Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 14 (Yeon-Hwa)


__ADS_3

Seluruh tubuhku sakit sampai rasanya aku tidak akan bisa turun dari ranjangku pagi ini. Itu, kemudian ditambah kepalaku yang luar biasa pusing. Aku tidak benar-benar ingat berapa botol anggur yang kuhabiskan semalam. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa berada di kamarku.


Aku ingat menyelesaikan tarianku diiringi tepuk tangan meriah semua orang termasuk Pangeran Haru. Aku ingat Putra Mahkota Orient itu menghampiriku secara khusus dan mengatakan bahwa aku diterima sebagai penari utama di Istana Matahari. Aku ingat Elias datang entah dari mana saat aku sedang mencarinya. Aku ingat berteleportasi ke Dong-gung dan tidak ada siapa pun di sana—Shuu dan Kaze benar-benar tidur lebih awal malam itu. Aku ingat kami mencuri beberapa botol anggur dari ruang penyimpanan di bawah tanah—yang sebenarnya tampak sangat megah dan luas dengan interior seperti salah satu ruangan yang ada di Istana Utama Nordhalbinsel. Aku ingat sempat mengagumi ruangan luas itu cukup lama. Aku bahkan ingat mendengar suara Diana dan Riz dari kamar yang ada di ruang bawah tanah. Lalu aku dan Elias pergi ke balkon lantai tiga untuk minum anggur sambil memandangi bintang sebagai perayaan keberhasilanku masuk ke Istana Matahari.


Aku tidak ingat apa pun yang terjadi setelah itu.


Aku bahkan tidak ingat berganti pakaian!


"Yeon-Hwa!" Kaze berteriak memanggilku dari luar kamar. Suara nyaringnya rasanya bisa menghancurkan kepalaku. Dia menerobos masuk dan menarik tanganku. "Ayo cepat keluar." Katanya.


"Tidak bisakah aku tidur saja seharian ini? Badanku sakit semua. Kepalaku pusing. Aku mau muntah." Aku masih berbaring, menolak untuk beranjak dari tempat tidurku.


Kaze sepertinya memanggil Shuu lewat telepati mereka karena detik berikutnya Shuu masuk ke kamarku membawa air di baskom. Dia menggunakan air itu dan menggunakan kekuatan Naga Air untuk menyembuhkanku. Dalam waktu singkat, seluruh nyeri yang kurasakan hilang. Meski kepalaku masih agak pusing. Aku mungkin memang harus keluar dan menghirup udara segar.


Jadi aku mengikuti Kaze dan Shuu untuk keluar ke halaman Dong-gung.


Aku mengerti kenapa Kaze tampak begitu semangat ingin mengajakku keluar. Sepertinya Taman Surga pindah ke Dong-gung atas restu dari Sang Langit semalam. Ini seperti keajaiban. Mungkin memang mukjizat.


Taman Surga adalah taman milik kekaisaran yang merupakan hadiah dari seorang Kaisar untuk permaisurinya di masa lalu. Taman tersebut begitu indah sehingga pernah dinobatkan sebagai taman paling indah di seluruh dunia. Kurasa Taman Surga kini punya pesaing. Taman Dong-gung tampak bisa menggeser keindahannya mulai hari ini.


Beberapa pohon bunga sakura tumbuh di sepanjang pinggir jalan setapak dari gerbang menuju ruang depan Dong-gung. Masing-masing pohon dipenuhi bunga sakura yang bermekaran. Bangunan ini sendiri dirambati oleh mawar-mawar rambat yang juga bermekaran. Tanah ditutupi rumput-rumput hijau. Bunga-bunga lotus yang mengisi kolam ikan bermekaran. Kupu-kupu beterbangan. Udara menjadi lebih hangat dan dipenuhi aroma bunga. Kepalaku tidak pusing lagi karena menghirup udara ini seolah udaranya mengandung obat pengar. Mataku dimanjakan dengan pemandangan dari beraneka warna bunga-bunga yang entah bagaimana bermekaran di halaman Dong-gung. Padahal semalam semuanya masih tampak normal. Atau mungkin semalam aku terlalu mabuk untuk memperhatikan perubahan pada halaman depan ini. Bagaimana bisa Riz dan Diana merombak taman mereka dalam semalam?


