Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 23 (Shuu)


__ADS_3

"Kaze sudah bertemu dengan Yeon-Hwa di Istana Giok. Mereka aman dan tidak terluka. Tapi Ibu Suri berencana menikahkan Yeon-Hwa dengan Haru dan menjadikannya sebagai Maharani." Aku memberikan laporan singkat pada Rajaku. Semenjak Yeon-Hwa menghilang dan Kaze pergi bersama Eri ke Shina, aku tak melihatnya lagi. Kaze ditangkap.


Tertangkapnya Kaze oleh Torakka sama sekali bukan kejutan bagi kami. Kami memang sudah menduga bahwa suatu saat nanti antara aku atau Kaze akan tertangkap oleh Torakka, karena kami tak lagi terlindungi oleh kekuatan Ratu kami, Torakka bisa melacak jejak kami. Justru itulah rencana awal kami. Itulah sebabnya Raja dan Ratu sengaja menampakkan diri di hadapan Torakka saat itu dan membiarkan mereka hidup. Untuk memancing mereka. Memang agak berisiko dan berbahaya, Ratu bahkan sempat tidak setuju pada rencana ini, tapi aku dan Kaze berhasil meyakinkannya bahwa kami bisa melakukannya. Dan kami sudah menyusun rencana apa saja yang harus dilakukan jika salah satu diantara kami tertangkap.


Apa pun yang terjadi, kami tidak boleh membongkar keberadaan Ratu.


Itulah sebabnya Kaze berbohong pada Ibu Suri bahwa Yeon-Hwa adalah Ratu kami. Dia sangat lihai dalam hal membuat skenario dadakan.


Tapi di lain pihak, Rajaku tampak tidak tenang. Dia sejak tadi mondar-mandir di ruang kerjanya, di salah satu ruangan yang ada di bawah tanah. Aku begitu takjub saat pertama kali masuk ke ruangan ini karena sangat mirip dengan ruangan yang ada di Istana Utama di Nordhalbinsel. Para penyihir melakukan tugas mereka dengan sempurna.


"Kapan?" Tanyanya. "Kapan kira-kira pernikahan itu diadakan?"


"Mungkin setelah pemilihan Selir selesai. Kurang lebih satu bulan."


Dia berhenti mondar-mandir dan mulai mengetuk-ngetuk meja, tampak seperti sedang menghitung sesuatu. Aku tak bisa membaca pikirannya, jadi aku tak tahu apa yang dia hitung. "Itu artinya kita hanya punya waktu tiga minggu untuk menyelamatkan Panglima Wu dan Tania Welsh. Tidak. Mungkin seharusnya dua minggu. Kita harus bisa menggagalkan rencana Ibu Suri dan membawa pergi Yeon-Hwa dan Kaze dari Istana. Sampai saat itu, Yeon-Hwa akan tetap aman di sana."


"Bagaimana jika mereka menuntutnya untuk membuktikan bahwa dia adalah Ratu para Naga?"


"Kalau begitu kita akan membantunya. Berikan sedikit pertunjukan kecil di depan rakyat Orient. Buat mereka percaya bahwa Yeon-Hwa memang reinkarnasi Zhera."


Aku mengangguk mengerti, "Apakah kita perlu memberitahu tentang rencana ini pada Elias?"


"Dia pasti takkan setuju. Dia mungkin akan bertindak sembrono dengan membawa pergi Yeon-Hwa dari Istana segera setelah mendengarnya. Untuk saat ini, jangan beritahu Elias. Aku akan memberitahunya nanti jika saatnya tepat."


"Baik, Baginda."


Aku mengamati Rajaku itu, dia masih terlihat pucat. Aku paham, orang-orang utara umumnya memiliki kulit pucat karena jarang terkena sinar matahari, tapi kulit pucatnya lebih seperti orang sakit. Mungkinkah karena kondisi Ratu belum kunjung membaik makanya dia kurang istirahat? "Bagaimana kondisi Ratu?" Tanyaku akhirnya. Kurasa dia takkan menjawab dengan jujur jika kutanya tentang kondisinya, jadi aku menanyakan kondisi Ratu.


