
Anna menolak untuk tinggal di Schiereiland sementara sambil menungguku membenahi urusan internal di kerajaan kami—menyenangkan sekali rasanya sekarang menyebut kerajaan ini sebagai kerajaan kami.
"Kalau kau benar-benar mencintaiku seharusnya kau tidak terlalu sering memintaku untuk jauh darimu." Katanya.
Jadi dia pergi ke Nordhalbinsel bersama Ludwig di pagi hari usai upacara pernikahan Ludwig dengan Constanza di Schiereiland—setelah Ludwig membawa Constanza ke tempat yang aman. Aku tak mengizinkan Ludwig menggunakan teleportasi dari Schiereiland ke Nordhalbinsel karena khawatir itu akan membuat Anna mual kembali jika melakukan teleportasi sejauh itu. Sedangkan aku terlebih dahulu terbang ke Istanaku, menyelinap masuk ke kamarku. Pagi itu, aku keluar dari kamarku dan mengejutkan semua yang ada di Istana. Mereka masih menganggap selama ini aku sedang sakit—tidak sepenuhnya salah karena sekarang pun aku masih merasakan sakit di seluruh tubuhku—apalagi karena Anna tak ada di dekatku, jadi begitu melihatku tampak sehat dan berjalan keluar dari kamarku, semua yang berhadapan denganku langsung bersujud penuh syukur.
Hal pertama yang kulakukan adalah mengadakan rapat dengan para bangsawan membahas perceraianku dengan Elle dan—dengan berat hati—hukuman mati untuknya dan seluruh keluarganya. Dia memang belum terbukti membunuh Pangeran Yi dan ayahku, para bangsawan juga belum dapat membuktikannya, tapi aku sudah tahu kebenarannya. Dan tentu saja yang akan mendapat hukuman mati adalah mereka yang ada di penjara—Elle, Grand Duke Winterthur, serta Grand Duchess Winterthur palsu—yang merupakan para tahanan yang diubah wajahnya oleh Elle sehingga menyerupai para anggota keluarga Winterthur itu. Sementara itu Elle dan kedua orang tuanya tidak bisa menampakkan diri lagi di hadapan siapa pun. Aku akan mengirim mereka semua jauh ke wilayah perbatasan utara dekat Istana Utara sebagai hukuman atas apa yang telah Elle lakukan yaitu pembunuhan terhadap Pangeran Yi.
Aku menemui Elle di mansion ku usai rapat sambil menunggu kedatangan Anna—jika perhitunganku tepat, Anna seharusnya sampai di Istana sore ini. Elle tampak jauh lebih sehat. Perutnya sudah membesar dan dia terlihat jauh lebih baik sekarang. Mungkin ada baiknya juga aku menjauhkannya dari masalah di Istana. Istana membuatnya stres selama ini.
"Jangan khawatir, aku akan mengirimkan dokter dan pelayan di tempat pengasingan itu dan mereka takkan membocorkan rahasia keberadaan kalian. Kau akan bisa melahirkan dengan nyaman dan aman di sana. Kalau kau mau, aku bisa menyediakan kapal untukmu. Bukankah sejak dulu kau bercita-cita untuk berkeliling dunia dengan kapal dan mengarungi samudra? Kau bisa bebas ke mana pun dan memulai hidup baru kalau kau mau, tapi pastikan tidak ada yang tahu atau ubah wajahmu dengan sihir transformasi. Karena yang orang-orang tahu, kau beserta seluruh keluarga Winterthur diberikan hukuman mati."
"Aku mungkin akan mempertimbangkan tawaran itu jika aku sudah melahirkan dan anakku sudah cukup besar untuk dibawa berlayar." Kata Elle. Untuk ukuran orang yang baru dijatuhi hukuman pengasingan, dia terlihat biasa saja.
"Kenapa kau melakukannya?" Tanyaku akhirnya setelah lama aku menahan pertanyaan itu. Sebenarnya, aku tidak benar-benar siap mendengar alasannya. Tapi aku harus tahu alasan Elle membunuh Pangeran Yi.
