
Aku tidak memberitahu Xavier tentang anak perempuan dari Putri Seo-Hwa dan Wu Yi-Xing. Aku juga tidak memberitahunya bahwa anak perempuan mereka selama ini berkeliaran di Istananya, menjadi salah satu pengawal Elle. Tapi aku mencari tahu segala hal tentang anak perempuan dari Putri Seo-Hwa itu diam-diam tanpa sepengetahuan Xavier.
Lee Yeon-Hwa. Usianya 20 tahun—kupikir dia masih remaja, aku lupa bahwa orang Orient selalu terlihat lebih muda dari usianya. Di dokumen yang kuambil diam-diam dari ruang kerja Jenderal Arianne di Kastil Montreux, dikatakan bahwa dia lahir dan besar di Westeria dari orang tua yang juga berkewarganegaraan Westeria, Daniel Welsh dan Sally Welsh. Putri Seo-Hwa dan Wu Yi-Xing sudah lama hidup sebagai rakyat biasa di Westeria dan ingin putri semata wayang mereka hidup tenang, jauh dari politik Istana.
Aku ingin menghargai keinginan mereka karena aku paham betul kehidupan macam apa yang ada di balik tembok Istana.
Elle tidak pernah hidup dengan tenang dan bebas sejak kecil, sejak dia diberitahu akan menjadi Putri Mahkota dan tinggal di Istana. Itulah sebabnya aku tidak memberitahu Xavier tentang Lee Yeon-Hwa.
Saat aku memberitahunya bahwa Putri Seo-Hwa sudah meninggal dan Wu Yi-Xing kini hanya seorang pria tua yang buta, Xavier tidak bertanya lebih lanjut seolah dia sudah menduga hal itu.
"Bukannya aku sudah menduga hal itu... Tapi, sudah dua puluh tahun lebih berlalu. Jadi kemungkinan itu memang ada. Aku hanya..." Kata-katanya terhenti. Dia menyesap anggurnya, lalu menghela nafas seolah dengan begitu salah satu beban hidupnya berkurang. "Aku harap dia hidup dengan bahagia dan tenang selama ini." Kemudian dia mengisi kembali gelas anggurnya yang sudah kosong.
"Putri Seo-Hwa mengingatkanmu pada seseorang." Kataku, yang mana sama sekali bukan pertanyaan. Aku kurang lebih tahu kenapa dia peduli pada Putri Seo-Hwa. Dan itu bukan sekedar keinginannya untuk melengserkan Qin dari posisinya agar penyerangan Orient dapat digagalkan.
"Mereka berbeda."
"Tentu saja. Anna jauh lebih beruntung. Maaf, Putri Anastasia maksudku." Aku memperhatikan belakangan ini Xavier jadi lebih sering melamun dan minum anggur. Kadang dia tersenyum sendiri. Kadang tertawa sendiri. Lalu tiba-tiba dia diam dan tampak serius, tak berkedip sedikit pun. Pikirannya entah ada di mana. Aku jadi mengkhawatirkan kondisi negaraku. "Berhenti lah minum dan sana pergi ke Schiereiland."
"Kau sudah mencicipi anggur ini? Namanya Carina. Ini anggur dari Schiereiland. Grand Duchess Smirnoff menghadiahi kita sepeti penuh anggur ini pada kunjungannya pekan lalu. Aku akan mengutus orang untuk mengantarkan sebagian pada ayahmu. Grand Duke Winterthur akan sangat menyukai rasa anggur ini."
Tanpa berkata lebih lanjut, aku mengambil gelasnya dan botol anggurnya. Lalu menenggak habis anggur itu.
Sialan. Rasanya enak.
"Kau ini kenapa!" Aku membentaknya. Dia tampak terkejut dan sadar sepenuhnya.
"Kau yang kenapa! Kau yang merebut anggurku dan menghabiskannya lalu berteriak padaku siang-siang begini."
"Jangan jadi seperti ayahmu."
Xavier tertawa getir menanggapi, "Apa maksudnya itu?"