Ekspresinya berubah dari khawatir menjadi putus asa dalam sekejap, "Anna masih belum bisa makan apa pun. Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Aku ingin membawanya kembali ke Schiereiland, menjauhinya dari konflik yang ada di sini, tapi di Istananya kini ada Selena, dia takkan aman di sana. Jika aku membawanya ke Nordhalbinsel, itu juga bukan pilihan yang baik karena kita belum bisa memastikan Haru benar-benar tidak akan menyerang kerajaan kita. Terlebih lagi karena kematian Yi memang diakibatkan oleh Elle. Jika mereka tahu yang sebenarnya, mereka akan benar-benar melancarkan serangan pada Nordhalbinsel."


"Bagaimana dengan Westeria?" Aku mengusulkan. "Kudengar di sana penjagaannya sangat ketat dan negeri itu terhindar dari konflik dengan negeri mana pun."


"Aku sudah bertanya pada Ratu Eugene. Dia bersedia menjaga Anna di sana sampai situasinya cukup aman. Eugene bahkan sudah mengosongkan salah satu Istananya untuk ditempati oleh Anna. Tapi Anna pasti menolak pergi ke Westeria. Aku akan berusaha membujuknya nanti setelah kondisinya membaik sedikit saja. Untuk saat ini akan sulit membawanya berteleportasi."


Aku bukannya tidak tahu. Aku sungguh bisa memperkirakan seberapa buruk keadaan Ratu saat ini. Hal seperti ini pernah dialaminya sewaktu mengandung Nordlijk dulu. Bedanya, kali ini dia melarang siapa pun untuk menemuinya karena dia takut kami khawatir padanya jika kami melihat keadaannya.


"Kalau begitu satu-satunya cara adalah dengan ramuan itu."


Dia tampak merenung, "Sebenarnya ada satu cara lagi. Aku mengenal seseorang di Montreux yang mungkin bisa membantu. Jadi kau tidak harus pergi ke rumahmu kalau itu terlalu berbahaya."


"Sama sekali tak berbahaya, Baginda."


"Kau yakin akan baik-baik saja jika pergi sendirian?" Tanya Rajaku.


"Saya akan aman di sana, Baginda Raja. Mohon jangan khawatir. Saya akan pergi ke rumah saya sendiri, menemui keluarga saya sendiri. Mereka tidak akan menyakiti saya atau pun menyerahkan saya pada Kaisar."


"Baiklah, aku percaya padamu. Tolong jaga dirimu baik-baik."


...****************...


Aku pergi ke Xiang, tempat rumahku berada. Agar tidak menimbulkan kehebohan, aku menyatu dengan sungai Yaozhi dan masuk melalui kanal-kanal yang ada di bawah Istana Klan Huang, tempat tinggalku. Aku mewujud kembali setelah melewati penjaga di gerbang depan.

__ADS_1


Hari sudah malam, namun belum terlalu larut sehingga aku yakin ayah dan ibuku masih belum terlelap. Biasanya, pada jam ini mereka sedang berada di ruang doa. Istana ini masih sama. Tidak pernah direnovasi maupun diubah dalam puluhan tahun terakhir semenjak Naga Air Klan Huang pertama lahir. Dalam setiap langkahku menuju ruang doa, aku mengenali diriku sendiri. Bukan hanya diriku di masa sekarang, namun juga di masa lalu. Aku kembali mengingat diriku sebagai Huang Hui Jun, sebagai kakekku, Naga Air dalam kehidupan sebelumnya.


Aku ingat menikah dengan seorang gadis suku Jung. Aku ingat pernah sangat mencintai seseorang sampai rasanya dadaku sesak saat melihatnya meneteskan air mata. Rasanya duniaku runtuh saat melihatnya terbaring lemah dan kemudian tak bernafas. Aku meninggal tak lama setelah kematiannya, karena tak sanggup menanggung duka yang mendalam.


Mei Lin hanya satu tahun lebih muda dariku. Sewaktu kecil, dia adalah anak yang periang dan nakal. Awalnya aku tidak tahu di mana ayahnya karena tak pernah melihatnya, tapi Ibunya dulu adalah pelayan di Istana Klan Huang. Dia sering dimarahi oleh Ibunya karena sering memasuki wilayah suci sembarangan. Suatu hari, saat aku sedang menyendiri di ruang doa yang sepi dan gelap setelah semua orang terlelap, aku bertemu dengannya. Itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan Mei Lin meski aku sudah sering mendengar tentang anak perempuan salah satu pelayan yang sering berbuat ulah.