"Apakah itu akan merubah keputusanmu jika aku mengatakan alasannya?"
"Mungkin. Kurasa aku berhak mendengar alasanmu. Dan kurasa kau berhak membela diri. Apakah dia menyakitimu? Apa yang dia lakukan padamu?"
Elle diam sejenak. Tatapannya kosong. "Dia tidak menyakitiku. Dia tak melakukan apa pun selain terang-terangan menunjukkan rasa sukanya padaku dan memintaku menikah dengannya." Jawabnya akhirnya.
"Jadi kau membunuhnya karena dia ingin menikah denganmu?"
Elle menggeleng. "Bukan itu."
"Lalu apa? Pasti ada alasannya kan? Kau orang baik Elle. Aku tahu itu. Aku sudah mengenalmu sejak kecil. Kau yang merawatku saat aku disakiti oleh para selir ayahku. Kau yang mendukungku dan menemaniku saat semua orang tidak peduli padaku. Kau sudah seperti saudariku sendiri. Kadang aku menganggapmu sebagai pengganti ibuku. Sebenarnya aku tak tega memberimu hukuman pengasingan. Jadi jika ada sesuatu yang perlu kuketahui, katakan saja."
"Tidak ada alasan apa pun. Dan aku tak menyesal telah membunuhnya. Aku akan menerima hukuman pengasingan itu." Katanya. Dia tampak seperti melamun. Untuk beberapa detik yang panjang dia tak berkedip sedikit pun. Saat dia tiba-tiba menoleh ke arahku, aku melihat sesuatu yang aneh padanya. Matanya berwarna ungu terang seperti warna mata ibunya. "Kalau kau sudah selesai, kau boleh pergi sekarang. Aku ingin istirahat sebelum pergi ke perbatasan besok pagi."
"Siapa kau?" Tanyaku langsung karena aku yakin sekali ada yang aneh dengannya.
Elle tampak terkejut. Tapi tepat saat itu, mata biru es miliknya telah kembali. Dia tersenyum, kembali terlihat seperti Elle yang kukenal. "Apa maksudmu? Kau bicara hal yang aneh, Xavier—Baginda Raja, maksudku. Kembali lah ke Istana. Bukan kah ada banyak hal yang harus kau kerjakan?"
"Kau yakin tidak apa-apa? Kau tampak sedikit... aneh."
"Aku baru saja dijatuhi hukuman pengasingan. Kau pikir bagaimana seharusnya aku terlihat? Sudah lah. Aku kan sudah bilang aku akan menerima hukuman itu. Jadi pergilah. Temui istrimu."
Aku baru akan mendesaknya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, saat tiba-tiba aku merasa jantungku seperti ditikam dan dicabik-cabik. Aku berusaha menahan rasa sakitnya, tapi sulit. Aku mencoba mengatur nafasku, berusaha menyembuhkan diriku sendiri, tapi bernafas saja rasanya menyakitkan. Saat bernafas, rasanya seperti bukan udara yang memasuki paru-paruku melainkan serpihan kaca. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, pandanganku buram. Aku buru-buru menutup mata, mencegah darah keluar dari mataku.
Aku tak bisa menahannya lagi. Rasanya seperti mati berkali-kali, tapi bukan sejenis kematian yang damai. Ini benar-benar menyiksa.
"Xavier!" Elle panik. "Kau kenapa? Apa yang terjadi?"
Sepertinya Elle berteriak meminta bantuan. Sepertinya aku yang berteriak kesakitan. Aku tak tahu lagi karena suara-suara terdengar samar. Sepertinya aku sudah tidak duduk di atas sofa lagi melainkan jatuh ke lantai. Aku tak dapat merasakan apa pun selain rasa sakit.
Sudah lama sejak terakhir kali racunnya menyerang. Selama berada di Orient dengan Anna, aku tak pernah merasakan ini lagi. Kini saat racunnya kembali menyerangku, rasa sakitnya semakin parah saja.