"Riz, kau harus menaikkan harga anggur!" Ucapku langsung begitu melihat si pemilik Dong-gung masuk dari luar gerbang. Sepertinya dia baru saja membeli bubur untuk sarapan kami. "Siapa pun yang minum di sini pasti akan menikmati pemandangan indah yang langka ini. Kau harus menaikkan harga anggur. Aku berani jamin tidak akan ada yang protes."


Riz tersenyum menanggapi, dia tampaknya sedang sangat senang hari ini. Suasana hatinya sedang baik. "Aku malah mau menggratiskan semua anggur hari ini."


Aku melongo. "Kenapa?"


Dia mengangkat bahu. "Karena aku sedang senang? Karena aku ingin? Kenapa harus ada alasan? Omong-omong... dimana Elias?"


Aku tidak tahu. Aku memang belum melihatnya pagi ini. Aku menoleh ke arah Naga Kembar. Mereka pasti bangun lebih awal karena tidur lebih awal semalam. Mereka mungkin tahu.


Tapi Kaze mengangkat bahu.


Shuu menjawab, "Terakhir kami melihatnya adalah semalam saat menyaksikan bintang jatuh."


"Dia tidak pulang?" Tanya Riz padaku.


"Kami pulang semalam. Dia yang mengantarku pulang." Aku menjawab. Tapi aku terlalu mabuk untuk benar-benar ingat semuanya. Apa mungkin sebenarnya semalam aku pulang sendiri? Tapi aku jelas tidak mungkin bisa masuk ke penyimpanan anggur di ruang bawah yang selalu terkunci rapat tanah tanpa bantuan teleportasi Elias. Aku hampir menceritakan bahwa semalam kami minum banyak anggur dari ruang penyimpanannya, tapi aku segera mengerem perkataanku. Riz mungkin sedang senang, tapi dia tetap seorang Navarro. Aku mencuri dari seorang Navarro! Biasanya itu berarti ucapkan selamat tinggal pada kehidupan. Meski aku yakin Riz tidak sekejam itu.


Aku buru-buru melirik ke arah Shuu. Jangan pernah membocorkan hal ini pada Riz!


Shuu tersenyum mengejek. Dasar Naga Air cilik!


"Jadi di mana dia?" Tanyanya lagi.


"Aku tidak tahu."


Riz tidak bertanya lagi. Dia masuk ke dalam. Kami mengikutinya, bersiap sarapan.


Tapi dia tidak berhenti di ruang makan. Dia justru masuk ke dapur. Satu-satunya ruang keramat di Dong-gung yang tidak pernah dimasuki siapa pun karena tidak pernah ada yang memasak makanan di antara kami berenam di Dong-gung.


Aku pasti masih tertidur. Aku mungkin sedang bermimpi. Ini mimpi yang jauh lebih aneh dari pada mimpi bertemu dengan Serigala. Di mimpi ini, aku melihat sesuatu yang mustahil. Riz bukan mengeluarkan bubur dari bungkusan yang dibawanya. Riz mengeluarkan bahan makanan seperti sayur-sayur mentah, ikan yang belum dibakar, dan daging merah yang masih berdarah. Ternyata Riz tadi pergi ke pasar membeli bahan makanan!


"Ini bukan mimpi." Shuu menjawab pertanyaan yang belum kulontarkan.


"Hendak kau apakan semua itu?" Tanyaku.


Riz menoleh, tampak bingung dengan pertanyaanku. "Aku akan membuat sarapan tentu saja. Memangnya kalian tidak lapar?"


Aku tidak bisa menahan tawa sarkas ku. "Kau tidak bisa memasak."