"Kalau ada masalah, kau bisa ceritakan padaku atau Elle. Kalau kau memang merindukan Putri Anastasia, kau bisa pergi ke sana beberapa hari dan aku akan mencarikan alasan yang masuk akal. Kalau kau pikir tidak ada jalan keluar terkait masalah dengan Orient, utus aku dan pasukan serigala pergi ke sana untuk menghancurkan negeri itu. Jangan mencoba mengatasi semuanya sendiri. Kau itu Raja, bukan pahlawan."
Dia tidak langsung menanggapi. Sesaat tatapannya kembali kosong seolah dia tidak ada di sana. Tapi kemudian dia bertanya, "Bagaimana kondisi Leon saat ini?" Pertanyaan itu sudah dia ajukan setiap hari minimal sepuluh kali dalam sehari.
"Belum ada perubahan." Jawabanku itu pun sudah kuberikan setidaknya sepuluh kali dalam sehari. "Kalau dia sudah sadar, kau adalah orang pertama yang akan diberitahu oleh Elle."
"Itulah masalahnya. Jika saja Leon sudah sadar... Dia bisa kembali ke Schiereiland di sisi Anna. Dia bisa membawa kembali ibuku. Dia mungkin bisa membantu kita melawan Orient."
"Yang terakhir itu aku agak ragu dia mau membantu."
Xavier mengangguk. "Setuju. Paling tidak dua hal lainnya dia pasti bisa."
"Aku sama sekali tidak mengerti. Kupikir kau menyukai Putri Anastasia."
"Sangat. Aku sangat menyukainya. Tidak. Lebih dari itu. Aku mencintainya. Aku ingin membuatnya bahagia. Itulah sebabnya aku ingin Leon bisa segera bangun dan kembali padanya. Dengan begitu dia akan bahagia. Dan aku bisa terlepas dari perasaan bersalah yang membebaniku."
"Kenapa harus Jenderal Leon? Kenapa tidak kau saja? Datangi dia, dan katakan kau mencintainya dan tidak bisa bernafas tanpanya. Lamar dia dan jadikan dia Ratu. Seharusnya itu tidak sulit."
Xavier tampaknya tidak setuju. "Kau tidak mengerti."
"Aku memang tidak mengerti. Jadi apa yang membuatmu sampai sekarang belum juga menemuinya?"
"Aku sudah menemuinya."
"Kapan?"
"Semalam. Kemarin malam. Malam sebelumnya. Hampir setiap malam."
"Sopan kah jika aku bertanya—“
"Tidak sopan." Jawabnya langsung. "Kami hanya tidur."
Aku merapatkan bibir, berusaha untuk tidak tersenyum. "Wah... Aku bahkan belum bertanya. Baiklah, aku tidak akan berkomentar tentang pengakuan itu. Jadi... kalian sudah tidur bersama—“
__ADS_1
"Bukan seperti itu. Hanya tidur. Jangan berpikiran macam-macam."
"Kupikir kau biasanya insomnia."
"Memang. Aku biasanya tidak bisa tidur. Sebelumnya aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku bisa benar-benar tidur. Tapi saat bersamanya..." Dia terdiam sejenak, tatapannya menerawang ke luar jendela seolah di sana ada Sang Putri Schiereiland, lalu tersenyum. Rajaku ini benar-benar sudah mulai gila. Baru sesaat lalu dia tersenyum, kemudian dia kembali menghela napas panjang. "Aku tidak boleh seperti ini."
"Kalau boleh berpendapat, setahuku sebagai Raja kau diizinkan mengekspresikan isi hatimu sendiri sesukamu selama itu tidak merugikan negara ini."
"Itulah sebabnya aku—“ Kata-katanya terputus. Xavier mencengkeram jantungnya dan mengerang kesakitan. Dia memuntahkan darah berwarna hitam ke atas meja kerjanya. Tidak hanya dari mulutnya, darah hitam itu juga keluar dari matanya.
Serangan itu lagi.
Aku segera berdiri bersiap memanggil dokter Istana.