Awalnya aku membayangkan anak perempuan yang kurus kering seperti kekurangan gizi karena dia berasal dari keluarga miskin. Tapi ternyata dia memiliki wajah bulat dengan kedua pipi mirip bakpao. Saat dia tersenyum, matanya hampir terpejam sepenuhnya membentuk garis lengkung. Aku ingat dia menanyakan kenapa aku menangis malam-malam seorang diri di ruang doa. Aku tidak benar-benar ingat kenapa aku menangis, tapi yang kuingat, Mei Lin menemaniku sampai aku berhenti menangis. Dan seterusnya, dia selalu menemuiku di ruang doa pada malam hari. Kami tidak benar-benar bicara, dia hanya berada di sana menemaniku. Dia menjadi temanku dengan diam dalam kegelapan. Aku tidak yakin apa alasannya menemaniku di sana, tapi ternyata keberadaannya mengobati kesedihanku.


Aku baru tahu betapa berharganya kehadiran seorang teman di kala sedih saat akhirnya Mei Lin tiba-tiba menghilang. Aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Orang tuaku mengatakan bahwa Ibunya berhenti bekerja. Dan sejak itu aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Kupikir semua orang pasti akan datang dan pergi, tak terkecuali Mei Lin.


Bertahun-tahun berlalu dan aku mulai menerima permintaan dari Kaisar untuk memasuki Istana Air karena saat itu usiaku sudah dua puluh tahun. Mereka mengirimkan seorang Torakka untuk menyampaikan pesan padaku. Torakka itu seorang gadis muda, ramping dan berkulit putih susu serta sepasang mata merah yang indah dan rambut hitam panjang yang tampak berkilau di bawah sinar matahari, singkatnya, dia gadis tercantik yang pernah kulihat. Tapi matanya yang berwarna merah itu tampak menarik perhatianku entah bagaimana. Kata orang-orang, mata merah itu adalah mata naga, mata yang dapat melacak keberadaan naga. Jika suatu hari aku kabur, gadis inilah yang akan melacakku dan menemukanku serta menyeretku kembali ke Kaisar.


Gadis itu pendiam dan dingin. Dia hanya datang, membungkuk penuh hormat padaku, lalu menyerahkan surat dari Kaisar. Dia tidak mengatakan apa pun. Aku melempar surat itu ke wajahnya dan mengatakan bahwa aku tidak mau pergi ke Istana Air. Aku mengusirnya pergi dan menyuruhnya agar tak pernah kembali lagi ke hadapanku. Gadis itu diam saja meski aku memperlakukannya seburuk itu. Tapi kemudian dia memerintahkan pasukannya untuk menunggu di luar dan memintaku untuk bicara empat mata saja dengannya.


"Bocah cengeng, lama tidak berjumpa." Ucapnya dengan gaya bicara yang sangat kurang ajar. Aku pun marah mendengarnya. Aku Naga Air. Aku tidak pernah direndahkan seperti itu. Semua orang wajib hormat padaku tak terkecuali Kaisar sendiri.


"Siapa yang kau sebut bocah cengeng?"


Dia tersenyum sinis, "Apa kau masih sering pergi ke ruang doa untuk menangis semalaman, Hui Jun?"


Saat itu, saat aku mencoba membaca isi pikirannya, aku akhirnya menyadari bahwa Torakka yang mendatangiku atas perintah Kaisar itu adalah Mei Lin. Sosok gadis kecil yang gempal dan periang itu kini telah berubah menjadi gadis remaja yang ramping dan pendiam, namun sikap kurang ajar nya masih sama. Saat kami masih kecil, kami selalu bertemu dalam ruang doa yang gelap saat malam hari, jadi aku tidak benar-benar tahu warna matanya. Aku baru menyadari betapa merah kedua bola matanya itu. Begitu mengerikan dan mempesona di saat yang sama.


Kami akhirnya mengobrol hingga matahari terbenam. Aku menanyakan apa saja yang terjadi padanya selama ini dan kenapa Ibunya tiba-tiba berhenti bekerja untuk keluargaku.


Mei Lin pun tanpa ragu menceritakan semuanya seolah kami memang sudah berteman akrab untuk saling menceritakan rahasia kelam. Atau mungkin itu karena dia tahu aku bisa membaca pikiran, jadi percuma saja menyembunyikan rahasia dariku.


