
Selama di Orient, Aku dan Shuu tinggal di Dong-gung, kedai anggur yang dulunya adalah rumah bordil yang kemudian dibeli oleh Raja Xavier dan dirombak oleh para penyihir utusan Raja Xavier sehingga menjadi sangat mirip dengan Istana Timur. Beliau kemudian mempersembahkan bangunan itu untuk Putri Anastasia. Istana Timur—atau dalam bahasa Orient disebut Dong-gung—merupakan Istana yang paling indah di antara semua Istana yang ada di Orient karena Istana itu hanya ditempati oleh Putri kesayangan Kaisar. Dalam dongeng, Istana Timur disebut-sebut merupakan tempat tinggal Putri Yukari—atau Putri Yue, atau Putri Yeon, tergantung suku mana yang menceritakan dongeng tersebut—yang merupakan Istri pertama Raja Nordlijk serta asal mula kenapa keluarga Kaisar disebut-sebut sebagai keturunan Naga Api Agung dan Ratu Agung Zhera. Saat ini Istana Timur dibiarkan kosong dan menjadi objek wisata sepeninggalan pemilik terakhirnya, yaitu Putri Seo-Hwa. Mungkin Raja Xavier pernah berkunjung ke Istana Timur sehingga beliau bisa membuat replika Istana tersebut dan menjadikannya kedai anggur paling diminati para turis asing.
Putri Anastasia kemudian menyerahkan kepemilikan Dong-gung kepada kenalannya, pasangan yang juga memiliki bisnis anggur di Schiereiland, Diana dan Riz. Kedai anggur itu selalu ramai dengan para turis asing siang dan malam. Tapi kami diberi kamar di lantai dua yang jauh dari suara bising para pelanggan dari berbagai negara.
Dong-gung terdiri dari tiga lantai dan empat bagian terpisah. Lantai dasar seluruhnya digunakan untuk para pelanggan. Di lantai dasar, terdapat halaman depan serta kolam ikan yang dihiasi bunga lotus serta pohon bunga sakura besar di pinggir kolam yang dihiasi lentera-lentera yang dinyalakan tiap malam. Beberapa pelanggan yang ingin menikmati suasana outdoor biasanya akan mengambil tempat di bawah pohon itu. Ada juga bagian semi-indoor yang merupakan ruangan terbuka yang melingkari taman bunga di bagian tengah ruangan. Sementara itu, ruangan indoor biasa digunakan bagi mereka yang ingin suasana lebih privat. Serta ada dapur, yang mana sebenarnya hampir tidak pernah digunakan. Di kedai anggur ini mereka tidak menyediakan makanan. Tapi mereka akan menyediakan makanan khusus tamu-tamu tertentu.
Dong-gung memiliki ruang bawah tanah tempat Diana dan Riz menyimpan anggur-anggur mereka. Anggur-anggur tersebut dibuat di Schiereiland dan dibawa ke Orient menggunakan sihir—menurutku lebih tepat jika dikatakan bahwa anggur-anggur tersebut diselundupkan secara ilegal. Shuu mengatakan di ruang bawah tanah juga ada kamar tambahan, ruang kerja dan ruang santai yang tidak pernah aku datangi. Sedangkan di lantai dua dan lantai tiga adalah tempat tinggal kami.
Diana dan Riz menempati lantai tiga, sedangkan Aku, Shuu dan Yeon-Hwa menempati kamar-kamar di lantai dua. Oh, ada satu lagi. Elias Winterthur, pria asal Nordhalbinsel yang kata Shuu merupakan saudara kembar Ratu Eleanor, dia menempati salah satu kamar di lantai dua. Kami hidup dengan damai dan aman di Dong-gung. Meski tidak selalu damai. Tidak. Sebenarnya, hampir setiap hari terjadi keributan di Dong-gung.
Keributan ini sudah dimulai sejak beberapa hari yang lalu saat Elias Winterthur datang. Dia diutus oleh Raja kami—Raja Xavier—untuk bekerja sama dengan Yeon-Hwa. Tapi Yeon-Hwa menolak karena dia bilang Elias berhutang maaf padanya dan bersikeras tidak mau bekerja sama dengan Elias bahkan meski Sang Raja yang memintanya. Dan sejak saat itu, pagi kami selalu diawali oleh drama mereka berdua.