Sepertinya jauh lebih mudah jika aku membiarkan rasa sakit ini menelanku dan menguasaiku. Apa yang akan terjadi jika aku membiarkannya? Apa aku akan mati?
"Jangan meninggalkanku." Aku teringat pada perkataan Anna, pada suaranya yang menyiratkan rasa takut saat itu.
Aku tidak mau meninggalkanmu, sayang. Tapi bolehkan aku menyerah saja? Ini melelahkan dan menyakitkan.
"Kau harus melawan racun itu. Kau harus bertahan." Kata-katanya itu lah yang membuatku bertahan. Seandainya dia tak mengatakannya, mungkin aku akan menyerah saja. Aku pasti lebih memilih untuk mati karena itu lebih mudah. Tapi kini jika aku mati, aku bukan hanya akan meninggalkan Anna, aku juga meninggalkan anak kami.
"Kau tidak akan mati." Lagi-lagi, kata-kata Anna yang menjadi pegangan untukku agar aku bertahan.
Sesuai keinginanmu, cintaku. Aku tidak akan mati. Demi kau dan buah hati kita, aku akan bertahan hidup meski sulit.
Anna kini sudah tahu bahwa racun itu masih ada di dalam tubuhku. Bahwa aku sekarat dan aku mungkin bisa meninggalkannya sewaktu-waktu. Tidak. Anna sudah tahu sejak lama sekali. Sejak sebelum kami menikah. Sebelum dia memintaku untuk melamarnya di malam festival seribu bintang agar pernikahan kami di kehidupan ini mendapat restu dari Dewi Langit.
"Xavier..." Panggilnya saat itu dalam saluran kami sehingga tak ada yang mendengarnya selain aku. Semua orang sedang begitu terpana menatap bintang-bintang yang berjatuhan dari langit. Tapi aku sedang menatap Anna yang tampak sedang terpukau oleh pemandangan malam itu. "Kurasa aku mengerti kenapa ini terjadi pada kita." Dia mengalihkan pandangannya padaku. Itu bukan wajah Anna, itu bukan mata Anna, itu adalah wajah Diana Vinogradoff yang sedang menatapku. Jadi kenapa aku merasa seperti melihat Anna? Kenapa jantungku tetap berdebar kencang meski Anna sedang menyamar menjadi orang lain?
Lalu kusadari, itu bukan karena wajah cantiknya. Itu bukan karena dirinya yang begitu mirip dengan Zhera—dengan wajah dirinya di masa lalu. Itu bukan karena matanya yang seperti memancarkan sinar matahari pagi. Bukan juga karena rambut merahnya yang seperti ribuan kelopak mawar. Hatiku mengenalinya, bukan dalam wujud fisiknya. Aku mencintainya karena itu dirinya, tak peduli sihir apa pun yang merubah wujudnya.
"Kenapa?" Tanyaku kemudian.
"Kau tidak seharusnya mencintaiku saat itu. Aku juga seharusnya tidak mencintaimu. Kita seharusnya tidak bersama. Hubungan kita tidak mendapat restu dari Dewi Langit. Itu hubungan terlarang karena kau makhluk abadi dan aku hanya manusia yang fana. Kau seharusnya kembali ke langit setelah urusanmu di bumi selesai, tapi kau justru menetap dan kita menikah."
Dia sedang membicarakan masa lalu, aku tahu itu. Tapi hatiku tetap sakit saat mendengarnya seolah dia sedang menyuruhku untuk menjauh darinya. Dia benar. Aku seharusnya menjauh darinya agar aku tak mengulangi kesalahan yang sama. Lagi pula sejak awal aku memang berencana untuk menyerah. Aku tak boleh mengharapkan cintanya. Anna kelak akan kembali ke Schiereiland dan menikah dengan Leon. Dan aku akan mati dengan tenang mengetahui dia akan hidup bahagia bersama orang yang dicintainya. Jadi kenapa aku malah semakin menginginkannya dan sulit untuk melepasnya?
