... Kau memakai pakaian tidur. Kau mau berpakaian dulu sebelum kita mulai bicara?"
Aku menghela nafas frustasi. "Tidak. Aku akan begini saja. Ini sudah malam dan aku sudah sangat lelah berpura-pura menjadi sepupuku sepanjang hari. Aku mau tidur. Aku tidak mau berganti pakaian lagi. Kau tahu berapa kali aku berganti pakaian hari ini? Delapan kali! Saat sarapan, saat minum teh, saat pergi ke perpustakaan, saat menemui desainer gaun pengantin untuk pengepasan terakhir, saat makan siang, saat berjalan-jalan di taman, saat bertemu dengan Alexis, dan saat makan malam. Jadi terserah kau mau bicara atau tidak, aku tidak mau repot-repot berganti pakaian lagi."
Aku duduk di sofa panjang, namun Ludwig tidak duduk di sampingku. Dia duduk di seberangku, tampak menjaga jarak dariku. Aku berusaha mengabaikan sikapnya itu dan menuangkan segelas anggur untuknya. Aku menyimpan beberapa botol anggur di dalam kamar Anastasia sekedar untuk berjaga-jaga jika aku sedang membutuhkannya.
"Bukankah para putri kerajaan memang biasanya seperti itu?" Tanyanya sambil menyesap anggurnya. Aku berusaha untuk tidak memandangi bibirnya. Aku iri pada gelas anggur sialan itu.
"Mana aku tahu. Aku kan bukan putri kerajaan." Aku menenggak habis isi gelasku. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa haus.
"Kau Grand Duchess." Katanya. Seolah itu menjelaskan semuanya. Padahal aku baru beberapa minggu mengambil alih tugas-tugas ayahku dan menjadi Grand Duchess. Ludwig tampak akan menuangkan anggur untukku, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia teliti. Dia melihat tiga botol anggur kosong yang kusembunyikan di meja rias, "Kau sudah minum terlalu banyak."
"Kalau kau belum tahu, Grand Duchess tidak berganti pakaian sesering bernafas." Balasku. Ludwig masih mengalihkan pandangannya dariku, jadi aku mengambil mantel dan menutupi diriku dengan mantel itu. Kami seperti kembali lagi ke titik awal, ke waktu dimana dia masih bersikap kaku padaku waktu kami baru bertunangan dulu. Aku merindukan dirinya yang tidak bersikap sungkan padaku. "Kau ini aneh. Padahal dulu kau sudah biasa melepas pakaian tidurku."
"Astaga, Constanza!"
"Apa? Tidak ada yang dengar." Protesku. Aku baru akan mengambil botol anggur yang dia letakkan di atas meja di antara kami itu, tapi dia buru-buru mengambilnya dan menjauhkannya dariku.
Kini dia sudah bisa menatapku. Wajahnya memerah. "Itu karena dulu aku tunanganmu. Dan dulu kita berencana untuk menikah."
"Sekarang bukan? Lalu cincin apa ini?" Tanyaku sambil memperlihatkan cincin pertunangan yang seharusnya ada di jari Anastasia. Cincin itu terlihat biasa saja jika dibandingkan dengan cincin pertunangan kami yang kulempar padanya di hari saat kedua orang tuaku dibunuh. Tapi tetap saja cincin itu sangat mewah dengan permata amber yang berkilauan.
"Aku bertunangan dengan sepupumu."
"Jadi kau benar-benar akan menikah dengannya?" Tanpa sadar aku menaikkan nada suaraku. Aku tahu maksudnya bukan begitu, tapi tetap saja aku tak bisa tak cemburu.
"Tidak." Jawabnya langsung. Dia berjalan menuju meja rias milik Anastasia tempat aku menaruh botol-botol anggur yang baru selesai kuhabiskan. "Kenapa kau minum banyak sekali? Apakah ibuku bersikap buruk padamu hari ini?" Tanyanya, mengalihkan topik mengenai pernikahannya.