"Astaga! Kau mau ke mana dengan pakaian minim seperti itu pagi-pagi begini?" Tanya Elias yang kebetulan lewat saat aku membantu Yeon-Hwa bersiap pagi itu. Aku hampir mengacaukan riasan wajah Yeon-Hwa karena suara Elias mengejutkanku.
Aku mengerti kenapa Elias menanyakan hal itu. Yeon-Hwa mengenakan pakaian penari Orient yang mana artinya, hampir tak mengenakan apa pun yang pantas disebut pakaian. Dia mengenakan rok panjang berbahan kain yang tipis dan menerawang dengan belahan yang memperlihatkan kakinya hingga pahanya secara keseluruhan serta pakaian bagian atas yang hanya berupa sehelai kain dengan manik-manik yang berkilauan yang menutupi dadanya dan membiarkan bagian perutnya terbuka. Tapi di Orient, pakaian seperti ini masih bisa dibilang wajar untuk para penari.
"Malam ini ada festival seribu bintang yang diadakan di setiap puncak musim semi. Putra Mahkota Haru akan datang dan memimpin perayaan di balai kota. Yeon-Hwa akan menyamar menjadi salah satu penari." Shuu menjelaskan. Bahasa Nordhalbinsel Shuu lebih sempurna belakangan ini semenjak Elias datang. Mereka memang sering terlihat mengobrol bersama.
"Lalu Yeon-Hwa akan mencuri perhatian Putra Mahkota Haru." Aku menambahkan dengan bahasa Nordhalbinsel yang masih sangat kaku.
Elias masih tampak bingung. "Lalu?"
"Haru akan menyewa beberapa penari berbakat untuk menjadi penari tetap di Istana Matahari, Istana yang akan ditempati oleh Kaisar, Maharani dan sang pewaris takhta selama beberapa minggu ke depan karena gonjang-ganjing di Ibu kota belakangan ini. Alih-alih pelayan, para penari di Istana Matahari memperoleh tempat yang lebih dekat dengan keluarga Kaisar. Menjadi Penari di Istana Matahari berarti aku dapat memperoleh akses menuju banyak informasi penting." Yeon-Hwa akhirnya menjelaskan dengan enggan. Aku bermaksud menjelaskan semua itu sebelumnya, tapi bahasa Nordhalbinsel ku tak sefasih Yeon-Hwa.
"Kau begitu yakin Haru akan menyewa penari hanya untuk menari?"
"Apa maksudnya itu?" tanyaku.
Yeon-Hwa melemparkan tatapan tajam pada Elias. "Haru bukan pria seperti Anda."
Elias tertawa, "Memangnya aku pria seperti apa?"
"Anda pasti sudah tahu reputasi Anda sendiri. Sudah banyak yang membicarakannya."
Elias mengabaikan sindiran itu dan beralih padaku. "Memangnya dia bisa menari?"
"Yeon-Hwa belajar dengan cepat. Gerakannya lumayan." Jawabku.
"Tidak. Menurutku Yeon-Hwa sudah sebaik penari profesional." Shuu memuji. Ini hal yang sangat langka karena Shuu jarang memuji tarian orang. Dia dibesarkan di Istananya sendiri. Dia sudah melihat banyak penari profesional dari seluruh Orient yang sangat berbakat seumur hidupnya. Dia juga lah yang mengajari Yeon-Hwa tarian yang akan diperlihatkan Yeon-Hwa malam ini. Shuu sudah menghabiskan berjam-jam setiap pagi mengajari Yeon-Hwa tarian yang dia ketahui. Malam ini akan menjadi penentuan bagi Yeon-Hwa apakah Shuu sudah berhasil mengajarinya dengan baik.
"Haruskah mengenakan pakaian seperti itu?" Tanya Elias lagi, kali ini dia berusaha tidak melirik ke arah Yeon-Hwa yang masih berusaha duduk tenang karena aku masih merias wajahnya.
Sebenarnya, Yeon-Hwa tidak membutuhkan riasan apa pun. Kulitnya sempurna, kulit putih bersih impian semua wanita di Orient. Aku hanya perlu memoleskan perona merah pada bibir dan pipinya. Mungkin aku sebaiknya memfokuskan hiasan di rambutnya yang sangat panjang, tapi Yeon-Hwa bilang terlalu banyak hiasan di kepala akan membuatnya kesulitan menari.