"Jangan..." Katanya. Nafasnya tersengal, masih berusaha menahan rasa sakitnya. Tangan kanannya masih mencengkeram dada sedangkan tangan kirinya mencengkeram pinggir meja kerjanya dengan kuat seolah itu bisa menghilangkan rasa sakitnya. "Jangan panggil dokter. Jangan sampai ada yang tahu. Mereka tidak boleh tahu bahwa Raja mereka... seperti ini." Matanya kini berubah menjadi merah. Pembuluh darahnya menghitam dan kini terlihat dengan sangat jelas hingga ke wajahnya. Padahal sebelumnya hanya sampai lehernya.
Sejak dia kembali ke Istana dan dinobatkan menjadi Raja, kondisinya semakin memburuk. Tidak ada yang tahu tentang hal ini. Aku sendiri awalnya tidak tahu apa yang terjadi padanya sampai dia menceritakannya padaku. Racun sihir yang seharusnya sudah membuatnya tewas masih bersarang di dalam tubuhnya, bercampur bersama darahnya dan tidak bisa dihilangkan. Meski awalnya dia terlihat seperti sudah sembuh, nyatanya belum. Dia hanya berusaha terlihat sehat sambil terus menahan rasa sakit di depan semua orang karena negeri kami membutuhkan Raja yang sehat. Kurasa itu sebabnya belakangan dia jadi lebih sering minum anggur. Mungkin anggur meredakan rasa sakit yang dia rasakan efek dari racun itu.
"Kau mau aku membiarkanmu mati? Kenapa tidak sekalian menyuruhku membunuhmu sekarang juga? Kebetulan pedangku sudah lama tidak digunakan."
"Kalau aku mati sekarang, siapa yang bisa membela keluargamu dan menyelamatkan kalian dari tiang gantung atau hukum pancung? Masih banyak urusan yang belum kuselesaikan." Dia terdengar santai seolah tidak takut mati, tapi tangannya gemetaran saat melepaskan pegangan dari pinggir mejanya. Bekas cengkeramannya menyisakan retak. Dengan tangan yang masih gemetaran itu dia membersihkan sendiri darah di atas mejanya. Dia tidak mau ada orang yang tahu jadi biasanya dia membersihkan sendiri muntahan darahnya. Pernah satu kali aku hampir membantunya tapi dia langsung mendorongku jauh. Dia tidak mau diperlakukan seperti orang sakit.
Butuh usaha keras baginya untuk berhasil bangkit dari tempat duduknya. Dia tidak akan suka dibantu jadi aku membiarkannya saja. Dia berjalan menuju salah satu sisi ruangan dan menghadap ke cermin, hendak memeriksa seberapa buruk kondisinya saat ini. Dia membersihkan noda darah dari mulut dan wajahnya kemudian melepas kancing pakaiannya dan melihat akibat dari racun itu di tubuhnya. Bahkan dari tempatku berdiri, aku dapat melihatnya. Kulitnya yang putih pucat biasanya terlihat seperti kanvas bersih tanpa bekas luka, namun kini kanvas bersih itu seperti dilukisi oleh tinta hitam yang membentuk garis-garis lengkung hitam pembuluh darahnya yang tampak jelas di seluruh permukaan kulitnya. Jika dia manusia biasa, dia seharusnya sudah mati.
"Jadi kau masih belum memberitahukan hal ini pada Putri Anastasia?" Tanyaku.
"Tidak akan."
"Kau setiap malam bersamanya tapi dia tidak tahu? Bagaimana bisa?"
"Saat bersamanya, hal seperti ini tidak pernah terjadi. Aku tidak merasakan efek racunnya sama sekali. Racunnya seolah benar-benar hilang. Jadi dia tidak perlu tahu—“
"Kau sekarat! Dia harus tahu itu. Harusnya kau memberitahu Putri Anastasia—“
"Anna tidak boleh tahu. Tidak ada yang boleh tahu." Dia menarik nafas panjang beberapa kali dan menutup matanya, keningnya berkerut, berkonsentrasi untuk menyembunyikan efek racun itu. Titik-titik keringat muncul di dahinya. Dalam beberapa tarikan nafas, kulitnya kembali terlihat normal dan matanya kembali sehijau permata emerald. Kini dia kembali terlihat seperti seorang Raja. Raja pembohong yang menyembunyikan rahasia dari semua orang. Dia mengganti pakaiannya yang terkena darah, lalu kembali menghadap ke arahku. Nantinya dia akan membakar pakaian itu dengan apinya, menghilangkan barang bukti. "Aku mempercayakan hal ini hanya padamu. Aku tahu kau tidak akan mengkhianatiku dengan memberitahu siapa pun terkait kondisiku yang sebenarnya."