Selena, mantan calon mertuaku itu, terlalu sibuk sehingga tak benar-benar memerhatikan bahwa Putri Anastasia yang hendak dia singkirkan itu sedikit berubah. Aku tidak bisa benar-benar meniru Anastasia. Dia dilahirkan sebagai Putri Schiereiland. Meski sebagai putri sulung dari Grand Duke sebelumnya aku juga mempelajari tata krama kerajaan, tapi aku berbeda dengannya. Aku tidak berjalan seanggun dirinya, aku tidak bisa duduk setegak dirinya, dan jika Selena teliti, dia seharusnya dapat melihat bahwa kami benar-benar berbeda.
Aku memanfaatkan ketidaktahuannya itu dengan sedikit bermain-main dengannya. Aku sungguh baik hati dan penuh kasih sehingga aku tidak langsung memasukkan racun ke dalam minumannya bahkan setelah apa yang dia lakukan terhadap negeri ini. Menurutku aku berhak untuk membalas dendam padanya. Karena Selena lah para penyihir dari Nordhalbinsel masuk ke Schiereiland dan mengambil anak-anak negeri kami untuk dijadikan budak. Karena dia lah, Morta milik Ludwig digunakan secara bebas oleh para tentara Nordhalbinsel sehingga orang tuaku terbunuh. Aku seharusnya memiliki kebencian yang cukup untuk bisa membunuhnya, tapi nyatanya aku hanya memasukkan obat pencahar ke dalam supnya. Aku juga melakukan hal lain untuk mengganggunya selama ini seperti mengacaukan jadwal tidurnya dengan memasukkan kafein dalam air minumnya sehingga dia tidak dapat tidur semalaman, dan banyak hal lainnya yang kulakukan untuk mengganggunya. Semua itu kulakukan karena aku tidak dapat membunuhnya. Selena, seburuk apa pun dirinya, dia menyayangi anak-anaknya meski cara yang dia lakukan salah. Dia menyayangi Ludwig, dan Ludwig sangat menyayangi ibunya itu. Sedangkan aku yang paling tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang Ibu.
"Luna sepenuhnya mengabaikanku." Kataku akhirnya. Tentu saja aku tak mengatakan bahwa aku mengganggu Ibunya sepanjang hari. "Dia terlalu sibuk merayu Alexis dan memengaruhinya. Alexis sudah seperti bonekanya saja, menuruti semua perkataannya. Anak malang." Aku mengambil botol-botol anggur itu dan menyembunyikannya di bawah ranjang agar tidak ditemukan oleh para pelayan besok pagi. Aku tidak memberitahu Ludwig bahwa aku banyak minum anggur karena sedang banyak pikiran. Terutama tentang pernikahannya.
"Jadi Ibuku masih tak tahu kalau kau bukan Putri Anastasia sungguhan kan?"
"Tentu saja. Kalau tidak dia pasti sudah membatalkan rencana pernikahanmu dengan Anastasia." Bahkan mengucapkannya saja terasa tak tepat. Padahal aku tahu Ludwig tidak akan menikah dengan Anastasia. Aku tahu bahwa yang akan berdiri di altar nanti adalah diriku sendiri dan bukan Anastasia, tapi tetap saja aku tidak suka menyebutnya sebagai pernikahan mereka. "Pernikahannya besok." Pada akhirnya aku menyuarakan kegelisahanku itu.
Ludwig mengangguk. "Jadi kau mau pergi besok atau sekarang? Kalau kau bersedia, aku bisa mengantarmu dengan teleportasi."
"Lalu apa kata orang-orang nanti? Sang Putri kabur di hari pernikahannya? Itu bisa merusak hubungan kedua kerajaan yang baru saja membaik."
"Sebenarnya, aku tidak masalah—“
"Aku yang menganggapnya sebagai masalah." Potongku langsung. Ludwig diam, berpikir. Aku selalu penasaran apa yang ada di dalam otak cemerlangnya itu. "Apa yang kau pikirkan?"
__ADS_1
"Cara agar bisa menggagalkan pernikahan ini. Aku tidak mau menikah dengan Putri Anastasia."
"Tidak perlu digagalkan. Menikah saja denganku."
Apa yang baru saja kukatakan? Kenapa aku mengatakannya! Tapi sudah terlambat untuk menarik perkataanku itu.