__ADS_1
"Kita tidak mendapat restu dari Dewi Langit." Dia mengulang kata-kata itu berulang kali dalam saluran kami seolah sekali saja belum cukup menyakitiku. Anna kini menatapku dengan serius, "Jadi dapatkan lah restu itu di kehidupan sekarang."
"Apa maksudmu?"
"Kalau kau tidak mau, aku yang akan berlutut memintamu untuk menikah denganku agar pernikahan kita mendapat restu dari Dewi Langit kali ini."
"Apa—“
"Lamar lah aku. Sekarang."
"Tunggu dulu..."
"Apa kau masih juga belum menyadarinya? Apa kau masih tidak tahu kenapa aku sampai bersedia ikut denganmu pergi ke Orient? Apa kau masih berpikir itu hanya demi urusan kenegaraan? Semacam kerja sama profesional tanpa melibatkan perasaan apa pun? Apa kau pikir aku meninggalkan Istanaku dan pergi bersamamu hanya karena aku bosan di Istana? Atau untuk sebagai pelipur lara agar aku tak berlarut-larut berduka atas kematian orang tuaku?"
"Benar kan? Kau memang butuh berada di luar Istana Schiereiland karena kau akan selalu teringat pada ayah dan ibumu jika kau tetap mengurung diri di sana. Dan karena di Istana Schiereiland ada Selena yang dapat melukaimu."
"Kau tidak berpikir aku melakukannya untukmu? Lalu bagaimana dengan surat-surat dan puisi-puisi yang kukirimkan untukmu? Apa kau masih berpikir aku menulisnya hanya untuk mengecoh orang yang memata-matai kita? Aku menumpahkan seluruh perasaanku untukmu dalam surat-surat itu. Dan apa kau pikir aku akan membiarkanmu memasuki kamarku dan memelukku hingga tidur jika aku memang tidak memiliki perasaan apa pun padamu? Apa kau pikir ciuman-ciuman kita hanya untuk penyembuhan? Apa kau tahu bahwa aku memikirkan ribuan cara untuk membuatmu tahu apa yang kurasakan terhadapmu? Karena aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya dengan benar. Dan sepertinya sampai sekarang pun kau belum sadar bahwa aku sedang berusaha mengungkapkan perasaanku padamu. Aku—“
Sebelum dia melanjutkan kata-katanya, aku sudah terlebih dahulu berlutut di hadapannya. Tangannya dalam genggamanku terasa begitu hangat. Jantungku sepertinya akan berlari keluar dari dadaku. Anna tampak terkejut. Bahkan aku sendiri terkejut.
Apa yang kulakukan? Apakah Anna benar-benar ingin aku melamarnya? Apa kami benar-benar bisa mendapatkan restu dari Dewi Langit? Apakah ini diperbolehkan?
Tapi aku mencintainya. Dan dia, dengan seluruh pidatonya tadi, kalau aku tidak salah menerjemahkan bahasa wanita, sepertinya mencintaiku juga. Dan malam ini Sang Dewi Langit mungkin akan benar-benar merestui kami.
"Aku tahu ini sangat tiba-tiba. Aku juga tidak menyiapkan cincin, tapi..." Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan debaran jantungku saat melihat senyum merekah di wajahnya dengan matanya yang tampak berkaca-kaca. Aku tak melihat Diana dalam wajah itu, aku, hatiku, seluruh sel dalam tubuhku dan segenap jiwaku melihat wanita yang kucintai baik dulu maupun sekarang. Dan kami mungkin dapat merubah takdir kami di kehidupan ini. Kami mungkin bisa memiliki akhir yang bahagia kali ini. "Apakah kau bersedia menikah denganku dan mendapat restu dari Dewi Langit?"