Ayah dan Ibu Mei Lin bercerai saat itu. Sebenarnya, sejak awal pun mereka sudah sering bertengkar. Ayahnya dipecat karena dituduh mencuri uang majikannya dan kabar itu disebarkan oleh majikannya, semenjak itu ke mana pun ayahnya mencoba melamar pekerjaan, dia selalu ditolak karena sudah dicap sebagai seorang pencuri. Mau tak mau, Ibu Mei Lin lah yang bekerja untuk menghidupi keluarga kecil mereka. Namun Ayah Mei Lin yang frustasi dan merasa tak berdaya akhirnya mulai sering mabuk dan berjudi. Dia menghabiskan seluruh tabungan Ibu Mei Lin yang disimpan untuk biaya sekolah Mei Lin kelak. Mereka bertengkar hampir setiap hari dan Mei Lin mendengar semuanya. Suara teriakan pertengkaran orang tuanya adalah lagu Nina Bobo yang mengiringi tidurnya.


"Kau masih saja cengeng. Berhenti menangis, bocah cengeng. Jika ada yang melihat, orang bisa salah paham. Seorang Torakka yang diutus Kaisar untuk memohon pada Naga Air agar beliau memasuki Istana Air justru malah membuatnya menangis. Aku bisa dipenggal nanti." Katanya masih sambil terkikik geli.


Tapi saat itu hatiku benar-benar sakit. Aku membayangkan seorang gadis kecil yang periang yang menjadi saksi pertengkaran orang tuanya selama bertahun-tahun. Kemudian menyaksikan orang tuanya bercerai. Aku tak berani bertanya bagaimana dia selama ini dia hidup setelah perceraian kedua orang tuanya dan bagaimana dia bisa menjadi Torakka. Membayangkannya saja pasti sangat sulit. Sementara itu aku hidup enak di Istana, dengan keluarga yang harmonis, namun akulah yang menangis semalaman di ruang doa karena terlahir sebagai Naga Air dan ditakdirkan untuk meninggalkan keluargaku demi mengabdi pada Kaisar. Aku tidak pantas menangis. Waktu itu di ruang doa, seharusnya dia lah yang menangis.


Selama berhari-hari setelahnya, Mei Lin tak berhenti mengunjungiku dan terus menyerahkan surat dari Kaisar. Dia tak menyerah meski aku merobek surat itu, membakar dan melarutkannya dalam air. Tak peduli apa yang kulakukan pada surat itu, Mei Lin tetap datang keesokan harinya, membungkuk padaku, menyerahkan surat, lalu menemaniku mengobrol hingga matahari terbenam. Sebenarnya, alasan aku merobek surat-surat perintah dari Kaisar itu adalah karena aku ingin Mei Lin terus mengunjungiku.


"Kau... sudah menikah?" Tanyaku suatu hari. Aku harus mengakui bahwa aku menanyakannya karena aku tertarik padanya. Dan aku khawatir aku telah menyimpan perasaan pada wanita yang sudah menikah makanya aku menanyakannya.


Mei Lin tampak terkejut mendengar pertanyaan itu. "Aku tidak menikah." Jawabnya kemudian dengan datar.


"Belum menikah, maksudmu?"


"Bukan. Bukan belum. Aku tidak menikah. Itu artinya aku tidak akan menikah."


"Aku tak mengerti."


"Kau tidak perlu mengerti." Nada suaranya agak kasar saat mengatakan itu, tapi dia tetap berusaha bersikap sopan padaku.


"Tapi kenapa? Kenapa kau tidak akan menikah? Apa tidak ada yang melamarmu? Tidak ada orang yang kau sukai?"


"Percaya atau tidak, ada banyak sekali pria yang mengantre untuk melamarku, terlebih karena aku seorang Torakka. Para Panglima Perang muda, putra bungsu Menteri Yu, saudagar kaya di Jungdo, aku menolak mereka semua."


"Kenapa? Mereka bukan tipemu?"

__ADS_1


Mei Lin tertawa. "Kalau boleh jujur, putra bungsu Menteri Yu sangat tampan dan pintar."


"Lalu kenapa kau menolaknya?"


Dia mengangkat bahu, "Karena aku tidak akan menikah."


"Kau sembilan belas! Di negeri ini, mana ada gadis usia sembilan belas tahun yang belum menikah? Kakak-kakak perempuanku semuanya menikah sebelum berusia delapan belas tahun."


"Bukan berarti aku harus mengikuti teladan kakak-kakakmu kan? Aku hanya..." Mei Lin menghela nafas sejenak. Tatapannya menerawang seolah aku tidak ada di ruangan itu, seolah dia sedang berada di tempat lain. Lalu kuperhatikan matanya berkaca-kaca. Dia memelankan suaranya hingga sebatas bisikan belaka. "Aku takut. Aku takut pada pernikahan."