Ludwig tampak terkejut. Sangat terkejut sampai dia tidak dapat berkata-kata. Aku suka saat dia yang jenius, serba tahu, dan seolah dapat mengetahui segalanya, menunjukkan ekspresi seperti itu. Membuatnya terlihat jauh lebih manusiawi dan lebih dapat digapai. Dibanding topeng dinginnya yang selalu dia perlihatkan pada semua orang, sebagai pangeran yang maha sempurna, sebagai penyihir jenius, sebagai perebut takhta, aku lebih suka Ludwig yang apa adanya seperti ini. Sosok yang hanya dia tunjukkan saat di hadapanku.
Ludwig masih mematung, jadi aku mengulangi kata-kataku untuk memperjelasnya bahwa aku memang benar-benar telah mengatakannya. Karena jika tak kukatakan sekarang, mungkin dia akan selamanya tak tahu isi hatiku. Mungkin takkan ada kesempatan lain. "Menikah lah denganku. Besok."
"Kupikir kau membenciku." Dia tampak bingung. Sudah kuduga, dia masih berpikir bahwa aku bisa membencinya. Aku bisa membenci semua orang di dunia ini, tapi aku tidak akan pernah bisa membencinya.
"Benar. Kau tidak akan bisa membayangkan betapa aku sangat membencimu. Aku membenci dirimu yang tidak peka. Aku benci kau menganggap bahwa aku benar-benar mampu membencimu. Aku membenci dirimu karena kau tidak pernah bisa keluar dari pikiranku sepanjang hari dan setiap waktu. Aku membenci dirimu karena kau membuatku tak bisa berhenti mencintaimu bahkan setelah semua yang terjadi dalam hidupku. Aku membenci—“
Kata-kataku terhenti saat dia mulai menciumku.
...****************...
Sebenarnya aku tidak ingin bangun. Aku lebih tidak ingin lagi meninggalkan tempat tidur ini. Lalu aku sadar kami bukan berada di tempat tidur Anastasia. Bukan di kamar Anastasia. Semalam dia membawaku ke sini dengan sihir teleportasi.
Langit masih gelap. Matahari belum terbit meski sudah pagi. Jadi aku tahu bahwa kami berada di Nordhalbinsel, di salah satu mansion milik Ludwig, entah yang mana. Aku tak benar-benar yakin berapa banyak mansion yang dia miliki.
Ludwig di sampingku, masih terlelap dalam tidurnya. Aku tertidur di lengannya, dalam pelukannya. Persis seperti saat-saat dulu sebelum aku membatalkan pertunangan kami. Sekarang kami sudah kembali bersama.
Aku memperhatikan wajahnya yang sedang tertidur dari dekat. Dia tampak tidur dengan damai, seolah beban satu negara tidak ada di pundaknya. Napasnya terasa hangat di kulitku, dan aku berusaha melawan keinginan untuk menciumnya lagi. Nanti saja jika aku ingin membangunkannya. Untuk saat ini, selama beberapa menit saja, aku ingin menikmati kebersamaan ini.
Aku membelai rambutnya yang halus dan berwarna putih itu. Selena memiliki warna rambut yang sama. Ludwig pernah berkata bahwa itu ciri khas orang Clera. Tapi aku bercanda dengan mengatakan bahwa rambutnya putih karena dia terlalu banyak berpikir.
Aku mengecup bibirnya dengan lembut. Dia membuka matanya perlahan dan aku langsung merasa tenggelam dalam tatapannya. "Selamat pagi." Ucapku.
Tapi Ludwig hanya menatapku dalam diam, tidak mengucapkan sepatah kata apa pun dalam beberapa detik selanjutnya. Jadi aku kembali bicara, "Ini hari pernikahan kita. Para pelayan di Istana akan mencari Putri mereka."
"Kau..." Pupil matanya melebar. Suaranya masih serak karena baru bangun tidur. "Kau bukan mimpi?" Tanyanya.
Aku tersenyum padanya, dan mengecupnya lagi. "Apa ini terasa seperti mimpi? Apa semalam rasanya seperti mimpi?"
Dia memelukku dengan erat. "Setiap malam aku memimpikanmu. Jadi kupikir ini juga mimpi."