Aku baru menyadari bahwa kami sudah tidak berkomunikasi lewat saluran kami lagi. Bahwa aku baru saja melamarnya di hadapan semua penghuni Dong-gung—di hadapan Elias, Kaze, Shuu dan Yeon-Hwa. Bahwa ini mungkin akan terlihat aneh di mata mereka karena yang mereka tahu kami adalah Riz dan Diana—dan mereka sudah menikah.
"Kupikir selama ini kalian sudah menikah!" Kata Yeon-Hwa.
"Sssttt... biarkan saja mereka." Kata Shuu.
"Kami belum pernah direstui oleh Dewi Langit." Tatapanku tak beralih dari Anna. "Kau boleh menolak—“
"Aku bersedia." kata Anna langsung. Air matanya mengalir, tapi aku tak merasakan sakit. Karena aku tahu itu air mata bahagia. Karena dia kini merasa bahagia dan aku tak pernah merasa lebih bahagia dari ini sebelumnya seumur hidupku.
...****************...
"Apa itu tadi?" Tanya Elle yang kini sudah berdiri di pintu sambil membawa nampan berisi cairan berwarna ungu. Salah satu ramuan buatannya.
"Apa kau menyimpan pakaian Elias di sini? Aku mau pinjam."
Elle tidak menjawab, tapi dia mengayunkan tangannya ke udara dan pakaian yang kumaksud langsung ada di atas tempat tidur. "Kau belum menjawabku. Tadi itu apa? Kau kenapa? Apa itu sering terjadi?"
"Bukan apa-apa." Jawabku sambil berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian dengan cepat. Aku bukannya mau merahasiakannya. Elle mungkin bisa membantuku karena dia juga penyihir. Tapi saat ini aku tak punya banyak waktu untuk menceritakan semuanya pada Elle. Di luar langit sudah sangat gelap. Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri.
Xavier, kau di mana? Itu suara Anna. Sepertinya dia sudah sampai di Istana Ratu. Aku memintanya menungguku di sana jika sudah sampai. Sudah berapa lama dia menungguku? Dari nada suaranya dia terdengar sedikit kesal.
Aku ada urusan sebentar, sayang. Sebentar lagi aku pulang.
Di mana? Aku sejak tadi mencoba menghubungimu tapi kau tidak menjawabku. Apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa?
Aku di mansion ku yang ada di wilayah Winterthur, yang ditempati oleh Elle.
Kau menemui Eleanor?
Tolong jangan cemburu. Kami hanya membicarakan tentang hukuman pengasingannya. Kami tak melakukan apa pun dan aku duduk jauh darinya. Jangan marah padaku. Kumohon...
Anna tertawa. Tawanya seperti pereda nyeri untukku. Tenang lah. Aku percaya padamu. Tapi cepat lah pulang. Aku rindu.
Tanpa kusadari, aku tersenyum. Elle sampai heran melihatku tiba-tiba tersenyum sendiri. Baik, Ratuku.
...****************...
Butuh waktu berhari-hari untuk mengurus perceraianku dengan Elle secara resmi karena normalnya keluarga kerajaan tidak bercerai. Aku juga akhirnya mengumumkan secara resmi ke seluruh rakyatku bahwa aku akan menjatuhi hukuman mati pada keluarga Winterthur. Tidak semua orang senang akan pengumuman itu—termasuk aku sendiri—meski kebanyakan rakyat setuju pada keputusanku karena pembunuhan terhadap bangsawan negeri lain dapat menimbulkan peperangan dan mengakibatkan lebih banyak lagi nyawa yang hilang. Aku kemudian mengumpulkan para bangsawan di ruang rapat dan mengumumkan bahwa aku akan menikah dengan Putri dari Schiereiland secepatnya. Keputusanku itu, tentu saja menuai perdebatan di kalangan para bangsawan. Sebagian protes karena aku baru saja bercerai dan jika aku menikah lagi dengan segera, itu hanya akan membuat berbagai gosip tidak baik tersebar di kalangan rakyat—dan biasanya pihak wanita yang lebih dirugikan. Sebagian menyambut dengan antusias kehadiran Ratu baru mereka dan menganggap ini langkah yang baik untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Schiereiland seperti yang kami lakukan dengan Westeria. Tapi kebanyakan mereka memprotes karena mereka ingin aku menikah dengan putri mereka, bukan putri dari kerajaan lain.