"Aku bisa belajar." Katanya sambil mulai mencuci sayur-sayuran yang dia beli. Shuu yang sejak tadi berdiri diam di sampingku, kini melangkah maju dan mulai membantu Riz mencuci sayur. "Aku sudah mencucinya. Selanjutnya apa?" tanya Riz dalam bahasa Nordhalbinsel lengkap dengan aksen orang utara yang khas.


Awalnya kupikir dia bertanya pada Diana. Ternyata bukan. Tentu saja bukan. Diana masih tidur di jam segini. Diana sungguh sangat beruntung. Dia bisa tidur sampai siang dan begitu bangun, makanan sudah tersedia untuknya dan rumah sudah bersih dan rapih. Aku jadi iri padanya.


Seorang pemuda keluar dari balik pintu yang memisahkan antara dapur bagian luar dengan bagian dalam. Dapur bagian luar, tempat kami berada saat ini adalah tempat yang terlihat oleh para pelanggan. Tempat Riz biasanya menyiapkan anggur untuk para pelanggan. Sedangkan dapur bagian dalam adalah tempat memasak yang sesungguhnya. Pemuda itu, entah siapa dia, sejak tadi ternyata berada di dapur bagian dalam.


Usianya pasti tidak lebih dari tujuh belas. Mungkin seusia Shuu—Shuu tampak lebih muda karena dia orang Orient. Dia tinggi. Hampir setinggi Riz. Badannya tidak besar, cenderung ramping, tapi aku tahu dia tidak kurus, dia berotot. Rambutnya berwarna perunggu sedangkan matanya cokelat gelap. Jika dilihat dari ciri-ciri itu, dia jelas bukan orang Orient. Dia juga jelas bukan berasal dari Westeria karena kulitnya tidak gelap. Dia mungkin orang Schiereiland.


"Potong-potong sayurnya, lalu bawa ke sini Bagin—maksud saya, Tuan." Katanya. Dugaanku benar, dia menggunakan logat orang Selatan. Dia dari Schiereiland. Mungkin saudaranya Diana. Tapi aku tidak bisa melihat kemiripannya. "Oh, maaf, saya belum memperkenalkan diri." Katanya langsung saat melihat kami. "Bagaimana ini, saya tidak bisa bahasa Orient—“


"Yeon-Hwa bisa semua bahasa. Shuu dan Kaze mengerti bahasamu." Kata Riz langsung sambil mulai memotong-motong sayur. Aku ngeri melihatnya memegang pisau.


Pemuda itu tersenyum ramah. "Perkenalkan, saya Louis Blanc."


"Aku Lee Yeon-Hwa."


"Aku Kaze. Dan dia Shuu." Kata Kaze dalam bahasa yang masih sangat kaku. Aku berencana untuk mengajarinya nanti jika kami punya waktu luang. Kaze turut memperkenalkan Shuu karena Sang Naga Air tampak sedang sangat fokus membantu Riz.

__ADS_1


"Kalian Naga Kembar." Louis mengangguk pada Kaze. Lalu beralih padaku, "Dan Anda adalah calon Maharani Orient."


"Apa?"


"Anda pewaris takhta Orient yang sesungguhnya, benar? Putri tunggal dari mendiang Putri Lee Seo-Hwa. Cucu dari mendiang Kaisar Lee." Dia menatapku bingung. Aku mengangguk ragu-ragu. "Putri Anastasia sudah banyak memberitahu saya tentang Anda. Sebelum ke sini, Saya adalah pengawal pribadinya, menggantikan Jenderal Leon. Saya juga menjabat sebagai asisten kepala koki dan ahli herba kerajaan."


"Kau orang sibuk rupanya." Aku terperangah. "Boleh kutahu berapa usiamu?" Aku bertanya, karena jika dinilai dari penampilan dia pasti jauh lebih muda dariku. Tapi jika dinilai dari jabatannya serta pekerjaannya di Istana, dia harusnya sudah berusia lebih dari dua puluh tahun atau malah lebih dari tiga puluh tahun. Tidak ada ahli herba kerajaan yang usianya di bawah tiga puluh tahun.