"Apa aku juga tak berpakaian dalam mimpi-mimpimu?"
Dia tertawa.
Dia tersenyum. Aku dapat merasakan cintanya dari caranya menatapku. "Jangan mimpi buruk lagi, Constanza. Mimpikan aku saja, jadi jangan bermimpi buruk lagi."
...****************...
Ludwig membantuku berpakaian dan membawaku kembali ke kamar Anastasia di Istana Schiereiland sebelum matahari benar-benar terbit. Tapi seseorang ternyata sudah menanti kami di sana. Bukan seseorang, melainkan dua orang. Seorang pria dan wanita. Aku bernapas lega saat melihat rambut merah wanita itu.
"Constanza!" Dia memekik girang dan langsung memelukku saat melihatku di balkon. "Kami mencarimu. Aku terkejut sekali saat melihat kamar ini kosong. Kau dari mana saja?"
Aku baru akan menjawab, memutar otak untuk memberikan alasan yang masuk akal tanpa menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Tapi Ludwig terlebih dahulu menggenggam tanganku dan berdiri di sampingku. "Maaf membuatmu khawatir, Yang Mulia. Aku membawanya ke rumahku semalam." Kata Ludwig.
Anastasia menatap kami berdua bergantian, lalu tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku mengerti."
Kali ini aku balas menatap mereka berdua bergantian. Anastasia dan Xavier sebelumnya memang terlihat dekat. Tidak, mereka sepasang kekasih tentu saja mereka tampak dekat. Tapi ada yang berbeda dari kedekatan mereka kali ini. Rasanya seperti sebuah jarak tak kasat mata yang sebelumnya ada, kini sudah menghilang. Aku tak tahu apa saja yang terjadi pada mereka selama di Orient, tapi sepertinya itu membuat jiwa mereka menyatu. Apa aku melewatkan sesuatu?
Oh, aku memang melewatkan sesuatu. Aku langsung mengarahkan pandanganku ke arah jari manis Anastasia dan mendapati sebuah cincin di sana. Cincin dengan permata ruby. Sepertinya aku tak perlu bertanya untuk memastikan.
"Apa ibumu tahu?" Tanya Xavier pada Ludwig. Dia menggenggam tangan Anastasia dengan sikap protektif yang bisa membuat siapa pun iri.
"Tidak." Jawab Ludwig.
"Ada perlu apa kalian ke sini? Apakah urusan di Orient sudah selesai?" Aku bertanya.
Anastasia yang menjawab pertanyaanku, "Kami berencana kembali ke Nordhalbinsel segera, tapi sebelumnya kami harus menyelesaikan masalah pernikahan—“
"Tunggu sebentar." Aku memotong perkataannya karena mendengar kalimat yang ganjil. Kami berencana kembali ke Nordhalbinsel. Anastasia mengatakannya seolah rumahnya ada di sana. Seolah dia tinggal di sana. "Kau mau ke Nordhalbinsel? Untuk apa?"
Kali ini Xavier yang mewakilinya menjawab pertanyaanku. "Kami sudah berunding dan memutuskan bahwa lebih baik kami segera kembali ke Nordhalbinsel karena kami harus mengadakan pesta pernikahan yang resmi di sana, penobatan Anna menjadi Ratu, dan juga nantinya Anna akan melahirkan di sana, jadi—“
"Sebentar!" Potongku lagi. Aku menatap mereka berdua bergantian. Lalu aku melirik ke arah Ludwig yang juga sama bingungnya. Tatapannya seolah mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa. "Aku bingung."
Sepupuku sepertinya mengerti kenapa aku bingung, jadi dia langsung menjelaskan dengan cepat. "Kami sudah menikah. Aku hamil. Dan Xavier rewel ingin mengirimku ke Westeria karena katanya di sana lebih aman. Jadi aku berkata bahwa lebih baik kami kembali saja ke Nordhalbinsel sekalian. Perubahan rencana karena situasi di Orient sudah berubah sejak Qin tewas dan Haru diangkat menjadi Kaisar."