Dan sebelum mereka mulai menawarkan putri mereka untuk menjadi selir seperti yang sudah dilakukan oleh para pendahulu mereka terhadap ayahku, aku buru-buru menambahkan. "Aku tidak akan memiliki selir. Keputusanku ini tidak dapat diganggu gugat."
Mereka bungkam sesaat, tampak kesal dan memutar otak untuk dapat memasukkan putri mereka ke Istana. Duke Richterswill yang pertama angkat bicara, "Tentu saja keputusan Baginda dapat berubah jika tidak ada pewaris—“
"Ah, soal itu kau tak perlu khawatir, Duke Richterswill." Potongku. "Itu bukan urusanmu."
__ADS_1
Tadinya aku mau memberitahu mereka bahwa aku akan segera menjadi ayah, bahwa kini Anna sedang mengandung, tapi nanti aku jadi harus menjelaskan semuanya padahal yang mereka tahu selama dua bulan lebih aku hanya mengurung diri di kamarku.
"Apakah Grand Duke Winterthur tidak keberatan dengan keputusan Anda, Baginda?" Tanya Count Iseltwall.
Entah kenapa dia merasa aku harus mendapat persetujuan dari Grand Duke Winterthur untuk urusan pernikahanku. Mungkin karena selama beberapa generasi sebelumnya Ratu di kerajaan ini adalah wanita dari keluarga Winterthur. Mungkin karena kerabat terdekatku untuk saat ini hanya Wolfgang Winterthur dan keluarga kecilnya. Mungkin juga karena mereka masih menganggap Elle sebagai Ratu mereka.
Tapi, Wolfgang Winterthur kini bukan lagi Grand Duke Winterthur. Yang mereka tahu, Wolfgang Winterthur masih di penjara dan bersiap untuk hukuman mati yang akan diadakan minggu depan. Yang sebenarnya, Wolfgang Winterthur sudah tidak memiliki gelar bangsawan lagi dan kini sudah berada di wilayah perbatasan utara untuk selamanya karena aku harus bersikap tegas sebagai Raja. Jika saja Elle mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, mungkin aku takkan perlu memberi hukuman pada mereka. Yang mana pun itu, intinya tetap sama, Wolfgang Winterthur kini bukan lagi Grand Duke Winterthur. Dan putra satu-satunya, Elias, yang seharusnya mewarisi gelar itu, mendapat hukuman yang sama. Tapi aku belum melihat Elias sejak aku tiba di Nordhalbinsel. Dia masih berada di Orient bersama Yeon-Hwa. Dia akan sangat terkejut jika tahu apa yang terjadi pada keluarganya di sini. Aku akan segera memberitahunya nanti jika dia sudah kembali dari tugas. Mungkin ada baiknya jika dia tak kembali ke Nordhalbinsel dan menetap di Orient bersama Yeon-Hwa.
"Apakah aku harusnya keberatan?" Tanya seseorang yang baru memasuki ruangan ini, yang kini suaranya sudah sangat familier bagiku sehingga aku tak perlu menoleh ke arahnya untuk memastikan. Orang yang baru masuk itu adalah Grand Duke Winterthur yang baru. Satu-satunya putra Winterthur yang tersisa untuk saat ini.
"Siapa kau?" Tanya Duke Richterswill.
Semua mata kini tertuju padanya. Aku turut menoleh ke arahnya. Dia masih memegang pedang Zuidlijk di tangannya. Pakaiannya dihiasi noda darah. Semua orang tampak ngeri melihatnya. Tapi dia tak tampak terganggu sama sekali seolah noda darah musuh yang ada di pakaiannya itu adalah medali kemenangan baginya. Dia sudah berhasil menjalankan tugas pertamanya sebagai Grand Duke Winterthur sekaligus sebagai salah satu Jenderalku.