"Lima belas tahun, Yang Mulia."


"Tolong jangan panggil aku seperti itu. Aku tidak menganggap diriku sebagai anggota keluarga Kaisar. Jadi Yeon-Hwa saja." Louis mengangguk mengerti. "Kau seumuran dengan Shuu. Usia semuda itu kau sudah menjabat tiga profesi sekaligus di Istana? Kau sepertinya sangat dekat dengan Putri Anastasia. Kau sampai dipercaya menjadi pengawal pribadinya."


"Begitu lah. Raja Alexis juga masih berusia lima belas tahun saat penobatannya sebagai Raja Schiereiland. Kurasa usia lima belas tidak semuda itu, Nona Yeon-Hwa. Dan soal menjadi pengawal pribadi Yang Mulia Putri... mungkin karena selain Yang Mulia Putri sendiri, sayalah satu-satunya murid Jenderal Leon makanya—“


"Kau murid Singa dari Selatan? Kau pernah belajar langsung dari beliau?"


Louis mengangguk lambat. Aku jadi malu karena terlalu menunjukkan keterkejutanku. "Kami bertiga lumayan akrab." katanya.


"Dan kau ke sini untuk..."


Louis tampak bingung sebelum menjawab. Dia bahkan menoleh sebentar ke arah Riz. Riz hanya mengangguk singkat sambil masih fokus memotong bahan-bahan makanan. "Saya diutus oleh Putri Anastasia ke sini karena Raja Xavier ingin memastikan bahwa kalian semua di sini makan makanan yang bergizi."


"Jadi kau di sini untuk memasak?" Aku bertanya memastikan. Seorang Pengawal Pribadi Putri Schiereiland, Asisten Kepala Koki Istana sekaligus Ahli Herba Kerajaan datang jauh-jauh ke Orient hanya untuk memastikan bahwa perutku dan perut para Naga terisi dengan baik. Aku jadi terharu karena Anna dan Raja Xavier memperhatikan kesejahteraan kami di sini.


"Saya di sini untuk mengajari Tuan Riz memasak."


Riz kemudian menambahkan, "Dan menjadi pekerja paruh waktu di kedai."


...****************...


Istana Matahari terletak di Shina, jauh dari keramaian Ibu Kota. Sebenarnya Istana itu bisa dibilang seperti rumah liburan bagi anggota keluarga kekaisaran. Letaknya di atas perbukitan sehingga udaranya selalu sejuk dengan pemandangan hamparan perbukitan dan lembah-lembah hijau yang sangat indah. Itulah sebabnya malam ini aku mengemas banyak sekali pakaian tebal. Aku memang sudah biasa dengan udara dingin Nordhalbinsel, tapi udara sejuk daerah perbukitan di Shina harus diantisipasi. Aku tidak boleh terkena flu dan jatuh sakit saat menjadi mata-mata.


Aku berangkat saat malam hari, berharap besok pagi aku sudah sampai di Shina dan memulai pekerjaanku di sana. Diana terus mewanti-wantiku agar berhati-hati.


"Putri Anastasia menyampaikan agar kau tidak meminum minuman yang ditawarkan oleh pria-pria di sana. Kenakan pakaian hangat karena udara Shina lebih dingin. Juga pastikan pintu kamarmu terkunci rapat sebelum tidur."


"Putri Anastasia menyampaikan semua itu?" Tanyaku memastikan. Aku bahkan belum memberitahu Anna tentang rencanaku ke Istana Matahari di Shina. Dari mana Anna tahu?


Sesaat Diana tampak bingung menjawab pertanyaanku. Tapi kemudian Shuu menjelaskan, "Aku memberitahu Putri Anastasia bahwa kau akan pergi ke Shina." Aku mengangguk mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut. Itu urusan para Naga dengan Ratu mereka.


Diana kemudian memelukku dengan erat sebelum aku berangkat. Aku sangat terharu bahwa dia mengkhawatirkanku. Tidak seperti seseorang.