"Apakah para penari memang mengenakan pakaian seperti itu?" Tanyanya lagi padaku dan Shuu, kali ini dia berusaha menggunakan bahasa Orient. Aku menahan tawa saat melihat telinganya memerah.
Si Serigala ingin mengambil seprai dari kamar untuk menutupi tubuh Yeon-Hwa. Perkataan Shuu membuatku kesulitan menahan tawa.
Kurasa tidak ada wanita yang berpakaian terbuka di wilayah utara sana karena cuacanya selalu dingin. Maklum saja kalau dia tidak terbiasa melihat pemandangan ini.
"Memangnya kenapa?" Kali ini Yeon-Hwa tampak kesal.
"Tidak nyaman dilihat."
"Kalau begitu tutup mata saja!"
__ADS_1
"Astaga! Kenapa pagi-pagi kalian sudah berisik sekali?" Itu suara Riz. Dia baru turun dari lantai atas. Rambutnya yang biasa tertata rapih, masih berantakan pertanda dia baru saja terbangun akibat pertikaian di lantai dua ini. Diana tak terlihat bersamanya. Mungkin masih tidur, karena festival seribu bintang berarti hari libur untuk semua orang.
"Maafkan kami, Tuan." Kata Shuu langsung. Shuu selalu bersikap formal pada Riz dan aku mau tak mau jadi ikut bersikap formal padanya. Riz memang bukan anggota keluarga kerajaan, tapi yang kudengar dia anggota Klan Navarro yang merupakan salah satu keluarga bangsawan paling ditakuti di Westeria. Sejauh ini, tak satu pun hal dari dirinya yang patut ditakuti. Dia selalu bersikap baik padaku dan Shuu. Aku malah merasa nyaman padanya padahal aku biasanya selalu was-was pada orang asing.
"Ada yang bisa menjelaskan permasalahan apa lagi kali ini?" Riz menggunakan bahasa Orient. Itu artinya hanya antara aku, Shuu atau Yeon-Hwa yang diizinkan menjelaskan.
Akhirnya aku mencoba menjelaskan sesimpel mungkin. "Jenderal Elias tidak suka melihat pakaian Yeon-Hwa."
Riz menoleh ke arah Elias. "Aku berani taruhan kau sebenarnya suka melihat pakaiannya seperti itu." Kata Riz langsung pada Elias dengan bahasa Nordhalbinsel. "Jadi berhenti bertengkar dan bersiap untuk sarapan." Lanjutnya dalam bahasa Orient.
...****************...
Usai sarapan, aku menemani Yeon-Hwa ke balai kota di pusat Jungdo untuk mendaftar. Ada banyak sekali orang yang sudah datang untuk mendaftarkan diri pagi itu, jadi kami harus ikut mengantre. Aku mengenakan jubah dan tudung kepala serta topeng festival untuk berjaga-jaga jika ada yang mengenaliku sebagai Naga Angin yang menghilang. Sementara itu, Yeon-Hwa di sampingku tampak terlalu mencolok sehingga tak satu pun yang tidak memperhatikannya. Yeon-Hwa tampaknya sudah terlalu lama tinggal di Negeri Es sehingga dia tidak tampak kedinginan meski pagi itu suhu udara masih lumayan dingin dan pakaiannya tidak berfungsi untuk menghalau angin dingin pagi hari. Tapi aku tetap membawakannya mantel untuk berjaga-jaga.
"Apakah aku tampak aneh? Apa aku tidak cocok mengenakan pakaian ini?" Dia terus menerus menanyakan hal itu selama perjalanan hingga kami sampai di antrean pendaftaran.
"Bagus kok. Warnanya sangat cocok dengan kulitmu." Jawabku ke sekian kalinya. Tapi Yeon-Hwa masih tampak tidak percaya diri. Dia harusnya bercermin sebelum berangkat tadi. Tapi kami terlalu terburu-buru sehingga aku tidak sempat memperlihatkan hasil kerja kerasku merombaknya dari sosok ksatria wanita Montreux menjadi Dewi Musim Semi Orient.