"Dan dengan begitu situasi di sana semakin rumit sehingga tidak bisa diselesaikan dengan cara kami menyamar dan tinggal di sana. Sekarang akan jauh lebih efektif untuk mengawasi Haru dari jauh dan berusaha menjalin hubungan baik dengan kekaisaran secara diplomatik. Aku butuh kembali menjadi Raja untuk melakukannya." Kata Xavier. Dia menunjukkan kalimat terakhir itu pada Ludwig.
__ADS_1
"Akhirnya hari ini tiba juga." Ludwig tampak lega dan senang. Aku tak tahu dia merasa tertekan menjalankan tugas menggantikan kakaknya selama ini. "Aku sudah lelah. Kau bisa mengambil takhtamu kembali."
"Jadi kenapa kalian tidak langsung kembali ke Istana Utama? Kenapa malah ke sini?" Tanyaku.
"Ini hari pernikahan mereka." Perkataan Xavier merujuk pada Anastasia dan Ludwig. "Tapi kuduga kalian sudah memikirkan sesuatu untuk membatalkannya. Kalau belum, kami sudah memikirkan sesuatu untuk membatalkannya."
"Tidak akan dibatalkan. Aku tetap akan menikah." Kata Ludwig. Dan sebelum dia membuat kakaknya marah, dia buru-buru menambahkan, "Dengan Constanza."
"Ibumu tidak akan setuju."
"Benar. Tapi untuk saat ini dia bukan ibuku. Saat ini dia Luna, kekasih Raja Alexis, calon Ratu Schiereiland."
"Dia tidak butuh menjadi Selena untuk mencelakakan Constanza di altar nanti begitu tahu mempelai wanitanya telah berganti." Kata Xavier. Aku memahami bahwa dia sedang mencari celah yang mungkin terlupakan oleh Ludwig dalam rencananya untuk memastikan kami benar-benar dapat menikah. Dia hanya ingin memastikan bahwa Ludwig telah menyempurnakan rencananya.
"Aku mengerti maksudmu." Kata Ludwig. Kakak adik itu saling bertatapan, perbincangan tanpa kata yang takkan kumengerti. "Kau membawa alat itu?"
"Aku membawanya sesuai permintaanmu. Apa kau yakin bisa merelakannya?"
"Bisa. Harus bisa. Asal kau berjanji kau takkan membunuhnya."
Xavier tertawa sinis, "Kau selalu berpikir buruk tentangku. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk membunuhnya. Aku hanya ingin memastikan dia tidak bisa mencelakai siapa pun dengan sihirnya."
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanyaku akhirnya. Aku melirik ke arah Anastasia yang sejak tadi hanya diam menyimak percakapan dua bersaudara itu. Tapi sepertinya dia sudah tahu semuanya sehingga dia tak tampak sebingung diriku.
Xavier mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Benda itu seperti sepasang gelang emas dengan batu-batu permata yang indah dan berkilauan. "Ciptaan Ludwig." Katanya.
"Apa ini?" Aku bertanya karena aku yakin jika Xavier menyebutnya sebagai 'ciptaan Ludwig', artinya itu bukan gelang biasa. Mungkin ada semacam sihir di dalamnya. Aku mengamati gelang-gelang indah itu, lalu menoleh ke arah Ludwig yang masih terdiam menatap dua gelang itu dengan ekspresi yang tak dapat kubaca. Takut? Khawatir? Lega? Sedih? Aku tak tahu pasti, mungkin pergabungan semuanya. "Ludwig, apa ini?" Tanyaku lagi.
"Perhiasan untuk ibuku." Jawab Ludwig dengan pelan seolah ibunya akan bisa mendengarnya. Dia kemudian menoleh ke arahku dan tersenyum menenangkan. "Kau akan lihat nanti."
...****************...