Elias tidak pulang bahkan sampai malam saat aku akan berangkat ke Shina. Tidak ada yang tahu dia berada di mana. Aku berusaha untuk tidak peduli. Sebenarnya, aku mencarinya karena akan jauh lebih mudah jika dia mengantarku dengan berteleportasi. Ya, karena itu. Bukan hal lainnya. Perjalanan ke Shina lumayan jauh dan akan sangat melelahkan. Jauh lebih mudah dilakukan dengan teleportasi.


"Awas saja kalau kau mengatakannya!"


Shuu dan Kaze tertawa geli. Aku akan sangat merindukan Naga Kembar cilik ini. Aku akan sangat merindukan kedai ini, anggurnya, dan orang-orang di dalamnya juga masakan Louis. Meski kami baru bertemu, meski aku baru hari ini merasakan masakannya—yang ternyata sangat lezat—aku akan merindukan masakan Louis. Dan juga aku akan merindukan masakan Riz—yang sudah belajar pada Louis.


Kenapa rasanya berat sekali meninggalkan Dong-gung? Aku baru mulai merasa akrab dengan mereka semua. Aku merasa bahwa Dong-gung adalah rumahku dan orang-orang ini adalah keluargaku. Meski aku disibukkan dengan pekerjaanku di Istana Giok, tapi aku tetap pulang ke Dong-gung dan bertemu mereka di hari libur. Pergi ke Istana Matahari berarti aku tidak akan pulang ke Dong-gung sampai keluarga Kaisar kembali ke Jungdo. Dan mungkin saja saat itu terjadi, pekerjaanku menjadi mata-mata sudah selesai. Aku bertanya-tanya apa yang akan kulakukan nanti saat pekerjaanku sebagai mata-mata selesai. Apakah Dong-gung akan tetap ada? Apakah Diana dan Riz akan tetap berada di Orient atau kembali ke Schiereiland? Ke mana Naga Kembar akan pergi? Yang pasti, Elias akan kembali ke Nordhalbinsel dan aku kemungkinan besar akan kembali ke Westeria—mungkin juga menikah dengan Raphael Ortiz.


Bukan saatnya untuk memikirkan semua itu. Dengan berat hati, aku mulai melangkah menuju kereta kuda yang sudah ku sewa untuk berangkat ke Shina.


...****************...


Sepertinya aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Ini seperti Deja vu.


Aku sepertinya memang tidak cocok bepergian jauh menggunakan kereta kuda. Aku harusnya menyewa kuda saja. Tapi mengendarai kuda semalaman akan membuat seluruh tubuhku sakit-sakit padahal aku harus segera menjadi penari sesampainya di Dong-gung. Tubuhku saat ini adalah aset terpenting untuk pekerjaanku.


Kereta kuda yang ku sewa rusak. Hampir saja aku mengalami kecelakaan. Untungnya kusir kereta kuda mengetahui ada yang salah pada keretanya sebelum terjadi hal yang tak diinginkan dan segera menghentikan perjalanan.


"Aku baru bisa memperbaikinya besok pagi. Ini sudah larut malam dan kita berada terlalu jauh dari kota. Nona mungkin lebih baik menginap di rumah warga saja." Kata si Kusir itu yang merupakan kakek tua asal suku Ilbon yang usianya mungkin mencapai tujuh puluh tahun atau lebih. Aku jadi tak tega padanya.


"Saya harus sampai di Shina besok pagi. Apakah tidak ada cara lain?"


"Ada jalan pintas. Nona hanya harus berjalan melewati—ah, lebih baik jangan."


"Melewati apa?"


"Terlalu berbahaya, Nona."


"Kakek mungkin tidak tahu, tapi saya lumayan jago berpedang. Saya bahkan membawa pedang saya." Kataku sambil menepuk-nepuk pedang yang kugunakan untuk tarianku. Pedang ksatria wanita Montreux.