Dia pasti tidak melihat orang-orang di sekitarnya yang tidak berkedip sama sekali saat dia lewat. Atau para pria yang hampir meneteskan liurnya ketika melihatnya. Dia terlalu sibuk menghafalkan gerak tarian serta memikirkan perkataan Elias tadi pagi sehingga tidak memperhatikan semua itu.
"Apa kau bisa menunggu di sini sebentar? Aku ingin membeli camilan untuk kita sambil menunggu." Kataku. Sebenarnya, selain camilan, aku juga ingin membeli cermin agar dia bisa melihat mahakaryaku di wajahnya dan berhenti mengkhawatirkan penampilannya.
"Kau tidak apa-apa berkeliaran sendirian?" Tanyanya.
"Aku akan baik-baik saja. Tempat ini ramai dan aku memakai topeng. Mustahil ada yang mengenaliku." Jawabku. Yeon-Hwa mengangguk mengizinkan.
Jungdo adalah surga dunia. Paling tidak begitulah menurutku. Di kota ini, semua tersedia dalam harga yang terjangkau. Toko-toko pakaian, perhiasan dan sepatu berjejer di sepanjang jalan. Sedangkan di sisi jalan lainnya, toko-toko kue, makanan dan minuman tampak menggiurkan. Padahal aku baru sarapan pagi tadi di Dong-gung. Diana tidak bisa memasak—aku tahu, aneh sekali. Di Orient, setiap wanita yang sudah menikah pasti bisa memasak karena para Ibu hanya akan mencari calon menantu yang sudah teruji masakannya. Jadi pagi tadi kami hanya makan bubur yang Riz beli di kedai makanan dekat Dong-gung. Dan bubur saja tidak cukup mengisi perut Naga Angin. Aku biasa sarapan dengan dua belas menu yang disajikan oleh koki Istana Angin yang merupakan tradisi Orient untuk menjamu para Naga dengan makanan-makanan terbaik.
Dari kejauhan pun aku sudah dapat mencium aromanya. Kue Lotus. Aku membuka topengku setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan. Aroma manis kue Lotus yang amat kurindukan langsung menguar mengisi indra penciumanku yang sudah tidak ditutupi oleh topeng. Aku berjalan menuju toko kue di ujung gang. Perutku semakin keroncongan seiring langkah kakiku.
Itu para Torakka. Eri, Gyeoul dan Yi-Zhuo.
Aku segera lari menjauhi mereka bahkan sebelum mereka melihatku. Tudungku tersingkap dan memperlihatkan rambut perakku yang tidak dimiliki oleh siapa pun di Orient. Aku tahu aku seharusnya tidak berlari dan menarik perhatian, tapi aku terlalu panik untuk bisa berpikir jernih.
"Itu Naga Angin!" Aku mengenali logat suku Han milik Gyeoul. "Cepat tangkap!"
Tidak ada gunanya aku berlari. Mereka akan segera menangkapku. Tapi aku harus berhasil kabur dari mereka bagaimana pun caranya. Jadi aku mendatangkan angin besar yang menerbangkan kain-kain dari toko bahan pakaian yang kulewati, berharap hal itu dapat memperlambat mereka.
Aku harusnya menemui Yeon-Hwa. Tapi aku tidak boleh menyeret Yeon-Hwa dalam hal ini. Dia memiliki tugasnya sendiri. Tugas dari Ratu kami. Jika dia terlihat bersamaku, dia juga akan dicurigai dan mungkin ditangkap. Itu akan mengacaukan semuanya. Jadi sebisa mungkin aku berlari menjauh dari balai kota tempat Yeon-Hwa masih menungguku membelikannya camilan.
Shuu! Aku mencoba bertelepati. Jarakku agak jauh dari Dong-gung, tempat Shuu berada. Jadi aku tidak yakin telepati ini akan berhasil.
Bermenit-menit kemudian aku masih belum mendengar jawaban dari Shuu. Dan aku masih berlari melewati keramaian kota. Aku tidak bisa begitu saja merubah wujud dan terbang karena suasana kota terlalu ramai. Dan itu akan memudahkan Torakka atau orang-orang Kaisar lainnya untuk menangkapku.