Aku diam mendengarkan. Perlahan aku mulai paham. Tapi aku ingin dia menceritakan semuanya. Aku ingin mendengarkan semuanya. Semua yang dia pendam selama ini. Semua rahasianya yang bahkan tak terkuak meski aku berusaha membaca pikirannya. Semua air mata yang tidak dia biarkan dilihat oleh siapa pun. Entah kenapa aku sangat ingin mendengar semuanya.


"Awalnya kupikir itu takkan memengaruhiku. Awalnya kupikir aku berhasil melewati semua itu dengan selamat. Kau tahu, kebanyakan anak yang orang tuanya bercerai, mereka menyimpang. Entah menjadi anak nakal, kabur dari rumah, mengonsumsi obat-obatan terlarang, terjebak dalam pergaulan tidak baik, tapi aku tidak. Saat mereka bertengkar, aku membuka buku yang kupinjam dari perpustakaan kota, lalu aku membaca buku-buku itu. Saat aku mendengar suara tangisan ibuku, aku berusaha membenamkan diri dalam soal-soal matematika paling sulit agar aku tidak perlu ikut campur dalam pertengkaran mereka. Orang-orang bilang aku dewasa lebih awal. Aku tidak menangisi perceraian orang tuaku, aku tetap berusaha menjadi anak yang baik untuk mereka berdua dan berusaha membuat mereka bangga dengan mendapat beasiswa untuk sekolah dan lulus dengan nilai sempurna. Semua teman-teman sekolahku dulu sudah menikah. Tapi kau tahu apa yang ada dalam benakku saat melihat senyuman bahagia mereka di hari pernikahan? Aku prihatin pada mereka. Aku beranggapan senyuman itu takkan bertahan lama." Suaranya tercekat. Matanya kini mulai memerah karena menahan air mata. Dia menatapku, dan mengalir lah air mata itu dari pelupuk matanya. Suaranya bergetar saat akan mengucapkan kata-kata berikutnya. "Kupikir aku selamat. Ternyata tidak. Aku justru sudah lama jatuh. Aku sudah jatuh terlalu jauh dan tidak ada yang tahu sehingga tidak ada yang mengulurkan tangan untuk menolong. Aku baru menyadarinya sekarang, Hui Jun. Aku... Aku tanpa sadar menghancurkan diriku sendiri dengan memendam semuanya dan berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Kini mendengar kata pernikahan saja membuatku takut dan muak. Jadi tolong jangan bicarakan hal ini lagi."


Mei Lin menangis. Itu dia. Itu air mata yang selama ini kucari. Air mata yang selama ini dia sembunyikan. Air mata itu adalah kejujuran dari senyum palsunya dan tawa paksanya.


Aku adalah Naga Air. Naga Air dapat menyembuhkan dengan airnya. Tapi aku tak tahu bagaimana menyembuhkan luka hati manusia yang sudah membusuk selama bertahun-tahun. Jadi aku memeluknya. Aku tak tahu kenapa, tapi aku tidak tahan melihat air matanya. Hatiku sakit sekali dan aku tak benar-benar tahu harus bagaimana untuk menyembuhkannya.


"Menikah lah denganku." Kataku kemudian. Dan perkataan itu berhasil menghentikan tangisannya. Dia mengerjap, ekspresi bingung terlukis di wajahnya. "Menikah lah denganku, maka aku akan bersedia tinggal di Istana Air. Kau tidak perlu mencintaiku, kau tidak perlu melakukan apa pun untukku. Dengan begitu kau tidak akan pernah merasa sakit hati. Dan jika setelah itu kau masih beranggapan bahwa pernikahan adalah hal yang mengerikan, kau boleh menceraikanku. Dan sebagai kompensasi atas waktumu yang terbuang karena menikah denganku, kau boleh meminta apa pun sebagai gantinya."


Mei Lin terdiam beberapa lama. Air matanya sudah berhenti mengalir, tapi matanya masih memerah. Dia kemudian tertawa. Dia tertawa keras sekali hingga aku yakin semua orang di Istana Klan Huang bisa mendengarnya.


"Naga Air sudah gila rupanya." Katanya di sela tawanya.


"Kalau kau tidak bersedia, aku tidak akan pergi ke Istana Air."