"Elias... Kumohon..." Dia tampak putus asa. Aku jadi tak tega melihatnya. Ini membuatku frustasi. Selalu aku yang harus menyimpan rahasia-rahasianya.
"Racun itu menghancurkanmu perlahan dari dalam! Siapa yang tahu, kau bisa saja mati malam ini atau besok jika kau membiarkannya terus seperti ini! Kau harusnya memikirkan kondisi kesehatanmu lebih dulu agar bisa memimpin negeri ini dengan baik. Cari Ludwig dan minta dia membuatkan penawar racunnya. Atau kalau itu terlalu sulit, utus pasukanmu untuk mencarikan obat. Pasti ada obatnya. Pasti ada yang bisa menyembuhkanmu. Pasti ada jalan keluar untuk semua ini."
Xavier kembali mengambil botol anggur dan gelas anggur yang baru untuk ditaruh di atas mejanya. Dia kembali duduk di sana dan meminum anggur seolah dia tidak pernah muntah darah sebelumnya. "Tidak ada jalan keluarnya, Elias. Tidak ada obat atau ramuan yang bisa menyembuhkanku. Bahkan Anna saja tidak bisa."
"Tapi dia bisa menghentikan rasa sakitnya dan memperlambat kinerja racunnya. Dan seperti yang kau bilang, dia bisa membuatmu tidak merasakan efek racunnya. Untuk setiap organ tubuhmu yang dihancurkan dari dalam oleh racun itu, Putri Anastasia bisa segera menyembuhkannya. Memperbaiki apa pun yang rusak di dalam dirimu. Kau harus memberitahunya jadi dia bisa membantumu meringankan rasa sakit itu daripada merahasiakannya dan akhirnya menghancurkan dirimu sendiri."
Xavier tampak memikirkan baik-baik perkataanku itu. Dia tampak berpikir keras, mencerna apa yang kukatakan padanya. Ini hal baru, karena biasanya dia takkan mau mendengarkanku.
"Ide yang bagus, Elias!" Katanya akhirnya setelah beberapa lama terdiam.
"Aku tahu. Aku selalu penuh dengan ide—“
"Kita bisa membuat Orient menghancurkan dirinya sendiri."
"Maaf?"
"Racun bisa menghancurkanku dari dalam tanpa sepengetahuan siapa pun. Dan kau..." Dia menunjuk ke arahku, tampak jauh lebih sehat dan bersemangat dari sebelumnya. "Kau akan menjadi racun untuk Orient dan menghancurkan mereka dari dalam sebelum mereka menghancurkan kita."
...****************...
Aku tidak tahu bahwa pembicaraanku dengan Xavier akan membuatku memiliki titel lain selain 'anjing setianya raja'. Sekarang aku juga menjadi 'racun mematikan untuk Kekaisaran'. Aku meninggalkan Rajaku yang sekarat, saudari kembarku yang sedang hamil dan orang tuaku yang masih dalam persembunyian untuk menjalankan tugas mulia ini. Menjadi racun mematikan.
Aku jadi lebih sering bolak-balik antara Nordhalbinsel dan Orient. Kemampuanku berteleportasi sangat membantu dalam hal ini. Aku menyusup masuk ke jantung pemerintahan Orient, ibu kota mereka yang megah, Jungdo. Di sana lah aku menjalankan peranku sebagai 'racun' yang perlahan mengacaukan kekaisaran tersebut dari dalam.