Kakek itu tampak tidak yakin, tapi akhirnya dia mengatakannya juga padaku. "Ada sebuah hutan di dekat sini. Jika Nona berjalan melewati hutan itu, maka Nona akan segera sampai di wilayah Hiryuu, sangat dekat dengan Shina. Hutan Akakigahara namanya. Hutan itu adalah tempat orang-orang yang sudah menyerah pada kehidupan. Orang-orang suku Ilbon pergi ke sana untuk bunuh diri. Pergi melewati hutan itu pada saat matahari bersinar cerah di siang hari bahkan dianggap berbahaya, apalagi pergi di waktu larut malam seperti ini. Terlalu berbahaya, Nona."


"Maksud Anda, berbahaya karena di sana banyak arwah orang-orang yang mati bunuh diri?" Tanyaku memastikan. Aku Westerian. Westerian tidak percaya pada arwah gentayangan. Jadi itu tidak masalah untukku.


Si kakek mengangguk. Raut wajahnya tampak ketakutan.


Aku berusaha memberikan senyuman yang menenangkan. "Jangan khawatir, kakek. Aku bahkan bisa bertarung melawan para arwah itu kalau perlu."

__ADS_1


...****************...


Akhirnya aku berjalan melewati Akakigahara. Pedangku masih kusarungkan di sabuk pinggang, berjaga-jaga jika aku bertemu dengan arwah atau sejenisnya. Tentu saja tidak akan ada arwah. Hutan ini mungkin menyimpan harta berharga milik keluarga kaya sehingga mereka menyebarkan omong kosong tentang arwah-arwah gentayangan agar tidak ada yang dapat menemukan harta tersembunyi mereka. Aku berjalan melewati hutan itu hanya bermodalkan cahaya dari lentera kecil yang diberikan oleh kakek kusir baik hati itu.


Aku mendongak ke atas, menatap langit malam Orient. Jika aku berada di Nordhalbinsel, aku cukup yakin akan bisa melihat Cahaya Utara menari-nari di langit malam saat ini. Tapi di Orient hanya ada bintang-bintang yang bersinar terang dan bulan purnama. Oh! Malam ini malam bulan purnama rupanya. Aku baru menyadarinya.


Aku buru-buru menoleh ke belakangku saat aku merasakan kehadiran seseorang atau sesuatu sedang mengawasiku. Aku jelas tidak sedang mabuk, jadi aku tahu itu bukan halusinasi. Ada seseorang di sini. Atau mungkin hewan buas pemangsa. Yang jelas, itu bukan arwah gentayangan.


Aku berjalan dengan sangat pelan, mempraktikkan ilmu yang diajari ayahku untuk melangkah tanpa suara. Jika itu adalah hewan buas, ada baiknya aku tidak menarik perhatian dan mengumumkan keberadaanku. Jadi aku meniup lenteraku hingga mati. Kini satu-satunya cahaya berasal dari bintang-bintang di langit.


Aku mendengar suara. Sepertinya memang ada sesuatu di sini. Dan sesuatu itu sedang bersembunyi di antara semak-semak, memperhatikanku. Aku percaya sesuatu itu bukan arwah gentayangan. Itu pasti hanya hewan buas. Jadi aku mengeluarkan pedangku dan menghunuskannya. Aku siap bertarung.


Tidak butuh waktu lama sampai sesuatu itu muncul dari kegelapan. Aku bersyukur dia tidak langsung berlari menghampiriku. Dia sepertinya hewan yang cukup cakap dalam berburu. Dia mendatangiku perlahan agar aku, sebagai mangsanya, tidak berlari kabur darinya.


Hewan itu besar sekali. Terlalu gelap untuk memastikan hewan apa itu, tapi yang jelas badannya besar dan dia memiliki empat kaki. Mungkin beruang. Mungkin singa atau harimau. Tapi hewan ini lebih besar dari semua itu. Mungkin hewan-hewan buas di Orient memang berukuran lebih besar. Aku menghunuskan pedangku ke arahnya seiring langkahnya yang semakin dekat padaku.