Jika dipikir-pikir, agak aneh para Torakka tidak mengetahui keberadaanku sebelum kami berpapasan barusan. Torakka memiliki mata naga. Mereka seharusnya sudah bisa melacak keberadaanku selama berminggu-minggu di Dong-gung. Sungguh suatu keajaiban aku dan Shuu bisa aman di Dong-gung selama ini. Apa mungkin aku kini bisa menyembunyikan keberadaanku sendiri dari para pemilik mata naga? Mustahil. Itu adalah kemampuan milik Earithear, Naga Bumi. Earithear dapat memanipulasi keberadaannya menjadi bagian dari alam sehingga pemilik mata naga sekalipun kesulitan melacaknya. Tapi aku bukan Earithear. Aku tidak dapat bersembunyi dari para Torakka.
Tapi aku bisa mencoba.
Akhirnya aku bertemu dengan jalan buntu. Aku bersembunyi di salah satu reruntuhan bangunan tua di ujung jalan. Jika teoriku benar, para Torakka akan lewat begitu saja dan tidak dapat menemukanku.
Aku mendengar langkah para Torakka semakin dekat. Tanpa sadar aku menahan napas seolah dengan begitu aku dapat menjadi tak kasat mata. Detik-detik berlalu rasanya seperti ratusan tahun. Tapi aku menunggu dengan sabar sampai akhirnya langkah kaki mereka terlalu jauh untuk dapat kudengar. Mereka melewatiku begitu saja. Mereka bahkan tidak berpikir untuk mencariku yang sedang bersembunyi. Mereka tidak melihat jejak keberadaanku bahkan dengan mata naga. Ini mukjizat!
Aku tidak langsung keluar dari tempat persembunyianku. Lagi pula tempat ini tidak terlalu buruk. Aku pernah berada di tempat yang lebih buruk dari ini—rumahku sebelum Eri membawaku ke Istana. Aku duduk lama di bawah reruntuhan bangunan tua itu, membiarkan tikus-tikus melewatiku begitu saja. Hingga satu jam telah berlalu dan aku sudah cukup yakin para Torakka tidak akan mencariku lagi di sini, baru lah aku keluar dari tempat persembunyianku.
Aku melihat ke sekelilingku. Kosong. Tidak ada siapa pun.
__ADS_1
Jadi aku kembali menutupi rambut perakku dengan tudung kepala dan mengenakan topengku. Aku harus segera kembali pada Yeon-Hwa. Dia pasti sudah menungguku sejak tadi.
"Bagaimana kau melakukannya?"
Bulu kudukku berdiri begitu mendengar suara sejernih kristal itu. Itu adalah suara yang sudah sangat ku kenal.
Aku menoleh ke belakang dan mendapati gadis itu berdiri di sana. "Eri..."
Eri keluar dari bayangan yang menyembunyikan keberadaannya sebelumnya. Mata Eri yang berwarna merah terang menatapku dengan bingung. "Kenapa aku tidak dapat melihat jejakmu? Bagaimana kau melakukannya?" Eri melangkah maju semakin dekat padaku. Pedang katana nya terhunus. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak langsung lari.
"Aku tidak tahu. Aku juga tidak mengerti." Jawabku. Aku menyadari suaraku bergetar.
"Kau sekarang takut padaku." Itu bukan pertanyaan. Tapi aku memang takut saat ini. Mata Naga milik Eri tidak pernah terasa semenakutkan ini sebelumnya. Aku merasa seperti hewan kerdil di hadapan pemangsa. "Kau bilang kita bersaudara. Kenapa kau lari dariku?"
"Aku tidak—“
"Jangan kabur lagi, Kaze. Ikut lah bersamaku. Ayo kembali ke Istana Angin. Di sana lah rumahmu."
Aku menggeleng. Tanpa terasa air mataku mengalir saat Eri menyebutkan kata rumah. Sebelum ini, Istana Angin selalu menjadi rumahku. Tempat yang aman dan nyaman. Tempat aku diurus dengan baik dan diberi makan. Tempat aku merasa terlindungi. Kini aku menyadari bahwa Istana adalah kandang cantik tempatku dikurung. "Aku tidak mau."
"Memangnya kau punya tempat untuk pergi? Kau tidak bisa bersembunyi selamanya. Paling tidak kau punya tempat berlindung yang nyaman di Istana Angin. Kau disembah di sana. Kau diagungkan dan dihormati."
"Aku dijadikan senjata, Eri. Aku bukan disembah. Aku dijadikan ikon untuk memperkuat posisi Kaisar, untuk membuktikan kekuasaan Kaisar. Untuk membuat musuh-musuh Kaisar takut padanya. Kau juga tahu itu."