Hidup sebagai bangsawan sejak lahir membuatku belajar satu hal. Rumor menyebar jauh lebih cepat dari penyakit menular mana pun—terutama rumor mengenai kehidupan para bangsawan dan anggota keluarga monarki. Jadi aku menerapkan hal itu di Orient. Aku menyebarkan rumor di kalangan rakyat Orient di Jungdo bahwa Putri Seo-Hwa, putri Kaisar sebelumnya, masih hidup. Rumor itu kemudian menyebar dan berkembang. Dan semakin menyebar, semakin banyak yang memodifikasi rumor itu dan membesar-besarkannya. Hingga ada yang mengatakan bahwa Putri Seo-Hwa memiliki pasukannya sendiri. Putri Seo-Hwa mendapat berkah dari keempat naga untuk mengklaim atas takhtanya. Lalu yang terakhir aku mendengar bahwa mereka mulai percaya bahwa Qin membunuh ayahnya sendiri untuk memperoleh takhta.
Orient memang dijuluki Tanah Surga, tapi bukan berarti Negeri itu sempurna dan ideal. Selalu ada rakyat yang tidak puas. Entah karena pajak yang terlampau tinggi, harga bahan makanan pokok yang tidak masuk akal, wajib militer yang membuat para orang tua harus berpisah dengan anak mereka, tingkat pengangguran yang tak kunjung melandai, serta hal lainnya. Berkat bantuan beberapa serigala yang kuajak, aku berhasil menemukan titik-titik lemah itu dan menggunakannya untuk mengacaukan Kekaisaran. Paling tidak aku berhasil membuat Qin menunda penyerangan ke Nordhalbinsel. Akhirnya mulai muncul beberapa pergerakan kecil-kecilan di kalangan rakyat yang mengatasnamakan Putri Seo-Hwa, mereka menginginkan Qin dilengserkan.
__ADS_1
Agendaku berikutnya adalah masuk ke Istana untuk mulai mengacaukan keluarga kekaisaran. Jika mereka teralu sibuk membenahi diri sendiri, mereka tidak akan sempat melancarkan serangan ke kerajaanku.
Agak sulit bagiku untuk masuk ke Istana. Pertama, karena aku tidak terlihat seperti orang Orient dengan rambut pirang dan mata biru es. Dan aku tidak bisa sihir transformasi seperti yang Elle lakukan. Sihir itu terlalu sulit untuk dipelajari jadi aku tidak pernah mempelajarinya. Alasan kedua, adalah karena Istana-Istana di Orient memiliki penjagaan yang sangat ketat jadi aku tidak bisa sembarangan masuk ke sana.
Aku menceritakan kendala itu pada Xavier. Dia kemudian mengatakan padaku untuk datang ke sebuah kedai anggur di distrik merah pinggir kota Jungdo. Nama kedai itu adalah Dong-gung. Dia bilang ada orang yang bisa kuajak bekerja sama di sana. Aku tidak tahu dia mengetahui tempat itu dari mana, tapi aku menurutinya.
"Selamat datang, Jenderal Elias Winterthur." Sapa seorang wanita yang kuduga—dari cara bicaranya—berasal dari Schiereiland. Aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi entah bagaimana dia bisa langsung mengenaliku. Aku menduga Xavier mungkin sudah mengatakan pada wanita ini bahwa aku akan datang. "Nama saya Diana. Saya sudah mendengar dari Putri Anastasia bahwa Anda akan datang berkunjung dan saya diminta mengantar Anda ke ruangan khusus."
"Putri Anastasia?"
"Benar." Katanya sambil tersenyum ramah. "Silahkan ke sebelah sini."
Meski agak ragu, aku tetap mengikuti wanita itu. Diana tidak terlihat berbahaya. Dia seperti wanita Schiereiland pada umumnya. Para wanita di Schiereiland selalu terlihat ramah dan ceria seolah mereka makan cahaya matahari dan minum embun pagi setiap hari. Berbeda dengan para wanita di Nordhalbinsel yang selalu tampak angkuh dan dingin. Mungkin iklim tempat tinggal mempengaruhi sifat alami manusia.