Hal pertama yang kulihat adalah cakarnya yang berlumur darah. Sepertinya sebelum aku, ada mangsa mungil lainnya yang kurang beruntung. Lalu aku melihat taringnya yang panjang yang juga berlumur darah. Hewan besar itu memiliki bulu yang terlihat sangat lembut untuk ukuran hewan buas. Bulunya berwarna putih. Seputih salju.


Sial!


"J-jenderal—Elias... Ini saya. Yeon-Hwa. Anda tidak akan memakan saya kan?" Kataku dengan suara bergetar. Aku baru mengenalinya saat melihat sepasang mata berwarna biru es itu.


Si Serigala Salju itu mungkin tidak mengerti perkataanku. Atau jangan-jangan dia bukan Elias Winterthur? Dia terus melangkah mendekat padaku sambil memamerkan taringnya. Dia menggeram padaku. Perlahan aku berjalan mundur menjauhinya.


Haruskah aku lari? Tapi dia jelas Elias. Tidak ada Serigala lain yang terlihat sepertinya. Aku sangat mengenali wujudnya yang ini karena terlalu sering melihatnya di mimpiku.


Baru lah saat dia akan melompat menerkam, aku mulai berlari. Elias atau bukan, dia memang berniat memakanku hidup-hidup. Aku harus berlari dan menyelamatkan diriku sendiri dari taringnya.


Tapi dia berlari lebih cepat dariku. Entah kenapa dia terasa berbeda dari sebelumnya. Dia lebih cepat dan lebih berbahaya. Lebih menyeramkan dan lebih liar. Ini tidak seperti Serigala yang kuhadapi di hutan perbatasan Westeria maupun Serigala yang kutemui di mimpi. Dia lebih mirip binatang sungguhan. Hewan buas pemangsa tanpa akal sehat manusia.


Aku terus berlari meski tahu Serigala itu lebih cepat dariku. Karena hutan ini terlalu gelap, sulit bagiku untuk melihat. Aku tersandung ranting pohon dan terjatuh. Serigala itu berdiri dengan keempat kakinya memerangkapku. Dia menjulang tinggi di atasku.


Inilah akhirnya. Kali ini bukan mimpi. Ini sungguhan. Aku akan benar-benar mati sekarang.


Tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja.


"Jenderal Elias! Ini saya, Yeon-Hwa! Kita mencuri anggur milik si Navarro itu dan minum bersama saat malam seribu bintang! Kalau Anda tidak ingat, akan saya potong salah satu kaki Anda!" Aku berusaha meraih pedangku yang terlempar beberapa sentimeter jauhnya. Sangat sulit karena Serigala itu tidak melepaskanku. Taringnya yang mengancam dan siap menghadiahiku kematian yang cepat, hanya berjarak beberapa senti dariku. "Sialan! Elias! Berhenti!"


Seperti anjing peliharaan yang jinak, Serigala itu berhenti, menuruti perkataanku. Dia kemudian tampak bingung. Serigala itu berkedip beberapa kali seolah baru bangun dari tidurnya. Dia melangkah mundur, membebaskanku.


Aku berusaha bangkit, tapi kakiku gemetaran. Jadi aku hanya duduk di atas tanah basah di hutan itu. Sementara si Serigala hanya berdiri diam seperti anjing yang menanti perintah selanjutnya dari majikannya.


Aku melihatnya lagi, diriku di mata biru es milik si Serigala Salju.


Yeon-Hwa?


"Apa-apaan itu?" Karena sepertinya aku baru saja mendengar suara Elias.


Serigala itu kemudian berdiri dengan dua kaki. Kemudian dia berubah menjadi sosok yang kukenal. Elias Winterthur—lengkap dengan wajah dan pakaian yang berlumur darah.


Elias tampak bingung. Dia kemudian berjongkok di hadapanku yang masih terduduk karena kakiku masih gemetar. Aku harus tenang. Dia Elias. Dia tidak akan memakanku. Dia mengenalku. Aku mengenalnya. Aku tidak perlu takut padanya.