Aku berjalan menuju altar. Musik mars pernikahan khas Schiereiland mengiringi setiap langkahku. Gaun pengantinku yang terbuat dari satin menyapu karpet merah beludru. Di samping kiri dan kananku, bunga-bunga bermekaran menyambut kedatanganku sebagai mempelai wanita paling bahagia hari ini, para tamu memusatkan perhatiannya hanya padaku. Seharusnya ayahku mendampingiku, tapi beliau telah tiada dan aku tidak memiliki siapa pun sebagai waliku, jadi aku berjalan seorang diri. Di hadapanku, calon suamiku menanti dengan tatapan yang dapat membuatku ingin langsung berlari ke arahnya. Ludwig tampak sempurna dalam balutan pakaian resminya. Biasanya dia terlihat seperti penyihir menara yang dingin dan licik, atau kutu buku tampan, atau ilmuwan jahat, tapi kini dia lebih terlihat seperti pangeran dalam dongeng yang dulu hanya dapat kubayangkan. Kini dia bukan sekedar ada di fantasiku. Dia pangeranku. Cintaku. Suamiku, tak lama lagi.
Aku masih dalam penyamaran. Rambut merah milik sepupuku ditata dengan rapih dan indah. Sebuah tiara terpasang cantik di atas kepalaku. Aku kini tampak seperti Putri Schiereiland di hari pernikahannya.
Tapi aku segera kembali menjadi Grand Duchess Smirnoff begitu Ludwig mengucapkan ikrar pernikahannya padaku dengan menyebut namaku.
"Wahai wanita yang ada di hadapanku, wahai wanita yang kucintai dengan sepenuh hati, wahai pujaan hatiku dan belahan jiwaku, kepadamu yang terkasih aku berjanji untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita dan setelahnya. Aku mengambil engkau menjadi istriku, wahai Constanza Smirnoff."
Aku tahu aku sudah kembali ke wajah asliku saat melihat tatapan penuh cinta itu dari Ludwig. "Aku bersedia."
Aku tak lagi mendengar kata-kata panjang penghulu. Aku tak lagi mendengar gumaman-gumaman dan kasak-kusuk dari barisan para tamu undangan dan saksi pernikahan. Aku bahkan tak mau melihat ekspresi Selena saat ini.
Xavier sudah memerintahkan penghulu kami untuk terus melanjutkan upacara pernikahan apa pun yang terjadi. Bahkan meski mempelai wanitanya berubah. Bahkan meski ada yang berkeberatan. Bahkan meski para saksi pernikahan menyuarakan keterkejutan mereka, pernikahan kami tetap disahkan dan tidak ada yang bisa menghentikan kami.
Aku tak lagi menunggunya mengucapkan "kau boleh mencium pengantinmu" karena aku sudah terlebih dahulu mencium suamiku itu.
Semua orang terkesiap. Terkejut. Protes. Seolah aku akan peduli.
"Hentikan pernikahan ini!" Itu suara Luna—versi lebih muda dari suara ibu mertuaku itu. Dia maju ke depan untuk mengacaukan upacara pernikahan yang sudah selesai ini. Para pengawal yang sudah ditempatkan oleh Anastasia untuk memastikan upacara pernikahan berlangsung lancar segera menahannya. "Apa kalian menentangku?" Dia berteriak tak percaya pada pengawal itu. Jika saja mereka orang Schiereiland, mereka takkan berani menentang calon Ratu Schiereiland itu, tapi mereka adalah pengawal dari Nordhalbinsel. Mereka hanya patuh pada Raja dan Ratu mereka.
"Di mana saudariku?" Tanya Alexis di sampingnya. Dia tampak sama terkejutnya, namun dia berusaha tetap terlihat tenang di hadapan semua orang. Pilihan yang bijaksana. Dia akan terlihat tidak kompeten sebagai Raja jika dia kehilangan ketenangannya di suasana dan acara resmi seperti ini. Dia seharusnya bisa menjadi Raja yang baik jika saja tidak mudah dipengaruhi oleh Luna.
Sebelum aku sempat menjawab, pintu terbuka lebar. Itulah saudarinya yang dia cari. Putri Anastasia. Tidak. Bukan Putri lagi. Dia sekarang Ratu Anastasia. Dia, tampak seperti Ratu dari utara, dengan pakaian resminya—bukan gaun pernikahan—memasuki ruangan ini. Semua orang sibuk berbisik-bisik saat melihatnya. Anastasia tersenyum penuh percaya diri.