"Apa kau begitu tidak tahu berterima kasih sehingga kau lupa siapa yang telah membuatmu terbebas dari keluarga yang tidak mencintaimu? Dari orang-orang rendahan yang tidak menganggapmu berharga. Siapa yang menyelamatkan nyawamu saat kau hampir mati kekurangan gizi, Kaze?"
"Jangan menghina keluargaku di hadapanku!" Angin berpusar di sekelilingku. Eri sekali pun kesulitan untuk berdiri tegak. Dia berpegangan erat pada tiang salah satu bangunan. Beberapa benda—batu-batu kerikil, potongan kayu, sampah plastik—di sekelilingku terangkat terkena pusaran arus angin di sekelilingku.
"Mereka bukan keluargamu, Kaze! Aku lah keluargamu satu-satunya. Aku yang mengeluarkanmu dari neraka itu dan memberimu kehidupan baru di Istana. Aku yang menemukanmu."
Anginku mereda. Aku tidak seharusnya menyerang Eri dengan kekuatanku. Ini tidak adil untuknya. Eri selama ini memperlakukanku seperti adiknya sendiri. Tapi dia hanya menjalankan tugasnya sebagai Torakka. Dan kami bukan keluarga sungguhan. Memperlakukanku dengan baik adalah salah satu pekerjaannya.
"Aku sudah menemukan keluargaku sekarang, Eri. Aku bertemu dengan Raja dan Ratuku." Aku akhirnya memutuskan untuk memberitahunya. Pupil matanya melebar begitu aku menyebutkan Raja dan Ratuku. Eri dan keluarganya menyembah para Naga. Mereka yakin suatu saat nanti keempat Naga akan berkumpul dan Sang Ratu akan hidup kembali. Melihat Eri masih terdiam, aku melanjutkan, "Aku hanya akan mengabdi untuk mereka. Kau juga tentu tahu bahwa Qin tidak memiliki darah keturunan Kaisar sebelumnya. Dia bukan pewaris sah! Dia anak haram dari Selir kesayangan Kaisar Lee dengan salah satu pengawal Istana!"
"Jangan katakan hal itu pada siapa pun. Jika ada yang mendengarmu—“
"Aku tahu. Aku akan dipenggal."
Eri menggeleng. "Aku tidak akan memenggalmu. Kau tahu aku menganggapmu dan Naga lainnya sebagai Dewa dan Dewiku."
Aku tahu itu. Eri pernah bercerita bahwa sewaktu ibunya sedang mengandungnya dulu, Ibunya pernah mengalami kecelakaan hingga hampir mati, tapi Naga Angin terdahulu, aku di kehidupan sebelumnya, menolongnya. Sejak itulah keluarga Eri menyembah para Naga.
"Apa kau akan melepaskanku? Apa kau akan membiarkanku pergi?" Tanyaku.
Eri kemudian menyarungkan kembali katana nya. "Kata-katamu tadi itu... Apa benar? Apa kau sudah bertemu dengan Naga Api Agung? Apa Naga Api Agung hidup kembali?"
Aku mengangguk. "Benar. Dia juga sudah bertemu dengan Ratu Agung Zhera. Keempat naga hidup di era yang sama saat ini." Aku tidak menceritakan bahwa Earithear sudah meninggal.
"Kalau begitu... ini sebuah pertanda. Pemerintahan Kaisar akan berakhir. Saat keempat naga dan Ratu mereka hidup kembali, mereka lah yang akan menguasai kekaisaran." Pemahaman terbit di matanya.
"Kepada siapa kau akan memihak kalau begitu?"
"Untuk saat ini, aku masih menjadi milik Kaisar. Tapi kau... Aku akan membiarkanmu bebas, Kaze. Penuhi tugasmu sebagai Naga Angin dan bawakan perdamaian bagi keempat negara. Mengabdi lah pada Raja dan Ratumu. Dan pergi lah jauh dari Orient. Torakka lain mungkin tidak akan memiliki pemikiran yang sama sepertiku."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, sebelum Eri berubah pikiran atau sebelum ada Torakka lainnya, aku segera berlari kembali ke Balai Kota.
__ADS_1
...****************...