Kami akhirnya menikah. Dan aku akhirnya menempati Istana Air bersama istriku itu. Dia tetap bekerja sebagai Torakka dan berkeliling Orient untuk mencari Naga Angin yang saat itu masih belum ditemukan. Sementara itu aku menemaninya dalam setiap perjalanannya kecuali saat Kaisar membutuhkanku untuk mengerjakan tugasku sebagai Naga Air. Kami adalah teman yang menikah, jadi rasanya tidak canggung sama sekali. Diam-diam aku berusaha menyembuhkan hatinya yang terluka akibat trauma pernikahan orang tuanya. Sangat mudah untuk mencintainya, namun sangat sulit untuk membuatnya percaya pada cinta. Butuh waktu lebih dari sepuluh tahun bagiku sampai akhirnya dia benar-benar bisa menerima cintaku dan mencintaiku sepenuhnya. Meski luka hatinya takkan pernah benar-benar pulih, cintaku padanya menjadi perban yang senantiasa membalut luka di hatinya. Mencintai Mei Lin adalah sebuah perjalanan panjang penuh perjuangan yang kujalani dengan senang hati.


Mei Lin sangat kuat. Dia dilatih sebagai Torakka. Dia hampir tidak pernah sakit. Namun suatu hari dia jatuh sakit. Aku begitu panik karena airku tak bisa menyembuhkannya. Kupikir aku akan kehilangan dirinya. Namun tabib mengatakan bahwa istriku itu sedang mengandung, dan memang seperti itulah keadaan istri Naga Air umumnya saat mengandung. Tabib itu sudah sangat tua sehingga pernah menangani kondisi yang sama pada istri Naga Air sebelumnya. Dia kemudian memberikan resep ramuan yang harus dibuat untuk memperkuat Mei Lin agar dapat bertahan melewati masa kehamilannya dengan baik.


Kami kemudian diberkahi tiga orang putra dan dua orang putri. Semuanya lahir dengan selamat dan sehat. Mei Lin berhasil melalui semuanya dengan baik berkat ramuan itu. Tapi di usia senjanya, Mei Lin mulai sering sakit. Seolah semua penyakit yang tidak dia rasakan semasa mudanya, muncul saat itu. Mei Lin tutup usia tak lama kemudian karena penyakitnya, dan aku menyusul tak lama setelah kematiannya.


...****************...


"Apa kau sudah menikah, Shuu? Kenapa kami tidak diberitahu?" Tanya ayahku saat aku mengatakan bahwa kedatanganku ke Istana ini hanya sebentar dan hanya untuk meminta ramuan itu. Ibuku, di sampingnya, tampak khawatir. Inilah sebabnya aku jarang menemui mereka, aku tidak mau melihat wajah mereka yang mengkhawatirkanku.


"Bukan untukku." Kataku. "Istri Naga Api Agung saat ini sedang mengandung. Jadi aku diutus olehnya untuk mendapatkan ramuan itu."


Ayah dan Ibuku tampak sangat terkejut saat mendengar hal itu. Keluarga kami, Klan Huang, sangat mengagungkan para Naga. Mereka percaya suatu saat jika keempat naga dan Ratu mereka hidup kembali di masa yang sama, maka kekaisaran akan dihancurkan, kemudian dibangun ulang dan dipimpin oleh Raja dan Ratu kami. Aku tidak tahu siapa yang meramalkan hal itu, tapi menurutku itu memang bisa terjadi. Saat ini saja Raja dan Ratu kami berada di Orient untuk mengacaukan Orient dari dalam agar tidak bisa menyerang Nordhalbinsel. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti perang akhirnya pecah dan Orient dihancurkan untuk dikuasai oleh Raja dan Ratu kami. Aku akan mendukung mereka saat itu terjadi.


Tapi sebelum semua itu, aku harus memastikan Ratuku mendapat ramuan itu. Jadi nanti saja kupikirkan tentang perang yang belum tentu akan terjadi atau tidak.


"Bolehkah kami menemui Sang Ratu untuk mendoakannya langsung?" Tanya Ayahku kemudian.


Aku menggeleng. "Ratu tidak ingin ditemui siapa pun. Berdoalah untuknya dari sini saja."


Ayah dan Ibu tampak bertukar pandang, seolah mereka dapat berkomunikasi dengan telepati seperti aku dan Kaze. Ibu kemudian mengangguk. Ayah kembali beralih padaku, tatapannya kaku dan serius.


"Shuu, bolehkah ayah bicara empat mata denganmu? Sebagai anak dan ayah, bukan sebagai Naga Air dan abdinya." Tanyanya.


"Tentu saja, Ayah."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2