Aku baru akan bernapas lega saat Diana mengajakku menjauhi tamu-tamu lain—mereka semua tampak seperti turis asing dari berbagai negara—tapi kemudian mataku menangkap ada yang tidak biasa dari wanita ramah itu. Rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan digulung rapih seperti halnya para wanita-wanita di Orient yang sudah menikah. Tapi bukan itu masalahnya. Jika kebanyakan wanita Orient menggunakan jepit atau tusuk rambut yang indah seperti milik Putri Seo-Hwa, Diana tidak menggunakan itu semua. Diana menggunakan sebilah pisau alih-alih jepit rambut. Pisau dengan gagang bersisik dan berhias permata ruby.
Mau tak mau aku kembali memperhatikannya dari atas ke bawah. Menilai seberapa mematikan wanita ini. Dia mengenakan pakaian tradisional Orient yang tidak kuingat namanya. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya, tapi kini aku melihatnya. Aku mendapati bahwa dia menyimpan pisau dapur di sepatu botnya dan sepasang belati yang ditutupi kain tambahan yang diikat mengitari pinggangnya. Dia kini lebih terlihat seperti pembunuh bayaran berpakaian tradisional alih-alih wanita pemilik kedai anggur.
"Kenapa kau memandangi istriku seperti itu, Serigala?"
Langkahku terhenti begitu mendengar suara itu. Aku menoleh ke sumber suara. Seorang pria Westerian. Dan bukan Westerian biasa.
"Kenapa seorang Navarro ada di Orient? Kau tersesat?" Balasku. Dia, orang yang ada di hadapanku saat ini, adalah salah satu makhluk paling mematikan di Westeria. Klan Navarro. Aku bisa langsung tahu dari mata Amethyst-nya.
Ada alasan tersembunyi kenapa Westeria menjauhi perang dan konflik dengan negara lain. Bukan karena mereka pengecut dan lemah. Tapi karena mereka berbahaya. Dan Klan Navarro lah alasan utamanya.
"Riz, jangan bersikap begitu dengan tamu kita." Kata Diana. Si Navarro mengalihkan pandangannya pada wanita Schiereiland itu. Aku hanya pernah melihat tatapan seperti itu pada dua orang. Pada ayahku, saat beliau menatap ibuku. Dan pada Xavier, saat dia menatap Putri Anastasia. Seperti orang buta yang melihat cahaya untuk pertama kalinya.
Aku menatap mereka bergantian. Sekarang masuk akal kenapa wanita Schiereiland itu terlihat sangat mematikan dan memiliki banyak pisau. Dia adalah istri seorang Navarro.
Riz. Aku tidak ingat satu pun putra Klan Navarro yang bernama Riz. Aku tahu putri sulung mereka, Andromeda Navarro, yang usianya dua tahun lebih tua dariku, atau begitu lah kelihatannya. Aku tak benar-benar tahu usia asli Andromeda karena seingatku, Klan Navarro memiliki umur panjang dan awet muda. Andromeda adalah satu mantan 'calon tunanganku'. Tapi aku tidak ingat adik laki-lakinya yang bernama Riz. Yang kutahu, salah satu adik lelaki Andromeda kabur dari rumah bertahun-tahun yang lalu. Tapi aku tidak ingat namanya.
"Aku hanya bercanda, sayang." Kata Riz pada istrinya. Dia melirik ke arahku sebentar, "Biar aku yang mengantar Tuan Serigala ini ke ruangannya."
...****************...
"Kau!" Aku memekik terkejut begitu melihat siapa yang sudah menunggu di ruangan yang dimaksud oleh Riz. Dan ternyata orang itu juga sama terkejutnya sepertiku.
"Anda mengikuti saya sampai ke Orient?" Dia menuduhku. "Tidak kah Anda terlalu terobsesi? Apa lagi yang Anda inginkan?"