Aku mengerti kenapa dia tampak begitu percaya diri. Saat ini, di belakangnya, berbaris para prajurit Schiereiland dan Nordhalbinsel lengkap dengan senjata mereka. Dia memegang kuasa dua kerajaan dalam genggamannya, dan dia memimpin mereka.
"Tangkap penipu itu." Perintahnya.
Semua orang terkejut saat melihatnya bicara. Putri yang mereka pikir tak berdaya dan bisu, yang hancur setelah melihat kematian kedua orang tuanya, ternyata tidak seperti yang mereka pikirkan. Putri itu kini sudah menjadi seorang Ratu.
Aku melirik ke sudut ruangan tempat Xavier sejak tadi mengamati jalannya upacara pernikahan dalam diam tanpa sepengetahuan siapa pun. Dia yang akan langsung bertindak jika mendapati gelagat mencurigakan dari Selena. Tapi kini dia tampak menikmati pemandangan Ratunya yang membawa pasukannya untuk menangkap ibu tirinya. Wajahnya penuh kebanggaan saat menatap Anastasia.
Seluruh prajurit yang dikerahkan oleh Anastasia segera menangkap Luna. Gadis muda belia itu tampak seperti akan menyerang mereka dengan sihirnya, tapi tak ada apa pun yang terjadi. Dia tidak dapat menggunakan sihirnya.
Ciptaan Ludwig, aku mengingat perkataan Raja Xavier. Sepasang gelang yang kulihat dini hari tadi kini terpasang di kedua tangannya. Ludwig pasti membujuk ibunya itu untuk mengenakan gelang itu. Dan Luna—maksudku Selena, karena sangat percaya pada putra sulungnya itu, tanpa menanyakan apa pun dia mengenakan gelang pemberian Ludwig. Gelang itu menyegel sihirnya. Dia tidak akan bisa menggunakan sihir lagi selama dia masih mengenakan gelang itu. Dan gelang itu tidak akan bisa dia lepas kecuali Ludwig membukakan kunci sihirnya. Tapi aku tahu Ludwig takkan melakukannya untuk saat ini.
"Lepaskan aku!" Luna tampak memberontak, namun percuma saja. Fisik Selena yang lebih kuat mungkin dapat melawan prajurit yang menahannya, namun Luna lebih kecil dan lemah. Luna hanya gadis remaja yang tidak cukup kuat untuk melawan mereka semua. Tidak. Bahkan kalau pun dia kembali menjadi Selena, dia takkan bisa melawan pasukan bersenjata lengkap tanpa sihir. Ibu mertuaku itu sudah terlalu bergantung pada sihirnya selama ini, sehingga ketika sihirnya direnggut darinya, dia jadi tak berdaya.
"Kakak, apa yang terjadi?" Aku mendengar Alexis bertanya pada Anastasia. Dia tampak terkejut, namun tidak berusaha membantu membebaskan Luna. Entah itu untuk menjaga wibawanya atau mungkin dia sudah mulai bosan dengan Luna.
"Laluna dari Clera, kau ditangkap atas tuduhan mencelakai anggota keluarga kerajaan dan menipu Raja Schiereiland dengan berpura-pura menjadi gadis muda dan memengaruhi Sang Raja untuk keuntunganmu sendiri. Memalsukan data keuangan negara serta menggelapkan pajak negara." Kata Anastasia dengan tegas sebagaimana seorang Ratu. Kuduga dia sudah memegang semua bukti atas tuduhan-tuduhan itu, jika tidak dia tak mungkin tampak percaya diri seperti itu menghadapi Ibu mertuaku.
Dan dengan dirinya mengucapkan nama asli Selena, sihir transformasi itu hilang. Luna menghilang, digantikan dengan sosok cantik permaisuri yang terasingkan, ibu mertuaku, penyihir penguasa menara. Selena. Putri Laluna dari Clera.
__ADS_1
Aku tak sempat menyaksikan proses penangkapannya sampai akhir, karena sesuai rencana dan kesepakatannya dengan Xavier, Ludwig segera menggunakan sihir teleportasinya untuk membawa kami berdua pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Tapi aku yakin Raja dan Ratu Nordhalbinsel itu akan mengurusnya degan baik.
...****************...