Leon menunduk penuh hormat padaku—kurasa aku masih belum terbiasa dengan perlakuannya itu. "Maafkan keterlambatanku, Baginda Raja. Hadiah pernikahanmu sudah kubawa dan kubariskan dengan rapih di halaman Istana. Siap untuk dieksekusi. Meski sebenarnya aku sudah mengeksekusi beberapa yang sulit diatur." Kata Leon.
Semua yang ada di ruangan rapat ini tampak berbisik-bisik saat melihat Singa dari Selatan yang terkenal itu kini berdiri di ruangan ini.
"Bukankah itu Jenderal Leon dari Schiereiland?"
"Apa yang dilakukan Singa dari Selatan di sini?"
"Kenapa dia memasuki ruangan ini begitu saja? Apa yang dilakukan oleh para penjaga sampai membiarkan dia masuk?"
"Hadiah pernikahan katamu?" Tanya Versoix pada Leon.
Leon menatap para bangsawan itu satu persatu. Menatap mereka dengan tatapan meremehkan. Sudah sepatutnya. Gelarnya sebagai Grand Duke membuatnya berada di atas mereka semua. "Pemimpin Black Mamba, Orthion Richterswill—atau jika harus kusebut dengan nama aslinya, Argus Riverra." Dia kemudian beralih padaku kembali dan menambahkan, "Beserta semua anggotanya. Tanpa tersisa satu pun."
Para bangsawan segera berjalan ke arah jendela dan melihat pemandangan di luar sana. Aku tahu apa yang mereka lihat di sana. Belasan, mungkin puluhan, anggota Black Mamba yang selama ini ditakuti para penjaga wilayah perbatasan. Bertahun-tahun kelompok bandit itu menjadi momok menakutkan bagi para rakyat, pemimpin mereka bekerja sama dengan Selena juga untuk beberapa kali membunuhku meski selalu gagal—dan mereka pernah hampir membunuh Anna. Leon berhasil menangkap semuanya hanya dalam waktu beberapa hari.
Aku tidak memintanya, aku hanya memberitahu tentang Selena yang bekerja sama dengan Orthion Richterswill palsu yang merupakan pemimpin Black Mamba. Aku memberitahunya bahwa Anna sudah menangkap Selena. Jadi Leon tak mau kalah, dia segera meminta padaku untuk memberikannya satu pasukan yang terdiri atas para penyihir dengan kemampuan berpedang yang lumayan. Leon melatih mereka cara memanfaatkan kekuatan sihir mereka dalam berpedang hanya dalam waktu beberapa hari, kemudian membawa mereka untuk mencari dan menangkap Black Mamba. Jenderal Leon menjadi Jenderal pertama dalam sejarah yang memimpin pasukan prajurit penyihir berpedang.
"Terima kasih banyak, Grand Duke." Kataku, yang kemudian disambut dengan kasak-kusuk gelisah dari para bangsawan saat mendengarku memanggil Leon dengan sebutan Grand Duke.
"Grand Duke?" Tanya Duke Richterswill. Dia menatap Leon dan aku bergantian. Leon tampak tak memedulikannya. Aku jadi tak sabar memberitahu semua orang.
"Peresmiannya baru akan dilakukan beberapa hari lagi, tapi biar kuperkenalkan terlebih dahulu pada kalian semua yang ada di ruangan ini. Beliau adalah Leon Winterthur, putra pertama dari Irene Winterthur sekaligus Grand Duke Winterthur yang baru dan Jenderal yang akan menjaga wilayah utara menggantikan tugas Wolfgang dan Elias Winterthur."
...****************...
"Bagaimana rapatnya? Pasti mereka tidak setuju ya?" Tanya Anna suatu hari saat kami tengah berjalan-jalan di taman Tulip kristal.