Riz mengamati kami bergantian, lalu tertawa. "Oh, jadi kalian sudah saling mengenal? Bagus lah kalau begitu. Aku jadi tidak perlu repot-repot—ah, tapi ini bagian dari tugas. Jadi singkat saja." Riz melangkah ke ruang diantara kami. "Tuan Serigala, Nona ini adalah Lee Yeon-Hwa, mata-mata yang diutus oleh Putri Anastasia. Dan... Nona mata-mata, orang ini adalah Elias Winterthur yang diutus oleh Raja Xavier untuk bekerja sama denganmu. Sekian perkenalannya. Kalian bisa mengobrol. Istriku akan segera datang membawakan makanan dan minuman. Saat malam kalian bisa beristirahat di ruangan mana saja di lantai dua, seingatku masih banyak kamar yang kosong. Baiklah... Tugasku selesai sampai di sini." Riz baru akan beralih dan pergi dari ruangan ini, tapi dia kembali dan mengatakan pesan terakhir, "Tolong, jangan saling membunuh di tempat ini. Selamat berbincang-bincang."
Setelah Riz pergi, aku tidak langsung duduk di salah satu kursi yang mengitari meja di ruangan itu. Aku mengamat-amati ruangan itu. Siapa yang tahu kalau ini semua hanya jebakan.
Ruangan itu kira-kira berukuran lima kali lima meter. Terlalu luas untuk ukuran ruang minum pribadi di sebuah kedai anggur di daerah pinggir Jungdo—terutama di bagian distrik merah. Kedai ini sendiri sudah mencurigakan. Bangunannya kelewat luas dan megah. Dan mereka menjual anggur yang di Orient termasuk barang mahal dengan harga yang cukup terjangkau. Pemiliknya adalah sepasang suami istri dari Westeria dan Schiereiland. Jelas sekali kedai anggur ini masih baru jika dilihat dari bangunannya. Mungkinkah Putri Anastasia yang mengutus dua orang itu untuk berada di Orient?
"Silahkan keluar dari ruangan ini jika Anda sudah selesai mengamati, Jenderal." Kata Honey Welsh. Atau mungkin aku harus mulai menyebutnya sebagai Lee Yeon-Hwa. Dia kemudian menenggak habis isi gelas anggurnya.
Aku duduk di hadapannya, menuang anggur untukku sendiri. "Pertama, aku sudah bukan Jenderal lagi." Aku menenggak habis anggur tersebut. Aku bisa langsung tahu. Ini Carina. Anggur kesukaan Xavier. "Kedua, aku datang bukan untuk mengamati. Dan ketiga, aku tidak akan keluar dari ruangan ini." Aku mengamati Yeon-Hwa. Dia masih tampak sama, namun entah bagaimana berbeda. Mungkin karena rambutnya dikepang seperti gadis-gadis Orient yang belum menikah. Mungkin karena dia akhirnya mengenakan pakaian tradisional asal negaranya sendiri. Dia kini tidak terlihat seperti salah satu pengawal Ratu. "Jadi kau mata-mata yang diutus Putri Anastasia."
"Benar. Jadi Anda yang selama ini mengejar-ngejar saya dalam wujud Serigala?"
"Benar."
"Tidak kah Anda berhutang permintaan maaf pada saya?"
"Untuk apa?"
"Untuk apa?" Ulangnya. Dia tertawa sinis. "Anda meneror saya. Membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang maupun hidup dengan tenang selama berhari-hari. Anda adalah mimpi buruk saya. Dan kemudian Anda datang pagi itu, menyerang Ayah saya. Lalu membuat saya kehilangan pekerjaan. Untuk apa? Coba katakan sekali lagi!"
"Semua akan jauh lebih mudah jika saja sejak awal kau mengatakan yang sebenarnya. Bahwa Putri Seo-Hwa adalah ibumu dan beliau sudah meninggal."
"Anda bahkan tidak menyesal sama sekali. Saya tidak akan bisa bekerja sama dengan orang seperti Anda. Selamat tinggal."
Lee Yeon-Hwa pergi meninggalkan ruangan ini. Aku tidak perlu memohon padanya. Pasti ada mata-mata lain yang lebih baik darinya yang tidak sombong yang bisa kuajak bekerja sama. Pasti ada kan?
__ADS_1
...****************...