"Bagaimana caramu melakukannya?" Tanyanya langsung tanpa basa-basi seolah kami baru saja berpapasan secara normal.


"M-melakukan apa?" Aku tidak dapat menyembunyikan ketakutanku. Suaraku bergetar.


"Kau... takut?" Elias mengamati tanganku yang tanpa kusadari gemetaran sejak tadi.


"Saya hampir mati! Anda hampir memakan saya! Bagaimana mungkin saya tidak takut!" Aku berteriak padanya. Kurasa aku akan semakin gemetaran kalau tidak melampiaskannya dengan berteriak padanya. Aku harus segera mengenyahkan rasa takut ini.


Tapi kata-kataku itu sepertinya menyakitinya. Dia menunduk, tampak merasa bersalah. "Maaf..." Dia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri—tangannya juga berlumur darah mangsanya. Entah hewan lainnya atau mungkin manusia lainnya yang tidak seberuntung diriku.


Aku menolaknya. Aku bisa berdiri sendiri. Meski dengan usaha keras, aku memantapkan pijakanku ke tanah dan mulai berjalan pergi.


"Kau mau ke mana malam-malam begini?" Tanyanya dari arah belakangku. Sepertinya dia mengikutiku. Aku mempercepat langkahku.


"Shina."


"Kenapa kau berjalan di hutan ini malam-malam begini? Ini hutan Akakigahara. Kalau kau tidak tahu—“


"Saya tahu!" Aku berhenti berjalan, berbalik menghadapnya. Elias tampak terkejut. Dalam waktu singkat dia sudah membersihkan noda darah di kulitnya. "Saya tahu ini hutan apa! Saya berjalan karena kereta kuda yang saya sewa rusak! Lalu hutan ini satu-satunya jalan yang bisa saya tempuh agar tidak terlambat sampai ke Istana Matahari besok pagi! Saya harus berjalan melewati hutan ini malam-malam seorang diri bahkan meski Anda mau membunuh saya!"


Aku cukup mengenalnya sehingga tahu dia pasti akan balas berteriak padaku.


Tapi ternyata tidak. Dia memelukku.


"Jangan takut padaku, Yeon-Hwa." Bisiknya. "Orang lain boleh takut, tapi kau tidak boleh. Aku sudah lama menunggumu. Jadi jangan takut. Aku tidak akan melukaimu. Aku tidak akan bisa melukaimu. Kau akan baik-baik saja. Kau hanya perlu menyuruhku berhenti saat hal itu terjadi lagi." Dia kemudian melepas pelukannya dan aku langsung merasa bahwa udara menjadi dingin menyakitkan. Aku masih terlalu terkejut sehingga aku hanya dapat mengangguk tanpa berkata apa pun. Aku tak benar-benar mengerti maksud perkataannya, tapi paling tidak sepertinya itu adalah jaminan bahwa dia tidak akan melukaiku. Dia meletakkan jemarinya di pipiku, menghapus air mata yang tak kuketahui sejak tadi mengalir. Aku bahkan tidak sadar sudah menangis sejak tadi.


Aku harusnya menghindar. Aku harusnya menjauhinya. Aku harusnya lari darinya. Begini kah cara dia memperlakukan gadis-gadis utara itu? Itukah sebabnya dia punya banyak kekasih di sana? Dia pandai berkata-kata. Dia tahu cara menenangkan wanita. Dia tahu cara memperlakukan wanita dengan baik jika dia mau. Jadi wajar saja kan kalau kata-katanya dan tindakannya itu membuatku berdebar? Dia memang ahli dalam hal ini.

__ADS_1


"Ayo, aku akan mengantarmu sampai Shina." Katanya kemudian sambil mengulurkan tangannya untuk membawaku berteleportasi. Dan aku, dengan bodohnya, menggenggam tangan itu.


...****************...


__ADS_2