Tapi ini bukan taman yang ada di Istana kami. Sungguh aku masih tak percaya dapat menyebut rumahku sejak kecil sebagai Istana kami. Wanita ini, yang sedang ada di sampingku, yang tangannya ada dalam genggamanku, yang menyandarkan kepalanya pada bahuku saat kami berjalan sangat perlahan melewati salju dan es, kini adalah istriku. Betapa sempurnanya hidupku sekarang. Betapa beruntungnya diriku.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau tidak merasa mual atau pusing?" Tanyaku, mengalihkan topik.
"Aku baik-baik saja, Xavier. Kau sudah menanyakannya tadi. Sepertinya dugaanku benar, ya? Mereka tidak setuju kita menikah."
"Kita sudah menikah."
Anna menghentikan langkahnya dan kini berdiri di hadapanku. "Di Orient. Bukan di sini." Katanya.
Aku tahu. Meskipun kami sudah menikah di Orient, kami tetap tidak dianggap sudah menikah di Nordhalbinsel maupun Schiereiland. Itulah sebabnya kami harus mengadakan peresmian pernikahan dan pesta sebanyak dua kali di dua kerajaan dengan adat yang berbeda. Di Nordhalbinsel, aku hanya perlu meresmikan pernikahan meski ditentang oleh para bangsawan. Aku tak perlu memikirkan ketidaksetujuan mereka karena aku seorang Raja di sini. Tapi di Schiereiland, aku harus meminta izin pada Raja Schiereiland untuk menikahi kakaknya sesuai dengan adat yang berlaku. Dan kurasa itu bukan perkara mudah.
Tapi jika itu demi Anna, bahkan jika Raja Alexis meminta seluruh Nordhalbinsel sebagai persyaratannya, kurasa aku bisa memberikannya.
"Mereka akan segera menerimamu, jangan khawatir." Kataku sambil meletakkan kedua tanganku ke pipinya untuk menghangatkannya karena kini dia tampak kedinginan. Aku mencoba memancarkan panas apiku di sekitarnya. "Mereka hanya belum mengenalmu. Mereka belum tahu betapa luar biasanya dirimu."
Anna tersenyum. Pipinya bersemu merah, membuat jantungku menggila. Dia tampak seperti mawar yang tumbuh di atas salju. Aku ingin mendekapnya dan menciumnya. Tidak. Aku mungkin harus membawanya kembali ke Istana dan menyembunyikan kecantikannya dari pria lain. Tidak juga. Aku ingin memamerkannya pada seluruh rakyatku bahwa wanita cantik ini, yang kebaikan hatinya dan ketulusannya menerangi jiwaku, yang keberadaannya adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan hidup sampai sekarang, adalah istriku sekaligus Ratu mereka. Aku ingin memberitahu semua orang bahwa aku sangat beruntung memilikinya dalam hidupku. Aku ingin memberitahu semua orang bahwa mereka beruntung memilikinya sebagai Ratu.
"Oh, aku tak khawatir sama sekali. Mereka setuju atau tidak, kita akan tetap meresmikan pernikahan. Kau mungkin sebaiknya mempertemukanku dengan para bangsawan itu. Aku akan membuat mereka semua menerimaku." Katanya dengan penuh semangat, membuatku terpana.
"Apa aku sudah bilang betapa aku sangat mencintaimu?"
Anna memelukku. Dan meski aku biasanya tak pernah merasa kedinginan karena lahir dan besar di negeri ini, meski aku selalu diliputi hangat dari apiku, pelukannya memiliki kehangatan yang berbeda yang bukan hanya menghangatkan tubuh, melainkan juga hatiku. Dan saat aku memeluknya, aku mengembalikan kehangatan itu padanya agar dia dan anak kami yang ada di kandungannya merasa hangat.
"Hari ini kau sudah mengatakannya sebanyak tujuh puluh enam kali." Katanya.
Aku tertawa. "Belum cukup banyak ternyata."
Jadi aku menciumnya. Karena kata-kata sepertinya tidak akan pernah cukup untuk menjabarkan rasa cintaku padanya.
__ADS_1
...****************...